Tampilkan postingan dengan label Miyamoto Musashi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Miyamoto Musashi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Februari 2009

Capoeira De Singosari




















Capoeira, sejarahnya simpang siur, di mana dan kapan beladiri ini ditemukan. Sebagian orang mengatakan bahwa beladiri ini diciptakan di Angola – Afrika, namun hasil penelitian mengatakan tidak dapat ditemukan kebudayaan dan tradisi yang mirip-mirip dengan Capoeira. Beberapa orang beranggapan bahwa Capoeira diciptakan oleh budak-budak keturunan Afrika di Brazil, untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajahan orang kulit putih. Ciri khas Capoeira adalah sebagian besar serangannya menggunakan kaki, karena para budak berlatih Capoeira dalam keadaan tangan dibelenggu, sehingga mereka tidak dapat banyak mengandalkan tangan mereka. Suatu saat terjadi pemberontakan besar oleh para budak terhadap orang kulit putih, dan katanya teknik Capoeira berperan besar di dalamnya. Para budak berhasil membebaskan diri, dan sebagian besar bersembunyi di pedalaman, di pinggiran sungai Parana, berbaur dengan orang-orang Indian setempat.

Saya melihat beladiri ini untuk pertamakalinya di TV, di dalam film berjudul “Only The Strong”. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMP, jadi setelah melihatnya saya langsung terkesima. Namun waktu itu saya tidak melakukan apa-apa, saya tidak tergerak untuk berlatih Capoeira. Baru pada sekitar tahun 1999 seorang teman menunjukan karakter Edi Gordo di permainan Tekken, Play Station. Dia adalah salah satu petarung dari Brazil yang memiliki gaya bertarung Capoeira. Sekali lagi setelah sekian tahun saya terkesima dengan Capoeira, namun kali ini saya melakukan sesuatu.

Pertama saya surfing di Internet, waktu itu tarifnya Rp.10.000 per jam, jadi saya harus menabung dulu untuk itu. Saya mencoba mencari tahu adakah organisasi Capoeira di Malang, hasilnya nihil, bahkan sejauh saya surfing itu saya tidak menemukan adanya Capoeira di Indonesia. Namun saya tidak putus asa, maka sayapun berkirim surat kepada kedutaan besar Brazil untuk mendapatkan segala informasi apa saja tentang Capoeira. Meskipun agak lama, namun orang kedutaan menanggapi surat saya dengan mengirimkan beberapa brosur tentang Capoeira, serta satu buah buku berjudul “Brazil In Brief”. Senangnya bukan main saya menerima hadiah itu. Saya juga berkirim surat kepada kedutaan besar Amerika serikat di Jakarta, barangkali mereka punya informasi tentang Capoeira, sekedar iseng. Eh tidak tahunya mereka juga menanggapi dengan berkirim surat, dengan satu lembar lampiran copy alamat web Capoeira di Amerika.

Saya juga membeli sebuah VCD Only The Strong dengan harga sekitar Rp.25.000. Karena tidak memungkinkan saya belajar langsung pada institusi Capoeira resmi, maka saya terpaksa belajar sendiri secara otodidak. Saya pergi ke sawah melakukan Ginga (baca jingga) berlama-lama di sana, belajar salto, coprol dan lain-lain. Saya merekam lagu Capoeira dari Only The Strong seperti “Paranave”, “Zoom-‘Zoom-Zoom”, dan “O’lele, O’lala” kedalam bentuk kaset pita sehingga dapat di dengarkan oleh teman-teman sekelas lewat tape compo. Alhasil beberapa dari mereka terpikat dan ingin berlatih Capoeira otodidak bersama saya.

Saya menyaksikan sebuah VCD tentang teknik-teknik Shotokan Karate-do yang didapatkan oleh teman saya dari organisasi mereka di Jakarta, untuk menyempurnakan teknik Karate para Karateka. Saya juga ingin mendapatkan VCD yang sama dari organisasi Capoeira. Maka saya berkirim surat ke San Francisco, ke sebuah alamat yang saya dapatkan dari kedutaan besar Amerika di Jakarta beberapa waktu sebelumnya. Saya memohon kepada mereka untuk mengirimi saya sebuah VCD yang berisi teknik-teknik tendangan Capoeira. Tetapi malang nasib saya karena saya tidak mendapatkan surat balasan apapun, mungkin saja surat saya tidak mencapai San Francisco. Pyuh..

Saya terus menerus latihan Capoeira dengan bersemangat hingga saya bergabung dengan Institusi resmi Aikido di Dojo Gading Kasrim – Malang. Hingga saat itu otak saya dipenuhi dengan Capoeira dan mengisi waktu saya di luar waktu belajar dengan Capoeira. Sepulang dari sekolah, saya sering sekali berlatih Capoeira otodidak dengan teman-teman. Tambah lama-tambah asyik, dengan Capoeira tubuh saya menjadi sehat dan kuat.

Pada tahun 2000 hingga tahun 2008, saya menghanyutkan diri pada latihan beladiri di Institusi beladiri sungguhan. Latihan-latihan itu membuat saya menjadi fanatik pada jenis beladiri Grappling atau gulat, dan memang bakat saya terletak pada Grappling. Namun walaupun begitu saya masih tetap senang dengan Capoeira. Memang porsi latihan Capoeira otodidak berkurang drastis dengan adanya prestasi di institusi beladiri Grappling Jiu-jitsu, namun walaupun begitu saya masih senang beladiri Capoeira dan sesekali berlatih tendangan Capoeira.

Pada awal tahun 2008, Capoeira masuk Singosari, yang dibawa oleh seorang guru Sekolah Menengah Islam. Saya segera bergabung dengan mereka. Senang sekali rasanya karena setelah sekian lama menunggu, akhirnya saya bergabung dengan institusi resmi Capoeira, serta berkenalan dengan banyak teman Capoeira. Namun keceriaan itu tidak berlangsung lama, pada bulan Maret saya mengalami kecelakaan di tempat kerja, sehingga saya menderita cidera lutut yang sangat parah. Dapat dilihat di foto negatif beberapa serpihan tulang persendian lutut kiri. Saya tidak dapat lagi berlatih Capoeira, lutut saya tidak dapat menahan beban yang berat atau tumbukan-tumbukan. Hingga saya menulis ini kaki saya masih sering kumat, mengalami ngilu jika terkena cuaca dingin. Sungguh ironis.

Kelebihan Capoeira : Indah, sangat berseni, menyehatkan, dan memiliki teknik tendangan berat yang mematikan.
Kekurangan Capoeira : dari segi teknik pembelaan diri, banyak tenaga yang harus dikeluarkan untuk membuat satu tendangan utuh.

Selasa, 17 Februari 2009

Sahabat-sahabatku anak-anak Tae Kwon Do (bagian satu)

Dudik Agus Sutrisno (kanan)
18 Agustus 1979
Beladiri : Kungfu Pro Patria (1992-1994), Tae Kwon Do mulai tahun 1996.
Motto : seni beladiri adalah alat pertahanan untuk membeladiri.

Eng Ari Yohan (kiri)
20 Mei 1990
Beladiri : Pencak Silat Perisai Diri (2003-2005), Tae Kwon Do mulai tahun 2006.
Motto : beladiri membentuk pribadi yang lebih baik
Sahabat-sahabatku anak-anak Tae Kwon Do

Perbandingan senjata utama pebeladiri Tae Kwon Do (kaki)

Sebelah kiri : kaki Dudik

Sebelah kanan : kaki Eng




Dudik
Seorang Tae Kwon Do Fighter, bisa sedikit teknik Grappling berbadan kuat dan tabah


Eng
Seorang Tae Kwon Do Martial Artist Juara I se-Malang Raya tahun 2008. Berhati singa, yang bersemangat kuat untuk menjadi seorang Fighter
Hanya dengan mengandalkan kedua belah tangannya, mencengkeram pipa besi, Dudik mampu membuat badannya tergantung horisontal. Satu hal yang tidak bisa Eng lakukan, juga saya.
(lihat kaki dan betisnya, itu adalah senjata ampuh untuk meremukan tulang rusuk serta membuat seseorang harus di bawa ke dokter jika kaki itu mendarat di muka orang tersebut)
Mereka semua adalah orang-orang baik, memiliki semangat dan kemauan yang kuat. Mereka adalah sahabat-sahabat saya, para Tae Kwon Doin yang baik, yang menerima saya sebagai partner berlatih mereka, meskipun saya adalah seorang Grappler (pegulat). Seharusnya ini menjadi contoh, meskipun berbeda beladiri, namun kami bisa akur, saling belajar, dan dapat menjadi sahabat.
Dudik adalah seorang kawan lama, yang dulunya adalah seorang teman di pabrik. Waktu itu saya menjadi seorang buruh, sementara dia menjadi seorang sekuriti. Sementara Eng adalah seorang kawan baru yang dulu adalah seorang kenalan yang dikenalkan oleh teman saya yang bernama Henry Liaw. Mereka berdua adalah sama-sama seorang praktisi Tae Kwon Do. Sekitar dua minggu yang lalu kami merencanakan untuk bertemu pada hari ini, senin 16 Februari 2009. Saya sangat kesulitan untuk mengatur waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka berdua. Sekitar satu minggu yang lalu, saya gagal mempertemukan mereka, karena mereka sama-sama sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Awalnya saya bercerita kepada Eng bahwa saya memiliki seorang sahabat praktisi Tae Kwon Do, nama nya Dudik. Saya bilang sama Eng bahwa akan sangat bermanfaat apabila dia saya pertemukan dengan Dudik, agar mereka bisa saling belajar bersama, dan bertukar pengetahuan. Saya usulkan dalam pertemuan itu, sebaiknya mereka saling menjajal kemampuan mereka dengan melakukan sparring, sehingga mereka bisa mendapat pelajaran berharga dari memperhatikan gaya bertarung masing-masing.
Eng adalah seorang belia, juara satu dalam pertandingan Tae Kwon Do se-Malang Raya pada tanggal 18 Mei 2008, pada usia 17 tahun (2 hari menjelang ulang tahun yang ke 18-nya), namun dia tidak memiliki pengalaman apapun dalam konflik yang melibatkan Tae Kwon Do di dalamnya. Sementara Dudik adalah seorang Tae Kwon Do in yang belum memiliki prestasi apapun dalam pertandingan Tae Kwon Do, namun dia sudah dua kali membawa-bawa teknik Tae Kwon Do ke dalam suatu konflik serius yang nyata.

Menurut pengamatan saya, Dudik memiliki keunggulan tertentu yaitu memiliki kematangan tubuh cukup jika dibanding dengan Eng. Dulu saya pernah latihan intensif dengan Dudik hingga beberapa bulan lamanya. Saya tahu betul seberapa kuat fisik anak ini, seberapa cepat, kuat dan akurat tendangannya. Tendangan saya yang memiliki background Capoeira otodidak, sama sekali tidak berdaya menyamai keampuhan tendangan Tae Kwon Do Dudik. Eng memiliki keunggulan dalam pemahaman akan sistem yang berlaku pada beladiri Tae Kwon Do, namun dia belum memiliki tubuh sekuat Dudik karena badan dia belum berhenti bertumbuh. Tapi kelihatan sekali bahwa Eng memiliki semangat yang luar biasa kuat untuk memahami mekanisme perkelahian nyata, dan dia tidak hanya puas dengan kemampuan menendang yang saat ini dia miliki. Eng ingin berimprovisasi.

Saya merasa kasihan dengan Dudik. Dia adalah seorang fighter Tae Kwon Do yang mencintai Tae Kwon Do dengan sepenuh hatinya. Dia memiliki motivasi tertentu, bahwa dia ingin memiliki kemampuan yang cukup untuk membela dirinya dengan mengandalkan beladiri Tae Kwon Do. Namun tuntutan situasi dan kondisi tidak memungkinkan dia untuk bisa aktif mengikuti organisasi beladiri ini. Dudik pada waktu saya menulis ini, dia adalah seorang buruh pabrik perusahaan Jepang, yang harus bekerja ekstra keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Sepulang dari perusahaan, bapak dua anak ini masih harus bekerja lagi menunggu stand buah miliknya. Tidak ada waktu lagi untuk Tae Kwon Do.

Untuk itulah hari ini saya berniat mempertemukan mereka, Dudik dan Eng, dua sahabat dekat saya yang saya cintai. Namun sayang sekali, Dudik sudah berusaha datang tepat waktu yaitu jam 10.15, namun Eng berhalangan untuk datang tepat waktu karena dia ada urusan di kampusnya. Eng baru datang sekitar jam 12.00 siang, nah pada jam segitu tempat yang akan kami pakai untuk berlatih bareng akan dipenuhi oleh siswa yang baru pulang dari sekolah, jadi jadwal latihan hari ini kami delay. Hari ini kami bersepakat untuk bertemu lagi pada hari selasa minggu depannya, tanggal 24 Februari 2009. Eng ingin menjajal kemampuan Dudik, mereka akan bertarung dalam perkelahian sungguhan dalam style Tae Kwon Do, dengan peraturan mereka sendiri. Mereka akan saling mempersiapkan diri untuk tanggal itu.

Bersambung...

Minggu, 11 Januari 2009

Beladiri, Martial Art, Selbsverteidigung (bagian 2)

Karate, Judo, Sambo, Jiujitsu, Capoeira, Kalari, Savate, Tang So Do, Grecko Roman Wrestling, Kung Fu, Pencak Silat, Aikido, Hapkido, Jet Kune Do, Mo Yea Do, Tae Kwon Do, Pancrase, Kurjaga, Kendo, Kenjutsu, Naginata, Krav Maga, Western Boxing, Tai Chi Chuan, Kenpo, Kali Arnis, Dumog, Ku’I’alua… ada lagi, apakah ada yang kurang? Yang mana sih diantara beladiri di atas yang paling efektif?

Sebelum kita mengetahui beladiri mana yang paling efektif, sebaiknya kita harus mengetahui dulu konsep tentang beladiri. Apa sih beladiri itu? beladiri adalah sekumpulan teknik menyerang dan bertahan yang dirangkum menjadi satu dalam sebuah sistem beladiri, yang motivasinya adalah menguasai lawan yang hendak menguasai kita. Dalam kehidupan sehari-hari apabila tidak mungkin ada intimidasi dari seseorang yang ingin menguasai kita dengan kekerasan, maka beladiri boleh kita tinggalkan. Untuk beladiri saya lebih senang menggunakan istilah teknik beladiri, dari pada seni beladiri. Lantas apa bedanya? Dalam pemahaman saya tentu ada perbedaan mencolok antara seni dengan teknik. Dalam banyak hal, seni dan teknik seringkali dipraktekan bersama-sama, karena kegiatan seni tertentu menuntut penguasaan teknik tertentu, sebaliknya kegiatan teknik tertentu juga membutuhkan penguasaan seni tertentu. Contohnya adalah seni merawat rambut, harus ada keseimbangan antara teknik dan seni. Jika seorang pencukur rambut hanya memperhatikan teknik, tidak ada seni, maka gaya rambut hasil kerjaannya akan minimalis, kuno, dan pelanggan tidak mau kembali. Sementara jika seorang pencukur hanya tahu seni, tanpa membekali dirinya dengan teknik yang memadai, maka kerjaanya akan amburadul, runyam, banyak pelanggan yang akan complain. Maka menurut saya kegiatan memotong rambut adalah seni, seni memotong rambut.

Lantas bagaimana dengan kegiatan seorang teknisi listrik atau elektro, bisakah pekerjaan mereka disebut sebagai seni? Ya mungkin saja bisa, namun kebanyakan orang akan cenderung sepakat bahwa jenis pekerjaan mereka lebih termasuk ke teknis dari pada seni. Jadi mungkin istilah kegiatan teknis lebih dimaksudkan pada kegiatan menyelesaikan suatu masalah tertentu dengan kecenderungan mengorientasikan pada tujuan “berhasil guna” daripada tujuan artistik dan keindahan. Jadi sebaiknya beladiri juga harus memiliki orientasi yang sama dengan kegiatan teknis yaitu tujuannya adalah berhasil guna, menghindarkan diri dari bahaya, tidak indahpun tidak apa-apa asal bisa selamat. Menurut saya beladiri boleh-boleh saja tidak sedap dipandang mata, karena gerakannya tidak mengandung unsur acrobat, namun cenderung simple, efektif dan mematikan. Makanya saya lebih senang dengan istilah teknik beladiri daripada seni beladiri, untuk memisahkan antara beladiri sungguhan dengan beladiri-beladirian.

Katanya beladiri sudah ada sejak jaman dahulu kala, jauh sebelum agama-agama samawi ada. Beladiri mengiringi sejarah perkembangan kebudayaan manusia. Orang-orang Cina kuno menggunakan suatu teknik sederhana untuk bertahan dari binatang buas, kemudian malahan teknik itu mereka kembangkan dengan mencontoh gerakan-gerakan binatang tertentu. Di pulau Jawa, pencak silat Bawean dikembangkan oleh sepasang suami istri sehabis mereka melihat dua monyet berkelahi. jadi inti dari beladiri klasik adalah sekumpulan teknik-teknik indah yang mereka contoh dari alam dengan motivasi untuk mengalahkan lawan, sesuai pengetahuan menurut jaman mereka masing-masing. Jadi konsep beladiri adalah sama, apapun jenis beladiri itu, yaitu berusaha selamat dari suatu konflik, bukan pertunjukan tari-tarian.

Dengan prinsip bahwa beladiri adalah suatu metode untuk menyelamatkan diri dari suatu konflik, maka seharusnya beladiri harus juga mengalami improvisasi. Seperti halnya obat-obatan yang harus diperbarui sedemikian rupa untuk mengikuti perkembangan penyakit yang semakin kompleks, maka beladiri juga harus direformasi sedemikian rupa guna mengikuti perkembangan akal manusia. Beladiri seharusnya bisa mengakomodir kebutuhan manusia untuk selamat dari suatu konflik, karena itulah beladiri harus serius dengan teknik-teknik sederhana, mudah dikuasai, mudah dilakukan, sehingga berhasil guna dalam praktiknya. Apa gunanya jika beladiri, apabila beladiri tersebut lebih diutamakan pada hal-hal lain daripada untuk kegunaan pembelaan diri. Di dalam masyarakat, berkembang disiplin-disiplin semacam olah kebugaran yang memiliki wajah dan identitas seperti beladiri. Disamping olah kebugaran, identitas beladiri juga sangat sering dipakai dalam pertunjukan seni, akrobatik bahkan terapi penyembuhan dari penyakit kecanduan narkoba. Tidak ada yang negatif dalam kegiatan-kegiatan ini, tentu saja. Hanya saja apabila ada seseorang yang bersikeras mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan seperti ini dianggap sebagai beladiri… sepertinya kok aneh banget gitu. Tolok ukur beladiri yang menurut saya ideal adalah, metode-metode pembelaan diri yang diajarkan di gym-gym Amerika, yang kini mulai berkembang di kota-kota besar di Indonesia, yang berfokus pada cara efektif untuk melindungi diri dari kriminal, dengan mengandalkan teknik logis sederhana tapi efektif dan mematikan. Klub-klub yang seperti inilah yang biasanya melahirkan fighter-fighter handal.

Bagi calon-calon pebeladiri yang sekarang sedang melakukan survei institusi beladiri yang akan diikuti, silahkan memilih beladiri sesuai dengan karakter anda. Pertama-tama anda harus mengetahui apa motivasi anda sebenarnya, mengapa anda ingin bergabung dengan salah satu cabang beladiri. Apakah anda disuruh-suruh orang tua? Apakah anda ingin sekadar mengisi waktu luang? Apakah anda terprovokasi oleh media atau film? Apakah anda ingin berorganisasi dan mencari teman? Apakah anda ingin bugar? Apakah anda ingin kelihatan lebih gagah? Apakah anda menginginkan kemenangan? Atau apakah anda menginginkan keamanan lebih atas pribadi anda? Jika motivasi anda lebih cocok dengan pertanyaan enam pertama, maka terserah anda mau pilih beladiri apapun, tidak menjadi soal. Namun jika motivasi anda lebih cocok dengan dua pertanyaan terakhir, maka saya bisa merekomendasikan sesuatu.

Jika anda ingin memenangkan pertandingan satu lawan satu full body contact, saya anjurkan anda untuk bergabung dengan akademi Brazilian Jiu-jitsu. Perlu anda ketahui bahwa Brazilian Jiu-jitsu adalah beladiri ground grappling (gulat yang sebagian besar dilakukan di atas tanah) dengan sedemikian banyak rupa teknik mengunci yang masuk akal. Di sini anda akan diajarkan untuk ulet, mempergunakan lebih banyak otak untuk mengaplikasikan teknik, ketimbang menggunakan banyak tenaga otot. Anda akan dituntut untuk menghemat tenaga anda dengan memanipulasi gerakan-gerakan gulat tanah yang rumit, guna memprovokasi lawan untuk menghabiskan tenaganya. Anda akan banyak diajari teknik-teknik bergulat dengan memanfaatkan tanah/ lantai sebagai partner anda untuk mengalahkan lawan. Selain Brazilian Jiu-jitsu anda juga dapat mempelajari teknik Gulat Grecko-Roman, Sambo, atau Judo, untuk mematangkan kemampuan anda dalam bertanding. Perlu diketahui, bahwa kemahiran ber-grappling perlu sekali dikuasai untuk memenangkan suatu pertandingan. Perlu sekali saya beritahu bahwa seringkali diperlukan banyak uang untuk bergabung dengan Institusi Brazilian Jiu-jitsu. Namun ada beberapa kelemahan dalam Brazilian Jiu-jitsu, ada beberapa kondisi yang tidak mendukung kita mempraktekannya. Dalam serangan jamak kita tidak mungkin pakai teknik ini, demikian juga bila kita sedang berada di lingkungan pasar yang becek dan bau, tidak mungkinlah kita “gulung-gulung” di tanah basah air comberan. Jijai…

Bagi anda yang menginginkan keamanan lebih atas pribadi anda, lebih-lebih bagi anda para wanita, maka saya sarankan bagi anda untuk bergabung dengan organisasi beladiri Krav Maga. Dalam perkembangannya, teknik Krav Maga sering di-improvisasi oleh para Haganah, tentara Israel, dari rutinitas nyata mereka yang penuh dengan konflik. Jadilah beladiri yang super agresif, super reflek, dan bisa sangat mematikan. Beladiri ini sangat pro pada perkelahian fisik nyata, yang berorientasi pada penyelesaian masalah secepatnya tanpa tetek bengek. Tidak ada idealisme konyol dalam beladiri ini, tidak boleh hanya idealis pada grappling saja, atau pukulan dan tendangan saja. Jika anda dituntut untuk menghemat tenaga dalam beladiri Brazilian Jiu-jitsu, maka pada Krav Maga anda dituntut untuk menghentakan tenaga anda seluruhnya dalam waktu yang sangat pendek, seperti meledak, dengan tujuan untuk meringkus musuh atau membunuhnya. Beladiri ini akan mengajarkan kepada anda di titik tubuh lawan mana anda harus memukul atau menendang. Semuanya oke tentang beladiri ini, hanya saja ada sebuah masalah agak berat disini. Anda membutuhkan biaya yang sangat besar untuk bisa bergabung dengan beladiri ini, dan anda harus lakukan di luar negeri. Jangan harap dalam waktu dekat akan ada sekolah Krav Maga di Indonesia, karena kebanyakan manusia Indonesia akan menolak segala sesuatu yang berbau Ibrani. Namun jika anda beruntung, anda akan menemukan sekelompok pemuda yang berlatih Krav Maga secara underground di Malang.

Semoga kita semua selamat.

Beladiri, Martial Art, Selbsverteidigung (bagian 1)


Ada yang ikut institusi beladiri untuk hanya sekedar untuk mengisi waktu, ada yang karena di suruh oleh orang tua, ada yang sekedar untuk gaya-gaya saja, ada pula yang sekaedar ingin cari sensasi baru… kelompok ini saya sebut kaum oportunis, jumlahnya melimpah. Namun demikian ada juga beberapa orang yang bergabung dengan institusi beladiri untuk serius, berfokus dan benar-benar ingin mempelajari teknik beladiri dengan segala macam atributnya, kelompok ini saya sebut dengan kaum idealis.

Orang-orang dari kelompok terakhir ini seringkali terlihat mewarnai kehidupan mereka dengan identitas-identitas beladiri. Bagi mereka, ada suatu kebanggaan tersendiri jika mereka keluar rumah dengan memakai jaket dengan tulisan Karate, Tae Kwon Do, atau Capoeira… di punggung atau dada jaket mereka. Orang-orang seperti ini selalu berpikir dan merasa bahwa mereka satu tingkatan lebih pandai dari pada orang kebanyakan dalam hal berkelahi. Kaum idealis mendedikasikan hidupnya dengan membiarkan dirinya “direnggut” oleh beladiri, artinya mereka rela bersakit-sakit, memberikan waktu mereka, dan (seperti saya bilang tadi) membiarkan diri mereka diwarnai oleh beladiri.

Namun dalam penilaian saya, kaum idealis masih terbagi menjadi dua golongan lagi. Yang pertama adalah golongan Martial Artist, yang mudah dikenali dengan kefanatikannya yang sangat kental, jumlahnya jarang. Dan yang kedua adalah golongan Fighter, yang mudah dikenali dari sikap pembosannya, pemberontaknya, dan selalu berinisiatif untuk berimprovisasi, jumlahnya sangat sedikit. Golongan yang pertama, kaum Martial artist ini biasanya terdiri dari orang-orang cerdas, memiliki disiplin tinggi, dan seringkali mereka adalah organisator yang ulet dan handal. Mereka sangat setia dengan satu jenis beladiri dan teknik-tekniknya. Dalam tataran awal-awal ketika mereka masih baru dengan beladirinya masing-masing, mereka kelihatan menonjol dalam kecepatan mempelajari suatu teknik, kepatuhan pada peraturan dan disiplin, serta kerelaan melayani senior mereka. Jadi mereka akan senang jika disuruh-suruh oleh senior mereka membantu tugas mengatur organisasi. Dalam segala hal mereka sangat sempurna dan meyakinkan kecuali dalam satu hal, yaitu kemampuan bertarung mereka yang justru dipertanyakan.

Umum sekali diketahui bahwa kaum Martial Artist seringkali memenangkan dan menjuarai pertandingan-pertandingan yang diadakan oleh institusi mereka masing-masing. Namun ini bukanlah berarti bahwa mereka pandai bertarung, dalam pengertian bahwa mereka mereka pandai berkelahi sungguhan. Dalam praktek latihan, mereka tampak sangat menguasai teknik pukulan, tendangan, bantingan dan bahkan kuncian. Harus dimengerti bahwa terdapat perbadaan yang sangat mencolok antara perkelahian nyata dengan perkelahian simulasi yang disajikan dalam sebuah pertandingan kebanyakan sekolah beladiri tradisional. Biasanya di dalam sebuah pertandingan yang diadakan oleh institusi beladiri tradisional, telah diberikan begitu banyak peraturan untuk menghindarkan praktisinya dari cidera. Ok memang pertandingan harus ada aturan, saya tahu. Namun aturan-aturan tersebut seringkali membuat praktisi bertanding sangat terbatas pada masing-masing style yang telah ditentukan, cenderung mengejar skor, alih-alih menundukan lawan dengan variabel teknik hingga lawan tidak berkutik alias menyerah. Jadi mereka cenderung otot-ototan memukul, menendang, membanting, mengunci, atau adu keakuratan pukulan dari pada berpikir dan berstrategi bagaimana membuat lawan roboh dan menguasainya.

Kaum Martial Artist cenderung tenggelam dalam fantasi-fantasi yangdi warisi dari azas-azas institusi beladiri mereka masing-masing. Cara berkelahi mereka cenderung kelihatan tidak rasional, kental dengan warna beladiri tradisional, dengan ditandai sering munculnya style dan acrobat dalam setiap kali serangan. Tentu saja mereka berpikir dan pakai logika, tentu saja mereka sudah berusaha keras dan ulet, dan ini sangat patut dihargai, hanya saja gaya bertarung mereka kurang sejalan dengan mekanisme perkelahian sesungguhnya. Jika anda praktisi beladiri, mari berpikir sejenak dengan kepala dingin… adakah korelasi antara style dengan street fighting? Adakah korelasi antara salto, meroda, dan tendangan putar dengan perkelahian saling bunuh?

Lebih disayangkan lagi adalah banyaknya kaum Martial Artist yang sama sekali tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar-benar sudah keluar dari konteks tetek bengek tentang pembelaan diri. Jadi institusi beladiri yang mereka ikuti cenderung menggiring para praktisi kedalam satu olah mental, kedalam satu disiplin serta latihan kesehatan jiwa dan raga, dengan agak mengesampingkan realitas perkelahian. Ada beberapa jenis institusi beladiri yang menggiring praktisinya ke dalam suatu style tertentu sedemikian rupa, sehingga menjadi berpikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebagai cara unik dan brilian untuk memenangkan perkelahian. Jadi pada praktik latihannya, praktisi dituntut untuk melakukan semua teknik harus dengan lembut, halus, serta mengalir. Lebih-lebih, para praktisi juga diarahkan untuk memanfaat energi lain selain energi otot dalam usaha pembelaan diri. Tidak ada sisi negatif dalam metode ini, namun saya akan lebih berpikir bahwa ini cenderung termasuk kedalam disiplin olahraga senam daripada teknik beladiri. Saya tidak berpikir bahwa kelembutan, kehalusan dan mengalir akan banyak membantu kita dalam keadaan darurat. Jadi saya lebih berpikir bahwa kebrutalan dan kekejaman yang akan lebih banyak menolong kita dalam situasi darurat (dalam keadaan terpaksa, membunuh atau dibunuh). Memang mekanismenya seperti itu, mau gimana lagi.

Golongan kedua dalam kaum Idealis adalah golongan Fighter. Golongan Fighter juga seringkali memiliki idealis yang kuat, sekuat idealisme kaum Martial Artist. Perbedaannya adalah jika kaum Martial Artist mencurahkan fanatisme mereka pada institusi dan teknik beladiri tertentu, sedangkan Fighter cenderung lebih menghormati realitas perkelahian nyata. Dalam tataran awal, ketika masih baru dalam suatu institusi beladiri, Fighter cenderung sering berperilaku berlebihan, seperti kelebihan energi, suka melakukan improvisasi sendiri, dan tidak menunjukan ke tertarikan pada aturan baku, jenjang, senioritas, tradisi serta status quo apapun bentuknya. Alih-alih berfokus pada satu institusi beladiri, Fighter cenderung melirik kanan kiri, mencoba ikut institusi beladiri lain, atau browsing di Internet, down load video teknik beladiri yang dia inginkan, kemudian ia improvisasi sendiri. Tujuan akhir seorang Fighter adalah selamat dari suatu konflik atau muncul sebagai pemenang dalam suatu pertandingan full body contact. Jika seorang Fighter memiliki style pemukul atau penendang, maka pasti badannya kuat, dan berlatih gila-gila an. Dan jika seorang Fighter memiliki style grappling, maka koleksi buku dan videonya pasti banyak.

Agak melenceng sedikit…………

Ada satu golongan atau tipe orang yang saya sebut dengan kaum Warrior, jumlahnya langka. Jika golongan-golongan dan kaum-kaum sebelumnya dibentuk atau terbentuk oleh suatu latihan tertentu, sehingga mereka unggul dalam perkara beladiri… maka kelompok yang saya sebut ini memiliki keunggulan tersebut diperoleh dari pemberian Tuhan. Jadi jika pebeladiri apapun bentuknya… menjadi seperti itu karena dibentuk atau dijadikan, maka para warrior menjadi seperti itu sejak mereka dilahirkan.

Jika kita membicarakan beladiri, maka seringkali kita membicarakan teknik beladiri tangan kosong dengan segala teknik tetek bengeknya. Namun jika kita membicarakan konflik serius, maka seringkali kita membicarakan keberanian, kenekatan, kekejaman, kebrutalan, multilasi dan senjata tajam. Ibarat tidak ada minyak mentega pun jadi… demikian pula seorang warrior, mereka itu seringkali tidak pernah mengenal beladiri atau tidak berminat pada beladiri, sehingga kemampuan bertarung mereka sangat dipertanyakan. Namun jangan salah, justru karena mereka lemah itulah mereka tidak segan menggunakan palu atau obeng untuk membunuh lawannya. Mereka tidak akan segan meremukan kepala lawannya dengan batu, atau melubangi jantung lawannya dengan garpu. Jadi warrior unggul karena kekejamannya. Seringkali diceritakan bahwa gampang sekali mereka menjadi dendam kesumat pada orang yang mengganggu mereka dan mengejar musuhnya itu dengan celurit, kemanapun, sejauh apapun musuh itu pergi.

Waduh kalau sudah kayak gini bisa runyam dong, beladiri tidak berdaya dengan hal-hal kayak gini, iya toh? Makanya bagi praktisi beladiri sebaiknya kita menjaga sikap, jangan pernah berpikir bahwa teknik yang kita latih pasti akan menyelamatkan kita, sehingga kita lupa daratan. Berbuat baiklah kepada semua orang, agar tidak terjadi konflik. Mungkin ada sebagian dari orang yang kebetulan membaca ini yang tidak setuju dengan pendapat saya, dan berkeras optimis bahwa teknik atau jurus yang mereka miliki sangat ampuh, untuk melawan ancaman apapun. Ya sudah terserah, sak karepmu. Tapi bagi saya pribadi, jika ini menyangkut palu, obeng, garpu atau celurit… saya pesimis aja deh sama teknik beladiri yang saya miliki… mendingan saya pakai Stunt Gun atau Red Pepper Spry aja biar slamet. Atau pakai teknik silat… silat… silat… silaturahmi. Dijamin ampuh.

Bayu Sandi.