Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan de mlaku-mlaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan de mlaku-mlaku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2009

English Camp

Suatu pengalaman yang unik ketika saya mengikuti sebuah program yang bernama English Camp yang diadakan oleh sebuah lembaga yang dimiliki oleh Wanita berkebangsaan Amerika Serikat yang bernama Pamela Eisenhower. Program itu dilaksanakan di sebuah retret Nasrani di kota Batu. Program itu di dedikasikan untuk membantu orang-orang Indonesia untuk bisa lancar berbahasa Inggris dengan cara mempertemukan mereka dengan para Native English Speaker.

Saya bertemu dengan banyak orang mengesankan yang memberikan contoh berperilaku, bersikap dan berpikir dengan bijaksana. Kebetulan mereka itu adalah orang-orang bule dari luar negeri, namun bukan karena mereka itu bule kemudian mereka bijaksana. Saya hanya merasa akrab dengan beberapa orang bule saja, dan mereka itulah yang secara tidak sengaja memberikan pelajaran berharga kepada saya.

Mr. Andrew, seorang warga negara Australia, beliau adalah seorang yang sangat relijius, orang yang paling tidak egois dan orang yang paling berpikir yang pernah saya temui. Dia menghormati semua orang, tidak memandang rendah kami orang berkulit coklat. Dalam sebuah permainan menyerang, bertahan dan penjara. Dia sempat menunjukan emosi ketidak setujuan ketika seorang pemuda Amerika terlalu mempermainkan tahanan mereka. Mr.Andrew berkata pada pemuda Amerika itu dalam bahasa Inggris “ayolah… John ini permainan mereka, biarkan mereka bahagia (orang-orang Indonesia). Tahan saya dan hukum saya semaumu, tapi biarkan mereka bebas”. Pada sebuah pagi buta dia juga mendahulukan seorang yatim piatu yang kebetulan jalurnya memotong jalur kami.

Dalam banyak kesempatan dia banyak membesarkan hati saya untuk menggapai impian-impian saya. Dan saya tahu dia hanya berpura-pura kagum dengan mengatakan ini “oh Bayu saya sangat terkesan, ceritamu sungguh luar biasa”. Memang saya banyak menceritakan yang oleh saya sendiri saya sebut dengan “perjuangan hidup untuk mengenal diri saya sendiri”.

Dalam sebuah makan siang, seorang kakek yang telah berputar-putar hampir di 150-an negara, yang berprofesi sebagai juru photo menepuk punggung saya dengan agak keras sehingga saya sangat kaget dan hampir saja dia saya tempeleng (berkali-kali saya hampir menempeleng bule-bule disana karena mereka terlalu keras menepuk saya dari belakang, hahaha). Kemudian kakek itu berkata “seseorang mengatakan kepada saya bahwa kamu tertarik dengan ide tentang perjalanan keliling dunia? Jika ya, setelah makan siang ini berakhir, saya mau kamu ke tempat saya, saya punya sebuah buku tulisan saya sendiri tentang perjalanan yuntuk saya hadiahkan kepada kamu”. Saya tahu bahwa orang yang mengatakan kepada kakek itu bahwa saya senang dengan perjalanan adalah Mr.Andrew, karena hanya beliau saja, satu-satunya bule yang saya beritahu bahwa saya senang melakukan perjalanan.

Mr.Andre, adalah seorang warganegara Amerika Serikat beribundakan orang Jerman. Dia menjadi pemandu di sebuah team di mana saya bergabung. Wajahnya seperti orang yang egois, namun orangnya setia kawan dan sangat menghormati orang lain… beliau juga sangat relijius. Pada suatu ketika saya menimpuk kepala mahasiswa orang Indonesia dengan sebuah kertas sekedar untuk guyon. Anak Indonesia itu membalas saya dengan melemparkan kembali kertas itu kemuka saya, hampir mengenai. Saya sangat ingin membalasnya, namun tepat ketika hampir saya melayangkan kertas itu, Mr.Andre merebut kertas itu dan menyembunyikannya. Rupanya dia tidak ingin guyonan itu berkembang menjadi konflik.

Saya belajar dari kenalan orang asing saya terduhulu bahwa kita harus sanggup memberikan aplaus kepada orang yang mengalahkan kita. Pada suatu ketika team kami kalah dari team lain, dan saya berdiri dan bertepuk tangan untuk memberikan penghormatan pada team itu. Saya melihat Mr.Andre berdiri dan memberikan tepuk tangan pada team lawan. Beberapa saat kemudian Mr.Andre berbicara kepada team kami “kita harus memberikan memberikan penghormatan kepada team lawan yang menang, karena kesanggupan kita memberikan penghormatan itu berarti bahwa kita telah cukup dewasa untuk menerima kekalahan… dan Bayu telah memulainya”

Tyler Mayer, adalah pemuda delapan belas tahun berkebangsaan Amerika Serikat yang mengikuti kegiatan itu. Dia bertemperamen ramah, sopan dan bermimik seperti selalu tersenyum. Saya dekat dengan dia karena dia adalah seorang pegulat di SMA nya. Dan sangat kebetulan sekali bahwa dia memiliki hobi yang sama dengan saya yaitu menyukai seni beladiri grappling dan gemar menonton The Ultimate Fighting Competition.

Mr.Maurice, adalah seorang kakek berusia 72 tahun yang telah berkeliling dunia, dan sudah mengunjungi sekitar 150-an negara. Dia adalah seorang pendiam, tidak banyak bercerita tentang dirinya sendiri. Di antara teman-temannya itu dia kelihatan selalu membawa kameranya kemana-mana, namun dia tidak kelihatan terlalu menonjol karena dia selalu rendah diri, seperti tidak bisa apa-apa begitu. Namun saya kaget bahwa Mr.Andrew mengatakan bahwa telah banyak negara yang telah Mr.Maurice kunjungi. Bahkan saya lebih kaget lagi ketika saya membaca dari buku yang dia tulis bahwa Mr.Maurice telah mendapatkan penghargaan atas kerja kerasnya. Saya diberinya sebuah buku yang berjudul The Funny Bible yang dibubuhi tanda tangan beliau serta sebuah kalimat yang berbunyi “To Bayu, may you find the way”.

Beautifull people.

Country Music

Country Music

Seberapa pentingkah arti musik Country bagi anda? Sebagian dari anda akan menganggap bahwa musik cowboy ini biasa-biasa saja, dan sebagian lagi dari anda akan mengatakan bahwa ini adalah musik gaduh yang tidak berarti apa-apa. Tetapi jika saya di suruh untuk menjawab pertanyaan serupa maka dengan tegas saya akan mengatakan bahwa ini adalah jenis musik yang luar biasa hebat brilian!

Rata-rata musik country selalu bernuansa cinta atau mengenang masa lalu. Syair-syairnya sederhana dan lugu. Coba saja simak lirik lagu-lagu seperti Cotton Fields Back Home, Stoney, Take Me Home Country Road dan Green Green Grass of Home. Semua lagu-lagu itu mengisahkan tentang kerinduan seseorang akan kampung halamannya, dia mengingat semua orang yang dia cintai di masa lalunya.

Saya biasa mendengar lagu-lagu Country ketika saya sedang dalam perasaan bosan. Dengan mendengarkan musik country maka semangat saya tumbuh lagi, bosan pergi dan tenaga muncul kembali. Pendek kata, musik Country sering menyelamatkan saya berkali-kali.

I love country music.

Jumat, 14 Agustus 2009

Dinner

Kemarin saya diundang oleh Mr. Andrew untuk makan malam bersama dengan keluarganya keluarga Cowell, sekalian untuk beramah tamah. Saya berpikir bahwa itu adalah undangan yang sangat menarik, karena ini adalah untuk pertama kalinya saya diundang makan malam oleh sebuah keluarga. Tapi sayang begitu sayang hari itu saya sangat sibuk sekali, dan banyak kejadian menyebalkan yang membuat mental saya anjlok dan mood saya menjadi turun sedemikian rupa… sehingga saya berpikir bahwa saya akan gagal menghadiri makan malam itu.

Selama satu hari penuh itu saya berada di kota Kepanjen untuk mengurus urusan saya di sana, urusan itu sudah sangat kacau namun saya terus berusaha keras agar saya dapat menghadiri makan malam di rumah Mr. Andrew. Dalam perjalanan menuju rumah beliau, mata saya sebelah kanan ditabrak oleh serangga… sakit sekali! Namun saya tidak mundur dan memutuskan untuk tetap menghadiri makan malam itu. Akan tetapi tidak lama setelah itu ban belakang vespa saya mengalami kebocoran sehingga saya harus berhenti di tukang tambal ban untuk waktu yang lama. Saya memberikan pesan singkat kepada Mr. Andrew untuk meneruskan makan malam keluarga tanpa saya, namun daripada menyantap makanan tepat waktu, beliau memutuskan untuk menunggu kedatangan saya. Luar biasa.

Saya datang terlambat sekitar tiga puluh menit. Pertama-tama Mr. Andrew datang membukakan pintu dan mengucapkan salam, beliau langsung mengetahui ada yang salah dengan mata saya (saya baru mengetahui bahwa mata kanan saya menjadi semerah darah setelah Mr. Andrew mempersilahkan saya memakai kamar mandinya untuk mencuci mata saya). Mrs. Donna menggiring ketiga anaknya untuk menyambut saya. Jade, Rhianan dan Aedan (kalau saya tidak salah eja) menyapa saya “Hi Bayu”… kemudian saya terperanjat karena tidak ada keluarga yang secara hangat menyambut saya seperti ini. Saya menjadi sungkan dan bingung harus bersikap seperti apa… saya begitu khawatir salah berperilaku.

Tibalah akhirnya kami semua berada di dapur mereka yang sangat bersih. Setelah berbasa-basi sedikit, Mr. Andrew memberikan tanda untuk segera memulai doa. Kami melakukan doa syukur dengan berdiri di dalam dapur. Doa itu dipimpin oleh anak laki-laki Mr. Andrew yang terakhir yang masih berusia sepuluh tahun. Dia berdoa dalam bahasa Inggris dengan logat Australia, yang membuat saya sama sekali tidak mengerti perihal apapun yang sedang diucapkannya.

Setelah berdoa, Mr. Andrew dan Mrs. Donna mempersilahkan saya untuk mengambil piring dan makan. Saya kaget karena Mrs. Donna telah menyiapkan Indonesian salad alias Gadho-gadho, itu adalah salah satu jenis masakan kesukaan saya. Mr.Andrew berkata dalam bahasa Inggris yang kira-kira artinya seperti ini “saya telah menyuruh Mrs. Donna untuk memasakan untukmu sebuah steak sebesar ini (sambil menunjukan kedua tangannya kepada saya untuk mengesankan bahwa itu adalah ukuran yang sangat besar) namun kami menyadari bahwa kamu adalah seorang vegetarian, jadi Mrs. Donna membuatkanmu Gadho-gadho”. Saya sangat sungkan, namun saya mengucapkan terimakasih secara mendalam.

Beberapa saat berikutnya saya sudah duduk di sebuah meja makan persegi panjang, dan saya duduk berhadapan dengan Mr. Andrew di kedua ujungnya. Sembari makan itu saya membuat percakapan ringan dengan ketiga anaknya, kebanyakan sekitar topik tentang makan sayur mayur.

Ada sesuatu yang luar biasa dari keluarga itu, dimana saya terus memikirkannya pada saat-saat menjelang tidur saya malam itu juga. Saya beranggapan bahwa Mr. Andrew dan Mrs. Donna sangat berhasil dalam membentuk perwatakan anak-anaknya sedemikian rupa sehingga mereka terkesan sebagai anak-anak yang manis, sopan dan menghormati orang lain. Meskipun usia mereka rata-rata masih sangat muda, namun mereka tahu bagaimana cara membuat orang lain terkesan. Semuanya tersenyum kepada saya tanpa terkecuali dan selalu menanggapi jika saya bertanya sesuatu kepada mereka. Saya adalah orang asia satu-satunya di meja makan itu, dan kulit saya paling gelap, namun tidak satupun diantara mereka yang menunjukan muka jijik kepada saya. Tidak banyak orang yang berlainan ras dengan saya dapat menunjukan penghormatan semacam itu.

Dalam makan malam itu, Mr. Andrew bertanya dengan santun kepada ketiga anaknya perihal kegiatan apa saja yang mereka lakukan di sekolah mereka. Kemudian terjadi pembicaraan sopan diantara mereka… sangat kelihatan sekali bahwa anak-anak Mr. Andrew dan Mrs. Donna menaruh penghormatan yang begitu besar kepada mereka. Setelah makan malam selesai, Mr. Andrew memerintahkan ketiga anaknya untuk pergi mengambil Alkitab mereka masing-masing. Kemudian bersama-sama mereka saling membaca Alkitab itu dan mendiskusikannya. Sungguh keluarga yang tentram damai dan relijius.

Sungguh Ironi memang, kata orang kebanyakan… orang-orang Jawa adalah orang-orang berhati lembut dan bertutur lembut… sementara orang-orang barat adalah orang-orang yang memiliki adat kebiasaan lebih kasar daripada kami orang Jawa. Cara saya melihat justru kebalikannya, saya bertumbuh dan besar dalam keluarga Jawa-Madura, namun saya tidak pernah melihat bahwa keluarga saya memiliki kebiasaan untuk memperlakukan anak-anak mereka sebaik Mr. Andrew memperlakukan anak-anak mereka. Dari pada orang tua kami memperlakukan anak-anaknya dengan penuh perhatian, teliti, disiplin dan bersih… mereka cenderung mendidik kami dengan sekenanya atau malah dalam beberapa situasi mereka terkesan sangat otoriter. Selain itu saya tidak pernah diajari cara menghormati tamu kecuali “jangan ikut bicara jika orang tuamu berbicara dengan tamu”.

Saya senang dengan keluarga ini, mereka tidak sengaja memberikan pelajaran tentang pelajaran budi pekerti yang tidak diajarkan di keluarga saya.

Jumat, 07 Agustus 2009

Saling belajar

Hari ini tanggal 7 Agustus 2009.

Saya ditugasi oleh Mr. Andrew untuk mengantar beliau ke bandara dengan minibus buatan Korea selatan bermesin diesel 4 tak milik dia. Saya jemput dia di daerah Tidar pada pukul 8 pagi. Kelihatannya dia sudah sangat siap dengan dua tas punggung besar dan satu tas jinjing yang lebih kecil. Saya panasi minibus itu, lalu beberapa saat beliau menghampiri dan berpesan agar saya memanasi minibus miliknya di luar ruangan saja agar asap kendaraan itu tidak mengganggu kesehatan kedua putrinya dan seorang putranya (dan satu orang gadis remaja Australia lain) yang sedang tidur kelelahan karena semalam begadang berpesta untuk memeriahkan ulang tahun si Rheanan (putri kedua Mr. Andrew).

Saya memacu minibus itu sekencangnya, walaupun berkali-kali Mr. Andrew berkali-kali mengingatkan bahwa dia masih memiliki banyak waktu untuk mengejar pesawat. Saya tidak ingin berlama-lama di perjalanan, sebaliknya, saya ingin segera mencapai airport kemudian saya berharap agar Mr. Andrew segera check in, dan duduk bersama saya untuk membahas berbagai bahasan yang dapat kami bahas bersama. Saya berhasil, perjalanan itu (Tidar-Juanda) hanya dilakukan sekitar satu jam lebih sedikit, namun itu sudah cukup memberi waktu untuk mengobrol di mobil tentang banyak sekali hal. Bahkan dalam suatu kesempatan tertentu, masih dalam mobil yang saya geber kencang, Mr. Andrew membacakan doa untuk saya.

Akhirnya tiba juga saat-saat dimana saya dapat duduk bersama dengan Mr. Andrew. Dia membawa saya ke sebuah cafĂ© kecil yang mahal di dalam bandara, di mana dia memesan es teh tawar dan seporsi siomay bandung… sementara saya memesan seporsi gadho-gadho dan secangkir teh susu. Dia membeli sebuah Koran Tempo untuk dirinya sendiri, dan sebuah Koran Jawa Pos untuk saya… masing-masing Rp.5000. (dia juga memberi saya sebuah injil kecil berkancing magnit, dan sebuah buku berjudul “Taming the Tiger”).

Banyak hal baru luar biasa yang saya pelajari dari orang ini, salah satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah kerendahan hatinya (kerendahan hatinya sudah diakui oleh banyak orang, termasuk oleh ayah saya sendiri). Saya terkesima dengan caranya berbicara yang selalu serius, penuh dengan perhatian namun selalu terlihat senyuman tersungging di bibirnya. Satu kalipun saya tidak pernah mendengar dia berbicara buruk tentang orang lain. Dia adalah pengikut Jesus Kristus yang baik dan taat, dia tidak pernah berbicara buruk tentang orang-orang Islam berserta tradisinya… sebaliknya dia malah terkesan sangat menghormati agama ini. Selain itu Mr. Andrew adalah seorang pengamat permasalahan yang teliti dan penganjur yang sangat lihai. Dia selalu memberikan masukan-masukan pintar tidak terduga… dengan cara memberikan beberapa opsi jalan keluar dari permasalahan untuk dipikirkan bersama.

Kami terus berbincang hingga pengumuman dari petugas bandara menghentikan pembicaraan kami. Beberapa saat kemudian kami saling mengucapkan salam dan berpisah. Saya berlari kecil menuju minibus Mr. Andrew, dan kemudian saya geber kencang ke arah Malang, dengan beberapa kali salah jalan….!

Satu lagi, kami (saya dan Mr. Andrew) bersepakat bahwa kami selalu bersemangat untuk saling mengetahui dan belajar tradisi, norma dan nilai kesopanan yang dijunjung tinggi di barat dan di timur. Ini sangat berguna bagi kepentingan Mr. Andrew yang ingin menyelami khasanah budaya timur… juga berguna bagi saya yang selalu tergila-gila dengan khasanah kebijakan Barat.

Rabu, 01 April 2009

Menghargai Orang Lain

Sangat menyedihkan ketika memperhatikan kebanyakan orang yang hanya memperhatikan diri sendiri, sehingga kemampuan mereka untuk peduli dan menghormati menjadi berkurang sama sekali. Saya lahir dan bertumbuh di daerah Malang. Dengan malu saya harus mengatakan bahwa saya tumbuh di lingkungan yang sangat minim memberikan penghargaan kepada orang lain yang tidak dikenal. Saya tidak tahu dengan daerah lain, namun saya hanya memberikan gambaran lugu tentang segala hal yang saya lihat di daerah saya.

Saya pernah melihat seorang nenek tua yang sedang kebingungan karena tidak ada seorang pun yang bersedia memberikan waktunya untuk membantu dia menyeberang jalan. Sekali waktu saya melihat dua orang laki-laki tua penjual bambu batangan yang sempoyongan mendorong gerobak mereka di jalanan menanjak, tidak ada seorangpun yang mau membantu mereka karena hari itu sedang hujan. Kadang-kadang hati manusia telah menjadi sekeras batu, mereka kesulitan menghargai martabat orang lain dan tidak lagi mampu mengenali nilai-nilai perikemanusiaan.

Orang-orang di daerah saya telah lupa dengan cara mengucapkan terimakasih dan menjadi bodoh didalam egoisme konyol dan harga diri yang berlebihan yang membuat mereka kelihatan tidak waras. Suatu saat ketika saya mengisi bensin di pompa bensin, saya menyaksikan dua baris di depan saya sebuah adu mulut yang sangat sengit antara seorang pelanggan dan seorang operator pompa bensin. Masalahnya sangat sepele, operator pompa itu mengisikan bensin terlalu banyak ke motor pelanggannya, sehingga nilai bensin yang diisikan ke dalam tangki motor kelebihan Rp.2500 (Dua ribu lima ratus, bukan dua puluh lima ribu) dari jumlah uang yang diberikan. Operator memohon kepada pelanggan untuk memberikan tambahan uang untuk kelebihan bensin yang diisikan, namun pelanggan menanggapinya dengan ketus dan angkuh. Merasa ditanggapi dengan kasar, maka operator itu juga naik pitam, dan kemudian cekcok tidak terhindarkan lagi.

Saya heran dengan orang-orang yang hanya berdiam diri menyaksikan cekcok itu, tidak ada seorangpun yang mau ikut campur dalam permasalahan sepele itu. melihat ini semua maka saya memberanikan diri untuk tampil membantu, dengan mengurangkan jatah bensin saya senilai Rp.2500. Melihat permasalahan beres, si pelanggan, yaitu bapak tua gendut memalingkan muka dari operator tanpa melihat saya sedetikpun, menghidupkan motornya dan segera menyingkir. Sementara operator dengan wajah marahnya mengisikan BBM ke skuter saya dengan memperhatikan betul-betul angka yang ada di mesin pompa. Setelah selesai dengan saya, maka dia meneruskan pekerjaannya mengisikan BBM ke antrean berikutnya. Saya tertawa geli karena sepanjang ingatan saya tidak satupun diantara mereka berdua yang mengucapkan terimakasih. Itu adalah hal lucu, ketika dua orang manusia mengalami kemerosotan etika hanya karena barang senilai Rp.2500, sehingga mendadak secara tidak sengaja timbul anggapan dari dalam diri saya, bahwa mereka adalah pribadi rapuh yang seketika menjadi tidak waras hanya karena masalah sepele. Konyol… benar-benar konyol… dan lucu.


Kemarin sore saya ada sedikit keperluan di Blimbing untuk menyelesaikan sesuatu. Karena suatu hal saya berhenti di depan Bank BCA, tetapi skuter tidak saya parkir. Di depan saya diparkir sebuah SUV (Sport Utility Vehicle) Ford Everest, yang saya tahu persis bahwa harganya sangat mahal melebihi mobil-mobil kebanyakan. Tiba-tiba di hati saya muncul suatu pemikiran picik yang menduga bahwa pemiliknya adalah seorang laki-laki sombong memakai celana pendek bersandal jepit yang berjalan dengan congkak.

Tidak lama kemudian seorang perempuan cantik berusia pertengahan tigapuluhan keluar dari ATM, merogoh kedalam tasnya dan mengeluarkan uang Rp.5000 untuk diberikan kepada tukang parkir. Dengan murah senyum dia memberikan uang itu kepada tukang parkir kemudian menggerak-gerakan tangannya sedemikian rupa seakan-akan dia tidak menginginkan kembalian dari uangnya tersebut. Saya melihat tukang parkir itu membungkuk senang pada wanita cantik itu, dan saya tidak menyangka bahwa wanita itu balas membungkuk dengan tersenyum ramah kemudian masuk kedalam Ford Everest tersebut dan pergi.

Jarang sekali saya melihat pemandangan seperti ini. Di sebuah masyarakat yang dipenuhi dengan orang-orang sombong yang sok bermartabat, terdapat seorang wanita kaya, pemurah dan rendah hati. Mungkin ada yang menyepelekan apa yang dilakukan oleh wanita cantik tadi dengan berkata “apa sih susahnya membungkuk ke tukang parkir?”. Tapi ada berapa banyak dari kita yang dapat berbuat seperti itu? berapa banyak diantara kita yang mau menundukan ego sedemikian rupa sehingga kita mau membungkuk pada seorang tukang parkir, lebih-lebih jika kita berada pada posisi wanita itu.

Wanita itu telah menjadi guru kehidupan sesaat bagi saya, dan secara tidak sengaja telah mengajarkan kepada saya bahwa kita manusia adalah memiliki derajat yang sama, dan kita tidak boleh menyombongkan dengan apa yang kita miliki. Mungkin sudah berpuluh-puluh kali saya mendengar atau membaca filosofi seperti itu, namun hanya wanita ini saja yang telah membuat saya bisa memahami secara mendalam arti kesetaraan dan persamaan derajat manusia.

Mungkin penting sekali bagi kita untuk selalu mengucapkan terimakasih. Dengan mengucapkan terima kasih berarti kita telah mengungkapkan penghargaan kepada orang yang telah melakukan sesuatu yang bermanfaat kepada kita. Dan yang kedua adalah penting untuk menganggap orang lain sama pentingnya dengan kita, sehingga mempengaruhi perilaku kita sekaligus mempengaruhi perilaku orang lain untuk berlaku secara bersahabat. Maka dengan demikian kita turut berperan aktif dalam penyebaran virus cinta kasih. Semoga…

Rabu, 25 Februari 2009

Ludruk "Guyon" Jawa Timur


Cak Kartolo, jika saya mendengar itu saya langsung teringat dengan lawakan ludruk Kartolo CS yang terdiri dari Cak Kartolo, Cak Sapari, Cak Basman, Cak Munawar, Cak Markeso, Cak Blontang, Ning Kastini, Cak Sokran, Cak Kancil dll. Nama-nama itu sangat berarti bagi saya pribadi, lebih-lebih nama Cak Basman yang terkenal dengan gaya bahasanya yang meninggi dan kocak.

Saya menghabiskan hidup selama dua puluh enam tahun terakhir di Jawa Timur. Bahasa yang paling saya kuasai adalah bahasa Jawa dialek JawaTimur, otomatis cara guyon saya adalah model guyonan Jawa Timur. Tidak semua orang mengerti model guyonan khas ludrukan model Jawa Timur. Tidak semua orang Jawa mengerti model guyonan ini, contohnya orang Jawa Tengah, jarang sekali mereka tertawa lepas ketika mendengarkan guyonan ini. Tidak semua orang luar pulau yang mengerti bahasa Jawa yang bisa tertawa mendengarkan guyonan ini. Namun saya kenal seorang Batak yang bernama Frans Dinton, bahasa Jawa-nya pasif, namun dia bisa tertawa jika mendengarkan model guyonan ini.

Bagi saya hidup tanpa guyon adalah hampa, saya menjunjung tinggi humor dalam kehidupan ini seperti saya menjunjung tinggi vegetarianisme. Saya berusaha baik dalam berhubungan dengan semua orang, namun hubungan tersebut akan menjadi kaku jika orang tersebut tidak dapat saya ajak guyon. Saya pribadi selalu mengimbuhkan guyon Ludrukan Jawa Timur dengan semua orang, meskipun mereka bukan Orang Jawa. Sering sekali saya berguyon Ludrukan dengan teman-teman India meskipun mereka tidak mengerti, bahkan salah satunya telah terekam kamera dan diputar dalam suatu meeting International yang diadakan oleh suatu organisasi di Jakarta. Saya tidak diberitahu sebelumnya bahwa rekaman itu mereka putar dan ditonton sekitar orang.
Setiap jam 23:oo WIB, saya selalu mendengarkan Ludrukan Cak Kartolo. Saya selalu menanti-nanti munculnya Cak Basman yang terkenal dengan gaya bahasanya yang tinggi dan sering keselip lidah. Cak Basman juga terkenal dengan model tertawanya yang berat dan panjang. Biasanya Cak Basman muncul sebagai juragan kaya yang seringkali mengalami nasib apes karena diakali oleh Cak Kartolo dan kawan-kawan. Nah kalau Cak Basman mengetahui bahwa dirinya sedang diakali oleh para Cak Kartolo dan Kawan-kawan, maka dia akan marah besar dan mencaci maki mereka. Nah ketika Cak Basman mencaci maki inilah saya tertawa lebar, perut saya seakan diaduk-aduk, tertawa lebar.

Meskipun adegan ini seringkali diputar ulang berkali-kali namun kenyataannya saya tidak pernah bosan. Saya mendengarkan lawakan ini sedari kecil, dan lawakan ini seringkali membantu saya melewati hari-hari berat saya.

Mengapa saya menyukai Ludruk? selain lucu, Ludruk adalah pertunjukan orang-orang lugu dari masyarakat kelas paling bawah yang berpikir sangat sederhana. Selicik apapun mereka merencanakan sesuatu, sepanas apapun suasananya, Ludruk Kartolo selalu berakhir dengan perdamaian. Tidak ada balas dendam, tidak ada yang mati, semuanya diampuni, semua saling mengampuni. Ini adalah contoh pertunjukan perdamaian.

Saya suka perdamaian,
Saya suka ludruk

Senin, 23 Februari 2009

Musik adalah alat bantu kehidupan bagi saya.

Musik telah lama mempengaruhi manusia, musik sejak jaman dahulu kala selalu mengiringi sejarah peradaban manusia. Beruntung sekali saya dilahirkan pada tahun-tahun dimana teknologi sudah berkembang maju, sehingga saya bisa mengakses internet untuk mengunduh lagu-lagu yang ingin saya miliki. Saya yakin bahwa orang masa kini bisa mendengarkan serta memiliki segala macam musik… dari seluruh dunia dengan gampang, yaitu sesuatu yang mustahil dilakukan oleh orang-orang Singosari duapuluh atau tigapuluh tahun yang lalu.

Melalui musik kita dapat memasuki dunia emosi di dalam diri kita yang jarang-jarang bisa kita ungkapkan kepada orang lain dengan kata-kata. Kadang-kadang melalui musik kita teringat oleh Ayah, Ibu, atau siapapun yang kita sayangi. Kadang-kadang pula, melalui musik kita teringat akan suatu tempat yang sudah lama tidak kita kunjungi, yang barang kali tempat itu sudah tidak lagi ada. Beberapa orang malah merasa bahwa dia sedang berada di suatu tempat yang mustahil ada di kehidupan nyata ini ketika dia mendengarkan musik tertentu. Ada pengakuan-pengakuan dari beberapa mualaf yang menangis tersedu-sedu ketika mendengarkan suara Adzan. Dalam pengakuannya, ketika sedang mendengarkan suara Adzan, dia serta merta seperti merasa di dunia awang-awang yang damai, yang tidak pernah dia rasakan di dunia.

Saya sendiri mengkoleksi lagu-lagu yang menjadi kesenangan saya. Tidak peduli lagu itu lama atau baru, terkenal atau tidak, dari manapun di dunia ini lagu itu berasal, jika lagu itu mengandung emosi bagi saya, maka akan saya simpan. Adapun lagu yang selalu abadi di dalam kepala saya adalah Imagine-nya John Lennon. Saya selalu menghormati lagu ini, baik dengan iramanya, maupun dengan liriknya. Lagu ini selalu membuat saya terharu dengan cita-citanya yang mulia, yaitu persaudaraan diantara sesama manusia, the broteherhood of man.

Lagu-lagu tertentu dari daerah tertentu pasti memiliki cirikhas tertentu pula. Nah cirikhas itu yang dapat membangkitkan emosi bagi saya. Dalam keadaan tertentu, ketika saya menginginkan emosi tertentu, maka saya memutar musik dari daerah tertentu. Berikut adalah penilaian saya tentang jenis musik-musik.

Country Musik : sajaknya lugu dan sederhana, seringkali mengangkat tentang cinta kepada seseorang atau cinta kepada kampung halaman. Cengkokannya membuat hati saya riang dan damai.

Reggae : musiknya seringkali berdebum-debum, namun nadanya tenang sehingga membuat hati saya santai.

Musik era 70 an : syair dan liriknya sederhana, alunan alat musiknya juga sederhana. Saya senang sekali berkaraoke dengan musik-musik sejenis ini.

Musik-musik Budhis : lagunya seringkali tenang dan membawa kedamaian

Langgam Jawa Tengah Kuno : musiknya santai, dan bikin kantuk. Meskipun saya orang Jawa, dan bisa berbahasa Jawa halus, namun seringkali saya tidak bisa menangkap syair yang dinyanyikan oleh para sinden. Sangat enak diputar untuk mengiringi tidur dalam suasana siang yang panas.

Campursari Jawa : cengkokannya sabar terasa sabar di telinga membuat hati tentram.

Campursari Madura : musiknya bernuansa riang gembira.

Campursari Bali : musiknya memiliki irama yang dalam dan melankolis, cocok sekali diputar ketika hati sedang gundah atau ketika sedang merindukan seseorang.

Kendang-Kempul Banyuwangi/ Blambangan : irama musik jenis ini terdiri dari irama musik Jawa, Madura dan Bali. Cengkokannya naik dan turun secara ekstrim, seringkali mengangkat tema cinta. Jenis musik seperti ini yang paling menyenangkan bagi saya, sangat membuat hati damai dan santai.

Musik tradisional timur tengah, Gambus, padang pasir / musik Arab : meskipun banyak perkusi dalam musik ini, namun iramanya sangat menenangkan hati, kadang-kadang melankolis, seperti seorang yang sedang ikhlas memasrahkan sesuatu. Namun seringkali jenis musik ini membuat hati bersemangat karena pukulan perkusinya yang rancak.

Japanese Enka : katanya jenis musik ini mulai marak di negeri matahari terbit, di era 45 ketika jepang mengalami kekalahan dari pihak sekutu. Waktu itu keadaan ekonomi Jepang sangat sulit, sehingga kebanyakan lagu yang muncul di negeri ini bersifat melankolis. Ketika sedang sedih, saya memutar lagu ini hingga menangis.

Capoeira musik : yaitu jenis musik perkusi yang sebenarnya menurut saya biasa-biasa saja. Namun ketika saya mendengar ini, saya tiba-tiba teringat dengan asyiknya berjogo ria.

Musik meditasi : yaitu musik khusus yang dibuat untuk meditasi. Alunannya pasti halus agar pelaku meditasi menjadi tenang serta dapat masuk kedalam perasaannya sendiri. Biasanya musik meditasi sengaja diisi dengan suara-suara angin, air, burung-burung, nyanyian ikan paus bungkuk, dan ikan lumba-lumba.

Celtic musik
: yaitu musik yang sangat kuno yang diciptakan oleh orang eropa berbudaya Celtic. Menurut saya pribadi, ada nuansa ketulusan, kesungguhan, pengorbanan, dan cinta. Ada alat musik yang sangat khas dengan jenis musik ini yaitu Bag Pipe. Alat musik ini paling banyak ditemukan di Irlandia dan Skotlandia, suaranya tinggi lama, tidak terputus sama sekali. Enya adalah seorang penyanyi perempuan dengan suara seperti lonceng yang sering bernyanyi lagu-lagu Celtic. Saya sering menggunakan musik ini untuk mengiringi meditasi.

Beberapa musik Mandarin yang agak tua, tapi tidak tua sekali, saya juga senang mendengarnya. Saya senang sekali dengan cengkokannya.

Gregorian : ketika saya mendengarkan jenis musik ini, seakan-akan saya memasuki sebuah gereja batu besar yang lembab di abad pertengahan. Padahal seumur hidup, hingga saya menulis ini, saya hanya dua kali memasuki gereja.

Saya membutuhkan musik. Dengan musik hidup saya lebih berwarna. Setiap orang membutuhkan musik, setiap warga negara berhak atas musik. Mari bernyanyi bersama-sama, hilangkan semua duka lara.

Minggu, 22 Februari 2009

Mortal Combat De Jalan Batubara

Banyak cara untuk membuat pikiran bisa senang sehingga harapannya badan dapat awet muda. Membuat film amatir contohnya. Dua hari yang lalu saya dan Eng mengajak Hen-hen membuat sebuah film amatir tentang beladiri dengan durasi pendek. Eng seorang Tae Kwon Doin, Hen-hen seorang Karateka, dan saya sendiri Mix Martial Art (menendang, memukul, membanting dan mengunci). Setiap orang yang muncul di film amatir ini adalah seorang pebeladiri yang sudah menggeluti beladiri selama bertahun-tahun.

Film itu diawali oleh perseteruan antara Eng dan Hen-hen, yaitu musuh bebuyutan yang sudah lama tidak akur. Dalam sebuah iringan musik Mortal Kombat yang menderu-deru, mereka bertarung sengit, saling tendang dan saling pukul. Lucunya adalah, karena Eng dan Hen-hen memiliki wajah oriental, maka film itu mengingatkan saya pada film-film tahun 70-an yang biasanya dibintangi Bruce Lee.

Tidak hanya ketrampilan memukul, menendang atau jatuhan yang diuji di situ, namun juga kemampuan akting. Eng dan Hen-hen sudah bisa ber-akting dengan cukup proporsional dan bagus. Namun malang bagi saya karena tidak satupun karakter yang cocok bagi saya kecuali peran antagonis, tidak satupun peran saya menjadi bagus kecuali peran sebagai orang jahat. Jika saya memasang muka sabar, maka kelihatan seperti orang tidak serius main film, tapi jika saya pasang wajah serius tapi tenang, kesannya dingin dan menakutkan, jadi ya sudah memang saya harus menjadi orang jahat. Dan di dalam film ini akhirnya saya memerankan seorang pribadi yang brutal berpakaian hitam-hitam ala pencak silat, namun memiliki kemampuan Grappling yang tidak tertandingi. Akhir cerita, saya membunuh Hen-hen dan Eng sekaligus dalam sebuah pertarungan sengit.

Yang paling asyik bagi saya adalah proses pengambilan gambar, koreografi dan editing. Dalam proses pengambilan gambar, saya sepenuhnya menentukan dari dari arah mana sudut kamera harus diambil. Dalam proses koreografi, saya menjadi penilai dari gerakan-gerakan matang yang sudah mereka (Eng dan Hen-hen) persiapkan. Dan dalam proses editing, karena saya yang mengerjakan sepenuhnya, maka saya senang bisa membelok-belokan cerita semau-maunya, sesuai dengan kehendak hati saya. hehehe. Tapi itu bukan berarti ngawur, setiap teknik dan gerakan harus disesuaikan dengan lagu yang menjadi background. Dan lagi jika kita serampangan memasukan adegan, lebih-lebih adegan konflik, maka akan jadi runyam deh.

Saya senang berkesempatan membuat sebuah film amatir bersama dengan rekan-rekan. Saya berterimakasih kepada Andika, Hen-hen dan Eng, mereka adalah orang-orang yang penting bagi film ini hingga bisa menjadi film yang layak di tonton. Saya berterimakasih kepada Bapak Hengky dan Ibu Lia yang telah berbesar hati meminjamkan halaman rumah mereka untuk kami. Kami sangat beruntung karena kami diijinkan oleh mereka untuk melakukan apa saja, agar kegiatan bikin film itu terlaksana, termasuk teriak-teriak sekuat-kuatnya.
Bisa menjalani hobi tanpa terhalang oleh apapun, bisa membuat seseorang menjadi teramat sangat bahagia.

Rabu, 18 Februari 2009

Hamburger Singosari

Saya bertumbuh di sebuah desa kecil yang dahulunya bernama Pedukuhan Wonojati, sekarang dinamakan desa Pagentan, Jalan Tumapel, Kecamatan Singosari. Penduduknya ayem, tidak suka neko-neko, sehingga semuanya pun ayem, termasuk makanannya. Sewaktu saya kecil, tidak banyak jenis makanan jajanan yang bisa saya makan, jenisnya masih sangat sedikit, yaitu masakan dan jajanan Jawa tempo doeloe.

Kalau anak kecil Singosari masa kini sudah lumrah jajan Kwetiaw, maka saya dulu sudah bisa sangat senang dengan jajanan Orog-orog, Bledhus, Rangin, Gethuk Lindri, Jenang Sapar, Angsle, Uthuk-uthuk, Gethas, Gethuk Sate, Tiwul, Lupis, Kerupuk Upil, Es Tontong, Es Gandhul, Arbanat, Gathot, Puthu – Klephon. Jika ingin membeli Bak-Pao dan Hok Lo Pan (Terang Bulan/Martabak Manis), maka saya harus merengek-rengek, menangis sejadi-jadinya di depan ayah saya agar beliau mau membelikan saya jajanan mahal itu, sepulang dari kantor. Tapi itu bukan berarti tanpa resiko, kalau saya menangis di saat yang tidak terlalu tepat, misalnya ketika ayah saya sedang pusing, salah-salah saya malah kena Cethol, Ceples, Kuthek, Kethak, Jiwit, Kephles, Khampleng, Slenthik, dan hukuman fisik lain yang istilahnya sulit saya temukan dalam bahasa Indonesia


Sekarang sudah ada Hok Lo Pan dan Bak-Pao di Singosari, harganya-pun tidak terlalu mahal. Tidak hanya itu, sekarang anak petani pualing pelosok… pualing ujung Singosari…. mereka pasti sudah pernah makan Hamburger, Pempek Palembang, Rhonde, Sate Madura, Mie Ayam, Batagor Bandung, Roti Bakar Bandung, Tela-tela, Es Krim Kemasan. Jika dulu saya hanya mampu membeli buah Kedondong atau Juwet, maka anak sekarang bisa membeli Jeruk manis impor dari China.




Kemajuan jaman, kemajuan teknologi, materi yang dikonsumsi berubah. Tambah maju tambah enak, tambah maju tambah kompleks. Jajanan Jawa kuno tersingkir, digantikan dengan jajanan baru yang jauh lebih enak. Bahkan sekarang seorang tukang becak yang biasa menunggu penumpang di depan super market Rita, sudah bisa memakan Pizza Jawa dengan harga murah.

Tidak apa-apa, tidak apa-apa, mari jajan rame-rame, coba segala jenis jajanan yang ada, biar hati senang, oke saudara? Tapi harus di kontrol, jangan banyak-banyak, karena banyak yang tidak sehat, mengandung pewarna.

Selamat menikmati.....

Matrioska Rusia.

Pada suatu hari saat Winto bertandang kerumah sekedar untuk main-main (saya lupa kapan tanggal persisnya) dia membawa benda unik yang katanya bernama Matrioska. Benda ini semacam benda pajangan sederhana, yang bentuknya sedikit oval, seperti kendi atau botol arak Cina, bergambar wajah perempuan. Uniknya adalah bahwa benda ini terbelah di tengahnya, bisa dibuka menjadi dua, dan di dalamnya terdapat Matrioska yang lebih kecil lagi. Matrioska yang lebih kecil itu juga masih dapat dibuka lagi, dan didalamnya terdapat Matrioska yang lebih kecil, demikian seterusnya hingga Matrioska yang terkecil.

Kemudian Matrioska itu diberikan oleh Winto kepada adik saya yang bernama Lina. Dan kepada Lina, Winto memberitahu bahwa pemberiannya itu adalah oleh-oleh dari Rusia. Pada suatu hari yang lain Winto juga membawakan oleh-oleh dari luar negeri yang lain, yaitu dua ekor kelinci putih yang dibungkus dalam sebuah kantung wortel yang memiliki resleting yang dia beli sendiri di Chiang-Mai, Thailand. Selain itu, dia juga memberi Lina sebuah manik-manik Myanmar.

Kemudian Winto bertanya kepada Lina “kamu tahu letak Rusia dan Thailand berada?”, Lina menggeleng. Mengetahui ini saya ambil laptop saya yang kebetulan waktu itu sedang online, saya tunjukan di Google Earth kepada Lina letak dua negara itu, seberapa jauh dan seberapa besar kedua negara itu. Sebagai perbandingan, untuk membuat Lina mengerti, saya menunjukan perbandingan jarak Singosari – Malang, jarak Singosari – Surabaya, jarak Singosari Chiang-Mai, serta jarak Singosari – Moscow. Melihat perbandingan itu, tampak raut muka Lina bahwa dia sedang terkesima.

Karena pemberian dari Winto itu dirasa begitu berharga, maka Lina tidak berani memakainya untuk bermain. Dia menyimpan kenang-kenangan itu di dalam lemari, di satu kotak khusus bekas kardus sepatu yang bertuliskan “jangan dibuang, oleh-oleh dari luar negeri” . Selain itu, di salah satu sisi kotak dia juga menuliskan nama barang-barang apa saja, dari negara mana saja, beserta nama masing-masing ibu kotanya.

Kadang-kadang Lina menanyakan Koko Winto kemana? kenapa dia sudah lama tidak main ke rumah kami. Saya bilang bahwa Winto sedang sibuk.

Pelajaran baru, tidak semua hal yang berhubungan kekanak-kanakan itu jelek. Orang dewasa juga dapat mencontoh keluguan anak kecil, yaitu bahwa seorang anak kecil selalu mengenang orang-orang yang memberi mereka sesuatu. Ungkapan terimakasih mereka kepada pemberi mereka adalah dengan cara tidak melupakan orang tersebut. Kita juga harus bisa berperilaku demikian, ini adalah hal yang terpuji menurut saya.

Kamis, 29 Januari 2009

Menginap semalam di rumah Ai Lia

Pada sore hari saya menerima tilpun dari Ai Lia, beliau mengabarkan bahwa beliau membutuhkan saya untuk tinggal menjaga rumahnya sementara dia sekeluarga pergi untuk menghadiri suatu pertemuan keluarga dalam rangka menyambut hari raya Imlek 2560. Saya menyanggupi dengan sebuah kesepakatan bahwa saya boleh membawa anak-anak India, si Akash Sharma dan si Mohsin Alam untuk menemani saya berkaraoke di rumah Ai Liya. Namun tidak dapat dipastikan bahwa anak-anak India itu bisa seratus persen dapat menemani saya berkaraoke di rumah Ai Lia, maka untuk itu saya juga mengajak si Eng.

Sekitar jam 15:00 WIB saya datang di rumah Eng untuk menjemput dia. Sebelum kami pergi ke rumah Ai Lia, kami menyempatkan diri untuk mengobrol ringan. Di dalam kamarnya dia menunjukan beberapa barang yang berhubungan dengan dunia kearsitek-an yang menjadi kesibukannya, juga tulisan-tulisan yang telah dia susun dalam waktu senggangnya. Meja arsitek milik Eng, adalah meja arsitek pertama yang saya sentuh, saya kagum dengan mekanisme alat ini. Pada komputernya, Eng menunjukan beberapa topik tulisan yang sedang dia susun, antara lain adalah filosofi tentang kehidupan, keTuhanan, serta percintaan. Memang usia Eng masih belia, waktu saya menulis ini dia berusia 18 tahun, masih bocah, namun ketertarikannya terhadap pembicaraan yang menyangkut filosofi membikin bangga.

Saya membonceng Eng dari rumahnya menuju rumah Ai Lia dengan mengendari motor Vega R milik Winto. Akhirnya kami sampai di tempat Ai Liya jam 16:30-an, ternyata keluarganya Ai Lia masih belum bersiap menuju acara mereka. Rico, si anak sulung Ai Liya sedang sibuk belajar gitar dengan guru privatnya, sementara kakaknya si Hen-hen sedang tidur.

Sekitar jam 18:00 saya bersama keluarga Ai Lia dan Eng sedang berada dalam mobil menuju sebuah ruko besar yang menjadi tempat pertemuan keluarga. Saya dan Eng tidak mengikuti keluarga Ai Lia masuk kedalam ruko, kami memiliki tugas tersendiri, yaitu menjemput anak-anak India. Sebelum Ai Lia pergi meninggalkan kendaraan, beliau memberi kami uang seratus ribu sebagai uang makan. Seumur-umur saya tidak pernah dipercaya sebelumnya oleh orang lain yang bukan saudara saya, untuk menjaga rumahnya, diberi ijin memakai mobilnya, dan diberi uang jajan seratus ribu rupiah.

Sesampainya di tempat anak-anak India, setelah menunggu beberapa saat, kami bertemu dengan mereka. Namun hal yang tidak kami harapkan terjadi, si Akash terserang masalah konstipasi, sehingga sudah beberapa hari ini dia muntah-muntah terus. Melihat kondisinya, kami sudah tahu jawaban apa yang akan dia berikan ketika saya mengajak dia untuk berkaraoke di tempat Ai Lia. Si Akash bilang bahwa dia tidak terlalu kuat untuk diajak-ajak keluar dulu.
Setelah beberapa lama kami bergurau di tempat anak-anak India itu, saya dan Eng pergi untuk mencari masakan. Karena Eng sedang terkena radang tenggorokan, maka kami memilih masakan ringan untuk makanan malam. Lalapan Pak Pi’I adalah pilihan kami untuk mengenyangkan perut. Kami berniat untuk menghabiskan uang saku yang diberikan oleh Ai Lia… maka kami memesan tiga porsi nasi lalapan jamur, satu porsi nasi lalapan lele, satu teh tawar, dua es campur, dan sebuah poding. Satu porsi pertama saya sangat menikmati masakan-masakan itu, namun porsi kedua itu saya mulai berjuang, perut saya mulai penuh, es campur yang sangat manis memperparah kondisi itu. Setelah saya menghabiskan porsi yang kedua itu, saya merasa dalam bahaya muntah, makanya saya tidak berani langsung berdiri. Di saat saya merasa perut saya mau meledak, Si Eng malah memesan satu porsi kentang.

Dalam keadaan sangat kenyang kami pulang ke rumah keluarga Ai Lia, tidak ada lagi yang ingin kami lakukan selain pulang kerumah itu. Sesampainya di rumah itu, saya menghidupkan DVD dan seperangkat sound system besar milik keluarga Ai Lia, kemudian berkaraoke. Saya dan Eng bergantian bernyanyi, karena selera kami tidak sama, jika dia menyukai lagu-lagu dari group-group band baru, maka saya cenderung menyenangi lagu-lagu tembang kenangan.

Malam itu kami menginap di rumah keluarga Ai Liya dengan perut kekenyangan.

Pelajaran baru bagi saya “kita harus berjuang menjadi orang jujur sehingga kita bisa dipercaya oleh orang lain”.

Minggu, 11 Januari 2009

Keluarga Suk Hengky dan Ai Lia

Malam ini saya bermalam di rumah Suk Hengky, hingga saya mengetik ini saya masih di rumah beliau. Saya datang sekitar jam 18:30. Beberapa hari sebelumnya saya sudah memohon ke Ai Lia (istri tercinta Suk Hengky) supaya diijinkan untuk karaoke di dirumah beliau, dan beliau membolehkan. Suk Hengky dan Ai Lia adalah orang tua dari Hen-hen, seorang kenalan yang kini sudah menjadi teman dekat.

Malam itu saya datang dengan membawa empat kaset, terdiri dari satu kaset tembang Budhis, dan tiga kaset lagu Country. Lagu Country saya itu berisi lagu-lagu Pop semi Country jaman dalu sekitar tahun 70-an. Dari karaoke sebelumnya saya tahu kalau Suk Hengky suka sekali dengan lagu jaman dahulu, mungkin untuk mengenang masa mudanya kali.

Ada dua anak India yang bernyanyi bersama kami, namanya Akash Sharma, dan Mohsin Alam. Mereka adalah dosen Universitas Machung (universitas Tionghoa di Malang), yang satu dosen bahasa Inggris, dan yang satunya lagi adalah dosen IT. Mereka turut bernyanyi bersama kami, sekena-kenanya, sebisa-bisanya, karena mereka tidak biasa dengan musik Pop Country jaman dahulu. Maklum saja mungkin mereka terbiasa menyanyikan lagu-lagu Bollywood India. Adapun judul lagu-lagu yang saya nyanyikan adalah Take Me Home Country Road, Ginny Comes Lately, The Rivers Of No Return, Stoney, Let It Be Me, Only You, Massachussets, Love Is Blue, Sayonara, Somewhere Between, Achy Breaky Heart dan Boulevard. Kadang-kadang diselingi dengan musik Campur Sari, dan lagu-lagu Mandarin.

Kami bernyanyi bersama hingga jam 3 pagi, keras-keras, karena rumah mereka jauh dari rumah tetangga. Keluarga ini memiliki sebuah sound system besar di ruang keluarga mereka, yang mirip-mirip dipakai untuk acara pernikahan di kampong-kampung. Saya senang dengan keluarga ini karena kentalnya suasana keluargaan. Mereka senang sekali berbicara keras-keras diantara mereka sendiri. Jika mereka lagi guyon, hoho, bagi yang tidak terbiasa pasti dikira bahwa mereka sedang bertengkar. Saya tidak perlakukan sebagai seorang yang asing, meskipun saya baru mengenal keluarga ini. Ai Lia selalu memberi saya kue, dan beliau tidak pernah perhitungan jika mengajak saya keluar untuk makan di restoran. Bahkan sering kali saya sampai sungkan sendiri, karena tidak jarang beliau mengajak saya ke rumah makan mahal.

Sebenarnya bukan Ai Lia saja yang sering membawa saya ke restoran mahal. Kevin, seorang teman Amerika juga beberapa kali membawa saya makan di restoran mahal, seringkali beberapa kali makan di restoran hotel. Namun si Kevin melakukan itu karena dia memang membutuhkan saya, jadi dalam suatu perjalanan tertentu ketika dia membutuhkan seorang penerjemah, maka saya diajak, dan dibayar dengan makanan mahal. Apabila Kevin melakukan semacam hubungan dagang dengan saya, maka tidak demikian dengan Ai Lia. Beliau memang senang mengajak saya bertemanan, kata beliau teman anak-anaknya adalah temannya juga. Tidak pernah sekalipun saya disuruh-suruh melakukan sesuatu, bahkan jika saya memaksa untuk mencuci piring bekas makan saya, maka beliau akan marah.

Pelajaran baru bagi saya bahwa tidak banyak keluarga yang sedemikian menyambut saya. Dan saya ingin jika saya besok-besok berkeluarga, maka saya akan membuat keluarga saya mirip-mirip seperti model keluarga Suk Hengky, di mana kekompakan diantara anggota keluarga sangat diperhatikan, dimana suasana keceriaan benar-benar dijaga, dimana orang tua sangat menghargai tamu anak-anaknya.

Saya senang dengan keluarga ini.

Jumat, 09 Januari 2009

Semrawut

Indonesia semrawut kayak gini ini bukan hanya karena yang memimpin negara ini yang dinilai kurang, tapi rakyatnya memang maunya itu yang gampang-gampang saja. Semua orang pengin gampang dan yang simple-simple, saya tahu, tapi kalo semua hal dibikin simple maka ruwet jadinya. Dalam hal berlalu-lintas di jalan raya, seperti yang anda semua tahu ada “kebudayaan yang dijunjung tinggi” yaitu kebiasaan berkendara motor keluar gang tanpa tengok ke arah kanan terlebih dahulu. Seringkali saya jengkel dengan saudara sebangsa model kayak gini ini. Ketika saya sedang berkendara pelan, maka saya akan ambil jalur pinggir kiri untuk mempersilahkan kendaraan lain menyalip kendaraan saya. Kemudian tiba-tiba hanya beberapa meter di depan saya, seorang pemuda dengan motor sport nyelonong keluar dari gang, masuk jalan raya tanpa melihat arah kiri. Saya kaget minta ampun, tergopoh-gopoh menginjak rem mobil agak keras, menekan klakson sekuat-kuatnya… saya takut jika saya injak rem lebih keras lagi, motor-motor dibelakang saya akan menabrak mobil yang saya kendarai (karena mobil lebih mudah berhenti dari pada motor). Setelah saya klakson, pemuda itu berpaling kearah saya tanpa mengurangi kecepatan, menatap saya seperti tatapan seseorang yang ingin makan daging mentah, matanya merah, raut mukanya marah. Sampai-sampai saya ragu, yang salah itu saya atau dia sih?
Bukan hanya pemuda saja yang menjunjung tinggi budaya ngawur seperti itu. Beberapa kali lagi setelah itu saya mengalami peristiwa yang menjengkelkan seperti itu. Pelakunya pun berlainan, ada bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan pengendara sepeda pancal. Kadang-kadang kita dihadapkan pada situasi kita diharuskan manyalip dari sebelah kiri. Ini melanggar peraturan saya tahu, namun ketika anda sedang dibelakang sebuah truk besar yang setengah “kehabisan napas” karena jalan menanjak, mau tidak mau anda harus menyalip dari arah sebelah kiri. Kita juga tidak bisa terlalu menyalahkan sopir truk, kalau anda mau pakai logika, dan kalau anda menjadi sopir truk berat itu… tidak mungkin anda mengikuti peraturan “bahwa berkendara lambat harus ambil jalur kiri” dengan menjalankan kendaraan puluhan ton itu (yang seringkali memiliki gandengan) di sebelah kiri, kemudian setiap saat zig-zag untuk menghindari gerobak penjual bambu, bakso, sepeda pancal pembawa rumput… tidak mungkin, tidak mungkin terlalu beresiko. Tidak mungkin juga sopir truk tersebut membunyikan klakson besarnya di sepanjang jalan untuk mengusir para pengendara sepeda tersebut dari badan jalan, tidak mungkin.
Beberapa kali saya menyalib truk itu dari sebelah kiri. Di mana-mana kalau kita menyalib kendaraan, kita harus tancap gas untuk menghindari berlama-lama melaju berjajar dengan kendaraan besar tersebut, terlalu berbahaya. Nah disaat saya tancap gas itu, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang keluar dari gang dengan motor super butut, tanpa menoleh dulu kearah kanan terlabih dahulu. Praktis saya tekan klakson sekuatnya, akibatnya ibu itu kaget dan tergopoh-gopoh membuang motornya keluar jalur aspal. Saya kasihan dengan ibu tersebut, namun saya juga jengkel. Masih untung dia tidak jatuh, yah tapi saya berharap bahwa ibu tersebut ambil pelajaran dari kejadian tadi.
Saking ingin simple-nya banyak orang yang ogah hanya dengan menoleh kesebelah kanan sebelum memasukan kendaraannya ke jalan raya. Saya pikir ini bukan masalah ingin simple atau tidak, tapi sudah menjadi kebudayaan di masyarakat. Kebanyakan orang akan menganggap perilaku ini sebagai sesuatu yang salah, namun beberapa teman saya yang mengatakan ini salah, suatu saat mereka akan melakukannya lagi, keluar dari gang tanpa menengok ke arah kanan, dan saya memergoki itu. Kalo sesuatu yang keliru menjadi kebiasaan, mudah bagi kita akan mengatakan itu salah, namun sulit sekali bagi kita untuk menghentikannya.
Payah.