Saya sangat menjunjung tinggi perikemanusiaan dan perasaan kasihan terhadap semua mahluk… manusia dan hewan. Terlebih terhadap manusia, saya selalu berusaha berhati-hati, sedapat mungkin untuk tidak menyakiti perasaannya… membuatnya takut, bersedih atau kecewa. Apabila saya melihat seseorang sedang membutuhkan suatu pertolongan, maka saya tidak dapat tinggal diam berpangku tangan, saya pasti menolongnya.
Easy talk than do… mudah mengatakannya dari pada melakukannya. Demikian juga dengan prinsip yang saya junjung tinggi ini, tidak setiap saat saya dapat mengejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari… pada kenyataannya saya berkali-kali melanggar prinsip ini.
Tidak semua orang dapat menepati janji atau menjunjung tinggi kesepakatan. Dalam kehidupan sehari-hari saya harus berhubungan dengan orang-orang seperti ini, dan beberapa orang diantaranya selalu berusaha merugikan saya. Tentu saja saya tidak dapat tinggal diam dan saya akan berusaha keras mengatasinya dengan banyak cara (diantaranya dengan cara-cara “pemaksaan”).
Saya punya beberapa unit Play Station untuk disewakan, beberapa diantaranya dipegang oleh beberapa teman dan kenalan saya untuk dijalankan sebagai usaha bersama. Setiap satu bulan sekali mereka harus menyetorkan sejumlah uang kepada saya sebagai bagi hasil usaha. Beberapa orang berusaha membawa lari uang itu, dan tentu saja saya harus bertindak.
Andai saja saya punya pilihan untuk tidak berhubungan dengan orang-orang seperti ini…
Tampilkan postingan dengan label Wong ndeso ngelantur.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wong ndeso ngelantur.... Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Agustus 2009
Kamis, 30 April 2009
Iwo Jima
Saya sekarang benar-benar takut pada pagi hari sebelum jam sembilan. Ada beberapa alasan yang menyebabkan saya takut pada pagi hari antara lain:
• Saya kesulitan untuk bangun jam setengah lima pagi (biasanya saya bangun jam sekian untuk berolahraga sepeda). Mata serasa terkena lem, sulit di buat melek, kepala berat minta ampun, perbedaan suhu yang ekstrim antara di dalam selimut dengan suhu diluar selimut. Saya tetap saja mengalami kesulitan bangun tidur meskipun saya sudah tidur selama delapan jam.
• Sarapan seringkali siap setelah jam sembilan.
• Sebelum jam 9 pagi, lagu-lagu Osing belum diputar di Progama Papat RRI Malang.
• Air untuk mandi luar biasa dingin.
• Jika saya bangun kesiangan (jam tujuh misalnya) maka saya akan gagal bersepeda karena saya takut kulit saya hitam terbakar sinar matahari. Beberapa teman saya yang berkulit putih meremehkan perasaan kecewa karena kulit menghitam akibat terbakar matahari. Andai saja kulit mereka bisa menghitam… maka baru tahu rasa mereka.
• Biasanya saya tidak memiliki pekerjaan untuk dilakukan, sehingga saya hanya mondar-mandir untuk mencari pekerjaan.
Sekarang saya benar-benar takut pada malam hari setelah jam sembilan. Ada beberapa alasan yang menyebabkan saya takut pada malam hari antara lain:
• Suasana kampung masih ramai hingga jam sepuluh malam, sehingga menyebabkan saya sulit tidur.
• Saya jarang bisa sukses tertidur apabila sampai jam sepuluh malam saya gagal tidur. Pikiran saya selalu terpaku pada Ludruk Kartolo CS yang selalu diputar di radio jam sebelas malam. Jadi jika saya gagal tertidur sebelum jam sepuluh, maka saya hanya akan tertidur setelah jam dua belas malam, setelah Ludruk Kartolo berakhir.
• Kadang-kadang teman yang bertandang kerumah, jarang mau pulang sebelum jam sepuluh malam atau kadang-kadang lebih.
• Kadang-kadang saya mengalami kesulitan tidur karena lapar. Saya tidak ingin melanggar peraturan untuk makan terakhir sebelum jam tujuh malam (kecuali saya diajak pergi ke pesta, hehehe….)
Untuk berhasil dalam segala hal maka diperlukan suatu kedisiplinan yang luar biasa kuat, yang mana kedisiplinan itu hanya dapat berumur panjang jika didorong oleh suatu keinginan yang kuat. Bagi seorang yang tidak memiliki proyeksi kehidupan yang terlalu jelas, maka saya tidak terlalu memiliki keinginan yang menggebu dan kuat, semuanya hanya bayangan samar-samar. Oleh karena itu bagi saya kedisiplinan direbut hanya dengan melalui perjuangan yang teramat sangat berat… seberat Billy, Clint, Clark, Sam dkk merebut Iwo Jima.
• Saya kesulitan untuk bangun jam setengah lima pagi (biasanya saya bangun jam sekian untuk berolahraga sepeda). Mata serasa terkena lem, sulit di buat melek, kepala berat minta ampun, perbedaan suhu yang ekstrim antara di dalam selimut dengan suhu diluar selimut. Saya tetap saja mengalami kesulitan bangun tidur meskipun saya sudah tidur selama delapan jam.
• Sarapan seringkali siap setelah jam sembilan.
• Sebelum jam 9 pagi, lagu-lagu Osing belum diputar di Progama Papat RRI Malang.
• Air untuk mandi luar biasa dingin.
• Jika saya bangun kesiangan (jam tujuh misalnya) maka saya akan gagal bersepeda karena saya takut kulit saya hitam terbakar sinar matahari. Beberapa teman saya yang berkulit putih meremehkan perasaan kecewa karena kulit menghitam akibat terbakar matahari. Andai saja kulit mereka bisa menghitam… maka baru tahu rasa mereka.
• Biasanya saya tidak memiliki pekerjaan untuk dilakukan, sehingga saya hanya mondar-mandir untuk mencari pekerjaan.
Sekarang saya benar-benar takut pada malam hari setelah jam sembilan. Ada beberapa alasan yang menyebabkan saya takut pada malam hari antara lain:
• Suasana kampung masih ramai hingga jam sepuluh malam, sehingga menyebabkan saya sulit tidur.
• Saya jarang bisa sukses tertidur apabila sampai jam sepuluh malam saya gagal tidur. Pikiran saya selalu terpaku pada Ludruk Kartolo CS yang selalu diputar di radio jam sebelas malam. Jadi jika saya gagal tertidur sebelum jam sepuluh, maka saya hanya akan tertidur setelah jam dua belas malam, setelah Ludruk Kartolo berakhir.
• Kadang-kadang teman yang bertandang kerumah, jarang mau pulang sebelum jam sepuluh malam atau kadang-kadang lebih.
• Kadang-kadang saya mengalami kesulitan tidur karena lapar. Saya tidak ingin melanggar peraturan untuk makan terakhir sebelum jam tujuh malam (kecuali saya diajak pergi ke pesta, hehehe….)
Untuk berhasil dalam segala hal maka diperlukan suatu kedisiplinan yang luar biasa kuat, yang mana kedisiplinan itu hanya dapat berumur panjang jika didorong oleh suatu keinginan yang kuat. Bagi seorang yang tidak memiliki proyeksi kehidupan yang terlalu jelas, maka saya tidak terlalu memiliki keinginan yang menggebu dan kuat, semuanya hanya bayangan samar-samar. Oleh karena itu bagi saya kedisiplinan direbut hanya dengan melalui perjuangan yang teramat sangat berat… seberat Billy, Clint, Clark, Sam dkk merebut Iwo Jima.
Kamis, 23 April 2009
Masa Depan? Kiss My Ass...
Hari ini saya bersepeda ke Desa Kreweh, ini adalah sebuah dusun sederhana yang terletak di pedalaman Singosari. Untuk mencapai dusun ini kita harus melawati sebuah jalan aspal yang menanjak yang membelah sawah seluas mata memandang. Setiap orang meskipun dia adalah seorang atlit sepeda handal, saya yakin kalau dia bersepeda ke dusun ini pasti dia akan ngos-ngos an.
Saya sudah berpuluh-puluh kali mengunjungi dusun ini dengan bersepeda pancal, namun suasana kali ini tidak seperti suasana lainnya. Perasaan saya menjadi sedemikian bahagia sehingga hilang sudah rasa-rasa penat dan capek karena telah mengayuh sepedah melewati jalan yang menanjak. Saya sadar bahwa perasaan bahagia ini muncul karena saya hadir pada masa kini dan menghargainya sebaik mungkin.
Sebelumnya saya selalu menghawatirkan tentang masa depan… sebanyak apapun ajaran bijak dari Budha dan Krishna yang saya baca untuk menghargai kekinian, semua itu hanya menyentuh kulit, tidak pernah menggerakan hati saya untuk mengejawantahkan dalam kehidupan saya. Pada kenyataannya saya hidup dalam bayang-bayang akan masa depan yang serba tidak pasti. Saya memiliki mimpi-mimpi yang sukar sekali untuk diwujudkan. Saya khawatir mimpi-mimpi itu tidak pernah tercapai.
Satu bulan sudah saya mengurung diri di rumah untuk membiasakan diri saya menghadapi realita kehidupan saya yang sesungguhnya. Saya juga belajar untuk tidak selalu bergantung pada orang lain dalam memperoleh suatu kebahagiaan. Dan setelah setiap hari bergulat dengan kebosanan yang teramat pekat, akhirnya saya mendapati bahwa saya tidak menderita ketakutan lagi, namun saya juga tidak berbahagia. Pada intinya saya hanya merasa hambar, namun ini semua lebih baik dari pada memiliki segudang impian namun selalu dibayang-bayangi oleh perasaan takut dan khawatir.
Harus saya akui… impian-impian itu telah menguap sebagian besar. Sakit sekali rasanya ketika impian itu menguap, hilang sudah semangat untuk hidup lebih baik. Meskipun itu tidak berarti bahwa saya membiarkan diri saya dalam keadaan diam berpangku tangan menerima semua keadaan… kaki saya tetap berlari, tangan saya tetap bekerja, namun pekerjaan itu saya lakukan tanpa hati.
Membutuhkan waktu lama untuk dapat menerima suasana hati yang seperti itu… malah kenyataannya saya mungkin tidak ingin menerima kondisi dimana saya bisa mentoleransi suasana hati yang seperti itu. Namun kenyataan berkata lain, hati saya telah kalah, dia telah menghambar dan hanya menginginkan mengurusi hal-hal dalam jangka pendek saja. Saya malu mengakuinya, tapi sepertinya saya telah putus asa.
Sore ini saya memutuskan untuk bersepeda dengan tujuan acak. Setelah mengayuh sepeda beberapa kilometer dari rumah, saya berhenti di dekat sebuah pematang sawah untuk sekedar mengambil napas. Dengan napas yang ngos-ngosan seperti itu saya menoleh ke kanan dan ke kiri melihat sawah dan kebun tebu sejauh mata memandang. Untuk sejenak tidak ada sesuatu yang menarik dari pemandangan-pemandangan itu karena saya sudah melihat mereka berkali-kali. Namun setelah berapa saat mulai muncul keindahan-keindahan dari pemandangan itu. Malahan saya merasa damai dan nyaman… saya bahagia. Saya tidak dapat bayangkan bahwa perasaan ini dapat terjadi satu bulan yang lalu, karena saya selalu berpikir bahwa Indonesia selalu lebih jelek dari pada negeri-negeri lain. Pikiran saya selalu memikirkan luar negeri sehingga saya tidak dapat mengenali keindahan kampung halaman saya.
Masa depan? Kiss my ass…
Saya sudah berpuluh-puluh kali mengunjungi dusun ini dengan bersepeda pancal, namun suasana kali ini tidak seperti suasana lainnya. Perasaan saya menjadi sedemikian bahagia sehingga hilang sudah rasa-rasa penat dan capek karena telah mengayuh sepedah melewati jalan yang menanjak. Saya sadar bahwa perasaan bahagia ini muncul karena saya hadir pada masa kini dan menghargainya sebaik mungkin.
Sebelumnya saya selalu menghawatirkan tentang masa depan… sebanyak apapun ajaran bijak dari Budha dan Krishna yang saya baca untuk menghargai kekinian, semua itu hanya menyentuh kulit, tidak pernah menggerakan hati saya untuk mengejawantahkan dalam kehidupan saya. Pada kenyataannya saya hidup dalam bayang-bayang akan masa depan yang serba tidak pasti. Saya memiliki mimpi-mimpi yang sukar sekali untuk diwujudkan. Saya khawatir mimpi-mimpi itu tidak pernah tercapai.
Satu bulan sudah saya mengurung diri di rumah untuk membiasakan diri saya menghadapi realita kehidupan saya yang sesungguhnya. Saya juga belajar untuk tidak selalu bergantung pada orang lain dalam memperoleh suatu kebahagiaan. Dan setelah setiap hari bergulat dengan kebosanan yang teramat pekat, akhirnya saya mendapati bahwa saya tidak menderita ketakutan lagi, namun saya juga tidak berbahagia. Pada intinya saya hanya merasa hambar, namun ini semua lebih baik dari pada memiliki segudang impian namun selalu dibayang-bayangi oleh perasaan takut dan khawatir.
Harus saya akui… impian-impian itu telah menguap sebagian besar. Sakit sekali rasanya ketika impian itu menguap, hilang sudah semangat untuk hidup lebih baik. Meskipun itu tidak berarti bahwa saya membiarkan diri saya dalam keadaan diam berpangku tangan menerima semua keadaan… kaki saya tetap berlari, tangan saya tetap bekerja, namun pekerjaan itu saya lakukan tanpa hati.
Membutuhkan waktu lama untuk dapat menerima suasana hati yang seperti itu… malah kenyataannya saya mungkin tidak ingin menerima kondisi dimana saya bisa mentoleransi suasana hati yang seperti itu. Namun kenyataan berkata lain, hati saya telah kalah, dia telah menghambar dan hanya menginginkan mengurusi hal-hal dalam jangka pendek saja. Saya malu mengakuinya, tapi sepertinya saya telah putus asa.
Sore ini saya memutuskan untuk bersepeda dengan tujuan acak. Setelah mengayuh sepeda beberapa kilometer dari rumah, saya berhenti di dekat sebuah pematang sawah untuk sekedar mengambil napas. Dengan napas yang ngos-ngosan seperti itu saya menoleh ke kanan dan ke kiri melihat sawah dan kebun tebu sejauh mata memandang. Untuk sejenak tidak ada sesuatu yang menarik dari pemandangan-pemandangan itu karena saya sudah melihat mereka berkali-kali. Namun setelah berapa saat mulai muncul keindahan-keindahan dari pemandangan itu. Malahan saya merasa damai dan nyaman… saya bahagia. Saya tidak dapat bayangkan bahwa perasaan ini dapat terjadi satu bulan yang lalu, karena saya selalu berpikir bahwa Indonesia selalu lebih jelek dari pada negeri-negeri lain. Pikiran saya selalu memikirkan luar negeri sehingga saya tidak dapat mengenali keindahan kampung halaman saya.
Masa depan? Kiss my ass…
Selasa, 24 Maret 2009
Ide tentang kedewasaan VS ide tentang kebebasan
Ada sebuah buku yang mendeskripsikan konsep kedewasaan sebagai “kerelaan untuk tetap melakukan sesuatu yang harus dilakukan meskipun itu adalah sesuatu yang paling dibenci untuk dilakukan”. Beberapa saat yang lalu seorang sahabat mengatakan kepada saya sesuatu yang sebelumnya pernah dikatakan oleh ayahnya. Dia berkata seperti ini “perlakukan sesuatu yang tidak kamu senangi dengan sedemikian telatennya, maka lama-kelamaan kamu akan menyenanginya juga”.
Dalam film yang berjudul The Pursuit of Happiness, Chris, seorang pemeran utama dalam film itu, dia memberikan suatu pelajaran yang teramat sangat penting pada puteranya. Kira-kira dia mengatakan demikian “ketika kamu menginginkan sesuatu, maka segeralah mendapatkannya… titik. Jangan biarkan orang lain mengatakan bahwa kamu tidak mampu untuk mendapatkannya”. Dalam buku-buku tulisan Robert T Kiyosaki, banyak sekali anjuran untuk tidak menyerah dan terus menerus berjuang untuk mendapatkan semua yang kita inginkan. Dalam buku The Secret, kita dianjurkan untuk percaya seratus persen dengan segala sesuatu yang kita inginkan. Kita bebas… bebas sebebas-bebasnya untuk menentukan keingingan apapun yang ingin kita capai.
Saya bingunggggg….! Saya bingung untuk mempelajari dan mempercayai ide-ide itu, semuanya masuk akal bagi saya, semuanya juga tidak masuk akal buat saya. Ada seorang kawan yang mengatakan “buat apalah bingung-bingung, abaikan ide-ide itu dan lanjutkan hidupmu apa adanya”. Sejujurnya saya ingin sekali seperti itu, namun tidak… tidak kawan, saya tidak bisa seperti itu. Saya selalu iri dengan orang-orang seperti kamu yang dapat melakukan apapun dengan tenang, dan saya selalu kecewa dengan kedua tangan saya yang tidak mau digerakan untuk melakukan apapun sebelum hati saya babak belur diombang-ambing oleh pikiran-pikiran saya sendiri. Saya sudah berusaha bersusah payah untuk mengontrol diri saya sendiri, namun sejauh ini saya gagal dan saya menyesal.
Ide pertama serasa begitu realistis dan cocok diejawantahkan dalam kenyataan dan kehidupan sehari-hari, namun ide ini juga serasa terlalu menyerah. Ide ke dua… berapi-api, menggebu-gebu, bersemangat dan membuat seseorang berenergi, namun seringkali bertabrakan dengan kenyataan dan dipatahkan oleh kata-kata murahan seperti “tidak mungkin”.
Saya beranggapan bahwa saya harus memilih diantara yang dua itu dan sepertinya memang setiap orang harus memilih jika orang tersebut ingin berhasil dalam hidupnya. Jika saya diharuskan untuk memilih maka sejujurnya saya akan suka dengan ide bermimpi tentang kebebasan… yaitu bebas untuk berpikir dan bebas untuk menjadi diri sendiri. Namun kenyataannya saya adalah orang lemah yang tidak dapat mengontrol diri sehingga selalu terjebak dalam ketakutan untuk mengambil suatu pilihan.
Tempe…
Dalam film yang berjudul The Pursuit of Happiness, Chris, seorang pemeran utama dalam film itu, dia memberikan suatu pelajaran yang teramat sangat penting pada puteranya. Kira-kira dia mengatakan demikian “ketika kamu menginginkan sesuatu, maka segeralah mendapatkannya… titik. Jangan biarkan orang lain mengatakan bahwa kamu tidak mampu untuk mendapatkannya”. Dalam buku-buku tulisan Robert T Kiyosaki, banyak sekali anjuran untuk tidak menyerah dan terus menerus berjuang untuk mendapatkan semua yang kita inginkan. Dalam buku The Secret, kita dianjurkan untuk percaya seratus persen dengan segala sesuatu yang kita inginkan. Kita bebas… bebas sebebas-bebasnya untuk menentukan keingingan apapun yang ingin kita capai.
Saya bingunggggg….! Saya bingung untuk mempelajari dan mempercayai ide-ide itu, semuanya masuk akal bagi saya, semuanya juga tidak masuk akal buat saya. Ada seorang kawan yang mengatakan “buat apalah bingung-bingung, abaikan ide-ide itu dan lanjutkan hidupmu apa adanya”. Sejujurnya saya ingin sekali seperti itu, namun tidak… tidak kawan, saya tidak bisa seperti itu. Saya selalu iri dengan orang-orang seperti kamu yang dapat melakukan apapun dengan tenang, dan saya selalu kecewa dengan kedua tangan saya yang tidak mau digerakan untuk melakukan apapun sebelum hati saya babak belur diombang-ambing oleh pikiran-pikiran saya sendiri. Saya sudah berusaha bersusah payah untuk mengontrol diri saya sendiri, namun sejauh ini saya gagal dan saya menyesal.
Ide pertama serasa begitu realistis dan cocok diejawantahkan dalam kenyataan dan kehidupan sehari-hari, namun ide ini juga serasa terlalu menyerah. Ide ke dua… berapi-api, menggebu-gebu, bersemangat dan membuat seseorang berenergi, namun seringkali bertabrakan dengan kenyataan dan dipatahkan oleh kata-kata murahan seperti “tidak mungkin”.
Saya beranggapan bahwa saya harus memilih diantara yang dua itu dan sepertinya memang setiap orang harus memilih jika orang tersebut ingin berhasil dalam hidupnya. Jika saya diharuskan untuk memilih maka sejujurnya saya akan suka dengan ide bermimpi tentang kebebasan… yaitu bebas untuk berpikir dan bebas untuk menjadi diri sendiri. Namun kenyataannya saya adalah orang lemah yang tidak dapat mengontrol diri sehingga selalu terjebak dalam ketakutan untuk mengambil suatu pilihan.
Tempe…
Kamis, 19 Maret 2009
Thanks Bro... I will never forget you...
Memang dasar mesin diesel rusak, kerjaannya hanya rewel dan rewel. Sulit sekali menjalani hidup dengan mental tempe dan kere… dikit-dikit mengeluh, dikit-dikit minta keringanan. Maunya sih berjuang dan menikmati sensasi akan perjuangan seperti “teman-teman” yang lain. Dan kalau mesin diesel itu rewel, maka dia hanya akan meraung-raung dan mengeluarkan asap hitam… keras sekali suaranya hingga orang satu kampung mendengar suaranya, tapi minim tenaga… alias ngomong doang. Biasanya sih kalau mesin diesel sudah rewel seperti ini, maka hanya seorang mekanik terampil yang bisa membetulkannya.
Beberapa hari yang lalu saya berada dalam suatu masalah biasa, masalah yang tidak berat-berat amat, masalah yang dialami oleh semua orang. Seperti biasa-biasanya, perasaan emosional mengontrol kesadaran pribadi, sehingga saya berada dalam keadaan sedih yang mendalam dan membuat saya kacau. Meskipun secara teknis saya selalu menyelesaikan dengan baik dan maksimal semua tugas-tugas saya, namun dalam prosesnya saya tidak pernah mengerjakannya dengan sepenuh hati. Pikiran saya di tempat lain, bukan di tempat kerja saya, bahkan bukan di Indonesia… hal itu tidak membuat keseriusan saya dalam bekerja menjadi berkurang, namun jelas sekali mengurangi cita rasa perjuangan. Seringkali saya menyesali hal ini, namun saya benar-benar kehilangan kontrol. Saya malu mengakui ini.
Dan dalam keadaan kalut seperti itu, ketika mesin diesel dalam keadaan rewel seperti itu, seorang mekanik datang… seorang saudara mendatangi saya. Mekanik itu memberikan sentuhan-sentuhan profesional dan berhasil memaksa mesin diesel itu bisa berlari lagi. Seorang saudara datang memberikan sentuhan dan keikhlasannya untuk mendorong saya bersemangat untuk mencapai cita-cita saya. Harus diakui bahwa saya sudah sangat patah arang, mungkin saya tidak menyadarinya, atau bahkan tidak mau menyadarinya, dan berpura-pura membohongi diri sendiri bahwa cita-cita itu masih menjadi prioritas utama. Namun apa yang saya lakukan sepertinya hanya melayang-layang bebas di dalam mimpi… tidak mau bangun dan bekerja untuk membuat impian itu tewujud.
Saudara saya itu menarik saya kebawah untuk menapak bumi kembali, menyiram saya dengan air dingin ketika saya sedang nyaman meringkuk hangat diatas ranjang saya. Sebenarnya ego saya sangat terusik karena dia melakukan itu, namun tidak lama kemudian saya menjadi sangat terharu karena yang dia lakukan adalah suatu keikhlasan dan dukungan yang tidak pernah saya dapatkan dari lain orang. Dia berkata kepada saya tentang banyak hal… namun yang terdengar di telinga saya adalah “bangunlah… raih semua mimpimu di dunia nyata, jadilah proaktif”.
Apa yang dia lakukan adalah suatu yang sangat berarti bagi saya. Seorang gembel Kalahari telah ditolong dan dituntun oleh seseorang berjiwa lembut menuju oasis, sehingga dia mampu melanjutkan lagi perjalanannya untuk mencapai tujuan hidupnya yang tidak seberapa penting.
Bagaimana seorang mekanik tersebut tahu bahwa mesin diesel itu sedang rewel, dan mengapa dia mau bersusah payah memperbaikinya?
Thanks Bro… I will never forget what you have done to me?
Beberapa hari yang lalu saya berada dalam suatu masalah biasa, masalah yang tidak berat-berat amat, masalah yang dialami oleh semua orang. Seperti biasa-biasanya, perasaan emosional mengontrol kesadaran pribadi, sehingga saya berada dalam keadaan sedih yang mendalam dan membuat saya kacau. Meskipun secara teknis saya selalu menyelesaikan dengan baik dan maksimal semua tugas-tugas saya, namun dalam prosesnya saya tidak pernah mengerjakannya dengan sepenuh hati. Pikiran saya di tempat lain, bukan di tempat kerja saya, bahkan bukan di Indonesia… hal itu tidak membuat keseriusan saya dalam bekerja menjadi berkurang, namun jelas sekali mengurangi cita rasa perjuangan. Seringkali saya menyesali hal ini, namun saya benar-benar kehilangan kontrol. Saya malu mengakui ini.
Dan dalam keadaan kalut seperti itu, ketika mesin diesel dalam keadaan rewel seperti itu, seorang mekanik datang… seorang saudara mendatangi saya. Mekanik itu memberikan sentuhan-sentuhan profesional dan berhasil memaksa mesin diesel itu bisa berlari lagi. Seorang saudara datang memberikan sentuhan dan keikhlasannya untuk mendorong saya bersemangat untuk mencapai cita-cita saya. Harus diakui bahwa saya sudah sangat patah arang, mungkin saya tidak menyadarinya, atau bahkan tidak mau menyadarinya, dan berpura-pura membohongi diri sendiri bahwa cita-cita itu masih menjadi prioritas utama. Namun apa yang saya lakukan sepertinya hanya melayang-layang bebas di dalam mimpi… tidak mau bangun dan bekerja untuk membuat impian itu tewujud.
Saudara saya itu menarik saya kebawah untuk menapak bumi kembali, menyiram saya dengan air dingin ketika saya sedang nyaman meringkuk hangat diatas ranjang saya. Sebenarnya ego saya sangat terusik karena dia melakukan itu, namun tidak lama kemudian saya menjadi sangat terharu karena yang dia lakukan adalah suatu keikhlasan dan dukungan yang tidak pernah saya dapatkan dari lain orang. Dia berkata kepada saya tentang banyak hal… namun yang terdengar di telinga saya adalah “bangunlah… raih semua mimpimu di dunia nyata, jadilah proaktif”.
Apa yang dia lakukan adalah suatu yang sangat berarti bagi saya. Seorang gembel Kalahari telah ditolong dan dituntun oleh seseorang berjiwa lembut menuju oasis, sehingga dia mampu melanjutkan lagi perjalanannya untuk mencapai tujuan hidupnya yang tidak seberapa penting.
Bagaimana seorang mekanik tersebut tahu bahwa mesin diesel itu sedang rewel, dan mengapa dia mau bersusah payah memperbaikinya?
Thanks Bro… I will never forget what you have done to me?
Selasa, 17 Maret 2009
I hate my self
Saya berjalan sendirian tanpa seorang teman pun
Tidak ada seorang pun yang dapat mengerti aku
Bahkan aku pun tidak dapat mengenal diriku sendiri
Yang aku tahu adalah bahwa aku tidak senang dengan diriku sendiri
Ada beberapa hal pada diriku yang mustahil kurubah
Pengetahuan hanya semakin membuatku merana
Pengertian hanya membuatku sedih
Tekadku lemah, kesetiaanku semakin menipis
Kepercayaan dan keyakinanku melemah
Seorang guru berkata padaku
“kamu bodoh, penakut, pengecut, pecundang, dan pengkhayal”
Betul sekali, dia betul, saya setuju dengan dia
Dalam hati aku bertekad untuk bangkit
Aku bekerja keras untuk bangkit
Tidak diragukan lagi aku bekerja keras untuk bangkit
Tidak ada seorangpun yang berkata aku bukan seorang pekerja keras
Namun sekeras apapun usahaku untuk bangkit
Bagian pengecut dari diriku sendiri membuatku terlelap lagi
Aku tahu aku bukan orang yang paling menderita di dunia
Tapi aku tahu bahwa aku adalah orang yang paling lemah
Aku selalu berusaha menolong diriku sendiri
Namun aku selalu gagal
Jiwaku adalah jiwa kere
Mentalku adalah mental tempe
Semangatku selalu melempem
Badanku berjuang, namun hatiku selalu mengeluh
Brengsek...
I hate my self
Oh my Lord, forgive me, for my weakness
Tidak ada seorang pun yang dapat mengerti aku
Bahkan aku pun tidak dapat mengenal diriku sendiri
Yang aku tahu adalah bahwa aku tidak senang dengan diriku sendiri
Ada beberapa hal pada diriku yang mustahil kurubah
Pengetahuan hanya semakin membuatku merana
Pengertian hanya membuatku sedih
Tekadku lemah, kesetiaanku semakin menipis
Kepercayaan dan keyakinanku melemah
Seorang guru berkata padaku
“kamu bodoh, penakut, pengecut, pecundang, dan pengkhayal”
Betul sekali, dia betul, saya setuju dengan dia
Dalam hati aku bertekad untuk bangkit
Aku bekerja keras untuk bangkit
Tidak diragukan lagi aku bekerja keras untuk bangkit
Tidak ada seorangpun yang berkata aku bukan seorang pekerja keras
Namun sekeras apapun usahaku untuk bangkit
Bagian pengecut dari diriku sendiri membuatku terlelap lagi
Aku tahu aku bukan orang yang paling menderita di dunia
Tapi aku tahu bahwa aku adalah orang yang paling lemah
Aku selalu berusaha menolong diriku sendiri
Namun aku selalu gagal
Jiwaku adalah jiwa kere
Mentalku adalah mental tempe
Semangatku selalu melempem
Badanku berjuang, namun hatiku selalu mengeluh
Brengsek...
I hate my self
Oh my Lord, forgive me, for my weakness
Senin, 16 Maret 2009
Kasmaran
Raden Mas Eng Soetjipto Karyo Raharjo sekarang sedang kasmaran. Semalam dia datang kerumah saya sekitar jam setengah sebelas malam karena sebelumnya kami memang sudah membuat janji untuk bertemu. Winto datang ke rumah saya sekitar dua hingga tiga jam sebelumnya. Sebelum Eng datang, kami belajar bermain musik dan bernyanyi, Winto pakai gitar, saya pakai suling recorder. Setelah Eng datang, status kami berubah…. dari pemain musik amatir, menjadi pemain “ketoprak humor”. Semalam saya, Eng dan Winto mempelototi laptop hingga jam 5 pagi untuk mempelajari bagaimana menjadi pemain ketoprak humor yang baik. Sekitar jam 6 pagi Winto pulang, sementara Eng tetap tinggal untuk tidur karena dia tidak kuat menahan kantuk. Ketika saya menulis ini, Eng mengawasi saya dari radius satu meter dan mensensor setiap kata yang menurut dia berpotensi membahayakan kerahasiaannya.
Eng meminta saya untuk membantu pelaksanaan ekperimen yang dia buat. Karena Eng tergolong sebagai manusia yang baik dan jujur, maka saya dan Winto mau memberikan dukungan kepadanya. Namun karena alasan tertentu maka dia memohon saya agar merahasiakan dulu menjelaskan jenis eksperimen yang kami garap. Tapi untuk alasan-alasan Friendship-isme dan Joy-isme, maka dia memberikan ijin kepada saya untuk membeberkan tanggapan, serta penilaian saya terhadap perilaku Eng beberapa pekan terakhir, berdasarkan pengamatan saya terhadap eksperimen Eng terakhir.
Ide untuk membuat tulisan ini dimulai ketika saya terbangun jam setengah dua siang karena mendengar pembicaraan Eng dengan seseorang di telephon. Saya sama sekali tidak berniat menguping, namun dia berbicara begitu lama dan dalam jarak yang dekat dengan saya, sehingga saya tidak bisa tidur dan terpaksa mendengarkan semua yang dia bicarakan. Hingga saya berpikir daripada meneruskan usaha tidur yang belum tentu bisa tertidur, mendingan saya mengetik cerita dia untuk menambah tulisan di blog saya.
Dan inilah jadinya…
Sudah beberapa pekan ini saya melihat perilaku yang “tidak biasa” pada diri seorang Eng. Dari cara dia melamun dan berbicara, maka saya menarik suatu kesimpulan secara sepihak bahwa dia sedang sangat tertarik dengan seseorang, mungkin jatuh cinta pada seorang perempuan. Semua topik pembicaraannya mengindikasikan dia sedang “loro lopo” atau kasmaran.
Apakah Eng sedang jatuh cinta ? sangat mungkin… dia beberapa kali mengganggu meditasi saya dengan berkirim sms jam tiga atau jam empat pagi. Dia mengabarkan bahwa dia sedang merencanakan sesuatu atau semacamnya. Tapi dia tidak pernah secara blak-blakan menjelaskan rencana apa yang sedang dia bicarakan. Gaya bahasa sms-nya rumit dan berbelit-belit, sehingga saya hanya bisa menebak-nebak apa yang dia maksudkan. Tetapi lama-kelamaan akhirnya saya tahu persis bahwa dia sedang jatuh cinta, karena pada suatu ketika dia akhirnya mengaku.
Sebenarnya saya mengenal Eng tidak terlalu lama, perkiraan sekitar satu tahun lebih, namun idealisme persaudaraan sesama pebela diri membuat kami memiliki waktu untuk saling mengenal masing-masing. Dan proses saling mengenal itu dipercepat dengan kesenangan kami untuk membicarakan hal-hal yang bersifat filosofis. Sepertinya kami sama-sama suka memberontak terhadap ide-ide kaku lama yang sudah ketinggalan jaman. Beberapa saat yang lalu sebelum Eng kasmaran, kami seringkali terjebak dalam sebuah diskusi panjang hingga berjam-jam lamanya. Eng selalu bersemangat ketika dia sedang berbicara tentang agama-agama, aturan masyarakat dan tradisi.
Eng juga sering membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan diri serta penataan masa depan. Saya sering mendengar dia berceloteh panjang lebar tentang bagaimana dia ingin membangun masa depan yang baik dalam hal finansial. Dia adalah pemuda delapan belas tahun pertama yang saya kenal yang paling getol mengatur keuangan pribadi. Dia bersungguh-sungguh untuk aktif membantu meringankan beban orang tuanya dengan mencukupi kebutuhan jajannya dengan bekerja di suatu Event Organizer. Suatu saat dia pernah berkata kepada saya bahwa kisah asmaranya telah membuatnya bersemangat untuk bekerja lebih keras lagi. Weleh-weleh...
Laksana kelompok ikan-ikan kecil di laut yang tiba-tiba berbelok merubah formasi ketika ada bahaya, maka pada suatu saat, secara tiba-tiba pula Eng benar-benar membelokan topik pembicaraan yang selama ini dia sering bicarakan. Dia membuat saya mendengarkan tentang sesuatu yang sama sekali di luar pemahaman saya, yaitu pemahaman akan dunia cinta, hahaha... Dia seolah-olah menceramahi saya tentang seni membangun cinta, dan saya hanya mendengarkan saja dengan manggut-manggut seperti kambing congek. Namun walaupun begitu, saya tahu bahwa dia sedang berusaha dengan tulus untuk membuat saya mengerti tentang arti cinta, karena dia tahu persis bahwa saya tidak pernah jatuh cinta kepada siapapun sebelumnya.
Saya adalah pribadi yang selalu muak dengan hal-hal yang berhubungan dengan asmara, atau hal-hal apapun yang berhubungan dengan itu. Saya merasa kecewa dan kasihan karena teman-teman saya telah “bertumbangan” karena kisah-kisah asmara mereka, yang membuat mereka memalingkan diri dari dunia yang dulunya mereka gandrungi sebelum mereka jatuh kasmaran. Namun kisah cinta yang saya dengar dari Eng secara mendalam telah memberikan nuansa lain daripada yang lain. Eng selalu mengontrol dirinya sendiri meski dalam keadaan situasi emosional seperti apapun, dia tetap memberikan perhatian kepada gaya hidupnya, hobinya serta temannya secara proporsional seperti dulu sebelum dia mengalami kasmaran. Awalnya saya hanya mendengarkan dia dengan dingin, sekedar tidak ingin membuat dia kecewa karena tidak bisa menceritakan kisah asmaranya. Namun setelah beberapa lama kemudian, saya jadi terhanyut dalam perasaan dia, dan dia berhasil membujuk saya untuk tetap mendengarkannya. Pyuhhh…
Namun apa yang paling saya perhatikan di sini adalah kemauan Eng untuk memberikan energi yang banyak untuk melakukan sesuatu yang ingin dia lakukan, dan dia melakukan itu khusus hanya untuk “alasan tertentu” sehubungan dengan kisah asmaranya. Beberapa kali dia menghubungi saya untuk membantu memikirkan perancanaan-perancanaan rumit yang membuat kepalanya dan kepala saya pusing. Sayang sekali saya tidak bisa membeberkan rencana-rencana dia di sini, padahal topik perencanaan itulah yang paling menarik untuk dibahas.
Pelajaran baru buat saya…
Eng adalah seorang perencana handal dan sangat agresif, yang akan melakukan apa saja agar rencananya itu terwujud. Saya banyak belajar darinya, pelajaran penting bahwa ketika seseorang menginginkan sesuatu, maka dia harus rela mengeluarkan segenap tenaga dan waktunya, untuk membuat keinginannya terlaksana.
Dan satu lagi, bahwa manusia yang normal harus memiliki kisah asmara, dan kisah asmara itu hendaknya harus dibuat seindah mungkin.
Eng meminta saya untuk membantu pelaksanaan ekperimen yang dia buat. Karena Eng tergolong sebagai manusia yang baik dan jujur, maka saya dan Winto mau memberikan dukungan kepadanya. Namun karena alasan tertentu maka dia memohon saya agar merahasiakan dulu menjelaskan jenis eksperimen yang kami garap. Tapi untuk alasan-alasan Friendship-isme dan Joy-isme, maka dia memberikan ijin kepada saya untuk membeberkan tanggapan, serta penilaian saya terhadap perilaku Eng beberapa pekan terakhir, berdasarkan pengamatan saya terhadap eksperimen Eng terakhir.
Ide untuk membuat tulisan ini dimulai ketika saya terbangun jam setengah dua siang karena mendengar pembicaraan Eng dengan seseorang di telephon. Saya sama sekali tidak berniat menguping, namun dia berbicara begitu lama dan dalam jarak yang dekat dengan saya, sehingga saya tidak bisa tidur dan terpaksa mendengarkan semua yang dia bicarakan. Hingga saya berpikir daripada meneruskan usaha tidur yang belum tentu bisa tertidur, mendingan saya mengetik cerita dia untuk menambah tulisan di blog saya.
Dan inilah jadinya…
Sudah beberapa pekan ini saya melihat perilaku yang “tidak biasa” pada diri seorang Eng. Dari cara dia melamun dan berbicara, maka saya menarik suatu kesimpulan secara sepihak bahwa dia sedang sangat tertarik dengan seseorang, mungkin jatuh cinta pada seorang perempuan. Semua topik pembicaraannya mengindikasikan dia sedang “loro lopo” atau kasmaran.
Apakah Eng sedang jatuh cinta ? sangat mungkin… dia beberapa kali mengganggu meditasi saya dengan berkirim sms jam tiga atau jam empat pagi. Dia mengabarkan bahwa dia sedang merencanakan sesuatu atau semacamnya. Tapi dia tidak pernah secara blak-blakan menjelaskan rencana apa yang sedang dia bicarakan. Gaya bahasa sms-nya rumit dan berbelit-belit, sehingga saya hanya bisa menebak-nebak apa yang dia maksudkan. Tetapi lama-kelamaan akhirnya saya tahu persis bahwa dia sedang jatuh cinta, karena pada suatu ketika dia akhirnya mengaku.
Sebenarnya saya mengenal Eng tidak terlalu lama, perkiraan sekitar satu tahun lebih, namun idealisme persaudaraan sesama pebela diri membuat kami memiliki waktu untuk saling mengenal masing-masing. Dan proses saling mengenal itu dipercepat dengan kesenangan kami untuk membicarakan hal-hal yang bersifat filosofis. Sepertinya kami sama-sama suka memberontak terhadap ide-ide kaku lama yang sudah ketinggalan jaman. Beberapa saat yang lalu sebelum Eng kasmaran, kami seringkali terjebak dalam sebuah diskusi panjang hingga berjam-jam lamanya. Eng selalu bersemangat ketika dia sedang berbicara tentang agama-agama, aturan masyarakat dan tradisi.
Eng juga sering membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan diri serta penataan masa depan. Saya sering mendengar dia berceloteh panjang lebar tentang bagaimana dia ingin membangun masa depan yang baik dalam hal finansial. Dia adalah pemuda delapan belas tahun pertama yang saya kenal yang paling getol mengatur keuangan pribadi. Dia bersungguh-sungguh untuk aktif membantu meringankan beban orang tuanya dengan mencukupi kebutuhan jajannya dengan bekerja di suatu Event Organizer. Suatu saat dia pernah berkata kepada saya bahwa kisah asmaranya telah membuatnya bersemangat untuk bekerja lebih keras lagi. Weleh-weleh...
Laksana kelompok ikan-ikan kecil di laut yang tiba-tiba berbelok merubah formasi ketika ada bahaya, maka pada suatu saat, secara tiba-tiba pula Eng benar-benar membelokan topik pembicaraan yang selama ini dia sering bicarakan. Dia membuat saya mendengarkan tentang sesuatu yang sama sekali di luar pemahaman saya, yaitu pemahaman akan dunia cinta, hahaha... Dia seolah-olah menceramahi saya tentang seni membangun cinta, dan saya hanya mendengarkan saja dengan manggut-manggut seperti kambing congek. Namun walaupun begitu, saya tahu bahwa dia sedang berusaha dengan tulus untuk membuat saya mengerti tentang arti cinta, karena dia tahu persis bahwa saya tidak pernah jatuh cinta kepada siapapun sebelumnya.
Saya adalah pribadi yang selalu muak dengan hal-hal yang berhubungan dengan asmara, atau hal-hal apapun yang berhubungan dengan itu. Saya merasa kecewa dan kasihan karena teman-teman saya telah “bertumbangan” karena kisah-kisah asmara mereka, yang membuat mereka memalingkan diri dari dunia yang dulunya mereka gandrungi sebelum mereka jatuh kasmaran. Namun kisah cinta yang saya dengar dari Eng secara mendalam telah memberikan nuansa lain daripada yang lain. Eng selalu mengontrol dirinya sendiri meski dalam keadaan situasi emosional seperti apapun, dia tetap memberikan perhatian kepada gaya hidupnya, hobinya serta temannya secara proporsional seperti dulu sebelum dia mengalami kasmaran. Awalnya saya hanya mendengarkan dia dengan dingin, sekedar tidak ingin membuat dia kecewa karena tidak bisa menceritakan kisah asmaranya. Namun setelah beberapa lama kemudian, saya jadi terhanyut dalam perasaan dia, dan dia berhasil membujuk saya untuk tetap mendengarkannya. Pyuhhh…
Namun apa yang paling saya perhatikan di sini adalah kemauan Eng untuk memberikan energi yang banyak untuk melakukan sesuatu yang ingin dia lakukan, dan dia melakukan itu khusus hanya untuk “alasan tertentu” sehubungan dengan kisah asmaranya. Beberapa kali dia menghubungi saya untuk membantu memikirkan perancanaan-perancanaan rumit yang membuat kepalanya dan kepala saya pusing. Sayang sekali saya tidak bisa membeberkan rencana-rencana dia di sini, padahal topik perencanaan itulah yang paling menarik untuk dibahas.
Pelajaran baru buat saya…
Eng adalah seorang perencana handal dan sangat agresif, yang akan melakukan apa saja agar rencananya itu terwujud. Saya banyak belajar darinya, pelajaran penting bahwa ketika seseorang menginginkan sesuatu, maka dia harus rela mengeluarkan segenap tenaga dan waktunya, untuk membuat keinginannya terlaksana.
Dan satu lagi, bahwa manusia yang normal harus memiliki kisah asmara, dan kisah asmara itu hendaknya harus dibuat seindah mungkin.
Sabtu, 07 Maret 2009
Pamer
Ketika seseorang sedang memakai perhiasan berkilauan maka dia akan dibilang pamer. Ketika seseorang sedang keluar dengan mobil bagus, maka dia akan dibilang pamer. Ketika sesorang sedang memakai arloji bagus, maka dia akan dibilang pamer. Ketika seseorang memampang foto mereka di ruang tamu atau di desktop-nya, maka dia akan dibilang pamer. Ketika seseorang sedang kelihatan sedang membawa laptop, maka dia akan kelihatan pamer. Ketika seseorang sedang unjuk kebolehan memperagakan tendangan putar Karate, maka dia dibilang pamer. Ketika seseorang memakai atribut Tae kwon Do, Karate, atau Aikido, di jaket, maka dia akan dibilang pamer.
Ketika orang kampung sedang berbicara tentang Segitiga Bermuda maka dia akan dibilang pamer. Ketika seorang buruh membaca buku pengetahuan, maka dia akan dibilang pamer. Ketika seorang tukang becak mengakses internet, maka dia akan dibilang pamer. Ketika seseroang berusaha mengekspresikan bahwa dirinya bisa, maka dia akan dibilang pamer.
Ketika seseorang berusaha menunjukan hasil pemikirannya di blog, maka….
Tapi,
Ketika seseorang memakai atribut, Manchester United, atau Arema, maka mereka dibilang tidak pamer. Ketika seseorang sedang mengadakan acara mahal untuk merayakan tahun baru Imlek, atau Idul Adha, atau Natal, maka dia tidak akan dibilang pamer
Ketika seorang sedang memakai songkok atau peci haji, maka dia tidak dibilang pamer. Ketika seseorang sedang memakai Anteng, maka dia tidak akan dibilang pamer. Ketika seseorang memakai baju pendeta, maka dia tidak akan dibilang pamer. Ketika seorang sedang membawa Rosario atau Tasbih, maka dia tidak akan dibilang pamer. Ketika seseorang sedang kelihatan mondar-mandir membawa atribut-atribut agama maka dia tidak akan dibilang pamer, mereka tidak akan dianggap berlebihan . Padahal semua orang tahu bahwa atribut agama yang mereka pakai itu sama sekali tidak nyaman jika dibandingkan dengan perkakas moderen.
Ketika seseorang berusaha menunjukan hasil pemikirannya di blog, maka….
Ahh... Bullshit…
Ketika orang kampung sedang berbicara tentang Segitiga Bermuda maka dia akan dibilang pamer. Ketika seorang buruh membaca buku pengetahuan, maka dia akan dibilang pamer. Ketika seorang tukang becak mengakses internet, maka dia akan dibilang pamer. Ketika seseroang berusaha mengekspresikan bahwa dirinya bisa, maka dia akan dibilang pamer.
Ketika seseorang berusaha menunjukan hasil pemikirannya di blog, maka….
Tapi,
Ketika seseorang memakai atribut, Manchester United, atau Arema, maka mereka dibilang tidak pamer. Ketika seseorang sedang mengadakan acara mahal untuk merayakan tahun baru Imlek, atau Idul Adha, atau Natal, maka dia tidak akan dibilang pamer
Ketika seorang sedang memakai songkok atau peci haji, maka dia tidak dibilang pamer. Ketika seseorang sedang memakai Anteng, maka dia tidak akan dibilang pamer. Ketika seseorang memakai baju pendeta, maka dia tidak akan dibilang pamer. Ketika seorang sedang membawa Rosario atau Tasbih, maka dia tidak akan dibilang pamer. Ketika seseorang sedang kelihatan mondar-mandir membawa atribut-atribut agama maka dia tidak akan dibilang pamer, mereka tidak akan dianggap berlebihan . Padahal semua orang tahu bahwa atribut agama yang mereka pakai itu sama sekali tidak nyaman jika dibandingkan dengan perkakas moderen.
Ketika seseorang berusaha menunjukan hasil pemikirannya di blog, maka….
Ahh... Bullshit…
Jumat, 06 Maret 2009
Guru Kehidupan

Dalam kehidupan ini saya merasakan adanya keharusan dan tuntutan dari dalam diri saya sendiri untuk belajar berbagai macam hal. Saya adalah warga negara bebas, dan saya bebas untuk menjalani kehidupan dengan santai. Saya bebas untuk mendapatkan kebahagiaan dengan tidak melakukan apa-apa (bermalas-malasan)dan bersenang-senang, dan saya bebas berkumpul dengan teman-teman yang suka bersenang-senang pula.
Namun ternyata hati saya menghendaki lain, saya tidak bisa memperoleh kebahagiaan dengan cara tidak melakukan apa-apa, menganggur bengong, membiarkan lamunan melayang jauh, atau sekedar bersenang-senang menghabiskan uang. Kenyataanya saya hanya bisa merasa bahagia ketika saya mengetahui bahwa saya memperoleh pengalaman dan pelajaran baru setiap harinya. Saya tidak tahan dengan keadaan yang sama atau kondisi status quo, yang megharuskan saya bertindak dan berpikir dengan cara yang sama terus menerus.
Pola berpikir macam itu mengharuskan saya untuk menemukan pribadi-pribadi yang cocok, agar saya merasa berbahagia selaku mahluk sosial. Dan Puji Tuhan saya telah dipertemukan dengan Winto, Pak Rianto dan Eng. Pada mulanya saya hanya merasa cocok berteman dengan mereka, namun dalam berbagai kesempatan mereka telah menjadi guru kehidupan bagi saya.
Secara teknis mereka tidak mengajarkan kepada saya banyak hal, namun secara mental, kehadiran pribadi mereka telah sangat banyak mempengaruhi kehidupan saya. Mungkin mereka tidak pernah merasa melakukan hal positif untuk saya, namun kenyataannya mereka telah mempengaruhi cara saya dalam berpikir dan bertindak sehingga saya dapat merasakan suatu kemajuan di dalam perikehidupan saya. Untuk itu mereka telah saya anggap sebagai guru… guru kehidupan yang sangat saya hormati. Tanpa adanya mereka, sudah tidak mungkin saya menjadi seperti yang sekarang ini. Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya adalah orang baik, namun saya merasa bahwa saya adalah orang yang jauh lebih baik dari pada diri saya yang dulu, sebelum bertemu dengan mereka.
.
Winto : Seorang sahabat yang telah menjadi saudara, mengajarkan ketertiban, ketelatenan, dan kemauan kuat. Telah sabar mendengarkan celotehan saya, menjadi tempat sampah bagi sampah-sampah emosi yang ada dalam hati saya. Telah menjadi seorang teman setia dalam suka maupun duka. Telah banyak memberikan dukungan-dukungan moril bagi saya dalam menghadapi suatu keputus-asaan yang merusak jiwa.
Pak Rianto : Seorang Bapak yang berpengalaman bagi jiwa saya yang rewel, yang sering sekali membutuhkan petunjuk-petunjuk untuk menemukan jati diri saya. Dia telah banyak memberikan waktunya untuk sekedar menasihati saya dan menemani saya dalam keadaan bimbang. Pengalaman-pengalaman hidupnya telah menjadikan suatu inspirasi positif buat saya, dan telah banyak menyebabkan malu bagi diri saya sendiri yang mudah sekali menyerah.
Eng : Seorang sahabat muda yang telah banyak memberikan pelajaran kepada saya. Perilakunya menjadi contoh bagi saya untuk membuat saya untuk tetap bersemangat dalam menjalani hari-hari yang membosankan. Dia mengajari saya bahwa apabila seseorang sedang menginginkan sesuatu, maka dia harus berusaha mewujudkan keinginan tersebut dengan sepenuh hati. Dia juga mengajari kepada saya bahwa dalam keadaan putus asa seperti apapun, kita harus memastikan bahwa kita sedang melakukan sesuatu.
Saya mengucapkan terimakasih kepada mereka, jasa mereka akan selalu saya kenang, pribadi mereka tidak akan saya lupakan. Semoga Tuhan memberkati mereka... God bless my Compadre, God bless everyone...
Namun ternyata hati saya menghendaki lain, saya tidak bisa memperoleh kebahagiaan dengan cara tidak melakukan apa-apa, menganggur bengong, membiarkan lamunan melayang jauh, atau sekedar bersenang-senang menghabiskan uang. Kenyataanya saya hanya bisa merasa bahagia ketika saya mengetahui bahwa saya memperoleh pengalaman dan pelajaran baru setiap harinya. Saya tidak tahan dengan keadaan yang sama atau kondisi status quo, yang megharuskan saya bertindak dan berpikir dengan cara yang sama terus menerus.
Pola berpikir macam itu mengharuskan saya untuk menemukan pribadi-pribadi yang cocok, agar saya merasa berbahagia selaku mahluk sosial. Dan Puji Tuhan saya telah dipertemukan dengan Winto, Pak Rianto dan Eng. Pada mulanya saya hanya merasa cocok berteman dengan mereka, namun dalam berbagai kesempatan mereka telah menjadi guru kehidupan bagi saya.
Secara teknis mereka tidak mengajarkan kepada saya banyak hal, namun secara mental, kehadiran pribadi mereka telah sangat banyak mempengaruhi kehidupan saya. Mungkin mereka tidak pernah merasa melakukan hal positif untuk saya, namun kenyataannya mereka telah mempengaruhi cara saya dalam berpikir dan bertindak sehingga saya dapat merasakan suatu kemajuan di dalam perikehidupan saya. Untuk itu mereka telah saya anggap sebagai guru… guru kehidupan yang sangat saya hormati. Tanpa adanya mereka, sudah tidak mungkin saya menjadi seperti yang sekarang ini. Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya adalah orang baik, namun saya merasa bahwa saya adalah orang yang jauh lebih baik dari pada diri saya yang dulu, sebelum bertemu dengan mereka.
.
Winto : Seorang sahabat yang telah menjadi saudara, mengajarkan ketertiban, ketelatenan, dan kemauan kuat. Telah sabar mendengarkan celotehan saya, menjadi tempat sampah bagi sampah-sampah emosi yang ada dalam hati saya. Telah menjadi seorang teman setia dalam suka maupun duka. Telah banyak memberikan dukungan-dukungan moril bagi saya dalam menghadapi suatu keputus-asaan yang merusak jiwa.
Pak Rianto : Seorang Bapak yang berpengalaman bagi jiwa saya yang rewel, yang sering sekali membutuhkan petunjuk-petunjuk untuk menemukan jati diri saya. Dia telah banyak memberikan waktunya untuk sekedar menasihati saya dan menemani saya dalam keadaan bimbang. Pengalaman-pengalaman hidupnya telah menjadikan suatu inspirasi positif buat saya, dan telah banyak menyebabkan malu bagi diri saya sendiri yang mudah sekali menyerah.
Eng : Seorang sahabat muda yang telah banyak memberikan pelajaran kepada saya. Perilakunya menjadi contoh bagi saya untuk membuat saya untuk tetap bersemangat dalam menjalani hari-hari yang membosankan. Dia mengajari saya bahwa apabila seseorang sedang menginginkan sesuatu, maka dia harus berusaha mewujudkan keinginan tersebut dengan sepenuh hati. Dia juga mengajari kepada saya bahwa dalam keadaan putus asa seperti apapun, kita harus memastikan bahwa kita sedang melakukan sesuatu.
Saya mengucapkan terimakasih kepada mereka, jasa mereka akan selalu saya kenang, pribadi mereka tidak akan saya lupakan. Semoga Tuhan memberkati mereka... God bless my Compadre, God bless everyone...
Sabtu, 28 Februari 2009
Saya adalah warga negara Indonesia, hahaha...!
Saya mencintai negara saya dan saya bangga dengan orang-orangnya. Sedari dahulu kami adalah bangsa yang sangat kuat, kerajaan-kerajaan kami adalah kerajaan seribu tahun yang tidak tertandingi. Kata orang, pelaut-pelaut kami adalah pelaut pemberani, mereka menjelajahi laut-laut yang tidak tertera dalam peta, hingga menuju Amerika, bahkan berkeliling dunia. Kebudayaan kami menjalar luas mempengaruhi kebudayaan-kebudayaan bangsa lain. Hahaha… (membusungkan dada, menyombongkan diri)
Saya bangga dengan Nusantara, Jamrud katulistiwa. Tanah yang subur dan rakyat yang makmur. Buah-buahan kami adalah buah-buahan terbaik di seluruh dunia. Kiwi paling wangi, Apel terbaik sedunia, Durian termanis di Asia Tenggara, dan Beras terbaik di pasaran dunia. Ini mengindikasikan bahwa tanah kami adalah tanah tersubur di dunia… benar sekali kata orang-orang, “Gemah Ripah Loh Jinawe”. Hahaha… (bertolak pinggang, menyombongkan diri)
Saya bangga dengan negara saya, si Macan Asia. Pembangunan pesat luar biasa, kemakmuran merajalela. Industri berkembang pesat, perambahan hutan dilakukan secara terpadu, memperhatikan keseimbangan alam dan kebutuhan manusia. Tidak ada orang miskin dan anak terlantar yang lepas dari perhatian negara. Tidak ada yang namanya pengangguran. Hahaha… (mengangkat muka, menyombongkan diri)
Saya bangga dengan negara saya. Kami memiliki ideologi pancasila, semua orang yang duduk di pemerintahan sangat faham dengan ini semua. Pemahaman akan nilai-nilai Pancasila ditanamkan kepada kami sejak kami kecil dulu. Semuanya mematuhi dan menghormati Pancasila. Alhasil kemanusiaan yang adil dan beradab terwujud dan keadilan sosial tercapai. Tingkat korupsi nol dan birokrasi kami sangat dikenal dunia terkenal bagus dan bersih. Whua... hahaha… (tertawa licik, menyombongkan diri)
Perhatian!!! Kadang-kadang kalau saya kurang tidur, otak saya suka kendor, sehingga saya suka meracau sendiri. Tidak semua dari apa yang saya katakan benar, bahkan banyak tidak benarnya. Jika saya mengantuk, tetapi tidak bisa tidur… maka saya bisa sangat terkesan menjadi Chau dan Ironis. Sebagai contohnya, anda tahu sendiri kan buah apel mana yang memiliki kulitas terbaik di dunia? Jamrud katulistiwa….? Hehehe… (garuk-garuk kepala, tersipu malu)
Saya bangga dengan Nusantara, Jamrud katulistiwa. Tanah yang subur dan rakyat yang makmur. Buah-buahan kami adalah buah-buahan terbaik di seluruh dunia. Kiwi paling wangi, Apel terbaik sedunia, Durian termanis di Asia Tenggara, dan Beras terbaik di pasaran dunia. Ini mengindikasikan bahwa tanah kami adalah tanah tersubur di dunia… benar sekali kata orang-orang, “Gemah Ripah Loh Jinawe”. Hahaha… (bertolak pinggang, menyombongkan diri)
Saya bangga dengan negara saya, si Macan Asia. Pembangunan pesat luar biasa, kemakmuran merajalela. Industri berkembang pesat, perambahan hutan dilakukan secara terpadu, memperhatikan keseimbangan alam dan kebutuhan manusia. Tidak ada orang miskin dan anak terlantar yang lepas dari perhatian negara. Tidak ada yang namanya pengangguran. Hahaha… (mengangkat muka, menyombongkan diri)
Saya bangga dengan negara saya. Kami memiliki ideologi pancasila, semua orang yang duduk di pemerintahan sangat faham dengan ini semua. Pemahaman akan nilai-nilai Pancasila ditanamkan kepada kami sejak kami kecil dulu. Semuanya mematuhi dan menghormati Pancasila. Alhasil kemanusiaan yang adil dan beradab terwujud dan keadilan sosial tercapai. Tingkat korupsi nol dan birokrasi kami sangat dikenal dunia terkenal bagus dan bersih. Whua... hahaha… (tertawa licik, menyombongkan diri)
Perhatian!!! Kadang-kadang kalau saya kurang tidur, otak saya suka kendor, sehingga saya suka meracau sendiri. Tidak semua dari apa yang saya katakan benar, bahkan banyak tidak benarnya. Jika saya mengantuk, tetapi tidak bisa tidur… maka saya bisa sangat terkesan menjadi Chau dan Ironis. Sebagai contohnya, anda tahu sendiri kan buah apel mana yang memiliki kulitas terbaik di dunia? Jamrud katulistiwa….? Hehehe… (garuk-garuk kepala, tersipu malu)
Langganan:
Postingan (Atom)