Sekitar jam sepuluh malam, seorang pemuda yang terkenal sebagai juara nasional Karate kelihatan sedang keluar dari GOR tempat dia berlatih beladiri. Dia kelihatan sangat letih dan putus asa. Matanya sayu, gerakannya malas-malasan seperti orang yang baru saja bangun tidur. Seorang tukang becak berumur enam puluh-an berbadan kerempeng memperhatikan dia dari kejauhan. Lalu tidak lama kemudian tukang becak itu mendekati sang juara nasional ketika dia sedang minum teh di warung kopi terdekat.
Tukang becak : Mbok Yem, kopinya satu…
Mbok Yem : Iya.
Tukang becak : habis latihan karate ya mas…?
Karateka : (terbuyar dari lamunannya) eh.. saya, betul pak.. eh kok tahu?
Tukang becak : Lha punggung jaket anda itu… ada tulisannya Karate, betul itu Karate?
Karateka : Oh iya, saya dapat diberi oleh pelatih.
Tukang becak : Dan kemarin saya iseng baca surat kabar bekas tertanggal satu minggu yang lalu. Di situ diberitakan bahwa sampeyan menang kejuaraan nasional kan?
Karateka : Wah saya merasa terhormat, bapak bisa mengenali saya (si Karateka mulai menampakan senyum)
Tukang becak : Sama-sama, saya juga merasa terhormat. Jarang-jarang orang bisa berbicara langsung dengan sang juara nasional yang sedang gundah dan cemberut.
Karateka : Hahaha… bapak terlalu melebihkan…! eh maksud saya, hmmm… memang sekarang suasana hati saya tidak terlalu bagus, yah… ada sedikit masalah.
Tukang becak : Dan setiap masalah adalah kangker, jika dibiarkan lama-lama akarnya akan menjalar kemana-mana. Masalah yang menemui jalan buntu bisa diibaratkan selokan buntu, mampet. Setiap selokan yang buntu dan mampet selalu mengeluarkan bau yang tidak sedap, setiap orang didekatnya pasti tahu bahwa selokan itu sedang mampet hanya dengan cara mencium baunya. Hehehe…
Karateka : Hehehe… hanya masalah sepele kok pak.
Tukang becak : Hingga Mbok Yem bisa mencium baunya…, ya Mbok ya..?
Mbok Yem : (tersenyum) dasar Pak Bagyo…
Karateka : Jadi nama anda Pak Bagyo ya? Bapak suka bercanda, saya terhibur, terimakasih pak.
Tukang becak : Itulah kenapa ibu saya memberikan nama kepada saya Soebagio, artinya bahagia. Saya memang senang dengan guyonan. Dalam keseriusan kita terpisah dalam urusan kita sendiri-sendiri, dan warna kita berbeda-beda sesuai dengan kesibukan kita. Dalam guyon kita bersatu, kita serius pada satu hal yaitu lawakan, tujuannya hanya satu, yaitu saling berbagi kebahagiaan. Dalam guyon kita sama derajat, satu warna… hidup guyon… bukan begitu mas? Hehehe…
Karateka : (manggut-manggut)
Tukang becak : Tetapi walaupun dengan guyon, bukan berarti kita tidak bisa serius dengan masalah kita, dan kita harus membereskan masalah kita. Ada dua pilihan cara membereskan masalah. Yang pertama adalah memikirkan dan mengerjakan sendiri, dan yang kedua adalah membuka diri terhadap segala ide dan kemungkinan bantuan dari orang lain.
Karateka : (manggut-manggut saja…)
Tukang becak : Baiklah, kopi saya sudah habis, saya mau mangkal dulu, sampai ketemu… eee…
Karateka : Daniel… Pak Bagio, nama saya Daniel Hartono.
Tukang becak : Oke kalau gitu, sampai ketemu Mas Daniel…
Karateka : Sebentar-sebentar Pak Bagio…(buru-buru menghabiskan tehnya), saya mau diantar…
Tukang becak : Bukannya Mas Daniel tadi bawa mobil?
Karateka : Kita bicara diluar saja Pak…
Daniel dan Pak Bagyo keluar dari warung, berjalan pelan menuju becak Pak Bagyo yang dia parkir dibawah pohon ceri. Daniel mengutarakan maksudnya bahwa dia ingin diantar Pak Bagyo untuk jalan-jalan memutari beberapa blok di pinggiran kota Surabaya, sebelum dia sampai ke rumahnya, sekedar untuk mengusir gundah. Maka Pak Bagio pun mengayuh pelan becaknya. Di perjalanan mereka ngobrol lagi.
Pak Bagio : Mobilnya nanti bagaimana Mas Daniel?
Daniel : Oh tidak apa-apa, tidak apa-apa… biar saya nanti suruh orang untuk ambil mobil saya. Ehh… saya… bisakah saya mendengar lagi cerita tentang membuka diri terhadap… terhadap… tadi Bapak ngomong apa ya saya lupa?
Pak Bagyo : Tentang kesediaan untuk membuka diri kepada ide dan bantuan dari orang lain, yang itu?
Daniel : Ya…ya… yang itu pak, saya ingin mendengarnya… mohon diceritakan.
Pak Bagyo : Yah… seringkali keadaan memaksa kita untuk mendengarkan orang lain agar kita dapat keluar dari permasalahan kita yang terasa sangat pelik. Namun kadang-kadang ego kita seringkali terusik atau merasa digurui jika ide itu dikemukakan oleh orang lain. Maka orangakan cenderung diam, berpura tidak terjadi apapun pada dirinya. Dia cenderung lebih suka kesulitan dalam menyelesaikan masalahnya sendiri daripada meminta bantuan orang lain, karena dia takut dibilang lemah. Kadang-kadang sikap seperti itu tidak akan merubah apapun, kecuali hanya meninggikan egonya saja.
Daniel : Saya juga sebenarnya ingin membicarakan masalah saya dengan orang lain, namun saya takut orang lain tidak mau mendengarkan saya. Bisakah saya menceritakan permasalahan saya pada Pak Bagyo? Berkenankah bapak mendengarkan cerita saya?
Pak Bagio : Saya punya banyak waktu untuk mendengarkan apapun dari siapapun. Sudah sejak lama saya belajar mendengarkan, lagian saya merasa terhormat untuk mendengarkan kisah dari seorang juara nasional.
Daniel : Ah sudahlah pak… tadi selesai latihan beladiri saya didatangi oleh dua orang, dan memang kami sudah janjian. Kami sepakat untuk adu sparing bersama. Satu orang adalah teman saya, dan satunya lagi orang baru yang sebelumnya saya hanya bisa dengar suaranya di telephon. (Sambil menoleh kebelakang, melihat ke wajah Pak Bagio)
Pak Bagio : Saya mendengarkan kok Mas Daniel… teruskan saja, teruskan…
Daniel : Orang baru itu, wajahnya sungguh menakutkan, sangat mengintimidasi... yah dia bukan orang jahat saya tahu, tapi wajahnya sangat menakutkan bagi saya. Dan saya heran kenapa tenaga saya luar biasa terkuras ketika saya bersiap untuk menghadapi dia, tenaga saya benar-benar habis. Apakah dia menggunakan guna-gu…
Pak Bagio : Apakah Mas Daniel kalah!?
Daniel : yaya… saya kalah telak. Celakanya lagi saya hampir tidak memberikan perlawanan sama sekali.
Pak Bagio : Dan Mas Daniel merasa bahwa ada yang aneh dengan adu tanding itu, seperti ada yang tidak beres dengan itu?
Daniel : Benar, ya ya benar, apakah dia memakai guna-guna!?
Pak Bagio : Bisakah saya bertanya?
Daniel : Tentu saja… tentu, kenapa bapak ini, jangan terlalu formil seperti itulah?
Pak Bagio : Tidak-tidak, saya hanya tidak mau mas Daniel merasa digurui oleh saya. Jadi, apakah hubungannya Beladiri dengan konflik?
Daniel : Memangnya kenapa?
Pak Bagio : (diam saja)
Daniel : Oke… mudah sekali, beladiri adalah wadah bagi kita untuk berlatih agar kita bisa lebih siap di medan konflik. Bukan begitu?
Pak Bagio : Bukan…. Saya pikir hubungan antara beladiri dan konflik adalah… tidak ada.
Daniel : Tidak ada?
Pak Bagyo : Sama sekali tidak ada…
Daniel : Hahaha…hehehe… ehm… bagaimana mungkin? Pasti Bapak sedang bercanda…
Pak Bagyo : Setiap pebela diri, mereka menganggap bahwa dirinya sedikit lebih baik daripada orang awam dalam berkelahi. Dan mereka memotivasi diri mereka sendiri untuk tetap berlatih agar mereka lebih unggul daripada orang kebanyakan. Tapi dalam hati kecil mereka itu, mereka tidak benar-benar pernah merasa yakin bahwa mereka dapat selamat dari konflik yang sebenarnya dengan mengandalkan kemampuan teknik beladiri mereka. Kadang-kadang akan baik jika kita melihat baik-baik lingkungan sekeliling kita dan melihatnya secara objektif. Orang-orang kita tidak pernah berkelahi tanpa membekali diri mereka dengan senjata tajam. Nah jangankan berkelahi melawan orang gila bersenjata tajam, melihat mereka menggenggam senjata tajam saja kita sudah miris.
Daniel : Lantas…?
Pak Bagyo : Para pebeladiri tidak pernah tahu apakah mereka akan menemui suatu konflik atau tidak dikemudian hari, namun walaupun begitu mereka akan tetap berlatih beladiri. Tidak ada orang yang pernah tahu sendiri bahwa mereka akan mengalami neraka atau tidak dikemudian hari, mereka tidak pernah tahu sendiri keberadaan neraka, namun walaupun begitu mereka akan tetap berdoa. Jadi dalam mind setting mereka masing-masing, pebela diri adalah seorang yang mengimani beladirinya, dan orang yang lain mengimani kepercayaannya.
Daniel : Saya pikir itu terlalu berlebihan.
Pak Bagyo : Kebanyakan orang, mereka berlatih beladiri tangan kosong karena mereka percaya bahwa beladiri tangan kosong dapat berguna pada saat-saat darurat. Padahal jika kita mau melihat kenyataan di lapangan, maka kita akan tahu bahwa beladiri tangan kosong tidak akan berguna pada saat-saat darurat, sama sekali tidak berguna. Cobalah setiap hari berlatih metode-metode beladiri menghadapi pisau, dan yakinkan bahwa anda sangat menguasai metode itu dalam simulase. Tetapi walaupun begitu, anda tetap saja tidak boleh mempraktekan metode itu dalam kehidupan nyata, dengan berkeras hati melawan orang gila bersenjata belati tanpa membekali diri dengan senjata apapun dan tanpa ditemani siapapun, hanya mengandalkan beladiri saja. Konyol itu namanya.
Daniel : Sudah seharusnya kita yakin dengan kemampuan beladiri kita, saya yakin itu harus!!!
Pak Bagyo: Dan mungkin seharusnya saya berhenti bicara…(sambil tersenyum ramah)
Daniel : Ohh… ehh… ayolah… maafkan saya, mohon diteruskan saja Pak Bagyo, jangan pedulikan saya. Saya hanya lupa bahwa saya juga harus membuka diri pada ide dari orang lain. (sambil tersenyum ramah pula)
Pak Bagyo : Dalam suatu konflik sungguhan yang sifatnya sangat genting, seseorang hanya berpikir untuk mencelakai musuhnya secara cepat. Secara naluriah dia tidak akan berpikir akan menggunakan teknik atau metoda tertentu untuk mencelakai lawannya. Sebaliknya secara naluriah dia akan berusaha memanfaatkan perkakas seadanya untuk membuat konflik cepat selesai.
Daniel : Tapi itu curang, dan tidak adil.
Pak Bagyo : Ya ya, saya juga benci itu, tapi kenyataannya memang seperti itu… apa boleh buat. Jadi jika saya berada pada kondisi darurat, jika seseorang hendak mencelakai saya, maka pada saat itu juga akan timbul dua jenis pikiran dalam kepala saya. Pertama, saya akan berteriak minta tolong… dan yang kedua saya akan mengambil kursi dan akan saya pukulkan secara membabi buta pada kepala orang yang akan mencelakai saya. Tidak ada lagi teknik atau metode membeladiri lagi.
Daniel : Waduh… kalau memang kenyataannya seperti itu, lantas mengapa dan untuk apa beladiri itu diciptakan?
Pak Bagyo : Nanti dulu… saya hanya membicarakan beladiri tangan kosong, bukan beladiri bersenjata. Kebanyakan beladiri-beladiri kuno adalah beladiri-beladiri bersenjata. Di masa lalu ketika hukum tidak dapat di andalkan untuk menjamin keselamatan warga negara, maka warga negara bisa saja kemana-mana membawa senjata tajam. Ini bukan omong kosong, beberapa ratus tahun yang lalu pada abad 16 kebawah, banyak orang-orang eropa menenteng pedang anggar. Di Jepang sebelum pemerintahan Meiji, warga negara boleh kemana-mana membawa pedang. Di beberapa tempat di pulau Madura, beberapa orang masih kelihatan membawa celurit.
Daniel : Tapi bukankah itu melanggar hukum?
Pak Bagyo : Kalau sekarang iya mas Daniel, hukum dan perangkatnya sudah agak kuat hehehe… agak ya. Karena jika kita yang di Surabaya ini kemana-mana menenteng senjata tajam, lalu kelihatan polisi, pasti ditangkap. Mangkanya sekarang ini beladiri bersenjata kurang digemari oleh dunia. Dengan adanya beladiri praktis yang dikembangkan oleh pihak militer, maka beladiri bersenjata semakin kehilangan pamornya. Akan lebih banyak orang yang belajar Israeli Krav Maga dari pada orang belajar Shaolin Kungfu. Selain sudah sangat ketinggalan jaman, kungfu juga tidak praktis, dibutuhkan banyak waktu, tenaga dan biaya untuk mempelajarinya.
Daniel : Wah bukankah itu terlalu merendahkan?
Pak Bagyo : Merendahkan? Oh tidak-tidak, lihatlah kenyataannya di lapangan dan bersikaplah objektif mas Daniel. Meskipun diberitakan sebagai beladiri ampuh sepanjang masa… tetapi tidak ada satu petarung kungfu pun yang pernah lolos menjadi juara dalam kompetisi perkelahian bebas full body contact beladiri tangan kosong… tidak ada satupun. Chi atau Ki atau apalah… bukankah itu omong kosong belaka?
Daniel : (diam seribu bahasa, sepertinya sedang tersinggung)
Pak Bagyo : Kenyataan memang pahit dan memuakan… tetapi kenyataan selalu jujur. Ketika hukum mulai bisa ditegakan dengan benar, maka tatanan kemasyarakatan mulai berubah. orang dilarang membawa senjata tajam. Dan kemudian orang mulai berpikir bahwa mereka tidak perlu repot-repot belajar beladiri bersenjata apabila mereka tahu bahwa dalam kehidupan nyata mereka dilarang menggunakannya. Selain itu perkembangan senjata api genggam juga turut menyingkirkan hegemoni bahwa senjata tajam adalah nomor satu. Jadi siapapun mereka yang sedang mempelajari Kendo atau Kenjutsu, pastilah mereka adalah orang-orang fanatik atau orang yang hobi dengan senjata tajam…
Daniel : Termasuk Karate?
Pak Bagyo : Saya hanya mau bilang, bahwa orang akan merasa damai jika dia menjadi dirinya sendiri. Bagi seorang Karateka mungkin dia akan merasa damai dan senang jika dia sedang berlatih beladirinya itu. Tapi saya akan tetap mengatakan bahwa tidak ada hubungan langsung antara beladiri dengan konflik. Beladiri bukanlah hal yang paling utama dalam mekanisme suatu konflik.
Daniel : Oh ya… saya baru mendengar ini… sungguhan! Apakah faktor utamanya Pak Bagyo.
Pak Bagyo : Mental…! Ada beberapa orang yang disebut dengan warior… mereka itu adalah tipe orang yang dilahirkan dalam keadaan berani. Mereka lebih unggul dalam tekad, bahkan kadang-kadang mereka terkesan kejam dan kesan itu muncul dari wajahnya. Tidak peduli sejago apapun anda dalam menguasai teknik beladiri, jangan harap anda bisa menang dengan mudah melawan orang seperti ini. namun tidak berarti warior adalah orang yang selalu kejam atau jahat… sama sekali tidak. Hanya saja kemampuan untuk tetap tenangnya dalam menghadapi suatu konflik tidak banyak dimiliki oleh orang lain, mereka tidak takut apapun.
Daniel : Seperti lawan sparring saya?
Pak Bagyo : Mungkin… bisa jadi.
Daniel : Ya ya saya yakin bahwa dia adalah seorang warior. Meskipun orangnya sopan dan cara bicaranya menyenangkan, namun tatapan matanya sungguh menakutkan. Dalam berkelahi dia terkesan cukup tenang namun wajahnya sungguh kelihatan mengancam keselamatan saya. Entah kenapa timbul pikiran semacam itu, tenaga saya hampir habis, kaki saya serasa lunglai… mungkin waktu itu saya sedang sangat ketakutan.
Pak Bagyo : Padahal waktu itu lawan anda tidak membawa satupun senjata tajam… (dengan tatapan licik)
Daniel : Hahaha….
Pak Bagyo : Hahaha…
Daniel : Dunia tidak selalu adil… terimalah segala sesuatu yang harus kamu terima, dan lakukan segala sesuatu yang bisa kamu lakukan untuk merubah nasib anda.
Pak Bagyo : Wah suatu pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Kadang-kadang kita harus dapat menerima kekalahan dengan berlapang dada, karena kekalahan adalah sebuah siraman air dingin di pagi hari ketika kita sedang nyenyak terlelap dibuai mimpi kemenangan. Siraman air dingin itu membangunkan kita dari mimpi, membuat kita sadar dan lebih mawas diri serta bijaksana dalam menjalani kehidupan ini.
Daniel : Bisakah bapak mengatakan kepada saya bagaimana bapak bisa tahu banyak hal tentang beladiri dan konflik?
Pak Bagyo : Oke bisa. Dulu pada tahun 1967-1968, saya mengikuti Juragan saya yang punya bengkel besi di Dukuh Kupang mengungsi ke Amerika. Beberapa hari setelah kami menginjakan kaki di Tennesee, Juragan saya itu meninggal karena serangan jantung. Karena saya sendirian disana tanpa memiliki bekal bahasa Inggris yang bagus maka saya ditolak bekerja di berbagai tempat. Namun untunglah ada seorang saudagar Turki yang kaya, beliau juga jago gulat Turki yang membolehkan saya bekerja di tempatnya sebagai tukang kebun. Rumahnya yang luas seringkali menjadi arena pertandingan perkelahian jalanan underground. Dalam suatu kesempatan saya diiming-imingi sejumlah uang jika saya mau bertanding dalam perkelahian underground itu. Karena tertarik dengan uangnya maka saya terjun dalam pertandingan itu dan sering menang. Padahal saya tidak memiliki basic beladiri apapun, saya hanya mengandalkan otot belaka.
Daniel : Lalu apa yang terjadi?
Pak Bagyo : Ternyata orang Turki itu memiliki beberapa bisnis di beberapa kota, diantaranya adalah di Cape Town, Hongkong, Madrid, Budapest , Rio de Janeiro, Tokyo dan Moscow. Karena saya sering menang dalam pertandingan maka beliau membawa saya kemanapun beliau pergi. Dan di setiap kota dia memiliki akses ke perkelahian underground, dan dia selalu melibatkan saya di sana. Seiring berjalannya waktu saya bertemu dengan banyak petarung dari berbagai macam disiplin… Capoeira, Karate, Tae Kwon Do, Jiu-Jitsu, Judo, sambo, Wrestling, Vale Tudo, Tang So Do, Kalari, Kuialua, dan banyak macam lainnya. Mereka banyak memberikan pelajaran dan pengetahuan tentang beladiri kepada saya.
Daniel : Apakah bapak memperoleh banyak penghasilan dari situ?
Pak Bagyo : Ya tidak banyak-banyak amat, tapi cukuplah.
Daniel : Lalu kenapa… hmm… maksud saya…
Pak Bagyo : kenapa saya jadi tukang becak? Mas Daniel mau bertanya demikian?
Daniel : (mengangkat bahu)
Pak Bagyo : Pada tahun 1984 saya dideportasi oleh pemerintah Prancis, padahal waktu itu saya benar-benar bangkrut dan menjadi tukang cuci piring di pinggiran kota Paris. Orang Turki yang saya ikuti tadi ditembak jantungnya oleh seorang yang tidak dikenal.
Daniel : Apakah bapak pernah berusaha kembali bekerja keluar negeri?
Pak Bagyo : Ya menjadi tenaga kerja gelap ke Australia, namun tertangkap dan dideportasi lagi. Dan sejak saat itu saya tidak pernah mujur dalam bekerja apapun, tidak ada pekerjaan yang cocok bagi saya selain tukang becak. Tidak ada pertarungan underground di Indonesia waktu itu, dan sekarang usia saya sudah tua. Dulu beberapa kali saya pernah menjadi seorang kepala sekuriti disebuah pabrik, namun karena kondisi saya yang semakin lemah karena TBC yang tidak kunjung sembuh, akhirnya saya tidak terpakai lagi. Sekarang saya hanya mau hidup tenang sajalah.
Daniel : Tapi bukankah penyakit TBC bapak akan bertambah parah kalau bapak berprofesi menjadi tukang becak?
Pak Bagyo : Sebenarnya penyakit TBC saya sudah sembuh… dan saya tidak bekerja sebagai tukang becak.
Daniel : Lho… bapak bukan seorang tukang becak? Lantas ini becak siapa?
Pak Bagyo : Ini becak saya, sekarang dipakai oleh tetangga saya, tadi kebetulan karena Mas Daniel minta diantar, maka saya pinjam dulu becaknya sebentar kepada anak buah saya. Dulu becak ini saya pakai untuk berjuang di pertengahan tahun 80-an ketika saya dalam keadaan bangkrut sebelum bekerja di Pabrik. Sekarang saya hidup dari sebuah toko kelontong yang dijalankan oleh istri saya.
Daniel : Hah… kenapa bapak tidak bilang…!? Saya pikir bapak seorang tukang becak karena bapak memakai kaos bertuliskan paguyuban becak Dukuh Kupang.
Pak Bagyo : Sudahlah tenang saja Mas Daniel, saya merasa terhormat berbicara dan mengantarkan seorang juara nasional pulang kerumahnya.
Daniel : Dan saya juga merasa terhormat telah diantar oleh tukang becak paling bijaksana dan paling berpengetahuan di dunia.
Tampilkan postingan dengan label Orang kampung mengarang cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang kampung mengarang cerita. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 Maret 2009
Rabu, 25 Februari 2009
Boris Kasparov dan Tedjo Kasnadie
Tedjo : Saya berasal dari Indonesia, sebuah negara yang kacau karena dua hal.
Boris : Hal-hal apa sajakah itu?
Tedjo : Egoisme dan ketidakpedulian.
Boris: Oke, saya mendengarkan…
Tedjo : Kata orang, kami bangsa Indonesia adalah bangsa muda yang masih perlu banyak belajar dari kesalahan. Katanya setiap bangsa memerlukan banyak pembelajaran agar tatanan berbangsa dan bernegara yang diidam-idamkan dapat terlaksana. Namun menurut saya pribadi, sepertinya bukan itu yang menjadi masalah.
Boris : Lantas apakah yang menjadi masalahnya.
Tedjo : Seperti yang saya bilang, egoisme dan ketidak pedulian. Elit politik kami saling bertarung demi kepentingan mereka masing-masing, para Industrialis dan pengusaha kami berusaha mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan kerusakan lingkungan. Para guru pengajar dan pendidik mulai dari tingkatan paling rendah hingga paling tinggi hanya bekerja setengah-setengah, memperlakukan murid-muridnya seperti benda, asal menyampaikan pelajaran sesuai dengan kurikulum tanpa sedikit memikirkan apakah murid tersebut mengerti atau tidak, ataukah ilmu yang disampaikan itu akan berguna bagi murid tersebut. Aparat penegak hukum juga sangat lemah, budaya suap menyuap sudah lumrah diantara mereka. Kinerja pegawai negeri sipil juga amburadul, mereka asal datang, tulis-tulis kemudian buru-buru pulang untuk belanja. Birokrasi kami sangat ruwet kepada semuanya, kecuali pada orang-orang yang berduit.
Boris : Separah itukah? Tidak adakah seorang pemimpin kuat yang tampil untuk merubah segalanya.
Tedjo : Waduh saya tidak tahu ya, tapi kayaknya sulit, Indonesia itu kan negara demokrasi. Setelah era reformasi, demokrasi sangat dijunjung tinggi. Repotnya jika seorang pemimpin kuat memberlakukan kebijakan yang sifatnya tidak sesuai dengan keinginan orang banyak demi kebaikan bangsa, akan dianggap otoriter dan akan segera dilengserkan, dulu pernah kok kejadian kayak gitu. Rakyatnya juga bermasalah, mereka selalu memikirkan kepentingan perutnya sendiri tanpa memikirkan sedikitpun beban yang dihadapi oleh pemerintah. Ketika pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit yaitu menkonversi minyak tanah ke LPG, atau menghadapi pilihan lebih sulit lagi, rakyat berbondong-bondong menolak. Alasannya takut meledak lah, tidak bisa mengoperasikannya lah, atau apalah. Ya kalau dipikir-pikir semua hal yang baru itu kan bisa mengandung resiko, tapi kalau kita mau belajar sesuatu kan resikonya bisa sama sekali hilang. Memang masyarakat seringkali maunya yang sederhana-sederhana saja untuk kepentingannya sendiri, mereka tidak mau sedikitpun mengeluarkan tenaga untuk belajar sesuatu untuk membantu meringankan beban pemerintah, saya tahu sendiri itu.
Boris : Kalau begitu orang-orang anda rapuh sekali ya?
Tedjo: Benar, dan semua itu diakibatkan oleh egoisme dan ketidak pedulian. Mereka itu hanya ingin hidup sederhana, minim perjuangan, menikmati hidup apa adanya, mengkonsumsi segala kesenangan sebisa mereka tanpa mempedulikan dampak dari perilaku mereka itu terhadap lingkungan. Sulit sekali mereka diajak berpikir logis dan serius. Alih-alih berpikir serius dan logis, mereka cenderung menjunjung tinggi pola berpikir dan sudut pandang yang diwariskan oleh tradisi dan kebiasaan masyarakat mereka. Jadi mereka sangat kesulitan untuk bisa mengerti cara orang lain, budaya lain dalam memahami sesuatu.
Boris : Menjunjung tinggi pola berpikir dan sudut pandang yang diwariskan oleh tradisi dan kebiasaan masyarakat mereka. Seperti apa contohnya…?
Tedjo : Ya, yang saya maksud adalah bahwa mereka menjunjung tinggi pola pikir dan perilaku membebek. Contoh : membuang sampah di kali, tangan kiri adalah tangan buruk dan tangan kanan adalah tangan baik, ngerumpi, Jakartasentris yaitu berbicara dan berkirim sms dengan aksen bahasa gaul kejakarta-jakarta-an, berpacaran terus sepanjang waktu, menikah muda, gila-gila an merokok, lontang-lantung kesana kemari tidak ada kesibukan berarti, membeli barang-barang mewah, memukuli maling sampai mati, membicarakan seks adalah tabu. Dan lain-lain lah, saya pusing membicarakannya.
Boris : oke-oke, tapi saya masih belum dengan jelas mengerti, sejauh apa hal itu memabawa dampak negatif?
Tedjo : Yang menjadi masalah adalah, ketika mereka sangat menjunjung tinggi kebiasaan berpikir dan berpola hidup macam itu, mereka akan menutup diri mereka terhadap pola berpikir, ide, dan pola hidup yang lain. Mereka menjadi masyarakat yang bebal yang tidak mengindahkan apapun kecuali diri mereka sendiri berserta kebiasaan mereka. Dan mereka akan menganggap sesuatu yang baru itu sebagai hal yang tidak realistis. Makanya mereka akan menganggap enteng seruan pemerintah tentang tidak membuang sampah di kali, dua anak cukup, seruan membaca buku, dan akhirnya mereka tidak akan peduli pada isu-isu tentang global warming, big freeze, ataupun penipisan lapisan ozon.
Boris : Wah banyak sekali daftarnya, adakah yang terlewat?
Tedjo : Memang saya belum selesai berbicara. Sekarang coba bayangkan Boris, jika mereka tidak peduli pada hal-hal besar seperti yang saya bicarakan tadi, apakah mungkin mereka akan menaruh perhatian pada hal-hal remeh temeh seperti berbagi kasih sayang dan peduli orang lain.
Boris : Saya tidak tahu, tapi sepertinya tidak. Anda sudah cukup memberitahukan permasalahan mereka, sekarang bisakah anda menyebutkan hal-hal yang dapat dilakukan untuk membuat mereka berubah?
Tedjo : Jika melihat mereka separah itu, maka saya pesimis sekali.
Boris : Tidak bisakah mereka dibuat tertarik dengan menawarkan hal-hal baru yang tidak mereka lihat sebelumnya, dengan teknologi baru misalnya?
Tedjo : Seperti yang saya bilang bahwa saya pesimis sekali. Mereka tidak peduli apakah ada teknologi baru yang lebih canggih atau tidak, namun mereka akan segera bertanya-tanya adakah unsur entertainment dalam teknologi baru tersebut, jika tidak mereka tidak akan tertarik dengan teknologi tersebut. Contohnya : mereka tidak akan menolak laptop dan karena kemajuan jaman, mereka tidak kesulitan mengakses teknologi itu. Tetapi alih-alih menggunakan laptop itu untuk hal-hal yang bermanfaat, mereka cenderung memakainya untuk menonton film porno, main game, meramal dirinya sendiri dengan ramalan Zodiak atau sekedar untuk gengsi-gengsian. Jika mereka bisa terhubung dengan internet, maka mereka akan mendownload film porno atau chatting dengan pacar mereka daripada menjajal berhubungan dengan teman di luar negeri atau mencoba teknologi baru, Google earth misalnya. Malahan jika ditimbang-timbang, mereka akan cenderung menyewa Play Station dari pada menyewa Internet.
Boris : Jadi mereka senang sekali dengan entertainment ya?
Tedjo : Betul sekali Boris, betul sekali. Namun seharusnya entertainment itu tidak menjadi masalah ya, yang menurut saya menjadi masalah itu adalah kebiasaan berpikir mereka yang sangat terikat dengan sesuatu yang menghibur yang sudah sedemikian kronisnya sehingga kemampuan mereka berpikir serius untuk membereskan sesuatu jadi buyar. Dan ini adalah lumrah di dalam masyarakat Indonesia kebanyakan, utamanya pemuda.
Boris : Tetapi anda tidak mengatakan apapun sehubungan dengan usaha anda merubah kebiasaan mereka. Iya kan?
Tedjo : Jangan salah ya. Saya pernah… anggaplah bereksperimen terhadap pemuda kelas bawah ekonomi rendah di kampung, saya pun berasal dari kelas yang sama dengan mereka, dan sekarangpun masih tetap saya lakukan. Saya menganjurkan kepada mereka untuk membaca buku dengan meminjamkan buku saya untuk mereka baca, tidak pernah satupun buku saya selesai mereka baca. Untuk selanjutnya mereka tidak lagi mau membaca buku saya, buku saya itu adalah buku enteng tentang pengetahuan umum atau sekadar buku motivasi. Alih-alih membaca buku saya itu, mereka cenderung membaca rubrik sepak bola, atau membaca tabloid ponsel untuk melihat-lihat ponsel baru, meskipun mereka tidak membelinya.
Boris : Hanya itu?
Tedjo : Tidak, saya belum selesai. Saya juga mengajari mereka Mix Martial Arts, Brazilian Jiu-jitsu, dan Israeli Krav Maga. Padahal saya sudah menginformasikan kepada mereka bahwa beladiri-beladiri itu adalah beladiri paling efektif yang lagi digandrungi dunia, dan dipakai oleh pasukan khusus Amerika baret hijau, toh mereka tetap malas-malasan berlatih. Apakah anda mendengarkan saya Boris?
Boris : Ya, ya saya bersama anda. Teruskan…
Tedjo : Dalam banyak kesempatan saya mengenalkan mereka pada hal-hal baru seperti : menunjukan kepada mereka bahwa ada sebuah komunitas yang rela meluangkan waktu dan tenaganya untuk memperjuangkan kesejahteraan binatang. Juga yang masih sedang saya lakukan adalah, mengajak mereka berjalan-jalan memperhatikan orang-orang tunawisma kelaparan dan melakukan hal-hal yang bisa kami lakukan untuk sekedar membuat mereka kenyang.
Boris : lalu bagaimana reaksi mereka?
Tedjo : Biasa-biasa saja. Setiap kali sesudah saya melakukan hal bersama-sama dengan mereka, saya mencoba berdiskusi dengan mereka untuk menekankan dan mengingat kembali pelajaran apa sajakah yang kami dapatkan dari kegiatan yang telah kami lakukan. Tetap saja, reaksi mereka tidak se-antusias seperti halnya ketika mereka habis kencan dengan pacar mereka. Jadi kegiatan-kegiatan seperti ini tidak penting buat mereka. Mereka sangat nyaman dengan diri mereka sendiri, mereka tidak ingin berubah, mereka senang dengan status kuo mereka.
Boris : Lalu apa hubungannya dengan negara anda, Negara Indonesia?
Tedjo : Tentu saja sangat berhubungan. Biar saya ulangi lagi ya. Jelas sekali bahwa karena orang-orang Indonesia tidak tertarik melakukan hal-hal untuk kepentingan selain kepentingannya sendiri, karena orang-orang Indonesia tidak tertarik dengan hal baru yang tidak mengandung entertainment, karena orang-orang Indonesia tidak tertarik dengan perubahan dan ide-ide baru maka Indonesia tetap-tetap saja seperti ini.
Boris : jadi…
Tedjo : jadi ini adalah masalah mental, tidak banyak yang peduli atau tahu bagaimana perusahaan swasta Amerika menguasai sebagian besar ladang-ladang minyak dan pertambangan emas Indonesia, tidak banyak yang peduli bagaimana kami adalah bangsa yang kaya keanekaragaman hayati yang banyak diantaranya sedang terancam kepunahan, tidak banyak yang peduli bahwa devisa kita bocor deras pada kegiatan-kegiatan ziarah keluar negeri, tidak banyak yang peduli bahwa pulau-pulau kecil kita akan tenggelam akibat pemanasan global, tidak banyak yang peduli bahwa daerah bekas penambangan batu bara dapat menjadi danau yang membahayakan, tidak banyak yang peduli bahwa hutan kita terancam habis akibat industri kelapa sawit, tidak banyak yang peduli, tidak banyak yang peduli banyak saudara-saudara yang berlainan suku dan budaya yang mengalami perlakuan anak tiri dari pemerintah.
Boris : Jadi…
Tedjo : Jadi tukang sate selalu sibuk memikirkan panggangan sate apa yang kuat dan anti karat. Seorang Blandong atau penebang pohon akan sibuk menebangi pohon untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Seorang tukang becak akan sibuk dengan kegiatan menunggu penumpangnya. Seorang industrialis akan sibuk dengan perluasan industrinya. Seorang ibu rumah tangga akan sibuk dengan urusan dapurnya. Seorang mahasiswa hanya sibuk dengan urusan belajar dan bersenang-senangnya. Semua ini karena egoisme dan ketidak pedulian.
Boris : Jadi…
Tedjo : Jadi saya berharap agar orang tergerak untuk peduli, sukur-sukur memihak pada ide atau isu-isu yang mengangkat biang permasalahan Indonesia. Jika saja orang-orang Indonesia dapat lebih peduli, akan lebih gampang membuat mereka bergerak untuk melakukan tindakan nyata untuk membuat Indonesia menjadi negara lebih baik untuk ditinggali.
Boris : Tindakan nyata apa yang bisa membuat Indonesia menjadi lebih baik.
Tedjo : Sebagai warga negara biasa kami bisa melakukan hal-hal berikut. Banyak-banyak menanam pohon, tidak membuang sampah ke kali, tidak banyak memakai kantong plastik, tidak melakukan ziarah ke Mekah dan Jerusalem kedua dan seterusnya agar konsentrasi uang di dalam negeri tidak buyar ke timur tengah. Membatasi penggunaan perkakas buatan luar negeri, lebih mencintai barang buatan dalam negeri, menghormati hukum, mengikuti peraturan lalu lintas. Bekerja keras apapun profesinya, tidak lupa mengurangi kemungkinan dampak negatif dari usaha kita. Menghormati orang lain, dengan merawat fasilitas umum, saling menolong dan saling berbagi. Bergabung dengan organisasi-organisasi yang memiliki idealis berusaha membenarkan sesuatu yang tidak benar. Ini semua tidak akan terjadi jika egoisme dan ketidak pedulian merajalela.
Boris : Apakah anda yakin jika semua rakyat Indonesia berperilaku seperti yang anda katakan tadi maka apakah anda yakin bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik?
Tedjo : Jika Indonesia masih saja belum baik meskipun semua rakyatnya berusaha keras melakukan hal-hal yang terbaik, maka rakyat Indonesia boleh menyalahkan pemimpinnya, pemerintahnya.
Boris : Hal-hal apa sajakah itu?
Tedjo : Egoisme dan ketidakpedulian.
Boris: Oke, saya mendengarkan…
Tedjo : Kata orang, kami bangsa Indonesia adalah bangsa muda yang masih perlu banyak belajar dari kesalahan. Katanya setiap bangsa memerlukan banyak pembelajaran agar tatanan berbangsa dan bernegara yang diidam-idamkan dapat terlaksana. Namun menurut saya pribadi, sepertinya bukan itu yang menjadi masalah.
Boris : Lantas apakah yang menjadi masalahnya.
Tedjo : Seperti yang saya bilang, egoisme dan ketidak pedulian. Elit politik kami saling bertarung demi kepentingan mereka masing-masing, para Industrialis dan pengusaha kami berusaha mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan kerusakan lingkungan. Para guru pengajar dan pendidik mulai dari tingkatan paling rendah hingga paling tinggi hanya bekerja setengah-setengah, memperlakukan murid-muridnya seperti benda, asal menyampaikan pelajaran sesuai dengan kurikulum tanpa sedikit memikirkan apakah murid tersebut mengerti atau tidak, ataukah ilmu yang disampaikan itu akan berguna bagi murid tersebut. Aparat penegak hukum juga sangat lemah, budaya suap menyuap sudah lumrah diantara mereka. Kinerja pegawai negeri sipil juga amburadul, mereka asal datang, tulis-tulis kemudian buru-buru pulang untuk belanja. Birokrasi kami sangat ruwet kepada semuanya, kecuali pada orang-orang yang berduit.
Boris : Separah itukah? Tidak adakah seorang pemimpin kuat yang tampil untuk merubah segalanya.
Tedjo : Waduh saya tidak tahu ya, tapi kayaknya sulit, Indonesia itu kan negara demokrasi. Setelah era reformasi, demokrasi sangat dijunjung tinggi. Repotnya jika seorang pemimpin kuat memberlakukan kebijakan yang sifatnya tidak sesuai dengan keinginan orang banyak demi kebaikan bangsa, akan dianggap otoriter dan akan segera dilengserkan, dulu pernah kok kejadian kayak gitu. Rakyatnya juga bermasalah, mereka selalu memikirkan kepentingan perutnya sendiri tanpa memikirkan sedikitpun beban yang dihadapi oleh pemerintah. Ketika pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit yaitu menkonversi minyak tanah ke LPG, atau menghadapi pilihan lebih sulit lagi, rakyat berbondong-bondong menolak. Alasannya takut meledak lah, tidak bisa mengoperasikannya lah, atau apalah. Ya kalau dipikir-pikir semua hal yang baru itu kan bisa mengandung resiko, tapi kalau kita mau belajar sesuatu kan resikonya bisa sama sekali hilang. Memang masyarakat seringkali maunya yang sederhana-sederhana saja untuk kepentingannya sendiri, mereka tidak mau sedikitpun mengeluarkan tenaga untuk belajar sesuatu untuk membantu meringankan beban pemerintah, saya tahu sendiri itu.
Boris : Kalau begitu orang-orang anda rapuh sekali ya?
Tedjo: Benar, dan semua itu diakibatkan oleh egoisme dan ketidak pedulian. Mereka itu hanya ingin hidup sederhana, minim perjuangan, menikmati hidup apa adanya, mengkonsumsi segala kesenangan sebisa mereka tanpa mempedulikan dampak dari perilaku mereka itu terhadap lingkungan. Sulit sekali mereka diajak berpikir logis dan serius. Alih-alih berpikir serius dan logis, mereka cenderung menjunjung tinggi pola berpikir dan sudut pandang yang diwariskan oleh tradisi dan kebiasaan masyarakat mereka. Jadi mereka sangat kesulitan untuk bisa mengerti cara orang lain, budaya lain dalam memahami sesuatu.
Boris : Menjunjung tinggi pola berpikir dan sudut pandang yang diwariskan oleh tradisi dan kebiasaan masyarakat mereka. Seperti apa contohnya…?
Tedjo : Ya, yang saya maksud adalah bahwa mereka menjunjung tinggi pola pikir dan perilaku membebek. Contoh : membuang sampah di kali, tangan kiri adalah tangan buruk dan tangan kanan adalah tangan baik, ngerumpi, Jakartasentris yaitu berbicara dan berkirim sms dengan aksen bahasa gaul kejakarta-jakarta-an, berpacaran terus sepanjang waktu, menikah muda, gila-gila an merokok, lontang-lantung kesana kemari tidak ada kesibukan berarti, membeli barang-barang mewah, memukuli maling sampai mati, membicarakan seks adalah tabu. Dan lain-lain lah, saya pusing membicarakannya.
Boris : oke-oke, tapi saya masih belum dengan jelas mengerti, sejauh apa hal itu memabawa dampak negatif?
Tedjo : Yang menjadi masalah adalah, ketika mereka sangat menjunjung tinggi kebiasaan berpikir dan berpola hidup macam itu, mereka akan menutup diri mereka terhadap pola berpikir, ide, dan pola hidup yang lain. Mereka menjadi masyarakat yang bebal yang tidak mengindahkan apapun kecuali diri mereka sendiri berserta kebiasaan mereka. Dan mereka akan menganggap sesuatu yang baru itu sebagai hal yang tidak realistis. Makanya mereka akan menganggap enteng seruan pemerintah tentang tidak membuang sampah di kali, dua anak cukup, seruan membaca buku, dan akhirnya mereka tidak akan peduli pada isu-isu tentang global warming, big freeze, ataupun penipisan lapisan ozon.
Boris : Wah banyak sekali daftarnya, adakah yang terlewat?
Tedjo : Memang saya belum selesai berbicara. Sekarang coba bayangkan Boris, jika mereka tidak peduli pada hal-hal besar seperti yang saya bicarakan tadi, apakah mungkin mereka akan menaruh perhatian pada hal-hal remeh temeh seperti berbagi kasih sayang dan peduli orang lain.
Boris : Saya tidak tahu, tapi sepertinya tidak. Anda sudah cukup memberitahukan permasalahan mereka, sekarang bisakah anda menyebutkan hal-hal yang dapat dilakukan untuk membuat mereka berubah?
Tedjo : Jika melihat mereka separah itu, maka saya pesimis sekali.
Boris : Tidak bisakah mereka dibuat tertarik dengan menawarkan hal-hal baru yang tidak mereka lihat sebelumnya, dengan teknologi baru misalnya?
Tedjo : Seperti yang saya bilang bahwa saya pesimis sekali. Mereka tidak peduli apakah ada teknologi baru yang lebih canggih atau tidak, namun mereka akan segera bertanya-tanya adakah unsur entertainment dalam teknologi baru tersebut, jika tidak mereka tidak akan tertarik dengan teknologi tersebut. Contohnya : mereka tidak akan menolak laptop dan karena kemajuan jaman, mereka tidak kesulitan mengakses teknologi itu. Tetapi alih-alih menggunakan laptop itu untuk hal-hal yang bermanfaat, mereka cenderung memakainya untuk menonton film porno, main game, meramal dirinya sendiri dengan ramalan Zodiak atau sekedar untuk gengsi-gengsian. Jika mereka bisa terhubung dengan internet, maka mereka akan mendownload film porno atau chatting dengan pacar mereka daripada menjajal berhubungan dengan teman di luar negeri atau mencoba teknologi baru, Google earth misalnya. Malahan jika ditimbang-timbang, mereka akan cenderung menyewa Play Station dari pada menyewa Internet.
Boris : Jadi mereka senang sekali dengan entertainment ya?
Tedjo : Betul sekali Boris, betul sekali. Namun seharusnya entertainment itu tidak menjadi masalah ya, yang menurut saya menjadi masalah itu adalah kebiasaan berpikir mereka yang sangat terikat dengan sesuatu yang menghibur yang sudah sedemikian kronisnya sehingga kemampuan mereka berpikir serius untuk membereskan sesuatu jadi buyar. Dan ini adalah lumrah di dalam masyarakat Indonesia kebanyakan, utamanya pemuda.
Boris : Tetapi anda tidak mengatakan apapun sehubungan dengan usaha anda merubah kebiasaan mereka. Iya kan?
Tedjo : Jangan salah ya. Saya pernah… anggaplah bereksperimen terhadap pemuda kelas bawah ekonomi rendah di kampung, saya pun berasal dari kelas yang sama dengan mereka, dan sekarangpun masih tetap saya lakukan. Saya menganjurkan kepada mereka untuk membaca buku dengan meminjamkan buku saya untuk mereka baca, tidak pernah satupun buku saya selesai mereka baca. Untuk selanjutnya mereka tidak lagi mau membaca buku saya, buku saya itu adalah buku enteng tentang pengetahuan umum atau sekadar buku motivasi. Alih-alih membaca buku saya itu, mereka cenderung membaca rubrik sepak bola, atau membaca tabloid ponsel untuk melihat-lihat ponsel baru, meskipun mereka tidak membelinya.
Boris : Hanya itu?
Tedjo : Tidak, saya belum selesai. Saya juga mengajari mereka Mix Martial Arts, Brazilian Jiu-jitsu, dan Israeli Krav Maga. Padahal saya sudah menginformasikan kepada mereka bahwa beladiri-beladiri itu adalah beladiri paling efektif yang lagi digandrungi dunia, dan dipakai oleh pasukan khusus Amerika baret hijau, toh mereka tetap malas-malasan berlatih. Apakah anda mendengarkan saya Boris?
Boris : Ya, ya saya bersama anda. Teruskan…
Tedjo : Dalam banyak kesempatan saya mengenalkan mereka pada hal-hal baru seperti : menunjukan kepada mereka bahwa ada sebuah komunitas yang rela meluangkan waktu dan tenaganya untuk memperjuangkan kesejahteraan binatang. Juga yang masih sedang saya lakukan adalah, mengajak mereka berjalan-jalan memperhatikan orang-orang tunawisma kelaparan dan melakukan hal-hal yang bisa kami lakukan untuk sekedar membuat mereka kenyang.
Boris : lalu bagaimana reaksi mereka?
Tedjo : Biasa-biasa saja. Setiap kali sesudah saya melakukan hal bersama-sama dengan mereka, saya mencoba berdiskusi dengan mereka untuk menekankan dan mengingat kembali pelajaran apa sajakah yang kami dapatkan dari kegiatan yang telah kami lakukan. Tetap saja, reaksi mereka tidak se-antusias seperti halnya ketika mereka habis kencan dengan pacar mereka. Jadi kegiatan-kegiatan seperti ini tidak penting buat mereka. Mereka sangat nyaman dengan diri mereka sendiri, mereka tidak ingin berubah, mereka senang dengan status kuo mereka.
Boris : Lalu apa hubungannya dengan negara anda, Negara Indonesia?
Tedjo : Tentu saja sangat berhubungan. Biar saya ulangi lagi ya. Jelas sekali bahwa karena orang-orang Indonesia tidak tertarik melakukan hal-hal untuk kepentingan selain kepentingannya sendiri, karena orang-orang Indonesia tidak tertarik dengan hal baru yang tidak mengandung entertainment, karena orang-orang Indonesia tidak tertarik dengan perubahan dan ide-ide baru maka Indonesia tetap-tetap saja seperti ini.
Boris : jadi…
Tedjo : jadi ini adalah masalah mental, tidak banyak yang peduli atau tahu bagaimana perusahaan swasta Amerika menguasai sebagian besar ladang-ladang minyak dan pertambangan emas Indonesia, tidak banyak yang peduli bagaimana kami adalah bangsa yang kaya keanekaragaman hayati yang banyak diantaranya sedang terancam kepunahan, tidak banyak yang peduli bahwa devisa kita bocor deras pada kegiatan-kegiatan ziarah keluar negeri, tidak banyak yang peduli bahwa pulau-pulau kecil kita akan tenggelam akibat pemanasan global, tidak banyak yang peduli bahwa daerah bekas penambangan batu bara dapat menjadi danau yang membahayakan, tidak banyak yang peduli bahwa hutan kita terancam habis akibat industri kelapa sawit, tidak banyak yang peduli, tidak banyak yang peduli banyak saudara-saudara yang berlainan suku dan budaya yang mengalami perlakuan anak tiri dari pemerintah.
Boris : Jadi…
Tedjo : Jadi tukang sate selalu sibuk memikirkan panggangan sate apa yang kuat dan anti karat. Seorang Blandong atau penebang pohon akan sibuk menebangi pohon untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Seorang tukang becak akan sibuk dengan kegiatan menunggu penumpangnya. Seorang industrialis akan sibuk dengan perluasan industrinya. Seorang ibu rumah tangga akan sibuk dengan urusan dapurnya. Seorang mahasiswa hanya sibuk dengan urusan belajar dan bersenang-senangnya. Semua ini karena egoisme dan ketidak pedulian.
Boris : Jadi…
Tedjo : Jadi saya berharap agar orang tergerak untuk peduli, sukur-sukur memihak pada ide atau isu-isu yang mengangkat biang permasalahan Indonesia. Jika saja orang-orang Indonesia dapat lebih peduli, akan lebih gampang membuat mereka bergerak untuk melakukan tindakan nyata untuk membuat Indonesia menjadi negara lebih baik untuk ditinggali.
Boris : Tindakan nyata apa yang bisa membuat Indonesia menjadi lebih baik.
Tedjo : Sebagai warga negara biasa kami bisa melakukan hal-hal berikut. Banyak-banyak menanam pohon, tidak membuang sampah ke kali, tidak banyak memakai kantong plastik, tidak melakukan ziarah ke Mekah dan Jerusalem kedua dan seterusnya agar konsentrasi uang di dalam negeri tidak buyar ke timur tengah. Membatasi penggunaan perkakas buatan luar negeri, lebih mencintai barang buatan dalam negeri, menghormati hukum, mengikuti peraturan lalu lintas. Bekerja keras apapun profesinya, tidak lupa mengurangi kemungkinan dampak negatif dari usaha kita. Menghormati orang lain, dengan merawat fasilitas umum, saling menolong dan saling berbagi. Bergabung dengan organisasi-organisasi yang memiliki idealis berusaha membenarkan sesuatu yang tidak benar. Ini semua tidak akan terjadi jika egoisme dan ketidak pedulian merajalela.
Boris : Apakah anda yakin jika semua rakyat Indonesia berperilaku seperti yang anda katakan tadi maka apakah anda yakin bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik?
Tedjo : Jika Indonesia masih saja belum baik meskipun semua rakyatnya berusaha keras melakukan hal-hal yang terbaik, maka rakyat Indonesia boleh menyalahkan pemimpinnya, pemerintahnya.
Jumat, 13 Februari 2009
Pacaran Sambil Merokok
Fenomena orang merokok bisa kita temui di mana-mana. Orang merokok di mana-mana, di angkot, di WC, di tempat kerja, bahkan pada tempat-tempat yang jelas-jelas terlarang untuk merokok. Merokok adalah perilaku mengasap, yang memiliki sedemikian banyak resiko mematikan mulai dari hipertensi, impotensi, hingga gangguan kehamilan. Mengapa seorang anak manusia bisa begitu mencandu pada perilaku sederhana seperti ini, apa sih yang penyebabnya? Mengapa mereka berani mempertaruhkan kesehatannya untuk hal sesederhana ini.
Fenomena orang berpacaran juga hampir sama seperti fenomena orang merokok, mereka dapat kita jumpai di mana-mana. Mulai dari tempat kerja hingga WC, atau bahkan tempat-tempat yang jelas-jelas terlarang untuk berpacaran. Jadi berpacaran adalah semacam kegiatan yang dilakukan bersama-sama oleh dua orang yang katanya saling mencintai. Dalam beberapa kasus, pada beberapa pasangan tertentu, utamanya pasangan pemuda, seringkali pacaran menimbulkan sedemikian banyak resiko. Adapun resiko tersebut adalah kehilangan waktu untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan, menjadi naïf, cengeng, menjadi pemimpi, serta menjadi lemah secara emosinal maupun finansial. Bagi para pemuda belia kebanyakan, saya terheran mengapa mereka mempertaruhkan memiliki peluang masa depan mereka yang gemilang hanya untuk merasakan emosi sesederhana ini. Apakah mereka kecanduan cinta, apa sih yang menjadi penyebabnya?
Pacaran…? kadang-kadang saya bingung dengan apa makna sebenarnya istilah pacaran ini. Seringkali saya kesulitan mengenali perbedaan arti antara pacaran, persahabatan, dengan persaudaraan. Mengapa jika laki-laki dan perempuan yang dianggap “jadian” bisa diangap sebagai pasangan pacaran? Sementara laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan yang saling cocok satu dengan lainnya, hanya bisa dianggap bersahabat atau bersaudara?
Saya jadi menebak-nebak, apakah mungkin dalam opini mayoritas bahwa istilah pacaran selalu disepakati sebagai hubungan dua insan berbeda jenis kelamin, yang seringkali diwarnai dengan membuang waktu bersama-sama, yang saling tertarik untuk merasakan hal-hal yang berhubungan dengan emosi, ngomong ngelantur bersama, melakukan hal konyol bersama, saling berboncengan kesana-kemari tidak tentu arah, saling memboroskan uang bersama, saling memboroskan pulsa telepon genggam, saling bermesraan, saling mengucap janji, saling membual, saling bertengkar, saling mengambek, saling rujuk, bersama bersatu menjadi pasangan egois yang menganggap “dunia milik kita berdua”… atau hal-hal yang semacam itu?
Sebagian dari para pemuda menjalani hubungan berpacaran semata hanya untuk kepentingan jangka pendek yaitu hanya untuk urusan berpelesir saja, sekedar tidak ingin dianggap ketinggalan jaman, atau biar dianggap gaul, lalu terjebak kedalam emosi yang merugikan. Tentu saja sebagai anak manusia mereka ingin memperoleh sesuatu yang bermanfaat dari hubungan berpacaran itu selain hanya kesenangan jangka pendek saja, namun apa yang seringkali mereka dapat? Seringkali mereka malah saling terikat diantara mereka sendiri, semakin tidak mandiri, dan sama-sama menjadi pribadi yang lemah serta bebal.
Mereka banyak kehilangan waktu untuk belajar banyak hal yang penting bagi kehidupan mereka. Dalam banyak kasus, permasalahan akan membuat orang menjadi semakin kuat, karena orang yang bersangkutan tegar dan mau belajar. Namun bagi kebanyakan pasangan muda, ketika mereka sedang tertimpa suatu permasalahan atau gonjang-ganjing, mereka akan menjadi rapuh dan cengeng. Alih-alih merenungkan jalan keluar dari permasalahan dengan cara yang paling bijaksana dan bertanggung jawab, mereka malah mengandalkan emosi dan cenderung saling menyalahkan pasangan mereka masing-masing. Jika sudah seperti ini, mereka lantas berperilaku layaknya seorang anak kecil, yaitu saling bertengkar dan saling mengutuki pasangan mereka. Perilaku mereka sama persis dengan pecandu rokok yang kena batuk hebat, atau sesak napas akut. Dalam keadaan sakit, perokok akan bersumpah serapah mengutuki rokok, namun setelah sembuh, mereka akan kembali merokok lagi.
Seperti halnya rokok yang sangat berpotensi membuat seseorang menjadi kecanduan dan menggiring pecandunya pada hal-hal yang negatif, berpacaran pun memiliki dampak yang sama. Pasangan pacaran mengalami saling kecanduan diantara mereka sendiri. Mereka akan merasa gundah apabila sehari saja mereka tidak bertemu, pikiran mereka akan dipenuhi dengan kecemburuan yang tidak masuk akal. Ketergantungan itu tidak membawa mereka kemanapun kecuali kepada kemunduran diantara mereka sendiri. Saya beropini bahwa jenis berpacaran dengan model yang seperti ini, yaitu di mana sebagian besar pemuda hampir membuang separuh dari masa mudanya untuk berpikir, berperilaku, berkehendak, dan bertimbang-timbang untuk urusan-urusan yang sepele sehubungan dengan pacaran… adalah membuang-buang waktu. Seringkali banyak pemuda tidak sadar bahwa dia telah mencandu secara kronis dengan segala hal yang berkaitan dengan pacaran, melupakan cinta lama, kemudian berpetualang mencari cinta baru, demikian berulang-ulang. Tahu-tahu mereka sudah berada dalam usia cukup matang, badan mereka kelihatan cukup tua, tetapi kesadaran mereka masih seperti seorang anak kecil, tidak banyak pelajaran hidup yang mereka dapatkan.
mungkinkah berpacaran itu dipandang sebagai latihan “berkeluarga”, untuk saling menyelaraskan jalan berpikir antara laki-laki dan perempuan, sehingga diperoleh suatu pelajaran berharga untuk menjadi seorang manusia yang normal seutuhnya . Mungkin pengertian akan konsep berpacaran yang seperti inilah yang kemudian bisa dianggap mulia, artinya bahwa konsep berpacaran inilah yang mengandung kesungguhan dan memilki tujuan jangka panjang kedepan yang terarah, lagi berencana.
Maka berpacaran pun harus dianggap sebagai sesuatu yang serius, dan harus diseriusi. Selain kita harus setia dengan pacar, kita juga harus berbuat sesuatu yang nyata untuk mendukung kemajuan pacar kita. Sehingga keduanya sama-sama untuk saling mendorong untuk berkembang menjadi pribadi yang dewasa dan bijaksana. Diantara laki-laki atau perempuan itu, mereka harus sering-sering membicarakan suatu topik yang dalam , logis, serta membangun, sehubungan dengan jalur-jalur yang ingin mereka lalui , sehingga mereka tidak dikuasai oleh emosi-emosi konyol yang selalu membuat mereka maju dan mundur. Goyang pocho-pocho. Tolaklah semua emosi yang tidak logis.
Cerita dari saudara kembar Dimitri & Oleg.
Seorang teman dari dataran tinggi Sandenburg yang bernama Benjamin Sergei, dia pernah bercerita. Di sebuah negara di eropa yang bernama Georgia terdapat sepasang saudara kandung kembar laki-laki. Mereka bernama Dimitri Kaleshnikov Wikovsky dan Oleg Kaleshnikov Wikovsky , usia mereka dua puluh tahunan awal, mereka berasal dari keluarga ekonomi menengah bawah di Distrik Grasneiy Graj.
Ketika cerita ini sedang disusun Georgia sedang bersitegang dengan negara tetangganya Russia. Anggaran belanja negara disedot pada keperluan pertahanan, sehingga ekonomi negara dalam keadaan payah. Harga barang penunjang kehidupan menjadi agak mahal, banyak pemuda yang menganggur, diantaranya adalah Dimitri dan Oleg. Sebenarnya Dimitri dan Oleg tidak benar-benar menganggur, ada beberapa pekerjaan yang mereka lakukan tapi penghasilannya sangatlah kecil, bahkan merekka tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka, sehingga mereka harus mengandalkan orang tua mereka.
Meskipun dalam keadaan ekonomi yang sangat menusuk dada seperti ini, namun tidak ada indikasi bahwa Dimitri dan Oleg serius dalam menata kehidupan mereka, atau berinisiatif memajukan kualitas kehidupan mereka menuju taraf yang lebih baik. Malah mereka cenderung memboroskan banyak uang, serta membuang-buang waktu belajar mereka dengan berpacaran dengan pacar-pacar mereka. Dimitri berpacaran dengan Erendin, sementara Oleg berpacaran dengan Lithuania. Erendin dan Lithuania adalah gadis biasa-biasa saja dengan karakter-karakter mereka yang tidak terlalu menonjol.
Apa yang mereka lakukan dalam kebersamaan mereka? kata mereka sendiri sih banyak hal, mereka sendiri mengaku bahwa mereka banyak melakukan hal positif bersama untuk memajukan kualitas kehidupan mereka. mereka mengatakan ini dengan sangat antusias.
Namun Benjamin Sergei, seorang teman dari Dimitri dan Oleg, dia tidak menilai demikian. Dalam penilainnya pribadi, Benjamin beranggapan bahwa Dimitri dan Oleg adalah saudara kembar yang sama-sama bodoh yang merasa nyaman dengan status kuo mereka akibat pengaruh candu dari hubungan mereka dengan pacar-pacar mereka. Hasil dari pantauan dari Benjamin itu, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa mereka tidak pernah sadar bahwa mereka telah membuang milik mereka yang berharga, yaitu waktu muda mereka. Dengan entengnya mereka mengumbar waktu mereka bersama pacar mereka, untuk melakukan hal yang remeh temeh, berbicara melantur kesana-kemari, pergi naik motor berlama-lama tanpa tujuan yang sangat penting. Seringkali Dimitri dan Oleg diminta oleh pacar-pacar mereka untuk sekedar menjadi “sopir pribadi” bagi pacar mereka.
Dimitri dan Oleg adalah dua pribadi yang lemah yang kecanduan dengan dua orang gadis yang lemah juga. Pergaulan diantara mereka tidak membawa mereka mana-mana, tidak ada satupun diantara mereka yang mampu berinisiatif untuk memajukan diri mereka. Alih-alih memikirkan suatu perencanaan tentang masa depan yang membangun dan teratur, mereka malah cenderung menghanyutkan diri pada suasana, seakan-akan mereka membiarkan diri mereka diatur oleh takdir. Mereka hanya mau enjoy saja dalam suasana apapun yang melingkupi diri mereka, dengan tidak banyak melakukan tindakan yang berarti.
Padahal Dimitri dan Oleg pernah mengungkapkan suatu kekecewaan mereka kepada Benjamin atas nasib mereka yang yang tidak pernah mengalami perubahan, dan malah cenderung mengalami kemunduran. Mereka pernah berkata bahwa mereka mendambakan suatu perubahan gaya hidup untuk menjamin agar impian mereka tercapai semuanya. Benjamin menyaksikan sendiri bahwa Dimitri dan Oleg sangat mendambakan untuk menjadi pribadi yang lebih maju dan serius. Namun Benjamin juga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa mereka tidak pernah melakukan usaha-usaha yang serius untuk mebuat diri mereka menjadi lebih baik. Jika tidak sedang bersama pacar mereka, maka mereka lebih banyak meluangkan waktu mereka untuk main game atau tidur. Ini adalah indikasi bahwa mereka sangat tercandui oleh pacar mereka. Jadi tanpa kehadiran pacar-pacar mereka itu, mereka akan segera bosan dengan kesendirian mereka, dan menjadi tidak berdaya untuk melakukan sesuatu yang berguna. Itulah mengapa dalam kesendiriannya, mereka cenderung membuang waktu mereka untuk main game atau tidur.
Dua puluh tahun berikutnya
Dimitri telah menikahi Erendin, dan Oleg telah menikahi Lithuania. Mereka semua dikaruniai dua anak yang cerdas lagi rupawan. Mereka adalah keluarga yang biasa saja, tidak kaya namun juga tidak miskin. Dimitri bekerja di Vratska Dokyard sebagai tukang las, sementara Oleg bekerja sebagai serabutan di pertanian Hidroponik di Distrik Kiev. Segala hal dalam keluarga itu terlihat normal-normal saja kecuali kenyataan bahwa mereka bosan dengan keadaan mereka yang sama, terus-menerus sepanjang tahun. Dimitri dan Oleg selalu diekori oleh perasaan malu, karena mereka gagal menjadi orang yang serius, sesuatu yang mereka anggap sebagai suatu kemuliaan.
Sekarang Dimitri dan Oleg berumur empat puluh lima tahun-an, bekerja terus tanpa henti, namun tidak ada jaminan mereka mampu menyekolahkan anak mereka setinggi setinggi anak-anak mereka. Bagaimana dengan cita-cita mereka? hmm sejak beberapa tahun setelah pernikahan mereka, cita-cita itu mulai luntur dengan sendirinya. Sekarang tidak ada lagi yang namanya cita-cita, yang ada adalah masa-masa penantian panjang membosankan menunggu kematian. Bagaimana dengan anak-anak mereka? Juliana, Igor, Nikita, Boris, Sophia, dan Gregory, mewarisi mental orang tua mereka, yaitu memiliki pribadi yang lemah, berpacaran dengan pemuda dan pemudi yang lemah pula.
Fenomena orang berpacaran juga hampir sama seperti fenomena orang merokok, mereka dapat kita jumpai di mana-mana. Mulai dari tempat kerja hingga WC, atau bahkan tempat-tempat yang jelas-jelas terlarang untuk berpacaran. Jadi berpacaran adalah semacam kegiatan yang dilakukan bersama-sama oleh dua orang yang katanya saling mencintai. Dalam beberapa kasus, pada beberapa pasangan tertentu, utamanya pasangan pemuda, seringkali pacaran menimbulkan sedemikian banyak resiko. Adapun resiko tersebut adalah kehilangan waktu untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan, menjadi naïf, cengeng, menjadi pemimpi, serta menjadi lemah secara emosinal maupun finansial. Bagi para pemuda belia kebanyakan, saya terheran mengapa mereka mempertaruhkan memiliki peluang masa depan mereka yang gemilang hanya untuk merasakan emosi sesederhana ini. Apakah mereka kecanduan cinta, apa sih yang menjadi penyebabnya?
Pacaran…? kadang-kadang saya bingung dengan apa makna sebenarnya istilah pacaran ini. Seringkali saya kesulitan mengenali perbedaan arti antara pacaran, persahabatan, dengan persaudaraan. Mengapa jika laki-laki dan perempuan yang dianggap “jadian” bisa diangap sebagai pasangan pacaran? Sementara laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan yang saling cocok satu dengan lainnya, hanya bisa dianggap bersahabat atau bersaudara?
Saya jadi menebak-nebak, apakah mungkin dalam opini mayoritas bahwa istilah pacaran selalu disepakati sebagai hubungan dua insan berbeda jenis kelamin, yang seringkali diwarnai dengan membuang waktu bersama-sama, yang saling tertarik untuk merasakan hal-hal yang berhubungan dengan emosi, ngomong ngelantur bersama, melakukan hal konyol bersama, saling berboncengan kesana-kemari tidak tentu arah, saling memboroskan uang bersama, saling memboroskan pulsa telepon genggam, saling bermesraan, saling mengucap janji, saling membual, saling bertengkar, saling mengambek, saling rujuk, bersama bersatu menjadi pasangan egois yang menganggap “dunia milik kita berdua”… atau hal-hal yang semacam itu?
Sebagian dari para pemuda menjalani hubungan berpacaran semata hanya untuk kepentingan jangka pendek yaitu hanya untuk urusan berpelesir saja, sekedar tidak ingin dianggap ketinggalan jaman, atau biar dianggap gaul, lalu terjebak kedalam emosi yang merugikan. Tentu saja sebagai anak manusia mereka ingin memperoleh sesuatu yang bermanfaat dari hubungan berpacaran itu selain hanya kesenangan jangka pendek saja, namun apa yang seringkali mereka dapat? Seringkali mereka malah saling terikat diantara mereka sendiri, semakin tidak mandiri, dan sama-sama menjadi pribadi yang lemah serta bebal.
Mereka banyak kehilangan waktu untuk belajar banyak hal yang penting bagi kehidupan mereka. Dalam banyak kasus, permasalahan akan membuat orang menjadi semakin kuat, karena orang yang bersangkutan tegar dan mau belajar. Namun bagi kebanyakan pasangan muda, ketika mereka sedang tertimpa suatu permasalahan atau gonjang-ganjing, mereka akan menjadi rapuh dan cengeng. Alih-alih merenungkan jalan keluar dari permasalahan dengan cara yang paling bijaksana dan bertanggung jawab, mereka malah mengandalkan emosi dan cenderung saling menyalahkan pasangan mereka masing-masing. Jika sudah seperti ini, mereka lantas berperilaku layaknya seorang anak kecil, yaitu saling bertengkar dan saling mengutuki pasangan mereka. Perilaku mereka sama persis dengan pecandu rokok yang kena batuk hebat, atau sesak napas akut. Dalam keadaan sakit, perokok akan bersumpah serapah mengutuki rokok, namun setelah sembuh, mereka akan kembali merokok lagi.
Seperti halnya rokok yang sangat berpotensi membuat seseorang menjadi kecanduan dan menggiring pecandunya pada hal-hal yang negatif, berpacaran pun memiliki dampak yang sama. Pasangan pacaran mengalami saling kecanduan diantara mereka sendiri. Mereka akan merasa gundah apabila sehari saja mereka tidak bertemu, pikiran mereka akan dipenuhi dengan kecemburuan yang tidak masuk akal. Ketergantungan itu tidak membawa mereka kemanapun kecuali kepada kemunduran diantara mereka sendiri. Saya beropini bahwa jenis berpacaran dengan model yang seperti ini, yaitu di mana sebagian besar pemuda hampir membuang separuh dari masa mudanya untuk berpikir, berperilaku, berkehendak, dan bertimbang-timbang untuk urusan-urusan yang sepele sehubungan dengan pacaran… adalah membuang-buang waktu. Seringkali banyak pemuda tidak sadar bahwa dia telah mencandu secara kronis dengan segala hal yang berkaitan dengan pacaran, melupakan cinta lama, kemudian berpetualang mencari cinta baru, demikian berulang-ulang. Tahu-tahu mereka sudah berada dalam usia cukup matang, badan mereka kelihatan cukup tua, tetapi kesadaran mereka masih seperti seorang anak kecil, tidak banyak pelajaran hidup yang mereka dapatkan.
mungkinkah berpacaran itu dipandang sebagai latihan “berkeluarga”, untuk saling menyelaraskan jalan berpikir antara laki-laki dan perempuan, sehingga diperoleh suatu pelajaran berharga untuk menjadi seorang manusia yang normal seutuhnya . Mungkin pengertian akan konsep berpacaran yang seperti inilah yang kemudian bisa dianggap mulia, artinya bahwa konsep berpacaran inilah yang mengandung kesungguhan dan memilki tujuan jangka panjang kedepan yang terarah, lagi berencana.
Maka berpacaran pun harus dianggap sebagai sesuatu yang serius, dan harus diseriusi. Selain kita harus setia dengan pacar, kita juga harus berbuat sesuatu yang nyata untuk mendukung kemajuan pacar kita. Sehingga keduanya sama-sama untuk saling mendorong untuk berkembang menjadi pribadi yang dewasa dan bijaksana. Diantara laki-laki atau perempuan itu, mereka harus sering-sering membicarakan suatu topik yang dalam , logis, serta membangun, sehubungan dengan jalur-jalur yang ingin mereka lalui , sehingga mereka tidak dikuasai oleh emosi-emosi konyol yang selalu membuat mereka maju dan mundur. Goyang pocho-pocho. Tolaklah semua emosi yang tidak logis.
Cerita dari saudara kembar Dimitri & Oleg.
Seorang teman dari dataran tinggi Sandenburg yang bernama Benjamin Sergei, dia pernah bercerita. Di sebuah negara di eropa yang bernama Georgia terdapat sepasang saudara kandung kembar laki-laki. Mereka bernama Dimitri Kaleshnikov Wikovsky dan Oleg Kaleshnikov Wikovsky , usia mereka dua puluh tahunan awal, mereka berasal dari keluarga ekonomi menengah bawah di Distrik Grasneiy Graj.
Ketika cerita ini sedang disusun Georgia sedang bersitegang dengan negara tetangganya Russia. Anggaran belanja negara disedot pada keperluan pertahanan, sehingga ekonomi negara dalam keadaan payah. Harga barang penunjang kehidupan menjadi agak mahal, banyak pemuda yang menganggur, diantaranya adalah Dimitri dan Oleg. Sebenarnya Dimitri dan Oleg tidak benar-benar menganggur, ada beberapa pekerjaan yang mereka lakukan tapi penghasilannya sangatlah kecil, bahkan merekka tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka, sehingga mereka harus mengandalkan orang tua mereka.
Meskipun dalam keadaan ekonomi yang sangat menusuk dada seperti ini, namun tidak ada indikasi bahwa Dimitri dan Oleg serius dalam menata kehidupan mereka, atau berinisiatif memajukan kualitas kehidupan mereka menuju taraf yang lebih baik. Malah mereka cenderung memboroskan banyak uang, serta membuang-buang waktu belajar mereka dengan berpacaran dengan pacar-pacar mereka. Dimitri berpacaran dengan Erendin, sementara Oleg berpacaran dengan Lithuania. Erendin dan Lithuania adalah gadis biasa-biasa saja dengan karakter-karakter mereka yang tidak terlalu menonjol.
Apa yang mereka lakukan dalam kebersamaan mereka? kata mereka sendiri sih banyak hal, mereka sendiri mengaku bahwa mereka banyak melakukan hal positif bersama untuk memajukan kualitas kehidupan mereka. mereka mengatakan ini dengan sangat antusias.
Namun Benjamin Sergei, seorang teman dari Dimitri dan Oleg, dia tidak menilai demikian. Dalam penilainnya pribadi, Benjamin beranggapan bahwa Dimitri dan Oleg adalah saudara kembar yang sama-sama bodoh yang merasa nyaman dengan status kuo mereka akibat pengaruh candu dari hubungan mereka dengan pacar-pacar mereka. Hasil dari pantauan dari Benjamin itu, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa mereka tidak pernah sadar bahwa mereka telah membuang milik mereka yang berharga, yaitu waktu muda mereka. Dengan entengnya mereka mengumbar waktu mereka bersama pacar mereka, untuk melakukan hal yang remeh temeh, berbicara melantur kesana-kemari, pergi naik motor berlama-lama tanpa tujuan yang sangat penting. Seringkali Dimitri dan Oleg diminta oleh pacar-pacar mereka untuk sekedar menjadi “sopir pribadi” bagi pacar mereka.
Dimitri dan Oleg adalah dua pribadi yang lemah yang kecanduan dengan dua orang gadis yang lemah juga. Pergaulan diantara mereka tidak membawa mereka mana-mana, tidak ada satupun diantara mereka yang mampu berinisiatif untuk memajukan diri mereka. Alih-alih memikirkan suatu perencanaan tentang masa depan yang membangun dan teratur, mereka malah cenderung menghanyutkan diri pada suasana, seakan-akan mereka membiarkan diri mereka diatur oleh takdir. Mereka hanya mau enjoy saja dalam suasana apapun yang melingkupi diri mereka, dengan tidak banyak melakukan tindakan yang berarti.
Padahal Dimitri dan Oleg pernah mengungkapkan suatu kekecewaan mereka kepada Benjamin atas nasib mereka yang yang tidak pernah mengalami perubahan, dan malah cenderung mengalami kemunduran. Mereka pernah berkata bahwa mereka mendambakan suatu perubahan gaya hidup untuk menjamin agar impian mereka tercapai semuanya. Benjamin menyaksikan sendiri bahwa Dimitri dan Oleg sangat mendambakan untuk menjadi pribadi yang lebih maju dan serius. Namun Benjamin juga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa mereka tidak pernah melakukan usaha-usaha yang serius untuk mebuat diri mereka menjadi lebih baik. Jika tidak sedang bersama pacar mereka, maka mereka lebih banyak meluangkan waktu mereka untuk main game atau tidur. Ini adalah indikasi bahwa mereka sangat tercandui oleh pacar mereka. Jadi tanpa kehadiran pacar-pacar mereka itu, mereka akan segera bosan dengan kesendirian mereka, dan menjadi tidak berdaya untuk melakukan sesuatu yang berguna. Itulah mengapa dalam kesendiriannya, mereka cenderung membuang waktu mereka untuk main game atau tidur.
Dua puluh tahun berikutnya
Dimitri telah menikahi Erendin, dan Oleg telah menikahi Lithuania. Mereka semua dikaruniai dua anak yang cerdas lagi rupawan. Mereka adalah keluarga yang biasa saja, tidak kaya namun juga tidak miskin. Dimitri bekerja di Vratska Dokyard sebagai tukang las, sementara Oleg bekerja sebagai serabutan di pertanian Hidroponik di Distrik Kiev. Segala hal dalam keluarga itu terlihat normal-normal saja kecuali kenyataan bahwa mereka bosan dengan keadaan mereka yang sama, terus-menerus sepanjang tahun. Dimitri dan Oleg selalu diekori oleh perasaan malu, karena mereka gagal menjadi orang yang serius, sesuatu yang mereka anggap sebagai suatu kemuliaan.
Sekarang Dimitri dan Oleg berumur empat puluh lima tahun-an, bekerja terus tanpa henti, namun tidak ada jaminan mereka mampu menyekolahkan anak mereka setinggi setinggi anak-anak mereka. Bagaimana dengan cita-cita mereka? hmm sejak beberapa tahun setelah pernikahan mereka, cita-cita itu mulai luntur dengan sendirinya. Sekarang tidak ada lagi yang namanya cita-cita, yang ada adalah masa-masa penantian panjang membosankan menunggu kematian. Bagaimana dengan anak-anak mereka? Juliana, Igor, Nikita, Boris, Sophia, dan Gregory, mewarisi mental orang tua mereka, yaitu memiliki pribadi yang lemah, berpacaran dengan pemuda dan pemudi yang lemah pula.
Kamis, 05 Februari 2009
Tradisi pemalas orang-orang Jeren
Terdapat sekumpulan manusia yang berdiam di sebuah pulau yang wilayahnya tidak terlalu luas bernama Janubi, di sebuah negara bernama Indigo. Segala hal di pulau itu bagus, tanahnya subur, banyak sungai… hanya saja rakyatnya yang terlalu menyebalkan. Mereka adalah sekumpulan manusia yang memiliki cara berpikir yang aneh, memiliki kebiasaan yang tidak teratur, memiliki keinginan yang sangat kurang, sehingga kelihatan sekali bahwa hidupnya sangat pasif, tidak menginginkan adanya banyak perubahan.
Truspana adalah seorang pemuda berusia 21 tahun, berasal dari suku Jeren, sebuah suku terbesar yang tinggal di pulau Janubi. Dia adalah salah satu contoh sosok seorang pemuda yang karakternya seperti kebanyakan pemuda Jeren yang lain. Dia bekerja di sebuah pabrik sabun bernama Grubo Corporation, dengan gaji yang sangat rendah. Grubo Corporation adalah sebuah perusahaan asing yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh asing. Jika dibanding dengan perusahaan asing lainnya, Grubo termasuk sebagai perusahaan yang “pemurah”. Ketika Negara Janubi mengalami kemunduran ekonomi pada tahun 1997, banyak investor yang angkat kaki dari negara ini. Dalam penilaian mereka, tidak ada lagi yang menguntungkan dari negara Indigo. Lagi pula jika mereka terus berinvestasi di negara yang terkenal dengan buruhnya yang sangat pemalas, tinggi hati, dan pembangkang… maka hal ini dianggap sebagai tindakan yang beresiko oleh para investor tersebut.
Sehari-hari apabila tidak sedang bekerja, Truspana menghabiskan sebagian besar waktunya dengan menonton TV, bermain game, berbicara tentang perempuan, keluar bersama dengan pacarnya tanpa tujuan penting, diam berlama-lama merokok sambil melamun, berkumpul seharian dengan teman-temannya sekedar untuk kongkow-kongkow, menghabiskan uang untuk kopi dan rokok, atau tidur.
Truspana tidak bisa menepati satu janjipun yang dia buat. Daftar janji untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain telah sedemikian panjangnya, namun tidak satupun yang bisa dia tepati. Tahun lalu dia berjanji membelikan adiknya sebuah sepeda mini, namun hingga kini janji itu tinggal janji. Beberapa bulan yang lalu dia bertekad untuk bisa berbahasa Inggris, karena dia ingin bisa menyapa orang asing yang sedang berkunjung ke situs bersejarah yang ada di daerahnya, namun hingga sekarang dia tidak pernah membaca buku bahasa Inggris apapun, atau bergabung dengan lembaga kursus bahasa Inggris manapun. Sudah lama dia menginginkan tubuh yang bagus, seperti badan Conan, namun dia tidak pernah pergi ke Gym. Semuanya hanyalah keinginan-keinginan yang tidak serius.
Sekalipun dalam hidupnya Truspana tidak pernah menghadiri acara atau pertemuan dengan tepat waktu. Apabila dia berjanji untuk bertemu di suatu tempat dengan seseorang jam 18:00 persis, maka itu berarti bahwa dia akan datang jam 18:30 atau jam 9:00, atau malahan bisa jadi Truspana tidak datang sama sekali tanpa adanya pemberitahuan dan permohonan maaf. Ada saja alasannya jika dia ditanya mengapa dia datang terlambat. Seperti kebanyakan pemuda Jeren yang lain, perilaku Truspana seringkali menjengkelkan.
Meskipun bergaji rendah, Truspana tidak berusaha untuk mengirit pengeluarannya sama sekali. Dia seringkali terlihat membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu berguna seperti misalnya sepatu bagus, baju bagus, TV, DVD, dan arloji bagus. Bahkan seringkali dia menyelanggarakan selamatan, yaitu sebuah pesta untuk bersenang-senang yang berkedok ritual tolak bala.
Seperti kebanyakan pemuda Jeren yang lain yang tinggal di pulau Janubi, Truspana tidak menginginkan adanya perubahan dalam hidup. Mereka sangat nyaman dengan status quo mereka, apapun kondisi mereka yang sekarang. Jadi, tidak tertera dalam arsip kehidupan mereka untuk membiasakan diri untuk membaca buku, menonton film dokumenter, berjalan bersama dengan orang-orang yang ingin memajukan kehidupan mereka, atau berusaha memperbaiki segala hal yang menjadi kebiasaan buruk bagi mereka.
Orang-orang Jeren memiliki kebiasaan buruk yang sukar sekali dihilangkan. Yaitu jarang sekali merapikan kamar tidur, membersihkan kamar mandi, atau menyapu lantai rumah mereka. Seringkali mereka membuang sampah sembarangan. Perkampungan mereka tersebar hampir di seluruh pulau Janubi, kesemuanya terlihat kotor dan kumuh.
Orang-orang Jeren adalah orang-orang lemah yang tidak tahan dengan kedisiplinan, serta tidak tahan dengan rasa sakit yang ditimbulkan akibat perjuangan. Segala hal yang berhubungan dengan himbauan yang membuat mereka untuk selangkah lebih maju selalu ditanggapi dengan sangat sepele, seakan-akan himbauan itu adalah ajakan konyol, menuju hal-hal konyol yang sifatnya semu, yang tidak akan pernah akan terjadi dalam kehidupan nyata. Daripada berupaya memajukan harkat dan martabat mereka menjadi lebih baik, mereka cenderung berdiam diri menerima nasib, menghanyutkan diri pada situasi dan kondisi apapun yang menyertai mereka.
Percuma saja berusaha membuat orang-orang Jeren untuk memahami serta manghargai makna sebuah perjuangan hidup, karena orang-orang Jeren sudah memiliki prinsip hidup tersendiri yang telah mereka warisi secara turun temurun, yang sangat mereka. Mereka beranggapan bahwasanya hidup hanyalah sebuah lakon, bahwa setiap manusia hanyalah melakoni kehidupan yang telah digariskan oleh Tuhan kepadanya. Dengan pemahaman yang seperti ini orang-orang Jeren menjadi orang-orang pemalas yang selalu melemparkan tanggung jawabnya kepada Tuhan. Selain itu orang-orang Jeren juga menganggap bahwa hidup hanyalah suatu proses yang sederhana, yaitu dilahirkan, bertumbuh, dewasa, menikah, memiliki anak, membesarkan anak, dan menunggu kematian.
Payah, payah, payah, payah, payah….!
Truspana adalah seorang pemuda berusia 21 tahun, berasal dari suku Jeren, sebuah suku terbesar yang tinggal di pulau Janubi. Dia adalah salah satu contoh sosok seorang pemuda yang karakternya seperti kebanyakan pemuda Jeren yang lain. Dia bekerja di sebuah pabrik sabun bernama Grubo Corporation, dengan gaji yang sangat rendah. Grubo Corporation adalah sebuah perusahaan asing yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh asing. Jika dibanding dengan perusahaan asing lainnya, Grubo termasuk sebagai perusahaan yang “pemurah”. Ketika Negara Janubi mengalami kemunduran ekonomi pada tahun 1997, banyak investor yang angkat kaki dari negara ini. Dalam penilaian mereka, tidak ada lagi yang menguntungkan dari negara Indigo. Lagi pula jika mereka terus berinvestasi di negara yang terkenal dengan buruhnya yang sangat pemalas, tinggi hati, dan pembangkang… maka hal ini dianggap sebagai tindakan yang beresiko oleh para investor tersebut.
Sehari-hari apabila tidak sedang bekerja, Truspana menghabiskan sebagian besar waktunya dengan menonton TV, bermain game, berbicara tentang perempuan, keluar bersama dengan pacarnya tanpa tujuan penting, diam berlama-lama merokok sambil melamun, berkumpul seharian dengan teman-temannya sekedar untuk kongkow-kongkow, menghabiskan uang untuk kopi dan rokok, atau tidur.
Truspana tidak bisa menepati satu janjipun yang dia buat. Daftar janji untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain telah sedemikian panjangnya, namun tidak satupun yang bisa dia tepati. Tahun lalu dia berjanji membelikan adiknya sebuah sepeda mini, namun hingga kini janji itu tinggal janji. Beberapa bulan yang lalu dia bertekad untuk bisa berbahasa Inggris, karena dia ingin bisa menyapa orang asing yang sedang berkunjung ke situs bersejarah yang ada di daerahnya, namun hingga sekarang dia tidak pernah membaca buku bahasa Inggris apapun, atau bergabung dengan lembaga kursus bahasa Inggris manapun. Sudah lama dia menginginkan tubuh yang bagus, seperti badan Conan, namun dia tidak pernah pergi ke Gym. Semuanya hanyalah keinginan-keinginan yang tidak serius.
Sekalipun dalam hidupnya Truspana tidak pernah menghadiri acara atau pertemuan dengan tepat waktu. Apabila dia berjanji untuk bertemu di suatu tempat dengan seseorang jam 18:00 persis, maka itu berarti bahwa dia akan datang jam 18:30 atau jam 9:00, atau malahan bisa jadi Truspana tidak datang sama sekali tanpa adanya pemberitahuan dan permohonan maaf. Ada saja alasannya jika dia ditanya mengapa dia datang terlambat. Seperti kebanyakan pemuda Jeren yang lain, perilaku Truspana seringkali menjengkelkan.
Meskipun bergaji rendah, Truspana tidak berusaha untuk mengirit pengeluarannya sama sekali. Dia seringkali terlihat membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu berguna seperti misalnya sepatu bagus, baju bagus, TV, DVD, dan arloji bagus. Bahkan seringkali dia menyelanggarakan selamatan, yaitu sebuah pesta untuk bersenang-senang yang berkedok ritual tolak bala.
Seperti kebanyakan pemuda Jeren yang lain yang tinggal di pulau Janubi, Truspana tidak menginginkan adanya perubahan dalam hidup. Mereka sangat nyaman dengan status quo mereka, apapun kondisi mereka yang sekarang. Jadi, tidak tertera dalam arsip kehidupan mereka untuk membiasakan diri untuk membaca buku, menonton film dokumenter, berjalan bersama dengan orang-orang yang ingin memajukan kehidupan mereka, atau berusaha memperbaiki segala hal yang menjadi kebiasaan buruk bagi mereka.
Orang-orang Jeren memiliki kebiasaan buruk yang sukar sekali dihilangkan. Yaitu jarang sekali merapikan kamar tidur, membersihkan kamar mandi, atau menyapu lantai rumah mereka. Seringkali mereka membuang sampah sembarangan. Perkampungan mereka tersebar hampir di seluruh pulau Janubi, kesemuanya terlihat kotor dan kumuh.
Orang-orang Jeren adalah orang-orang lemah yang tidak tahan dengan kedisiplinan, serta tidak tahan dengan rasa sakit yang ditimbulkan akibat perjuangan. Segala hal yang berhubungan dengan himbauan yang membuat mereka untuk selangkah lebih maju selalu ditanggapi dengan sangat sepele, seakan-akan himbauan itu adalah ajakan konyol, menuju hal-hal konyol yang sifatnya semu, yang tidak akan pernah akan terjadi dalam kehidupan nyata. Daripada berupaya memajukan harkat dan martabat mereka menjadi lebih baik, mereka cenderung berdiam diri menerima nasib, menghanyutkan diri pada situasi dan kondisi apapun yang menyertai mereka.
Percuma saja berusaha membuat orang-orang Jeren untuk memahami serta manghargai makna sebuah perjuangan hidup, karena orang-orang Jeren sudah memiliki prinsip hidup tersendiri yang telah mereka warisi secara turun temurun, yang sangat mereka. Mereka beranggapan bahwasanya hidup hanyalah sebuah lakon, bahwa setiap manusia hanyalah melakoni kehidupan yang telah digariskan oleh Tuhan kepadanya. Dengan pemahaman yang seperti ini orang-orang Jeren menjadi orang-orang pemalas yang selalu melemparkan tanggung jawabnya kepada Tuhan. Selain itu orang-orang Jeren juga menganggap bahwa hidup hanyalah suatu proses yang sederhana, yaitu dilahirkan, bertumbuh, dewasa, menikah, memiliki anak, membesarkan anak, dan menunggu kematian.
Payah, payah, payah, payah, payah….!
Langganan:
Postingan (Atom)