Saat ini saya sedang berada di sebuah rumah dari keluarga yang agak jauh, mereka bertempat tinggal di sebuah kota yang bernama Kepanjen, sudah dua hari saya menginap di sini. Rencananya saya akan tinggal beberapa hari lagi di kota ini untuk membantu seorang sepupu menangani usaha yang dia jalankan. Dia menjalankan usaha persewaan Play Station, di mana semua unit yang beroperasi di situ adalah milik saya. Beberapa hari terakhir ini dia dilanda musibah, yang menyebabkan dia tidak dapat mengurusi rental, sehingga saya harus turun tangan demi keberlangsungan usaha tersebut.
Sudah lama, yaitu hampir sekitar dua tahunan saya tidak pernah menunggui rental seperti yang saya lakukan seperti yang sekarang saya lakukan. Selama dua tahun ini… dari pada saya menghabiskan waktu saya di rental, saya lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca buku dan bergaul dengan orang lain (saya punya hobi membaca dan bicara panjang lebar). Selama itu saya tidak perlu khawatir dengan rental saya, karena beberapa teman yang saya percaya, membantu menangani rental itu setiap harinya. Tiba-tiba saja beberapa hari terakhir saya harus menunggui rental seorang diri tanpa dibantu oleh orang lain. Timbul perasaan jenuh yang semakin lama semakin menjadi-jadi.
Saya berusaha membaca banyak buku-buku “baik” dan bergaul dengan orang-orang “baik”. Dalam persepsi pribadi, saya terbawa-bawa kepada ide-ide baik yang ditawarkan oleh mereka, dan itu membuat saya merasa jauh lebih baik. Saya berusaha mengejawantahkan ide-ide baik itu dalam kehidupan sehari-hari… dengan membantu kesulitan orang lain, menyayangi sesama, mengasihi hewan (vegetarian), dan menghindari kekerasan. Kegiatan saya membantu sepupu yang tiba-tiba saja ini benar-benar menyentak dan menusuk kesadaran saya. Saya begitu terpukul menyadari bahwa sumber penghasilan saya satu-satunya ini memiliki andil yang sangat besar terhadap penurunan moral anak-anak muda dan anak-anak kecil di banyak tempat (cabang rental saya berada di berbagai tempat).
Saya tidak dapat menenangkan diri saya dengan berdalih bahwa “saya hanya penyedia layanan” seperti halnya “saya hanya penjual pisau”. Saya bisa mengerti jika seorang penjual pisau yang mengatakan “saya hanya menjual pisau kepada pelanggan saya, adapun jika pelanggan saya menyalahgunakan pisau itu untuk membunuh, maka itu urusan pelanggan saya”. Saya tahu benar bagaimana anak-anak kecil menirukan kata-kata kotor, meskipun kata-kata itu dalam bahasa Inggris. Dalam game yang biasa di sebut dengan GTA, adegan kekerasan sangat kental di dalamnya, bahkan diantara berbagai senjata yang ditawarkan… terdapat dildo di situ (bahkan saya mendengar ada seorang anak yang mengetahui sebuah lokasi rumah bordil di dalam game itu). GTA hanya satu dari sekian banyak game yang memuat kekerasan dan tontonan dewasa di dalamnya… parahnya jika kami para pemilik rental tidak menyediakan game seperti ini maka pelanggan akan lari mengakses game yang sama di rental lain.
Tiba-tiba saja saya merasa rendah dan merasa malu dengan keadaan diri saya. Kenyataan bahwa saya adalah pemilik dari sebuah usaha rendah moral… telah melunturkan semua kebanggaan bahwa saya telah banyak mengorbankan waktu dan tenaga untuk apa yang saya anggap sebagai “kebaikan”. Saya berharap Tuhan akan mengampuni saya… adapun jika itu benar-benar terjadi, saya masih tetap merasa malu dengan diri saya sendiri.
Tampilkan postingan dengan label Petani merenung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petani merenung. Tampilkan semua postingan
Selasa, 06 Oktober 2009
Jumat, 14 Agustus 2009
Berbicara denganTuhan???????
Sering kita mendengar cerita tentang seorang remaja yang sedang mencari jati dirinya. Dikatakan bahwa pemuda yang seperti itu selalu mencoba berbagai macam hal untuk mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya. Pemuda itu tidak gampang puas dengan pemahaman-pemahaman yang mereka peroleh sehingga suasana hatinya tidak pernah tenang… yang kelihatan sekali dari perilaku dan raut mukanya yang terkesan agak liar. Namun seiring dengan bertambahnya usia, kesan liar itu berkurang sejalan dengan bertambahnya pemahaman mereka akan kehidupan. Kebanyakan pemuda akan menemukan kedamaiannya, sementara yang lain akan terus menerus melakukan pencaharian sepanjang hidup mereka.
Melihat kenyataan yang ada, kadang-kadang saya berpikir bahwa sepertinya saya tidak akan pernah puas dengan diri saya, dan saya yakin bahwa saya akan terus menerus berubah dan haus akan pencaharian. Buddha mengatakan bahwa kebahagian hanya bisa ditemukan di dalam diri, kesenangan yang didapat dari dunia luar tidak bersifat kekal… untuk itu hendaklah kita berusaha melepas sebanyak mungkin keterikatan terhadap dunia luar untuk kemudian meniti kedalam diri sendiri dan berusaha menemukan tujuan sejati kita di dalam sana, yaitu kebahagiaan hakiki.
Dalam khasanah tradisi ke-budhis-an, terdapat suatu teknik yang disebut dengan meditasi. Ada banyak konsep tentang meditasi, namun saya lebih cocok dengan konsep meditasi yang berpegang pada prinsip “menjinakan pikiran”. Dalam praktiknya kita dianjurkan untuk duduk diam dengan mata terpejam, sambil memperhatikan pikiran yang muncul. Itu saja, kita hanya memperhatikan pikiran yang muncul tanpa menghakimi bahwa itu pikiran negatif atau positif. Kadang-kadang memang kita hanyut dalam pikiran itu, namun begitu kita menyadari bahwa kita sedang terhanyut dalam pikiran itu… maka kita berusaha kembali pada kegiatan memperhatikan pikiran seperti semula. Semakin lama pikiran akan berkurang dan diharapkan dengan berkurangnya pikiran, maka perasaan kita akan semakin damai. Dalam tradisi Zen terdapat istilah “satori” yaitu perasaan damai bahagia sesaat yang dialami seseorang akibat dari kegiatan meditasi. (tujuan meditasi adalah kebahagiaan hakiki)
Ada beberapa dari teman saya yang mengalami perubahan (menuju kebaikan) karena mereka rajin berlatih teknik meditasi seperti ini. Beberapa orang terdekat mereka mengaku bahwa yang bersangkutan terkesan semakin lembut, setelah mengenal teknik meditasi ini. Saya beranggapan bahwa teknik ini adalah baik… hanya saja tidak pernah berhasil kepada saya. Namun itu tidak berarti bahwa teknik ini tidak mujarab, hanya saja (kalau tidak salah) mungkin pengalaman saya membutuhkan “teknik lain” yang lebih cocok dengan pribadi saya.
Hingga suatu saat seseorang menganjurkan “satu cara” yang saya rasa lebih cocok dengan kepribadian saya. Cara itu adalah cara Kristian yang menganjurkan (dalam bahasa saya) kepatuhan dengan tulus dan berkomunikasi dengan Tuhan secara langsung. Untuk pertama kalinya saya mendengar ini, saya merasa aneh… karena saya adalah penganut paham kebebasan (sebebas-bebasnya) apapun boleh dilakukan asal tidak melanggar perikemanusiaan. Saya adalah penentang norma-norma… baik itu adalah norma agama, maupun norma-norma yang berlaku pada masyarakat. Saya berpikir bahwa norma-norma itu hanya akan menjajah kebebasan saja, toh belum tentu norma itu akan membuat seseorang lebih mulia, lebih peduli dan lebih beradab. Dalam kenyataannya seringkali norma-norma itu hanya dimanipulasi oleh seseorang demi kepentingannya pribadi… tanpa perasaan bersalah. Mereka (pelaku manipulasi itu) tidak pernah mau tahu untuk alasan apa norma-norma itu dahulu dibuat. Alasan kedua saya merasa aneh dengan berkomunikasi secara langsung dengan Tuhan adalah karena saya memiliki kepercayaan kuat bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang dapat berkomunikasi dengan Tuhan.
Namun saya mengakui bahwa ideologi kebebasan yang saya yakini tidak hanya membawa saya pada kemajuan (seperti mudah bergaul dengan siapa saja dan keinginan kuat untuk mempelajari dan mengetahui apa saja yang menjadi misteri bagi saya)… namun juga membawa saya kepada keadaan hati yang kadang-kadang gundah, tertekan, iri dan gelisah. Konsep bahwa saya adalah tuan dari diri saya sendiri dan saya dapat melakukan apapun kepada diri saya sendiri seringkali membawa saya kepada kemalasan. Kebiasaan untuk mencobai segala sesuatu malah membuat saya jatuh dalam penjara kebosanan… dan kebosanan menggerogoti diri saya sendiri dari dalam.
Akan tetapi cara Kristiani ini sama sekali begitu berbeda, perubahan signifikan sudah dapat saya rasakan pada diri saya. (tulisan ini saya tulis dalam waktu hanya terpaut sekitar dua atau tiga minggu sejak pertama kali saya diajak untuk mencoba “metode” baru ini). Dan sangat kelihatan sekali bahwa metoda ini sangat berhasil bagi saya. Artinya saya lebih menyukai diri saya yang sekarang ini dari pada yang dulu sebelum saya mempercayai metode baru ini.
Mungkin ini yang saya cari-cari sejak dari dulu. Metode Kristiani menganjurkan untuk selalu setia kepada Tuhan. Saya adalah seorang yang mendambakan kesetiaan dan selalu haus melakukan sesuatu demi kesetiaan saya tersebut. Sebagai contoh… saya adalah seorang yang memiliki dorongan dalam hatu untuk selalu menghormati segala kehidupan, saya akan berusaha keras untuk menjalani hidup saya tanpa menyakiti mahluk hidup yang lainnya. Untuk itu saya selalu konsekuen dengan idealis saya tersebut, jadilah saya seorang vegetarian. Contoh kedua adalah… saya sangat menyayangi dengan seorang yang tidak jauh usia dengan saya (mohon tidak diasumsikan sebagai hubungan asmara) dan saya menganggapnya sebagai adik saya sendiri. Mungkin persamaan model perjuangan dan cita-cita membuat saya begitu dekat dengan anak ini. Lantas saya berkomitmen untuk selalu mendukung dan senantiasa melindungi dia. Betapa saya mendambakan diri saya sendiri termasuk dalam suatu standar kesetiaan yang tinggi, dengan mengorbankan beberapa beberapa kepentingan saya pribadi.
Namun sudah beberapa tahun belakangan ini saya menjadi agnostik atau malah semi atheis. Hal itu membuat saya agak termalu-malu kepada diri saya sendiri ketika saya mencoba untuk berbicara dengan Tuhan untuk pertama kalinya. Seakan-akan diri saya mengatai diri saya sendiri bahwa saya bodoh karena mencoba berbicara dengan angin.
Pada suatu hari saya diserang oleh mood yang rendah dan situasi batin yang sangat menggelisahkan. Hingga pada puncaknya, pada malam hari yang tidak begitu larut saya tidak dapat melakukan apa-apa kecuali hanya duduk diam dalam kegundahan… ingin sekali saya menangis. Namun saya berpikir dari pada saya duduk tidak melakukan apa-apa dan tidak membawa perubahan apa-apa, maka saya pergi kebelakang mengambil sebuah minuman coke dari kulkas untuk sedikit menghibur jasmani saya. Setelah satu atau dua teguk, saya mulai berbicara dengan Tuhan… saya asumsikan Dia seperti sahabat tercinta saya yang sedang berdiri di depan saya memandang saya dengan sabar dan ingin mendengarkan apapun yang ingin saya katakan. Maka mulailah saya menyampaikan ocehan, omelan, dan keluh kesah. Kadang-kadang saya memberitahu kepada dia bahwa saya menyesal bahwa saya telah menjadi mahluknya yang begitu lemah… saya tahu ada banyak sekali orang yang jauh menderita daripada saya. Namun saya mengaku bahwa saya tidak tahu dengan apa yang harus saya lakukan… maka saya memohon kepadaNya untuk selalu menegarkan hati saya dan memberikan jalan keluar bagi setiap permasalahan yang saya hadapi.
Selepas komunikasi luar biasa itu, pikiran saya menjadi jauh lebih enteng dan dapat tidur dengan nyenyak. Keesokan paginya saya bangun dengan senyum baru di bibir beserta pemahaman baru bahwa saya akan berbahagia dengan setia kepadaNya. Hidup saya berubah banyak, saya bersedia untuk melakukan segala sesuatu yang tidak ingin saya lakukan sebelumnya. Ego saya banyak tergerus dan mengalami erosi hebat. Saya memandang bahwa Tuhan adalah damai dan sebagai pengikut setiaNya maka saya dianjurkan untuk menciptakan damai. Dan untuk itu saya harus membuat diri saya sendiri tersenyum dengan semua orang, lebih mendengarkan mereka, lebih mengalah, dan menghormati mereka dalam setiap kesempatan. Pada mulanya saya sangat sulit memulainya, namun dengan kesadaran bahwa Tuhan menganjurkan kasih sayang, maka tidak lama kemudian saya dengan gampang melakukannya. Tuhan adalah kasih.
Jadi… rupanya saya tidak perlu lagi terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk melakukan banyak pencaharian. Kebahagiaan itu telah datang, dan saya memutuskan bahwa saya harus berhenti setelah sekian lama tidak pernah berhenti. Saya memutuskan bahwa saya akan berhenti pada hal cinta… karena saya percaya bahwa Tuhan adalah cinta, God is love… saya akan setia pada Tuhan. Saya harap itu akan cukup bagi saya.
Hormat saya kepada seseorang yang mengkabarkan saya tentang ini.
Melihat kenyataan yang ada, kadang-kadang saya berpikir bahwa sepertinya saya tidak akan pernah puas dengan diri saya, dan saya yakin bahwa saya akan terus menerus berubah dan haus akan pencaharian. Buddha mengatakan bahwa kebahagian hanya bisa ditemukan di dalam diri, kesenangan yang didapat dari dunia luar tidak bersifat kekal… untuk itu hendaklah kita berusaha melepas sebanyak mungkin keterikatan terhadap dunia luar untuk kemudian meniti kedalam diri sendiri dan berusaha menemukan tujuan sejati kita di dalam sana, yaitu kebahagiaan hakiki.
Dalam khasanah tradisi ke-budhis-an, terdapat suatu teknik yang disebut dengan meditasi. Ada banyak konsep tentang meditasi, namun saya lebih cocok dengan konsep meditasi yang berpegang pada prinsip “menjinakan pikiran”. Dalam praktiknya kita dianjurkan untuk duduk diam dengan mata terpejam, sambil memperhatikan pikiran yang muncul. Itu saja, kita hanya memperhatikan pikiran yang muncul tanpa menghakimi bahwa itu pikiran negatif atau positif. Kadang-kadang memang kita hanyut dalam pikiran itu, namun begitu kita menyadari bahwa kita sedang terhanyut dalam pikiran itu… maka kita berusaha kembali pada kegiatan memperhatikan pikiran seperti semula. Semakin lama pikiran akan berkurang dan diharapkan dengan berkurangnya pikiran, maka perasaan kita akan semakin damai. Dalam tradisi Zen terdapat istilah “satori” yaitu perasaan damai bahagia sesaat yang dialami seseorang akibat dari kegiatan meditasi. (tujuan meditasi adalah kebahagiaan hakiki)
Ada beberapa dari teman saya yang mengalami perubahan (menuju kebaikan) karena mereka rajin berlatih teknik meditasi seperti ini. Beberapa orang terdekat mereka mengaku bahwa yang bersangkutan terkesan semakin lembut, setelah mengenal teknik meditasi ini. Saya beranggapan bahwa teknik ini adalah baik… hanya saja tidak pernah berhasil kepada saya. Namun itu tidak berarti bahwa teknik ini tidak mujarab, hanya saja (kalau tidak salah) mungkin pengalaman saya membutuhkan “teknik lain” yang lebih cocok dengan pribadi saya.
Hingga suatu saat seseorang menganjurkan “satu cara” yang saya rasa lebih cocok dengan kepribadian saya. Cara itu adalah cara Kristian yang menganjurkan (dalam bahasa saya) kepatuhan dengan tulus dan berkomunikasi dengan Tuhan secara langsung. Untuk pertama kalinya saya mendengar ini, saya merasa aneh… karena saya adalah penganut paham kebebasan (sebebas-bebasnya) apapun boleh dilakukan asal tidak melanggar perikemanusiaan. Saya adalah penentang norma-norma… baik itu adalah norma agama, maupun norma-norma yang berlaku pada masyarakat. Saya berpikir bahwa norma-norma itu hanya akan menjajah kebebasan saja, toh belum tentu norma itu akan membuat seseorang lebih mulia, lebih peduli dan lebih beradab. Dalam kenyataannya seringkali norma-norma itu hanya dimanipulasi oleh seseorang demi kepentingannya pribadi… tanpa perasaan bersalah. Mereka (pelaku manipulasi itu) tidak pernah mau tahu untuk alasan apa norma-norma itu dahulu dibuat. Alasan kedua saya merasa aneh dengan berkomunikasi secara langsung dengan Tuhan adalah karena saya memiliki kepercayaan kuat bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang dapat berkomunikasi dengan Tuhan.
Namun saya mengakui bahwa ideologi kebebasan yang saya yakini tidak hanya membawa saya pada kemajuan (seperti mudah bergaul dengan siapa saja dan keinginan kuat untuk mempelajari dan mengetahui apa saja yang menjadi misteri bagi saya)… namun juga membawa saya kepada keadaan hati yang kadang-kadang gundah, tertekan, iri dan gelisah. Konsep bahwa saya adalah tuan dari diri saya sendiri dan saya dapat melakukan apapun kepada diri saya sendiri seringkali membawa saya kepada kemalasan. Kebiasaan untuk mencobai segala sesuatu malah membuat saya jatuh dalam penjara kebosanan… dan kebosanan menggerogoti diri saya sendiri dari dalam.
Akan tetapi cara Kristiani ini sama sekali begitu berbeda, perubahan signifikan sudah dapat saya rasakan pada diri saya. (tulisan ini saya tulis dalam waktu hanya terpaut sekitar dua atau tiga minggu sejak pertama kali saya diajak untuk mencoba “metode” baru ini). Dan sangat kelihatan sekali bahwa metoda ini sangat berhasil bagi saya. Artinya saya lebih menyukai diri saya yang sekarang ini dari pada yang dulu sebelum saya mempercayai metode baru ini.
Mungkin ini yang saya cari-cari sejak dari dulu. Metode Kristiani menganjurkan untuk selalu setia kepada Tuhan. Saya adalah seorang yang mendambakan kesetiaan dan selalu haus melakukan sesuatu demi kesetiaan saya tersebut. Sebagai contoh… saya adalah seorang yang memiliki dorongan dalam hatu untuk selalu menghormati segala kehidupan, saya akan berusaha keras untuk menjalani hidup saya tanpa menyakiti mahluk hidup yang lainnya. Untuk itu saya selalu konsekuen dengan idealis saya tersebut, jadilah saya seorang vegetarian. Contoh kedua adalah… saya sangat menyayangi dengan seorang yang tidak jauh usia dengan saya (mohon tidak diasumsikan sebagai hubungan asmara) dan saya menganggapnya sebagai adik saya sendiri. Mungkin persamaan model perjuangan dan cita-cita membuat saya begitu dekat dengan anak ini. Lantas saya berkomitmen untuk selalu mendukung dan senantiasa melindungi dia. Betapa saya mendambakan diri saya sendiri termasuk dalam suatu standar kesetiaan yang tinggi, dengan mengorbankan beberapa beberapa kepentingan saya pribadi.
Namun sudah beberapa tahun belakangan ini saya menjadi agnostik atau malah semi atheis. Hal itu membuat saya agak termalu-malu kepada diri saya sendiri ketika saya mencoba untuk berbicara dengan Tuhan untuk pertama kalinya. Seakan-akan diri saya mengatai diri saya sendiri bahwa saya bodoh karena mencoba berbicara dengan angin.
Pada suatu hari saya diserang oleh mood yang rendah dan situasi batin yang sangat menggelisahkan. Hingga pada puncaknya, pada malam hari yang tidak begitu larut saya tidak dapat melakukan apa-apa kecuali hanya duduk diam dalam kegundahan… ingin sekali saya menangis. Namun saya berpikir dari pada saya duduk tidak melakukan apa-apa dan tidak membawa perubahan apa-apa, maka saya pergi kebelakang mengambil sebuah minuman coke dari kulkas untuk sedikit menghibur jasmani saya. Setelah satu atau dua teguk, saya mulai berbicara dengan Tuhan… saya asumsikan Dia seperti sahabat tercinta saya yang sedang berdiri di depan saya memandang saya dengan sabar dan ingin mendengarkan apapun yang ingin saya katakan. Maka mulailah saya menyampaikan ocehan, omelan, dan keluh kesah. Kadang-kadang saya memberitahu kepada dia bahwa saya menyesal bahwa saya telah menjadi mahluknya yang begitu lemah… saya tahu ada banyak sekali orang yang jauh menderita daripada saya. Namun saya mengaku bahwa saya tidak tahu dengan apa yang harus saya lakukan… maka saya memohon kepadaNya untuk selalu menegarkan hati saya dan memberikan jalan keluar bagi setiap permasalahan yang saya hadapi.
Selepas komunikasi luar biasa itu, pikiran saya menjadi jauh lebih enteng dan dapat tidur dengan nyenyak. Keesokan paginya saya bangun dengan senyum baru di bibir beserta pemahaman baru bahwa saya akan berbahagia dengan setia kepadaNya. Hidup saya berubah banyak, saya bersedia untuk melakukan segala sesuatu yang tidak ingin saya lakukan sebelumnya. Ego saya banyak tergerus dan mengalami erosi hebat. Saya memandang bahwa Tuhan adalah damai dan sebagai pengikut setiaNya maka saya dianjurkan untuk menciptakan damai. Dan untuk itu saya harus membuat diri saya sendiri tersenyum dengan semua orang, lebih mendengarkan mereka, lebih mengalah, dan menghormati mereka dalam setiap kesempatan. Pada mulanya saya sangat sulit memulainya, namun dengan kesadaran bahwa Tuhan menganjurkan kasih sayang, maka tidak lama kemudian saya dengan gampang melakukannya. Tuhan adalah kasih.
Jadi… rupanya saya tidak perlu lagi terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk melakukan banyak pencaharian. Kebahagiaan itu telah datang, dan saya memutuskan bahwa saya harus berhenti setelah sekian lama tidak pernah berhenti. Saya memutuskan bahwa saya akan berhenti pada hal cinta… karena saya percaya bahwa Tuhan adalah cinta, God is love… saya akan setia pada Tuhan. Saya harap itu akan cukup bagi saya.
Hormat saya kepada seseorang yang mengkabarkan saya tentang ini.
Rabu, 12 Agustus 2009
Berbicara dengan Tuhan...?
Hari ini saya mencoba berbicara dengan Tuhan. Saya berkeluh kesah atas segala keadaan batin saya yang tidak tahu sedang meratapi apa. Saya mengambil sekaleng coca cola, pergi kebelakang rumah yang sepi kemudian berbicara seolah-olah Tuhan berada di depan saya. Saya mengobrol dengan dia selama sepuluh menit, kemudian pergi ke kamar dan menulis ini.
Awalnya sih sangat susah, karena saya tidak dapat melihat Tuhan di manapun, namun itu tidak bermakna penting bagi saya. Lebih baik bagi saya untuk mencoba mencurahkan isi hati saya kepadaNya, dari pada mencurahkan isi hati saya kepada orang, karena kebanyakan orang tidak mau mendengarkan kisah saya.
Ini sangat membantu.
Awalnya sih sangat susah, karena saya tidak dapat melihat Tuhan di manapun, namun itu tidak bermakna penting bagi saya. Lebih baik bagi saya untuk mencoba mencurahkan isi hati saya kepadaNya, dari pada mencurahkan isi hati saya kepada orang, karena kebanyakan orang tidak mau mendengarkan kisah saya.
Ini sangat membantu.
Kamis, 25 Juni 2009
Lontang-lantung
Orang bijak berkata bahwa kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan… sebab itu hendaknya kita menikmati perjalanan itu seutuhnya.
Sebuah prinsip penting telah sejak lama menjadi bagian dari diri saya, yaitu bahwa “hidup ini adalah belajar… belajar seumur hidup”. Saya beranggapan bahwa hidup adalah sebuah gudang misteri, artinya dalam kehidupan ini banyak hal yang tidak saya mengerti dan menjadi misteri. Dan tujuan kehidupan ini mungkin adalah untuk mengungkap misteri ini. Dengan rendah diri saya mengatakan bahwa saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyombongkan diri bahwa saya mampu mengungkap semua misteri… tidak seperti itu, tidak akan pernah cukup umur saya untuk itu semua. Namun saya lebih berpikir bahwa saya tidak memiliki minat untuk duduk-duduk diam, tidak melakukan apa-apa dan bersikap cuek terhadap banyak sekali sesuatu yang tidak saya mengerti.
Saya memiliki hobi dan kebiasaan membicarakan sesuatu yang prinsipil dengan siapapun. Saya juga memiliki hobi dan kebiasaan untuk merasakan sesuatu yang belum saya rasakan. Kadang-kadang saya mondar-mandir mengunjungi beberapa teman untuk saya ajak mengobrol dengan tujuan untuk menggali dan mengetahui bagaimana mereka berpikir. Kadang-kadang saya tertarik untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin dilakukan oleh kebanyakan orang, berpetualang seorang diri. Semua ini saya tujukan untuk mengetahui tentang segala sesuatu lebih banyak.
Banyak orang yang tidak dapat mengerti dengan kesenangan saya untuk menjajal segala sesuatu itu. Banyak yang memandang saya dengan raut muka yang prihatin tatkala mereka melihat saya lontang-lantung kesana kemari karena tidak memiliki pekerjaan (bekerja ikut orang, perusahaan atau pemerintah). Lebih prihatin lagi ketika mereka mengetahui bahwa diusia saya yang ke dua puluh enam ini saya tidak memiliki seorang pacar pun. Nah dari sini saya menilai bahwa mungkin apa yang dianggap normal oleh kebanyakan orang adalah ikut orang, perusahaan atau pemerintah, berkeluarga dan punya anak… dan cukuplah sudah.
Bukannya saya tidak setuju dengan keluarga… sama sekali bukan seperti itu. Namun saya beranggapan bahwa dalam kehidupan saya di dunia ini, saya harus berupaya keras untuk mengetahui dan menjalani apa yang menjadi takdir saya, serta berusaha untuk sebanyak mungkin memahami misteri kehidupan… “untuk apa, mengapa, dan apa yang harus saya lakukan di dunia ini”
Sebuah prinsip penting telah sejak lama menjadi bagian dari diri saya, yaitu bahwa “hidup ini adalah belajar… belajar seumur hidup”. Saya beranggapan bahwa hidup adalah sebuah gudang misteri, artinya dalam kehidupan ini banyak hal yang tidak saya mengerti dan menjadi misteri. Dan tujuan kehidupan ini mungkin adalah untuk mengungkap misteri ini. Dengan rendah diri saya mengatakan bahwa saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyombongkan diri bahwa saya mampu mengungkap semua misteri… tidak seperti itu, tidak akan pernah cukup umur saya untuk itu semua. Namun saya lebih berpikir bahwa saya tidak memiliki minat untuk duduk-duduk diam, tidak melakukan apa-apa dan bersikap cuek terhadap banyak sekali sesuatu yang tidak saya mengerti.
Saya memiliki hobi dan kebiasaan membicarakan sesuatu yang prinsipil dengan siapapun. Saya juga memiliki hobi dan kebiasaan untuk merasakan sesuatu yang belum saya rasakan. Kadang-kadang saya mondar-mandir mengunjungi beberapa teman untuk saya ajak mengobrol dengan tujuan untuk menggali dan mengetahui bagaimana mereka berpikir. Kadang-kadang saya tertarik untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin dilakukan oleh kebanyakan orang, berpetualang seorang diri. Semua ini saya tujukan untuk mengetahui tentang segala sesuatu lebih banyak.
Banyak orang yang tidak dapat mengerti dengan kesenangan saya untuk menjajal segala sesuatu itu. Banyak yang memandang saya dengan raut muka yang prihatin tatkala mereka melihat saya lontang-lantung kesana kemari karena tidak memiliki pekerjaan (bekerja ikut orang, perusahaan atau pemerintah). Lebih prihatin lagi ketika mereka mengetahui bahwa diusia saya yang ke dua puluh enam ini saya tidak memiliki seorang pacar pun. Nah dari sini saya menilai bahwa mungkin apa yang dianggap normal oleh kebanyakan orang adalah ikut orang, perusahaan atau pemerintah, berkeluarga dan punya anak… dan cukuplah sudah.
Bukannya saya tidak setuju dengan keluarga… sama sekali bukan seperti itu. Namun saya beranggapan bahwa dalam kehidupan saya di dunia ini, saya harus berupaya keras untuk mengetahui dan menjalani apa yang menjadi takdir saya, serta berusaha untuk sebanyak mungkin memahami misteri kehidupan… “untuk apa, mengapa, dan apa yang harus saya lakukan di dunia ini”
Sabtu, 20 Juni 2009
Nazi
Many people judge another people by their religion, race, ethnic, skin colour and culture. Its happening here... in Indonesia nowadays, now, at the present!!! Watch your neighbourhood, listen what they said about people in different. And maybe you need to watch yourself. Ironicaly... you hate Nazi or Apartheid! but in fact you have their hatred! Memalukan... orang Indonesia macam apa ini....
Sabtu, 30 Mei 2009
Ayahku Yang Kusayangi
Hari ini aku meminta ayahku untuk berbincang serius denganku. Tidak biasanya aku meminta ayahku untuk berbincang, jika ada perbincangan di antara kami maka itu biasanya membahas masalah sepele dan terjadi tanpa kurencanakan. Jika kami sedang berbincang, maka kami jarang memperbincangkan masalah yang serius-serius. Tetapi kali ini aku ingin membicarakan tentang suatu hal yang kuanggap serius, yang telah membuat kepalaku berat beberapa hari terakhir ini.
Waktu itu topik perbincangan kami ini adalah mengenai sesuatu yang menurut kebanyakan orang adalah sepele yang jauh dari tingkatan memusingkan kepala. Aku meminta pendapat ayahku berdasarkan pengalamanya tentang kehidupan asmaranya dengan seorang wanita. Pertanyaan yang aku ajukan pertama kali adalah, bagaimana perasaan beliau ketika beliau sedang bertatap muka dengan orang yang beliau taksir. Beliau berkata bahwa beliau tenang-tenang saja ketika bertatap muka dengan perempuan manapun, bahkan beliau merasa nyaman. Ini sangat bertentangan dengan apa yang terjadi padaku… aku mengalami grogi tingkat akut kepada semua perempuan, baik yang kukagumi maupun yang tidak.
Pertanyaan kedua yang aku ajukan adalah seberapa pentingkah keberadaan perempuan/ wanita dalam kehidupan beliau. Beliau menjawab bahwa wanita adalah “sesuatu” yang harus ada dalam kehidupan beliau, dan beliau menganggap bahwa wanita yang beliau cintai adalah teman seperjalanan yang selalu setia mendampingi beliau menuju tujuan yang beliau tuju. Sayangnya ini juga sangat berlawanan dengan diri saya… karena terus terang saya belum merasakan arti penting seorang wanita dalam kehidupan saya. Jika sesuatu tentang perempuan melintas di kepalaku, maka yang muncul adalah penilaian bahwa perempuan itu cantik atau jelek… itu saja, begitu saja, berhenti disitu saja.
Saya mengeluhkan kepribadian saya ini kepada ayah saya, Saya mulai merasa bimbang dengan prinsip yang saya anut. Saya berkata kepada beliau bahwa saya selalu meyakinkan kepada diri saya sendiri agar selalu berpikir secara rasional daripada mengandalkan emosi. Dalam hal ini saya selalu menolak atau membohongi diri sendiri apabila ada gejolak dalam hati yang mengindikasikan bahwa saya sedang tertarik dengan seorang wanita. Daripada lebih jauh terlibat dalam urusan asmara, saya cenderung mengerjakan segala sesuatu yang menjadi hobi saya, dengan harapan agar saya dapat lebih berkembang. Namun akhir-akhir ini saya merasakan bahwa pemikiran rasional itu sedikit demi sedikit mulai tergeser dengan emosi (ketertarikan kepada perempuan)… akan tetapi yang paling menyakitkan adalah bahwa saya tidak memiliki kemampuan untuk berbincang lama-lama dengan seorang wanita.
Mendengarkan penjelasan saya itu, ayah saya diam sejenak untuk berpikir dalam-dalam, setelah itu beliau mulai bersuara dan saya mendengarkan dengan seksama. Tidak pernah saya mendengarkan ayah saya dengan seksama seperti itu sebelumnya, karena saya selalu menganggap ayah saya itu kolot dan ketinggalan jaman.
Beliau berkata bahwa (tentang wanita/perempuan) hidup itu adalah apes, musibah. Memilih untuk berkeluarga… maka kita akan menemui musibah, cepat atau lambat sesuatu yang tidak kita inginkan pasti akan terjadi. Sementara jika memilih untuk melajang selamanya, maka kita akan apes juga, terkena musibah juga. Berkeluarga atau melajang, apapun pilihan yang akan dipilih… sesuatu yang tidak akan inginkan pada akhirnya akan selalu terjadi pada kita. Jika sama-sama akan menemui musibah, maka beliau memilih menghadapi musibah itu dengan bergandengan tangan dengan seorang perempuan yang dia cintai.
Ayahku adalah seorang Muslim Jawa yang sangat percaya sepenuhnya terhadap takdir. Beliau sama sekali tidak prihatin bahwa aku akan mendapatkan jodohku atau tidak, namun beliau sangat prihatin dengan perasaan takutku untuk bersanding, berbicara/ ngobrol, bertatap muka, berkenalan… atau (lebih parahnya) bahkan hanya untuk sekedar menyapa halo atau hei seorang wanita yang aku temui.
Beliau berkata kepadaku bahwa dalam kehidupan ini… rejeki, jodoh dan kematian adalah ketentuan dari Tuhan yang maha kuasa, untuk itu beliau berharap kepadaku agar tidak gentar walau sedikitpun dalam menghadapi kenyataan. Beliau berusaha meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja, apa yang harus aku lakukan adalah meyakini sepenuhnya takdir Tuhan dan melakoni kehidupan secara luwes sebagai bentuk pengabdian kepadaNya, berkenalanlah dengan seorang perempuan, karena Tuhan menganjurkannya demikian. Aku adalah seorang agnostik yang seringkali meragukan keberadaan Tuhan, namun merasa aneh jika secara seratus persen menolak keberadaan Tuhan. Akan tetapi apa yang dikatakan oleh ayah telah membuatku merasa damai dan membantuku tidur lebih nyenyak di malam hari.
Yang terakhir beliau mengatakan kepadaku bahwa beliau mendukungku sepenuh hati dalam usahaku memilih wanita yang akan aku cintai. Beliau tidak akan mempermasalahkan latar belakang wanita yang akan aku cintai, bahkan beliau tidak mempermasalahkan ras dan agamanya karena beliau tahu bahwa aku tidak terlalu tertarik dengan gadis Melayu (bukan karena ciri ras, tapi cenderung pada karakter yang biasanya menempel pada gadis melayu itu). Aku tahu persis bahwa itu adalah sesuatu yang berat bagi beliau karena semua kerabat dan famili bahkan tetangga kami adalah orang-orang Islam fanatik yang tidak dapat menghargai perbedaan keyakinan dan tradisi. Namun pada saat beliau mengatakan semua ini kepadaku, sama sekali tidak tampak bahwa beliau sedang merasa tertekan… sebaliknya, sebuah senyuman dan mimik keikhlasan menghiasi raut mukanya.
Oh ayah….
Waktu itu topik perbincangan kami ini adalah mengenai sesuatu yang menurut kebanyakan orang adalah sepele yang jauh dari tingkatan memusingkan kepala. Aku meminta pendapat ayahku berdasarkan pengalamanya tentang kehidupan asmaranya dengan seorang wanita. Pertanyaan yang aku ajukan pertama kali adalah, bagaimana perasaan beliau ketika beliau sedang bertatap muka dengan orang yang beliau taksir. Beliau berkata bahwa beliau tenang-tenang saja ketika bertatap muka dengan perempuan manapun, bahkan beliau merasa nyaman. Ini sangat bertentangan dengan apa yang terjadi padaku… aku mengalami grogi tingkat akut kepada semua perempuan, baik yang kukagumi maupun yang tidak.
Pertanyaan kedua yang aku ajukan adalah seberapa pentingkah keberadaan perempuan/ wanita dalam kehidupan beliau. Beliau menjawab bahwa wanita adalah “sesuatu” yang harus ada dalam kehidupan beliau, dan beliau menganggap bahwa wanita yang beliau cintai adalah teman seperjalanan yang selalu setia mendampingi beliau menuju tujuan yang beliau tuju. Sayangnya ini juga sangat berlawanan dengan diri saya… karena terus terang saya belum merasakan arti penting seorang wanita dalam kehidupan saya. Jika sesuatu tentang perempuan melintas di kepalaku, maka yang muncul adalah penilaian bahwa perempuan itu cantik atau jelek… itu saja, begitu saja, berhenti disitu saja.
Saya mengeluhkan kepribadian saya ini kepada ayah saya, Saya mulai merasa bimbang dengan prinsip yang saya anut. Saya berkata kepada beliau bahwa saya selalu meyakinkan kepada diri saya sendiri agar selalu berpikir secara rasional daripada mengandalkan emosi. Dalam hal ini saya selalu menolak atau membohongi diri sendiri apabila ada gejolak dalam hati yang mengindikasikan bahwa saya sedang tertarik dengan seorang wanita. Daripada lebih jauh terlibat dalam urusan asmara, saya cenderung mengerjakan segala sesuatu yang menjadi hobi saya, dengan harapan agar saya dapat lebih berkembang. Namun akhir-akhir ini saya merasakan bahwa pemikiran rasional itu sedikit demi sedikit mulai tergeser dengan emosi (ketertarikan kepada perempuan)… akan tetapi yang paling menyakitkan adalah bahwa saya tidak memiliki kemampuan untuk berbincang lama-lama dengan seorang wanita.
Mendengarkan penjelasan saya itu, ayah saya diam sejenak untuk berpikir dalam-dalam, setelah itu beliau mulai bersuara dan saya mendengarkan dengan seksama. Tidak pernah saya mendengarkan ayah saya dengan seksama seperti itu sebelumnya, karena saya selalu menganggap ayah saya itu kolot dan ketinggalan jaman.
Beliau berkata bahwa (tentang wanita/perempuan) hidup itu adalah apes, musibah. Memilih untuk berkeluarga… maka kita akan menemui musibah, cepat atau lambat sesuatu yang tidak kita inginkan pasti akan terjadi. Sementara jika memilih untuk melajang selamanya, maka kita akan apes juga, terkena musibah juga. Berkeluarga atau melajang, apapun pilihan yang akan dipilih… sesuatu yang tidak akan inginkan pada akhirnya akan selalu terjadi pada kita. Jika sama-sama akan menemui musibah, maka beliau memilih menghadapi musibah itu dengan bergandengan tangan dengan seorang perempuan yang dia cintai.
Ayahku adalah seorang Muslim Jawa yang sangat percaya sepenuhnya terhadap takdir. Beliau sama sekali tidak prihatin bahwa aku akan mendapatkan jodohku atau tidak, namun beliau sangat prihatin dengan perasaan takutku untuk bersanding, berbicara/ ngobrol, bertatap muka, berkenalan… atau (lebih parahnya) bahkan hanya untuk sekedar menyapa halo atau hei seorang wanita yang aku temui.
Beliau berkata kepadaku bahwa dalam kehidupan ini… rejeki, jodoh dan kematian adalah ketentuan dari Tuhan yang maha kuasa, untuk itu beliau berharap kepadaku agar tidak gentar walau sedikitpun dalam menghadapi kenyataan. Beliau berusaha meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja, apa yang harus aku lakukan adalah meyakini sepenuhnya takdir Tuhan dan melakoni kehidupan secara luwes sebagai bentuk pengabdian kepadaNya, berkenalanlah dengan seorang perempuan, karena Tuhan menganjurkannya demikian. Aku adalah seorang agnostik yang seringkali meragukan keberadaan Tuhan, namun merasa aneh jika secara seratus persen menolak keberadaan Tuhan. Akan tetapi apa yang dikatakan oleh ayah telah membuatku merasa damai dan membantuku tidur lebih nyenyak di malam hari.
Yang terakhir beliau mengatakan kepadaku bahwa beliau mendukungku sepenuh hati dalam usahaku memilih wanita yang akan aku cintai. Beliau tidak akan mempermasalahkan latar belakang wanita yang akan aku cintai, bahkan beliau tidak mempermasalahkan ras dan agamanya karena beliau tahu bahwa aku tidak terlalu tertarik dengan gadis Melayu (bukan karena ciri ras, tapi cenderung pada karakter yang biasanya menempel pada gadis melayu itu). Aku tahu persis bahwa itu adalah sesuatu yang berat bagi beliau karena semua kerabat dan famili bahkan tetangga kami adalah orang-orang Islam fanatik yang tidak dapat menghargai perbedaan keyakinan dan tradisi. Namun pada saat beliau mengatakan semua ini kepadaku, sama sekali tidak tampak bahwa beliau sedang merasa tertekan… sebaliknya, sebuah senyuman dan mimik keikhlasan menghiasi raut mukanya.
Oh ayah….
Rabu, 15 April 2009
Bela Diri?
Apakah beladiri adalah suatu hal yang selalu berhubungan dengan tindakan pembelaan diri dengan menggunakan metode-metode kekerasan? Apakah seseorang akan menjadi berubah perwatakannya ketika dia mempelajari beladiri?
Well I say that martial art is not always used to confront another people, beladiri tidak selalu untuk memusuhi orang lain. Saya lebih suka bahwa beladiri lebih berguna untuk “memerangi” diri sendiri, karena pada kenyataannya beladiri tidak selalu berguna dalam sebuah konflik dengan orang lain… celurit selalu lebih berguna dari pada teknik beladiri manapun.
Beberapa orang, termasuk saya, adalah tipe seseorang yang tidak berdaya dalam mengontrol diri pribadi, kehendak pribadi. Ada semacam kebiasaan berpikir dan perilaku yang tetap dan terus menerus dilakukan meskipun kami tidak memiliki kebanggaan secuilpun atas itu semua. Sekuat apapun kami ingin berubah dan ingin memiliki prospek kedepan yang positif, namun kenyataannya usaha itu hanyalah sebuah perkembangan maju mundur, yang tidak membawa kami kemanapun.
Untuk menjadi seorang pebeladiri sungguhan yang handal (bukan siswa beladiri kuno yang “bullshit”) maka seseorang dituntut untuk mengikuti pola hidup disiplin tertentu. Untuk menang dalam suatu perkelahian, seorang pebeladiri harus memperhatikan berat badan, stamina, kekuatan otot… dan hal ini selalu berhubungan dengan porsi latihan fisik dan porsi makan… belum lagi teknik-teknik yang harus selalu diperbarui. Semuanya itu membutuhkan kedisiplinan yang sangat ketat.
Sudah satu bulan ini saya berlatih beladiri secara intensif, tidak hanya teknik, namun fisik juga saya perhatikan betul-betul. Agar saya bisa berkonsentrasi pada latihan saya ini, maka saya menolak bertemu dengan orang-orang dekat saya, kecuali jika keadaan benar-benar darurat. Selama satu bulan latihan itu saya hanya makan satu kali, dan saya mengisi hari-hari itu dengan meditasi dan kefokusan pada diri pribadi. Memang harus saya akui ada hari-hari di mana saya kalah dengan bagian dari jiwa saya yang pemalas, yang menginginkan sesuatu yang biasa-biasa saja. Jiwa saya yang pemalas itu kemudian meronta dan memberontak dengan sedemikian kuatnya sehingga kemauan untuk mengikuti kedisiplinan itu menjadi tidak berdaya.
Latihan keras selama satu bulan ini adalah sesuatu yang sangat berat bagi saya yang sebelumnya tidak pernah melakukan latihan apapun semacam ini. Hari-hari saya dipenuhi dengan kesepian dan keheningan. Duduk diam dan merenung serta berpikir adalah kegiatan sehari-hari saya. Intinya adalah kontemplasi dan mawas diri, artinya saya melupakan tentang semua keinginan saya untuk sementara untuk memberikan kesempatan kepada saya untuk mengenal diri saya beserta karakternya. Ini adalah penting sekali untuk dilakukan karena saya harus memikirkan strategi yang pas untuk mengalahkan diri saya.
Mengapa saya harus mengalahkan diri saya sendiri? karena saya sudah bosan selalu diperbudak oleh diri saya sendiri beserta dengan kemauan-kemauannya. Saya pikir bahwa saya harus bertanggung jawab kepada diri saya pribadi, dan sebagai manusia yang bermartabat maka saya merasa bahwa adalah suatu kebanggaan untuk membawa identitas diri saya dengan penuh hormat. Maka saya harus bisa memimpin diri saya sendiri.
Well I say that martial art is not always used to confront another people, beladiri tidak selalu untuk memusuhi orang lain. Saya lebih suka bahwa beladiri lebih berguna untuk “memerangi” diri sendiri, karena pada kenyataannya beladiri tidak selalu berguna dalam sebuah konflik dengan orang lain… celurit selalu lebih berguna dari pada teknik beladiri manapun.
Beberapa orang, termasuk saya, adalah tipe seseorang yang tidak berdaya dalam mengontrol diri pribadi, kehendak pribadi. Ada semacam kebiasaan berpikir dan perilaku yang tetap dan terus menerus dilakukan meskipun kami tidak memiliki kebanggaan secuilpun atas itu semua. Sekuat apapun kami ingin berubah dan ingin memiliki prospek kedepan yang positif, namun kenyataannya usaha itu hanyalah sebuah perkembangan maju mundur, yang tidak membawa kami kemanapun.
Untuk menjadi seorang pebeladiri sungguhan yang handal (bukan siswa beladiri kuno yang “bullshit”) maka seseorang dituntut untuk mengikuti pola hidup disiplin tertentu. Untuk menang dalam suatu perkelahian, seorang pebeladiri harus memperhatikan berat badan, stamina, kekuatan otot… dan hal ini selalu berhubungan dengan porsi latihan fisik dan porsi makan… belum lagi teknik-teknik yang harus selalu diperbarui. Semuanya itu membutuhkan kedisiplinan yang sangat ketat.
Sudah satu bulan ini saya berlatih beladiri secara intensif, tidak hanya teknik, namun fisik juga saya perhatikan betul-betul. Agar saya bisa berkonsentrasi pada latihan saya ini, maka saya menolak bertemu dengan orang-orang dekat saya, kecuali jika keadaan benar-benar darurat. Selama satu bulan latihan itu saya hanya makan satu kali, dan saya mengisi hari-hari itu dengan meditasi dan kefokusan pada diri pribadi. Memang harus saya akui ada hari-hari di mana saya kalah dengan bagian dari jiwa saya yang pemalas, yang menginginkan sesuatu yang biasa-biasa saja. Jiwa saya yang pemalas itu kemudian meronta dan memberontak dengan sedemikian kuatnya sehingga kemauan untuk mengikuti kedisiplinan itu menjadi tidak berdaya.
Latihan keras selama satu bulan ini adalah sesuatu yang sangat berat bagi saya yang sebelumnya tidak pernah melakukan latihan apapun semacam ini. Hari-hari saya dipenuhi dengan kesepian dan keheningan. Duduk diam dan merenung serta berpikir adalah kegiatan sehari-hari saya. Intinya adalah kontemplasi dan mawas diri, artinya saya melupakan tentang semua keinginan saya untuk sementara untuk memberikan kesempatan kepada saya untuk mengenal diri saya beserta karakternya. Ini adalah penting sekali untuk dilakukan karena saya harus memikirkan strategi yang pas untuk mengalahkan diri saya.
Mengapa saya harus mengalahkan diri saya sendiri? karena saya sudah bosan selalu diperbudak oleh diri saya sendiri beserta dengan kemauan-kemauannya. Saya pikir bahwa saya harus bertanggung jawab kepada diri saya pribadi, dan sebagai manusia yang bermartabat maka saya merasa bahwa adalah suatu kebanggaan untuk membawa identitas diri saya dengan penuh hormat. Maka saya harus bisa memimpin diri saya sendiri.
Kamis, 09 April 2009
Hadiah Yang Ditarik Kembali
Saya pernah menyesali lutut kiri saya yang cacat akibat kecelakaan kerja pada Bulan Februari tahun 2008. Saya adalah seorang pebela diri. Saya ingin menjelaskan makna beladiri bagi saya pribadi yang sesungguhnya… jadi… beladiri tidak hanya sekedar metode atau teknik pembelaan diri bagi saya, namun lebih dari itu, beladiri adalah hidup saya, roh dari kehidupan saya. Tanpa beladiri, saya tidak mungkin menjadi pribadi Bayu Sandi seperti yang sekarang ini. Ketika kecelakaan kerja merenggut kesehatan lutut kiri saya, maka kecelakaan itu telah merenggut beladiri dari kehidupan saya.
Sebenarnya kecelakaan itu bukan murni kecelakaan kerja, hanya sedikit yang mengetahui ini, hanya beberapa dari teman-teman Sido Bangun saya. Setelah satu tahun lebih berlalu, saya pikir tidak ada gunanya saya menyembunyikan ini dan berpura-pura bahwa ini bukan suatu kesalahan saya.
Adalah kebiasaan bagi saya untuk terjun sambil melakukan akrobat dari suatu ketinggian yang jarang sekali orang lain berani melakukannya. Sebelumnya saya selalu berhasil melakukannya hingga pada suatu pagi berat badan saya mencelakai saya. Saya terjun dari ketinggian sekitar tiga meter setengah, untuk melakukan Koproll di atas lantai beton. Benar kata orang bahwa segala sesuatu memiliki batasan yang apabila dilanggar akan menimbulkan malapetaka. Lutut saya tidak dapat menyangga beban tumbukan atas berat badan 86 kg yang ditumpukan kepadanya. Beberapa saat setelah saya sadar dari shock, saya melihat lutut kiri saya tampak bengkok mengerikan…
Sakitnya luar biasa, itu adalah rasa sakit yang paling sakit yang pernah saya rasakan dalam 25 tahun kehidupan saya waktu itu. Namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sedih di hati saya, mengingat saya tidak dapat menjalani kehidupan saya sebagai pebeladiri yang normal lagi. Klinik terapi ataupun terapi tradisional tidak mampu menyembuhkan lutut saya… kini Capoeira adalah sesuatu yang mustahil bagi saya. Cideranya lutut kiri saya adalah merupakan hadiah yang ditarik kembali bagi saya.
Kadang-kadang… atau bahkan seringkali saya berpikir bahwa saya tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar di masa lalu sehingga diri saya di masa sekarang tidak dapat menjadi bangga. Saya menyesal sekali, dan berulang-ulang menyalahkan diri saya sendiri. Pertanyaan yang paling sering menghantui diri saya adalah “mengapa dulu saya tidak mampu melakukannya?” atau “jika orang lain bisa, mengapa hanya saya yang tidak bisa?”
Beberapa saat yang lalu saya berhenti terlalu menyalahkan diri saya. Dan saya pikir, apabila saya tidak melakukan kesalahan-kesalahan tersebut, maka tidak mungkin saya memiliki kehidupan seperti yang sekarang saya jalani. Apakah saya bangga dengan kehidupan yang saya jalani sekarang? Tidak juga, namun saya juga tidak terlalu menyesal dengan perjalanan hidup ini, karena rangkaian peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan saya ini telah menghadiahi saya dengan pelajaran-pelajaran penting yang membuat saya bertambah dewasa. Dan itu adalah segalanya bagi saya.
Pelajaran penting bagi saya “sulit sekali menghormati diri sendiri, tetapi ketika seseorang bisa melakukannya, maka hal itu bisa saja sangat menghibur”
Sebenarnya kecelakaan itu bukan murni kecelakaan kerja, hanya sedikit yang mengetahui ini, hanya beberapa dari teman-teman Sido Bangun saya. Setelah satu tahun lebih berlalu, saya pikir tidak ada gunanya saya menyembunyikan ini dan berpura-pura bahwa ini bukan suatu kesalahan saya.
Adalah kebiasaan bagi saya untuk terjun sambil melakukan akrobat dari suatu ketinggian yang jarang sekali orang lain berani melakukannya. Sebelumnya saya selalu berhasil melakukannya hingga pada suatu pagi berat badan saya mencelakai saya. Saya terjun dari ketinggian sekitar tiga meter setengah, untuk melakukan Koproll di atas lantai beton. Benar kata orang bahwa segala sesuatu memiliki batasan yang apabila dilanggar akan menimbulkan malapetaka. Lutut saya tidak dapat menyangga beban tumbukan atas berat badan 86 kg yang ditumpukan kepadanya. Beberapa saat setelah saya sadar dari shock, saya melihat lutut kiri saya tampak bengkok mengerikan…
Sakitnya luar biasa, itu adalah rasa sakit yang paling sakit yang pernah saya rasakan dalam 25 tahun kehidupan saya waktu itu. Namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sedih di hati saya, mengingat saya tidak dapat menjalani kehidupan saya sebagai pebeladiri yang normal lagi. Klinik terapi ataupun terapi tradisional tidak mampu menyembuhkan lutut saya… kini Capoeira adalah sesuatu yang mustahil bagi saya. Cideranya lutut kiri saya adalah merupakan hadiah yang ditarik kembali bagi saya.
Kadang-kadang… atau bahkan seringkali saya berpikir bahwa saya tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar di masa lalu sehingga diri saya di masa sekarang tidak dapat menjadi bangga. Saya menyesal sekali, dan berulang-ulang menyalahkan diri saya sendiri. Pertanyaan yang paling sering menghantui diri saya adalah “mengapa dulu saya tidak mampu melakukannya?” atau “jika orang lain bisa, mengapa hanya saya yang tidak bisa?”
Beberapa saat yang lalu saya berhenti terlalu menyalahkan diri saya. Dan saya pikir, apabila saya tidak melakukan kesalahan-kesalahan tersebut, maka tidak mungkin saya memiliki kehidupan seperti yang sekarang saya jalani. Apakah saya bangga dengan kehidupan yang saya jalani sekarang? Tidak juga, namun saya juga tidak terlalu menyesal dengan perjalanan hidup ini, karena rangkaian peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan saya ini telah menghadiahi saya dengan pelajaran-pelajaran penting yang membuat saya bertambah dewasa. Dan itu adalah segalanya bagi saya.
Pelajaran penting bagi saya “sulit sekali menghormati diri sendiri, tetapi ketika seseorang bisa melakukannya, maka hal itu bisa saja sangat menghibur”
Jumat, 27 Maret 2009
Laki-laki
Apa yang dibutuhkan untuk membuat seorang laki-laki bahagia? Uang melimpah, mobil sport, rumah besar, bepergian ke luar negeri, atau istri cantik? Semua lelaki berakal sehat pasti akan mengatakan bahwa mereka akan bahagia dengan itu semua. Namun seseorang diantaranya mengatakan bahwa ada satu lagi yang harus hal penting lagi yang harus ditambahkan agar seorang laki-laki bisa merasa bahagia. Dan hal penting itu datangnya berasal dari kehormatan.
Bagaimana seorang laki-laki bisa merasa terhormat? Beberapa orang mengatakan bahwa seorang laki-laki akan merasa terhormat apabila laki-laki itu mendapatkan pengakuan dari orang-orang terdekatnya bahwa dia adalah seorang pribadi tabah dan kuat serta memiliki ketenangan yang luar biasa dalam menghadapi segala permasalahan dalam hidupnya. Sebagian laki-laki lagi akan mengatakan bahwa dia akan merasa terhormat apabila dia memiliki kontrol yang kuat sedemikian rupa sehingga dia memiliki kendali penuh atas kehidupannya.
Ada seorang laki-laki di luar sana yang tidak merasa bahagia karena dia tidak menganggap dirinya layak untuk dihormati, karena dia yakin sekali bahwa dia tidak memiliki kontrol yang cukup atas dirinya. Dia merasa bahwa dia tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengendalikan dirinya sendiri. Dia beranggapan bahwa semua orang memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk memimpin dirinya sendiri. Apa yang dia rasakan atas dirinya adalah bahwa dia hanyalah seonggok daging pecundang yang diperbudak oleh sisi gelap dari dirinya yang pengecut.
Bukannya dia tidak pernah berusaha untuk mengalahkan musuhnya, yaitu sisi gelap dari dirinya sendiri itu. Setiap pagi dia harus bersusah payah bangun dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia mampu untuk bertahan untuk menjadi pribadi seperti yang dia inginkan, satu hari penuh. Komitmen itu dia jalankan dengan sepenuh hati… namun seolah-olah sisi gelap itu datang dari pintu belakang dan tiba-tiba menikam di punggung. Kesadaran itu kalah, dan kemudian apa yang terjadi adalah bahwa dagingnya kembali menjadi budak dan melakukan apapun yang diperintahkan sisi pengecut dari dirinya.
Seorang bijak mengatakan kepada laki-laki itu bahwa menjadi diri sendiri itu memang penting, berjuang menjadi diri sendiri adalah sesuatu yang sangat penting. Kekalahan atas usaha menjadi diri sendiri adalah hal yang menyedihkan sekaligus memalukan. Namun orang bijak itu mengatakan bahwa permasalahan itu adalah permasalahan sebagian besar manusia di muka bumi sejak jaman dahulu. Setiap orang berusaha menjadi diri sendiri. Orang melakukan apa saja untuk mengalahkan sisi kebinatangan dari dalam dirinya. Memang tidak semua orang berhasil melakukannya, namun terpujilah mereka yang berusaha kuat untuk melakukannya.
Orang bijak itu berkata “Setiap laki-laki yang bersedih atas kekalahannya, mereka harus merasa terhormat atas kesedihannya itu. Karena kesedihan tersebut adalah simbol perlawanan dan ketidak-tundukan atas perbudakan yang dilakukan oleh dirinya kepada dirinya sendiri. Mungkin dia bisa kalah dan bersedih, namun tidak boleh ada satupun di muka bumi ini yang akan memadamkan api kehendak laki-laki untuk menjadi raja atas dirinya sendiri”
Bagaimana seorang laki-laki bisa merasa terhormat? Beberapa orang mengatakan bahwa seorang laki-laki akan merasa terhormat apabila laki-laki itu mendapatkan pengakuan dari orang-orang terdekatnya bahwa dia adalah seorang pribadi tabah dan kuat serta memiliki ketenangan yang luar biasa dalam menghadapi segala permasalahan dalam hidupnya. Sebagian laki-laki lagi akan mengatakan bahwa dia akan merasa terhormat apabila dia memiliki kontrol yang kuat sedemikian rupa sehingga dia memiliki kendali penuh atas kehidupannya.
Ada seorang laki-laki di luar sana yang tidak merasa bahagia karena dia tidak menganggap dirinya layak untuk dihormati, karena dia yakin sekali bahwa dia tidak memiliki kontrol yang cukup atas dirinya. Dia merasa bahwa dia tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengendalikan dirinya sendiri. Dia beranggapan bahwa semua orang memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk memimpin dirinya sendiri. Apa yang dia rasakan atas dirinya adalah bahwa dia hanyalah seonggok daging pecundang yang diperbudak oleh sisi gelap dari dirinya yang pengecut.
Bukannya dia tidak pernah berusaha untuk mengalahkan musuhnya, yaitu sisi gelap dari dirinya sendiri itu. Setiap pagi dia harus bersusah payah bangun dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia mampu untuk bertahan untuk menjadi pribadi seperti yang dia inginkan, satu hari penuh. Komitmen itu dia jalankan dengan sepenuh hati… namun seolah-olah sisi gelap itu datang dari pintu belakang dan tiba-tiba menikam di punggung. Kesadaran itu kalah, dan kemudian apa yang terjadi adalah bahwa dagingnya kembali menjadi budak dan melakukan apapun yang diperintahkan sisi pengecut dari dirinya.
Seorang bijak mengatakan kepada laki-laki itu bahwa menjadi diri sendiri itu memang penting, berjuang menjadi diri sendiri adalah sesuatu yang sangat penting. Kekalahan atas usaha menjadi diri sendiri adalah hal yang menyedihkan sekaligus memalukan. Namun orang bijak itu mengatakan bahwa permasalahan itu adalah permasalahan sebagian besar manusia di muka bumi sejak jaman dahulu. Setiap orang berusaha menjadi diri sendiri. Orang melakukan apa saja untuk mengalahkan sisi kebinatangan dari dalam dirinya. Memang tidak semua orang berhasil melakukannya, namun terpujilah mereka yang berusaha kuat untuk melakukannya.
Orang bijak itu berkata “Setiap laki-laki yang bersedih atas kekalahannya, mereka harus merasa terhormat atas kesedihannya itu. Karena kesedihan tersebut adalah simbol perlawanan dan ketidak-tundukan atas perbudakan yang dilakukan oleh dirinya kepada dirinya sendiri. Mungkin dia bisa kalah dan bersedih, namun tidak boleh ada satupun di muka bumi ini yang akan memadamkan api kehendak laki-laki untuk menjadi raja atas dirinya sendiri”
Senin, 23 Maret 2009
Cinta
Kadang jika orang ditanya tentang hal apakah yang paling penting dalam hidupnya, maka beberapa orang akan menjawab bahwa uang adalah bagian yang terpenting dalam hidupnya. Sebagian akan mengatakan bahwa keluarga adalah yang terpenting diantara semuanya. Dan yang sebagian lagi akan mengatakan bahwa tidak ada yang terpenting dalam hidupnya yang sekarang, semua yang terpenting akan datang pada kehidupan setelah mati.
Suatu saat saya bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa yang terpenting dalam hidup ini adalah cinta. Ketika saya mengatakan kepadanya “mengapa?”, maka dia menjawab dengan panjang lebar sehingga membuat saya pusing tujuh keliling. Memang saya mendengar semuanya yang dia katakan, namun saya tidak dapat mengingatnya dengan benar… sayang sekali saya tidak dapat mengingat apapun dengan benar.
Katanya cinta yang sesungguhnya dapat membuat hidup orang berubah selamanya. Ketika sepasang kekasih saling terikat dalam suatu ikatan cinta, maka dia akan melihat cintanya itu di mana-mana. Hati seorang pecinta akan selalu berbunga-bunga, seburuk apapun cuacanya… maka dia akan melihat akan pelangi di langit yang cerah.
Ya ya… saya sudah mendengar kisah asmara yang menyenangkan hingga berpuluh-puluh kali dalam kehidupan saya, dan saya muak dengan itu. Selama ini saya tidak pernah mempercayai bahwa cinta adalah sesuatu yang nyata… jadi apa yang saya percayai adalah bahwa cinta adalah bagian dari sekian banyak emosi manusia yang secara kualitas sifatnya selalu naik turun dipengaruhi oleh rasa bosan.
Saya sudah melihat entah berapa puluh kali cinta yang meluntur dan mengalami apa yang disebut dengan “mutant” sehingga cinta yang tadinya tulus berubah menjadi benci. Dulu saya kenal dengan banyak pemuda yang kata mereka sendiri bahwa mereka saling mencintai diantara mereka, namun akhir-akhir ini saya mendengar mereka bercerai. Ketika saya datangi teman muda yang baru saja bercerai itu, mereka mengumpat dengan serius mantan kekasih mereka itu. Beberapa diantara mereka itu ada yang segera kelihatan bergandengan tangan dengan perempuan lain… sedemikian cepat mereka melupakan cinta? Jadi saya pikir-pikir… tidak ada yang namanya “cinta suci”. Tidak ada yang namanya “pohon pisang berbuah hanya sekali” dalam kisah asmara, itu bohong.
Namun sepertinya saya tidak terlalu yakin lagi bahwa saya sepenuhnya benar. Apa yang saya lihat akhir-akhir ini adalah suatu pelajaran baru bagi saya untuk memahami mekanisme cinta. (saya tidak sedang membicarakan diri saya sendiri, tetapi orang lain… karena saya masih belum menemukan cinta saya dalam kehidupan saya). Pelajaran pertama adalah bahwa cinta akan teruji dengan sendirinya oleh waktu, jika cinta tidak pernah lekang oleh waktu maka cinta itu adalah cinta yang abadi.
Dan pelajaran kedua adalah bahwa cinta itu tidak berbalas… seorang pecinta akan memberikan apapun yang dia miliki demi orang yang dia cintai itu. Rasa cintanya tidak pernah kering, dia akan bekerja keras untuk tetap membuat cintanya itu membara. Dan untuk cintanya itu mereka sepakat tidak ada lagi peraaturan, tidak ada lagi paradigma… yang ada hanyalah cinta yang tulus.
Kini saya benar-benar tidak dapat meyakini apapun… namun sepertinya saya mulai percaya dengan ide bahwa cinta adalah sebuah pemberian Tuhan yang luar biasa, namun Dia tidak memberikannya kepada semua orang.
Suatu saat saya bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa yang terpenting dalam hidup ini adalah cinta. Ketika saya mengatakan kepadanya “mengapa?”, maka dia menjawab dengan panjang lebar sehingga membuat saya pusing tujuh keliling. Memang saya mendengar semuanya yang dia katakan, namun saya tidak dapat mengingatnya dengan benar… sayang sekali saya tidak dapat mengingat apapun dengan benar.
Katanya cinta yang sesungguhnya dapat membuat hidup orang berubah selamanya. Ketika sepasang kekasih saling terikat dalam suatu ikatan cinta, maka dia akan melihat cintanya itu di mana-mana. Hati seorang pecinta akan selalu berbunga-bunga, seburuk apapun cuacanya… maka dia akan melihat akan pelangi di langit yang cerah.
Ya ya… saya sudah mendengar kisah asmara yang menyenangkan hingga berpuluh-puluh kali dalam kehidupan saya, dan saya muak dengan itu. Selama ini saya tidak pernah mempercayai bahwa cinta adalah sesuatu yang nyata… jadi apa yang saya percayai adalah bahwa cinta adalah bagian dari sekian banyak emosi manusia yang secara kualitas sifatnya selalu naik turun dipengaruhi oleh rasa bosan.
Saya sudah melihat entah berapa puluh kali cinta yang meluntur dan mengalami apa yang disebut dengan “mutant” sehingga cinta yang tadinya tulus berubah menjadi benci. Dulu saya kenal dengan banyak pemuda yang kata mereka sendiri bahwa mereka saling mencintai diantara mereka, namun akhir-akhir ini saya mendengar mereka bercerai. Ketika saya datangi teman muda yang baru saja bercerai itu, mereka mengumpat dengan serius mantan kekasih mereka itu. Beberapa diantara mereka itu ada yang segera kelihatan bergandengan tangan dengan perempuan lain… sedemikian cepat mereka melupakan cinta? Jadi saya pikir-pikir… tidak ada yang namanya “cinta suci”. Tidak ada yang namanya “pohon pisang berbuah hanya sekali” dalam kisah asmara, itu bohong.
Namun sepertinya saya tidak terlalu yakin lagi bahwa saya sepenuhnya benar. Apa yang saya lihat akhir-akhir ini adalah suatu pelajaran baru bagi saya untuk memahami mekanisme cinta. (saya tidak sedang membicarakan diri saya sendiri, tetapi orang lain… karena saya masih belum menemukan cinta saya dalam kehidupan saya). Pelajaran pertama adalah bahwa cinta akan teruji dengan sendirinya oleh waktu, jika cinta tidak pernah lekang oleh waktu maka cinta itu adalah cinta yang abadi.
Dan pelajaran kedua adalah bahwa cinta itu tidak berbalas… seorang pecinta akan memberikan apapun yang dia miliki demi orang yang dia cintai itu. Rasa cintanya tidak pernah kering, dia akan bekerja keras untuk tetap membuat cintanya itu membara. Dan untuk cintanya itu mereka sepakat tidak ada lagi peraaturan, tidak ada lagi paradigma… yang ada hanyalah cinta yang tulus.
Kini saya benar-benar tidak dapat meyakini apapun… namun sepertinya saya mulai percaya dengan ide bahwa cinta adalah sebuah pemberian Tuhan yang luar biasa, namun Dia tidak memberikannya kepada semua orang.
Senin, 16 Maret 2009
Mesin Diesel
Mental saya bagaikan Mesin Diesel kuno (indirect combustion Diesel Engine). Semua orang tahu bahwa Mesin Diesel adalah mesin berat yang handal dan biasa digunakan untuk pekerjaan berat. Membutuhkan tekanan yang sangat besar dalam ruang pembakarannya, supaya solar (Diesel gas) yang daya bakarnya yang lebih rendah daripada bensin, bisa terbakar. Hasil pembakarannya itulah yang menghasilkan torsi sangat besar, yang apabila diaplikasikan pada mekanisme alat tertentu maka dia dapat memindahkan gunung, membelokan sungai, menghancurkan batu, meruntuhkan bangunan, mematahkan logam dan lain-lain.
Namun semua orang tahu bahwa Mesin Diesel kuno mengalami masalah pada proses menghidupkannya. Untuk itulah Mesin Diesel kuno selalu memiliki mekanisme pra pembakaran dengan ditambahkannya ruangan khusus di dalamnya, yang disebut dengan pre-combustion chamber, yaitu sebuah ruangan khusus untuk memanaskan bahan bakar sebelum bahan bakar tersebut dipaksa masuk keruang pembakaran. Di dalam pre-combustion chamber ini terdapat sebuah alat pemanas yang disebut dengan glow plug, yang akan membara jika dialiri listrik dari aki mobil. Nah apabila glow plug ini mengalami masalah maka Mesin Diesel ini akan sulit sekali dihidupkan. Dulu ayah saya adalah seorang operator Bulldozer yang seringkali mengeluh karena Bulldozer dia selalu rewel di pagi hari. Dia bilang bahwa mesin Bulldozer itu harus di panasi berkali-kal, hanya sekedar untuk bisa hidup.
Mental saya juga seperti Bulldozer itu, setiap pagi harus dipanasi berkali-kali supaya “mau hidup” jika proses itu gagal, maka dia akan parkir sepanjang hari di dalam “hangar”. Demikian halnya dengan saya, apabila saya gagal memotifasi diri saya sendiri, maka saya akan diam saja di dalam rumah, tidak melakukan apapun demi kemajuan diri saya.
Ketika saya sedang mengerjakan sesuatu, maka pikiran saya akan sepenuhnya larut dalam pekerjaan itu. Tidak peduli seberapa beratnya masalah itu, jika saya sudah berfokus, maka saya akan enggan beranjak dari tempat kerja saya. Apabila saya sudah “Hot” dengan suatu pekerjaan maka saya akan tahan dengan pekerjaan itu selama berjam-jam. Saya pernah dua hari satu malam memperbaiki mobil milik kakak saya untuk membetulkan mesin dan kaki-kaki mobil tersebut. Terakhir, saya mengedit film beladiri hingga lima hari lamanya, dan saya hanya mengambil istirahat tidur tiga jam per hari. Itu sungguh perjuangan yang sangat berat menurut saya, tapi saya tahan dengan itu.
Namun ketika pekerjaan itu selesai, terlampaui, dan tidak ada lagi pekerjaan yang harus saya lakukan, maka saya kembali malas lagi. Mental saya kembali lagi seperti tempe, seperti kerupuk yang melempem, menjadi tidak renyah lagi. Gairah telah datang dan pergi, demikian pula dengan kedisiplinan. Sekarang ini saya sedang getol mencoba suatu eksperimen, untuk membuat saya tetap dalam keadaan bersungguh-sungguh, bergairah, bersemangat serta tetap berdisiplin, dan ini sedang dalam proses .
Jika ada diantara kawan-kawan memiliki tips ampuh untuk mempercepat proses itu, please, mohon kesediaannya untuk berbagi.
Terimakasih.
Namun semua orang tahu bahwa Mesin Diesel kuno mengalami masalah pada proses menghidupkannya. Untuk itulah Mesin Diesel kuno selalu memiliki mekanisme pra pembakaran dengan ditambahkannya ruangan khusus di dalamnya, yang disebut dengan pre-combustion chamber, yaitu sebuah ruangan khusus untuk memanaskan bahan bakar sebelum bahan bakar tersebut dipaksa masuk keruang pembakaran. Di dalam pre-combustion chamber ini terdapat sebuah alat pemanas yang disebut dengan glow plug, yang akan membara jika dialiri listrik dari aki mobil. Nah apabila glow plug ini mengalami masalah maka Mesin Diesel ini akan sulit sekali dihidupkan. Dulu ayah saya adalah seorang operator Bulldozer yang seringkali mengeluh karena Bulldozer dia selalu rewel di pagi hari. Dia bilang bahwa mesin Bulldozer itu harus di panasi berkali-kal, hanya sekedar untuk bisa hidup.
Mental saya juga seperti Bulldozer itu, setiap pagi harus dipanasi berkali-kali supaya “mau hidup” jika proses itu gagal, maka dia akan parkir sepanjang hari di dalam “hangar”. Demikian halnya dengan saya, apabila saya gagal memotifasi diri saya sendiri, maka saya akan diam saja di dalam rumah, tidak melakukan apapun demi kemajuan diri saya.
Ketika saya sedang mengerjakan sesuatu, maka pikiran saya akan sepenuhnya larut dalam pekerjaan itu. Tidak peduli seberapa beratnya masalah itu, jika saya sudah berfokus, maka saya akan enggan beranjak dari tempat kerja saya. Apabila saya sudah “Hot” dengan suatu pekerjaan maka saya akan tahan dengan pekerjaan itu selama berjam-jam. Saya pernah dua hari satu malam memperbaiki mobil milik kakak saya untuk membetulkan mesin dan kaki-kaki mobil tersebut. Terakhir, saya mengedit film beladiri hingga lima hari lamanya, dan saya hanya mengambil istirahat tidur tiga jam per hari. Itu sungguh perjuangan yang sangat berat menurut saya, tapi saya tahan dengan itu.
Namun ketika pekerjaan itu selesai, terlampaui, dan tidak ada lagi pekerjaan yang harus saya lakukan, maka saya kembali malas lagi. Mental saya kembali lagi seperti tempe, seperti kerupuk yang melempem, menjadi tidak renyah lagi. Gairah telah datang dan pergi, demikian pula dengan kedisiplinan. Sekarang ini saya sedang getol mencoba suatu eksperimen, untuk membuat saya tetap dalam keadaan bersungguh-sungguh, bergairah, bersemangat serta tetap berdisiplin, dan ini sedang dalam proses .
Jika ada diantara kawan-kawan memiliki tips ampuh untuk mempercepat proses itu, please, mohon kesediaannya untuk berbagi.
Terimakasih.
Persahabatan
Apabila saya ditanya tentang seberapa pentingkah nilai suatu persahabatan atau persaudaraan? Maka sejujurnya saya akan menjawab bahwa persahabatan dan persaudaraan adalah segalanya. Persaudaraan dan persahabatan adalah lebih berharga dari benda apapun yang saya miliki. Keberadaan sahabat dan saudara menurut saya adalah lebih penting daripada pribadi saya sendiri. Dalam suatu keadaan mendesak tertentu, saya cenderung mementingkan keselamatan sahabat dan saudara saya daripada keselamatan diri saya sendiri.
Mungkin kebanyakan orang akan menganggap saya tolol, dan setelah saya pikir-pikir… sepertinya mereka memang benar. Buat apa sih repot-repot pakai berkorban kepada orang lain segala, kan belum tentu mereka akan membalas budi baik kita? Nah saya akan sulit sekali menjawab pertanyaan seperti itu. Namun bagi saya, kerelaan berkorban kepada sahabat dan saudara adalah mungkin satu-satunya hal mulia yang bisa saya lakukan. Saya adalah orang yang seringkali dipenuhi dengan kekecewaan karena saya telah melakukan banyak sekali perbuatan yang memalukan, hidup saya di masa lalu dipenuhi dengan kegagalan pertemanan karena egoisme. Ketika saya mengorbankan kepentingan saya untuk sahabat dan saudara, maka rasa malu dna kecewa itu hilang. Kerelaan untuk memberikan ke-ikhlas-an kepada saudara dan sahabat adalah air penyejuk bagi hati saya yang haus merindukan pertemanan abadi.
Tetapi tetap saja bahwa saya masih akan dianggap tolol, dan saya yakin banyak sekali yang akan mengatakan itu kepada saya. Ya ya baiklah… itulah saya, memang saya orang yang tolol sekali. Namun ke-ikhlas-an untuk memberikan pengorbanan adalah suatu panggilan hati, yang merupakan perbuatan mulia jika saya mengimplementasikan dalam suatu perbuatan. Jangan ditanya mengapa harus demikian, karena saya sendiri tidak tahu jawabannya (saya kan manusia tolol). Jawaban gampangnya mungkin seperti berikut; ketika saya mempersembahkan suatu ke-ikhlas-an bagi sahabat dan saudara saya, maka saya selalu merasakan bahwa hati saya menjadi jauh lebih baik. Ini berarti bahwa saya telah mengalahkan Ego saya yang setiap saat minta selalu di manjakan dan disanjung-sanjung
Dalam praktik pertemanan, memang saya merasakan adanya suatu kontra yang amat kentara antara ego dengan ke-ikhlas-an. Ego selalu ingin dimanjakan, dan disanjung-sanjung, yang membuat kita akan membuat kita sombong. Dalam pembicaraan, egoisme membuat seorang sahabat menyakiti sahabatnya, dengan saling bersikukuh atas nama kebenaran. Saya juga bermasalah dengan ego yang tinggi dan terus meninggi, yang membuat saya tidak mau mengalah terhadap orang dekat saya. Saya menganggap itu sebagai sesuatu yang berlebihan dan tidak beradab, namun saya tidak dapat mengendalikan itu, saya benar-benar dikontrol oleh emosi. Ada yang tidak beres dengan diri saya.
Hingga suatu ketika saya dipermalukan oleh tindakan saya sendiri yang akhirnya membuat perilaku saya berubah sama sekali. Dulu saya telah meninggalkan seorang sahabat dalam kesulitan besar. Padahal dia sudah memohon untuk dibantu, namun egoisme telah memaksa saya untuk masuk kedalam kebohongan, sehingga akhirnya dia dapat memaklumi saya bahwa saya tidak dapat membantu dirinya. Pada saat itu memang raga saya termanjakan karena saya tidak harus melakukan apapun. Akan tetapi tidak berapa lama kemudian kesadaran pun mulai muncul… kesadaran bahwa perikemanusiaan telah lari dari diri saya membuat saya. Kenapa sih saya kok tidak peka, dimana tanggung jawab dan loyalitas saya kepada kawan saya?
Jadi pada intinya saya telah menempatkan ego saya begitu tinggi, sehingga pribadi orang lain menjadi tidak lagi begitu penting jika dibandingkan dengan ego saya, sekalipun pribadi itu adalah pribadi kawan saya. Saya tahu itu adalah hal yang bodoh, dan untuk menginsafi sikap yang bodoh dan egois seperti itu maka saya mencoba semacam perilaku rela berkorban, artinya ketika saya bersama sahabat saya, dalam banyak kesempatan saya mengedepankan ke-ikhlas-an saya untuk membantu dan untuk mengalah.
Hasilnya sungguh luar biasa. Karena ada dorongan dari dalam diri untuk mengalah, maka rasa jengkel pun dapat berkurang banyak. Karena ada dorongan dari dalam diri untuk bersikap enteng dalam membantu kawan, maka perasaan sosial pun menjadi lebih tinggi, dan saya pun menjadi gampang tersentuh terhadap penderitaan sahabat-sahabat saya.
Saya merasa lebih maju dan lebih beradab. Saya senang dan bangga dengan perilaku saya yang sekarang. Perasaan malu atas diri saya di masa lalu telah banyak berkurang, karena telah terobati oleh perbuatan baik saya kepada kawan saya. Indikator kemajuan itu adalah “ketika saya melihat kawan saya bahagia, maka saya ikut berbahagia. Ketika saya melihat kawan saya bersedih, maka saya pun ikut bersedih, dan ingin berbuat sesuatu untuk mengurangi kesedihannya.
Demikian.
Mungkin kebanyakan orang akan menganggap saya tolol, dan setelah saya pikir-pikir… sepertinya mereka memang benar. Buat apa sih repot-repot pakai berkorban kepada orang lain segala, kan belum tentu mereka akan membalas budi baik kita? Nah saya akan sulit sekali menjawab pertanyaan seperti itu. Namun bagi saya, kerelaan berkorban kepada sahabat dan saudara adalah mungkin satu-satunya hal mulia yang bisa saya lakukan. Saya adalah orang yang seringkali dipenuhi dengan kekecewaan karena saya telah melakukan banyak sekali perbuatan yang memalukan, hidup saya di masa lalu dipenuhi dengan kegagalan pertemanan karena egoisme. Ketika saya mengorbankan kepentingan saya untuk sahabat dan saudara, maka rasa malu dna kecewa itu hilang. Kerelaan untuk memberikan ke-ikhlas-an kepada saudara dan sahabat adalah air penyejuk bagi hati saya yang haus merindukan pertemanan abadi.
Tetapi tetap saja bahwa saya masih akan dianggap tolol, dan saya yakin banyak sekali yang akan mengatakan itu kepada saya. Ya ya baiklah… itulah saya, memang saya orang yang tolol sekali. Namun ke-ikhlas-an untuk memberikan pengorbanan adalah suatu panggilan hati, yang merupakan perbuatan mulia jika saya mengimplementasikan dalam suatu perbuatan. Jangan ditanya mengapa harus demikian, karena saya sendiri tidak tahu jawabannya (saya kan manusia tolol). Jawaban gampangnya mungkin seperti berikut; ketika saya mempersembahkan suatu ke-ikhlas-an bagi sahabat dan saudara saya, maka saya selalu merasakan bahwa hati saya menjadi jauh lebih baik. Ini berarti bahwa saya telah mengalahkan Ego saya yang setiap saat minta selalu di manjakan dan disanjung-sanjung
Dalam praktik pertemanan, memang saya merasakan adanya suatu kontra yang amat kentara antara ego dengan ke-ikhlas-an. Ego selalu ingin dimanjakan, dan disanjung-sanjung, yang membuat kita akan membuat kita sombong. Dalam pembicaraan, egoisme membuat seorang sahabat menyakiti sahabatnya, dengan saling bersikukuh atas nama kebenaran. Saya juga bermasalah dengan ego yang tinggi dan terus meninggi, yang membuat saya tidak mau mengalah terhadap orang dekat saya. Saya menganggap itu sebagai sesuatu yang berlebihan dan tidak beradab, namun saya tidak dapat mengendalikan itu, saya benar-benar dikontrol oleh emosi. Ada yang tidak beres dengan diri saya.
Hingga suatu ketika saya dipermalukan oleh tindakan saya sendiri yang akhirnya membuat perilaku saya berubah sama sekali. Dulu saya telah meninggalkan seorang sahabat dalam kesulitan besar. Padahal dia sudah memohon untuk dibantu, namun egoisme telah memaksa saya untuk masuk kedalam kebohongan, sehingga akhirnya dia dapat memaklumi saya bahwa saya tidak dapat membantu dirinya. Pada saat itu memang raga saya termanjakan karena saya tidak harus melakukan apapun. Akan tetapi tidak berapa lama kemudian kesadaran pun mulai muncul… kesadaran bahwa perikemanusiaan telah lari dari diri saya membuat saya. Kenapa sih saya kok tidak peka, dimana tanggung jawab dan loyalitas saya kepada kawan saya?
Jadi pada intinya saya telah menempatkan ego saya begitu tinggi, sehingga pribadi orang lain menjadi tidak lagi begitu penting jika dibandingkan dengan ego saya, sekalipun pribadi itu adalah pribadi kawan saya. Saya tahu itu adalah hal yang bodoh, dan untuk menginsafi sikap yang bodoh dan egois seperti itu maka saya mencoba semacam perilaku rela berkorban, artinya ketika saya bersama sahabat saya, dalam banyak kesempatan saya mengedepankan ke-ikhlas-an saya untuk membantu dan untuk mengalah.
Hasilnya sungguh luar biasa. Karena ada dorongan dari dalam diri untuk mengalah, maka rasa jengkel pun dapat berkurang banyak. Karena ada dorongan dari dalam diri untuk bersikap enteng dalam membantu kawan, maka perasaan sosial pun menjadi lebih tinggi, dan saya pun menjadi gampang tersentuh terhadap penderitaan sahabat-sahabat saya.
Saya merasa lebih maju dan lebih beradab. Saya senang dan bangga dengan perilaku saya yang sekarang. Perasaan malu atas diri saya di masa lalu telah banyak berkurang, karena telah terobati oleh perbuatan baik saya kepada kawan saya. Indikator kemajuan itu adalah “ketika saya melihat kawan saya bahagia, maka saya ikut berbahagia. Ketika saya melihat kawan saya bersedih, maka saya pun ikut bersedih, dan ingin berbuat sesuatu untuk mengurangi kesedihannya.
Demikian.
Ayah
Kita tidak pernah tahu seberapa penting arti orang tua kita hingga sesuatu yang buruk menimpa mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, karena selalu bertemu dengan mereka, maka kita kehilangan kemampuan untuk memaknai seberapa penting mereka bagi kita. Dalam pandangan kita, mereka terlalu biasa… sampai-sampai kita lupa untuk memberikan perhatian yang lebih kepada mereka.
Saya mengetik tulisan ini disebuah klinik, sembari menunggui ayah saya yang sedang sakit. Dokter mengatakan bahwa sakitnya terlalu parah untuk dirawat dirumah, jadi terpaksa dia harus diopname meskipun dia menolak karena alasan biaya. Karena perbedaan idealis yang sangat lebar, maka sering kali ayah adalah pribadi yang sangat menjengkelkan bagi saya. Dalam banyak kesempatan, beliau sering kali membuat saya jengkel dan marah. Namun saya juga yakin bahwa perilaku saya seringkali membuat beliau muak.
Ayah saya adalah seorang Muslim yang biasa-biasa saja, tidak dapat dibilang sangat mentaati aturan agama. Namun beliau adalah penganut ke-tauhid-an yang sangat taat, kepercayaan beliau kepada takdir sedemikian tinggi, hingga dia meyakini bahwa kehidupan ini sudah digariskan sebelumnya. Sebagai orang Jawa yang agak fanatik, beliau senang sekali dengan fenomena-fenomena adi-alami yang biasa disenangi oleh kebanyakan orang Jawa yang lain. Sering saya melihat beliau berjuang melawan kantuk yang teramat sangat, namun ketika saya menganjurkan kepada beliau untuk tidur, maka beliau selalu menolak dengan alasan bahwa dia sedang “tirakat”. Ini adalah sebuah ritual turun-temurun dari nenek moyang yang terhenti pada beliau, karena saya sudah tidak melestarikan tradisi itu.
Dalam pengertian saya, mungkin tirakat memiliki artian yang begitu dekat dengan berupaya dengan bersungguh-sungguh. Namun saya tidak pernah tahu apa hubungannya berupaya bersungguh-sungguh dengan tidur larut tanpa melakukan apa-apa. Saya tahu meditasi, dan kadang-kadang saya melakukannya, tapi apa yang dilakukan oleh ayah saya sepertinya bukan meditasi.
Namun soal ketabahan dan kesetiaan, beliau tidak ada tandingannya. Saya ingat ketika almarhumah Ibu saya tercinta (semoga dia beristirahat dengan tenang) berjuang untuk tetap hidup dalam melawan kangker ganas, ayah saya terus-terusan mendampingi hingga akhirnya Ibu tidak kuat dan berpulang. Saya tahu sendiri bagaimana beliau tidak tidur, melamun, dan bingung karena menghawatirkan keselamatan istrinya tercinta. Karena tidak ada waktu untuk tidur, maka Ayah saya seringkali kedapatan tidur sambil terduduk disebuah kursi karena menunggui Ibu saya.
Ayah saya tidak terlalu mengatur kehidupan saya, sehingga saya bebas melakukan apapun yang ingin saya lakukan. Namun itu tidak berarti dia tidak menyayangi saya, tentu saja saya tahu bahwa beliau sangat menyayangi saya. Jika saya senang karena memperjuangkan sesuatu dan berhasil, maka beliau pun ikut senang. Beliau hanya bodoh dan ketinggalan jaman, hingga beliau tidak tidak dapat memahami jalan pikiran dan idealis saya, namun jauh di dalam lubuk hatinya beliau menginginkan saya bahagia. Beliau memimpikan saya memiliki kehidupan yang bahagia, namun dia tidak dapat berbuat banyak karena secara finansial beliau tidak kuat. Beliau juga tidak dapat memahami pola berpikir saya, sehingga beliau tidak tahu hal-hal apa sajakah yang dapat membahagiakan saya. Kadang beliau berkata bahwa dia menyesal tidak dapat menyekolahkan saya hingga pendidikan yang tinggi, sehingga saya kesulitan menggapai mimpi saya. (Seorang office boy klinik memperhatikan saya dari jauh, dan melihat saya dengan tatapan aneh karena saya mengetik sambil menangis), what a life…
Dan sekarang ayah saya sedang sakit, saya ingin membuktikan bahwa saya sangat menyayangi beliau. Semoga bubur spesial KaYungyun dan Vermint dapat membuat hatinya senang, semoga panggilan-panggilan telepon saya untuk menanyakan keadaannya dapat membuat beliau merasa diperhatikan. Sementara beliau sedang sakit, saya mengambil alih semua pekerjaan sehari beliau.
I love you daddy, may God protects you.
You are always in my heart.
Saya mengetik tulisan ini disebuah klinik, sembari menunggui ayah saya yang sedang sakit. Dokter mengatakan bahwa sakitnya terlalu parah untuk dirawat dirumah, jadi terpaksa dia harus diopname meskipun dia menolak karena alasan biaya. Karena perbedaan idealis yang sangat lebar, maka sering kali ayah adalah pribadi yang sangat menjengkelkan bagi saya. Dalam banyak kesempatan, beliau sering kali membuat saya jengkel dan marah. Namun saya juga yakin bahwa perilaku saya seringkali membuat beliau muak.
Ayah saya adalah seorang Muslim yang biasa-biasa saja, tidak dapat dibilang sangat mentaati aturan agama. Namun beliau adalah penganut ke-tauhid-an yang sangat taat, kepercayaan beliau kepada takdir sedemikian tinggi, hingga dia meyakini bahwa kehidupan ini sudah digariskan sebelumnya. Sebagai orang Jawa yang agak fanatik, beliau senang sekali dengan fenomena-fenomena adi-alami yang biasa disenangi oleh kebanyakan orang Jawa yang lain. Sering saya melihat beliau berjuang melawan kantuk yang teramat sangat, namun ketika saya menganjurkan kepada beliau untuk tidur, maka beliau selalu menolak dengan alasan bahwa dia sedang “tirakat”. Ini adalah sebuah ritual turun-temurun dari nenek moyang yang terhenti pada beliau, karena saya sudah tidak melestarikan tradisi itu.
Dalam pengertian saya, mungkin tirakat memiliki artian yang begitu dekat dengan berupaya dengan bersungguh-sungguh. Namun saya tidak pernah tahu apa hubungannya berupaya bersungguh-sungguh dengan tidur larut tanpa melakukan apa-apa. Saya tahu meditasi, dan kadang-kadang saya melakukannya, tapi apa yang dilakukan oleh ayah saya sepertinya bukan meditasi.
Namun soal ketabahan dan kesetiaan, beliau tidak ada tandingannya. Saya ingat ketika almarhumah Ibu saya tercinta (semoga dia beristirahat dengan tenang) berjuang untuk tetap hidup dalam melawan kangker ganas, ayah saya terus-terusan mendampingi hingga akhirnya Ibu tidak kuat dan berpulang. Saya tahu sendiri bagaimana beliau tidak tidur, melamun, dan bingung karena menghawatirkan keselamatan istrinya tercinta. Karena tidak ada waktu untuk tidur, maka Ayah saya seringkali kedapatan tidur sambil terduduk disebuah kursi karena menunggui Ibu saya.
Ayah saya tidak terlalu mengatur kehidupan saya, sehingga saya bebas melakukan apapun yang ingin saya lakukan. Namun itu tidak berarti dia tidak menyayangi saya, tentu saja saya tahu bahwa beliau sangat menyayangi saya. Jika saya senang karena memperjuangkan sesuatu dan berhasil, maka beliau pun ikut senang. Beliau hanya bodoh dan ketinggalan jaman, hingga beliau tidak tidak dapat memahami jalan pikiran dan idealis saya, namun jauh di dalam lubuk hatinya beliau menginginkan saya bahagia. Beliau memimpikan saya memiliki kehidupan yang bahagia, namun dia tidak dapat berbuat banyak karena secara finansial beliau tidak kuat. Beliau juga tidak dapat memahami pola berpikir saya, sehingga beliau tidak tahu hal-hal apa sajakah yang dapat membahagiakan saya. Kadang beliau berkata bahwa dia menyesal tidak dapat menyekolahkan saya hingga pendidikan yang tinggi, sehingga saya kesulitan menggapai mimpi saya. (Seorang office boy klinik memperhatikan saya dari jauh, dan melihat saya dengan tatapan aneh karena saya mengetik sambil menangis), what a life…
Dan sekarang ayah saya sedang sakit, saya ingin membuktikan bahwa saya sangat menyayangi beliau. Semoga bubur spesial KaYungyun dan Vermint dapat membuat hatinya senang, semoga panggilan-panggilan telepon saya untuk menanyakan keadaannya dapat membuat beliau merasa diperhatikan. Sementara beliau sedang sakit, saya mengambil alih semua pekerjaan sehari beliau.
I love you daddy, may God protects you.
You are always in my heart.
Langganan:
Postingan (Atom)