Rabu, 01 April 2009

Menghargai Orang Lain

Sangat menyedihkan ketika memperhatikan kebanyakan orang yang hanya memperhatikan diri sendiri, sehingga kemampuan mereka untuk peduli dan menghormati menjadi berkurang sama sekali. Saya lahir dan bertumbuh di daerah Malang. Dengan malu saya harus mengatakan bahwa saya tumbuh di lingkungan yang sangat minim memberikan penghargaan kepada orang lain yang tidak dikenal. Saya tidak tahu dengan daerah lain, namun saya hanya memberikan gambaran lugu tentang segala hal yang saya lihat di daerah saya.

Saya pernah melihat seorang nenek tua yang sedang kebingungan karena tidak ada seorang pun yang bersedia memberikan waktunya untuk membantu dia menyeberang jalan. Sekali waktu saya melihat dua orang laki-laki tua penjual bambu batangan yang sempoyongan mendorong gerobak mereka di jalanan menanjak, tidak ada seorangpun yang mau membantu mereka karena hari itu sedang hujan. Kadang-kadang hati manusia telah menjadi sekeras batu, mereka kesulitan menghargai martabat orang lain dan tidak lagi mampu mengenali nilai-nilai perikemanusiaan.

Orang-orang di daerah saya telah lupa dengan cara mengucapkan terimakasih dan menjadi bodoh didalam egoisme konyol dan harga diri yang berlebihan yang membuat mereka kelihatan tidak waras. Suatu saat ketika saya mengisi bensin di pompa bensin, saya menyaksikan dua baris di depan saya sebuah adu mulut yang sangat sengit antara seorang pelanggan dan seorang operator pompa bensin. Masalahnya sangat sepele, operator pompa itu mengisikan bensin terlalu banyak ke motor pelanggannya, sehingga nilai bensin yang diisikan ke dalam tangki motor kelebihan Rp.2500 (Dua ribu lima ratus, bukan dua puluh lima ribu) dari jumlah uang yang diberikan. Operator memohon kepada pelanggan untuk memberikan tambahan uang untuk kelebihan bensin yang diisikan, namun pelanggan menanggapinya dengan ketus dan angkuh. Merasa ditanggapi dengan kasar, maka operator itu juga naik pitam, dan kemudian cekcok tidak terhindarkan lagi.

Saya heran dengan orang-orang yang hanya berdiam diri menyaksikan cekcok itu, tidak ada seorangpun yang mau ikut campur dalam permasalahan sepele itu. melihat ini semua maka saya memberanikan diri untuk tampil membantu, dengan mengurangkan jatah bensin saya senilai Rp.2500. Melihat permasalahan beres, si pelanggan, yaitu bapak tua gendut memalingkan muka dari operator tanpa melihat saya sedetikpun, menghidupkan motornya dan segera menyingkir. Sementara operator dengan wajah marahnya mengisikan BBM ke skuter saya dengan memperhatikan betul-betul angka yang ada di mesin pompa. Setelah selesai dengan saya, maka dia meneruskan pekerjaannya mengisikan BBM ke antrean berikutnya. Saya tertawa geli karena sepanjang ingatan saya tidak satupun diantara mereka berdua yang mengucapkan terimakasih. Itu adalah hal lucu, ketika dua orang manusia mengalami kemerosotan etika hanya karena barang senilai Rp.2500, sehingga mendadak secara tidak sengaja timbul anggapan dari dalam diri saya, bahwa mereka adalah pribadi rapuh yang seketika menjadi tidak waras hanya karena masalah sepele. Konyol… benar-benar konyol… dan lucu.


Kemarin sore saya ada sedikit keperluan di Blimbing untuk menyelesaikan sesuatu. Karena suatu hal saya berhenti di depan Bank BCA, tetapi skuter tidak saya parkir. Di depan saya diparkir sebuah SUV (Sport Utility Vehicle) Ford Everest, yang saya tahu persis bahwa harganya sangat mahal melebihi mobil-mobil kebanyakan. Tiba-tiba di hati saya muncul suatu pemikiran picik yang menduga bahwa pemiliknya adalah seorang laki-laki sombong memakai celana pendek bersandal jepit yang berjalan dengan congkak.

Tidak lama kemudian seorang perempuan cantik berusia pertengahan tigapuluhan keluar dari ATM, merogoh kedalam tasnya dan mengeluarkan uang Rp.5000 untuk diberikan kepada tukang parkir. Dengan murah senyum dia memberikan uang itu kepada tukang parkir kemudian menggerak-gerakan tangannya sedemikian rupa seakan-akan dia tidak menginginkan kembalian dari uangnya tersebut. Saya melihat tukang parkir itu membungkuk senang pada wanita cantik itu, dan saya tidak menyangka bahwa wanita itu balas membungkuk dengan tersenyum ramah kemudian masuk kedalam Ford Everest tersebut dan pergi.

Jarang sekali saya melihat pemandangan seperti ini. Di sebuah masyarakat yang dipenuhi dengan orang-orang sombong yang sok bermartabat, terdapat seorang wanita kaya, pemurah dan rendah hati. Mungkin ada yang menyepelekan apa yang dilakukan oleh wanita cantik tadi dengan berkata “apa sih susahnya membungkuk ke tukang parkir?”. Tapi ada berapa banyak dari kita yang dapat berbuat seperti itu? berapa banyak diantara kita yang mau menundukan ego sedemikian rupa sehingga kita mau membungkuk pada seorang tukang parkir, lebih-lebih jika kita berada pada posisi wanita itu.

Wanita itu telah menjadi guru kehidupan sesaat bagi saya, dan secara tidak sengaja telah mengajarkan kepada saya bahwa kita manusia adalah memiliki derajat yang sama, dan kita tidak boleh menyombongkan dengan apa yang kita miliki. Mungkin sudah berpuluh-puluh kali saya mendengar atau membaca filosofi seperti itu, namun hanya wanita ini saja yang telah membuat saya bisa memahami secara mendalam arti kesetaraan dan persamaan derajat manusia.

Mungkin penting sekali bagi kita untuk selalu mengucapkan terimakasih. Dengan mengucapkan terima kasih berarti kita telah mengungkapkan penghargaan kepada orang yang telah melakukan sesuatu yang bermanfaat kepada kita. Dan yang kedua adalah penting untuk menganggap orang lain sama pentingnya dengan kita, sehingga mempengaruhi perilaku kita sekaligus mempengaruhi perilaku orang lain untuk berlaku secara bersahabat. Maka dengan demikian kita turut berperan aktif dalam penyebaran virus cinta kasih. Semoga…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar