Beberapa tahun yang lalu seorang teman mengatakan kepada saya “jika engkau bertemu dengan orang asing, jangan pernah kau ceritakan tentang keburukan yang ada pada kita orang Indonesia”. Ya beberapa tahun yang lalu saya setuju dengan teman itu, namun saya mulai merasa bahwa tidak ada gunanya jika keburukan itu ditutup-tutupi… tidak akan membawa perubahan dan tidak akan membawa kita kemana-mana. Nah daripada ditutup-tutupi, mendingan saya tuliskan saja semuanya di sini, agar semua orang Indonesia tahu tentang sesuatu yang tidak baik yang ada pada mereka dalam pandangan saudara sebangsa mereka sendiri. Bahkan saya akan senang jika ada orang asing yang membaca ini, walaupun saya akan sangat merasa malu, tapi itu lebih melegakan daripada saya harus menyimpan kebodohan itu semua di dalam kepala saya.
Berikut adalah daftar kebodohan orang-orang Indonesia, utamanya orang-orang Jawa dalam pandangan pribadi saya. (kebodohan itu juga terjadi pada diri saya, yang setiap hari saya berusaha bergelut mengalahkannya).
Berkendara sangat pelan dan egois : dahulu kala akan banyak yang menyalahkan saya apabila saya memberikan statement bahwa orang Indonesia senang sekali membuang waktu mereka dengan berkendara pelan di jalan. Mereka akan dengan senang hati akan mengatakan “bukan mereka yang terlalu pelan… tapi kamu yang ngawur dan ugal-ugalan”. Namun sekarang saya memiliki banyak teman yang memiliki sudut pandang yang sama dengan saya, malah seorang teman Amerika menambahkan bahwa orang-orang Indonesia, kebanyakan dari mereka berkendara dengan sangat egois. Kata seorang teman Amerika itu orang Indonesia dapat berkendara dengan sangat pelan, membuat jalan menjadi sangat macet tanpa merasa bersalah. Seorang teman berkebangsaan India yang lain berkata bahwa kebanyakan orang Indonesia tidak banyak memiliki energi untuk melakukan banyak hal, sehingga mereka beraktifitas dengan sangat lamban.
Seperti api yang akan membesar jika tertiup angin, orang kami juga dapat berperilaku demikian. Ironi sekali bahwa jika mereka “tertiup angin” maka mereka akan memutar atau menekan gas penuh dan mengendarai kendaraan seperti orang gila kesetanan dengan membahayakan nyawa orang lain.
Kotor : kebanyakan dari orang-orang Indonesia kurang menjaga kebersihan, baik itu kebersihan badan, kebersihan rumah, juga kebersihan lingkungan. Jarang sekali ditemui tempat sampah lebih dari satu di rumah-rumah orang Indonesia. Kami memiliki tempat mandi, dapur, kamar dan ruangan-ruangan lain yang kotor yang jarang sekali kami bersihkan.
Malas : orang-orang Indonesia Pribhumi (Irlander, penjajah Belanda menamakan kami seperti itu) memiliki kebiasaan melakukan segala sesuatu dengan sangat pelan dan tidak efisien. Daripada memikirkan masalah pribadi kami masing-masing dan bertindak membuat perubahan, kami justru lebih senang nongkrong di pinggir jalan atau berkumpul di rumah seseorang untuk sekadar merumpi/ membicarakan sesuatu untuk sekedar “membicarakannya”, jarang sekali kami bertindak setelah pembicaraan itu berakhir.
Memiliki mood yang ekstrim : ini adalah ironi yang kami miliki, utamanya menjangkiti pemuda kami. Ketika pemuda kami mendapatkan motivasi tertentu untuk berbuat sesuatu tertentu… maka seolah-olah mereka itu meledak dengan semangat baru itu, menabrak-nabrak aturan dan norma-norma sudah ada. Namun jika tidak terus di motivasi, maka tidak sampai hitungan minggu semangat itu akan hilang sama sekali, entah kemana larinya tenaga menggebu-gebu itu. Akan tetapi penyakit ini tidak melulu menjangkiti kaum muda, beberapa orang yang sudah berumur yang saya kenal (termasuk orang tua saya sendiri), mereka memiliki kecenderungan memiliki mood yang sama parah dengan pemuda kami. Suatu ketika ada seorang pemuda yang pulang dari pengajian dengan membawa idealisme baru yang menggebu-gebu, cara dia bertindak dan berkata-kata terkesan sama sekali jauh berbeda dengan dia yang dulu sebelum mendatangi pengajian itu… betul-betul ekstrim. Namun setelah tiga hari kesan itu mulai meluntur dan pada akhirnya pada hari kelima perilaku serta tindakannya kembali sama sekali seperti dia sebelum datang ke pengajian itu. Idealisme yang aneh dan rapuh.
Sangat buruk dalam memperlakukan perkakas : kebanyakan kami tidak terlalu memperdulikan perkakas untuk mempermudahkan hidup kami. Mungkin nenek moyang kami sudah seperti itu, coba tengok ke pinggiran kota (tidak perlu masuk sampai ke pedalaman, karena penilaian tidak menjadi objektif karena di pedalaman perdagangan belum maju). Di pinggiran kota di mana kebanyakan penduduknya merupakan pengungsi dari pedalaman (yang masih lugu dan berpikir dengan pikiran yang tidak jauh berbeda dengan nenek moyang kami), anda bisa lihat rumahnya begitu amburadul, dan terkesan aneh. Peralatan entertainment mahal dan kebutuhan tersier seperti HD-DVD player, Home theater surround system, Play Station, ponsel semi PDA, MP3 portable dan lain-lain akan ditemukan dengan sangat mudah di beberapa rumah yang agak menengah. Namun mereka tidak memiliki tempat sampah lebih, alat kebersihan yang memadai, vacuum cleaner, pancuran air mandi, microwave, peralatan dapur yang memadai, dan alat kebutuhan lain sehari-hari yang penting. Ini menunjukan bahwa kami masih memperlakukan diri kami dengan cara yang masih primitif, sementara peralatan entertainment mahal tadi menunjukan betapa kami sangat haus dengan hiburan… karena kami sering gagal merencanakan jadwal kesibukan untuk mengisi hari-hari kami yang tidak sibuk dan remeh temeh.
Menempatkan ego pada posisi yang tidak wajar 1 : kebanyakan dari senior kami akan bertindak sedingin-dinginnya kepada junior mereka. Dengan demikian junior akan merasa takut dan selalu merasakan misteri terpendam terhadap senior mereka… dan senior itu mendapat penghormatan dari junior mereka. Menurut saya ini memang realitas yang aneh, paradigma yang aneh, daripada bertindak dingin seperti itu seharusnya sang senior bisa belajar banyak hal terus menerus kemudian memberikan pengalamannya itu kepada juniornya tersebut. Saya pikir hal itu akan lebih mendatangkan sikap hormat dari junior kepada seniornya tersebut. Bersikap dingin seperti itu juga membuat bangsa kami semakin bodoh dari hari kehari, karena minimnya transfer pengetahuan dari senior ke junior.
Menempatkan ego pada posisi yang tidak wajar 2 : ciri khas kami, salah satu yang dapat dipakai untuk menandai bahwa kami adalah orang Indonesia asli, adalah kami saling unjuk wibawa (jaim: jaga Image) diantara kami sendiri dengan bersikap tertentu. Orang kami yang berasal dari kalangan militer, polisi atau pegawai pemerintah yang lain bersikap sok dengan berjalan atau duduk dalam posisi tertentu yang justru membuat mereka terkesan angkuh. Beberapa dari kami yang berasal dari masyarakat biasa menjaga wibawa mereka sesuai dengan tempat dan kesukuan darimana mereka dibesarkan, bentuknya bisa sangat berlainan, namun sama-sama angkuh dan… tidak peduli.
Beberapa saat yang lalu saya berniat menabung di sebuah bank pemerintah. Dalam sebuah antrian, saya berdiri di belakang dua orang kecil mungil berseragam militer. Antrian itu sudah maju dan terdapat ruang kosong diantara pengantri depan dengan dua orang tentara itu, namun mereka sibuk mengobrol dan ketawa ketiwi. Dengan lembut saya mencoba mengatakan kepada mereka untuk maju sedikit karena beberapa orang juga butuh mengantri. Dua orang tidak maju tanpa memandang saya dengan sangat pedas. Sempat terlintas dikepala saya untuk membanting dua orang tentara mungil itu ke lantai.
Dahulu saya pernah mengalami kelaparan yang begitu hebat ketika saya sedang berkendara. Saya minggir untuk kemudian berniat membeli masakan vegetarian di sebuah warung. Di dalam warung itu ada seseorang yang usianya lebih tua daripada saya yang sedang duduk di bangku sementara kakinya selonjor menghalangi jalan saya. Dia tahu persis bahwa sedang berjalan untuk mendapatkan duduk di bangku sebelahnya (orang ini duduk di ujung bangku sehingga saya harus melewatinya), namun orang tersebut tidak tergerak untuk menarik kakinya yang menghalangi jalan saya. Karena saya sudah begitu jengkel, maka saya langkahi saja kakinya tanpa mengatakan permisi. Sebenarnya dia minta dihormati, dia ingin saya memohon permisi, nyatanya saya tidak melakukannya, dan nyatanya lagi dia tidak berani menegur saya karena badan saya lebih besar daripada dia.
Orang-orang kami menjaga kehormatan dengan cara yang aneh.
Sikap membebek yang keterlaluan : orang-orang kami adalah manusia oportunis yang senantiasa kecanduan dengan hegemoni yang berlaku. Umum di dengar bahwa dalam suatu kampung tertentu jika seseorang berhasil dalam suatu pekerjaan, maka tetangganya akan membebek melakukan pekerjaan yang sama dan bersaing tanpa mengenal malu. Saya memiliki usaha Play Station yang biasanya menjadi pionir di beberapa tempat, dan selalu ramai. Beberapa saat kemudian selalu ada saja diantara tetangga yang ikut-ikutan menjalankan usaha yang sama, mengekor dan menempel dan senantiasa bersiap berkonflik.
Gengsi dalam sekala yang “aneh” : jika anda pergi ke suatu kampung, baik di kota maupun di desa anda akan melihat fenomena gengsi gedhe-gedhean. Anda akan menyaksikan orang-orang berlomba menghias depan rumah mereka supaya terkesan mentereng kalau dilihat dari jalan, namun jika anda berkesempatan masuk jauh lebih dalam… maka rumah itu akan semakin kebelakang akan semakin melompong. Itu adalah kekuatan unjuk gengsi yang luar biasa gila. Hal itu juga dapat di temui dalam bentuk unjuk motor, ponsel atau unjuk pakaian.
Menjunjung tinggi kehormatan diri yang aneh : kebanyakan dari orang kami akan sangat malu dan kalap jika mereka di fitnah melakukan sesuatu yang tidak mereka lakukan. Jika sudah seperti ini mereka dapat melakukan apa saja (saya menganjurkan agar orang seperti ini jangan di dekati). Namun ironinya, sebagian besar dari mereka tidak akan malu melanggar antrian orang, atau mengambil hak orang lain.
Saya memiliki seorang teman yang memiliki harga diri yang aneh sekali. Jika menyangkut agama yang dia yakini (dia adalah seorang pemeluk agama yang payah) dia akan menunjukan raut muka konyol jika agama yang dia peluk ditempatkan pada pembicaraan yang tidak sepatutnya sesuai dengan sudut pandang kebenaran yang dia miliki. Namun dia tidak merasa malu jika dia mendapatkan bayaran dari usahanya menggandakan video cabul.
Kurang memiliki rasa bersalah : setiap orang tahu bahwa Indonesia adalah suatu negara dengan angka korupsi yang “fenomenal”. Seorang teman dari Australia mengatakan bahwa memang Indonesia masuk dalam daftar yang dicurigai bagi para pendonor dana dari negara asing yang ingin memberikan dananya untuk kemajuan rakyat Indonesia. Saya tidak berpikir bahwa budaya korupsi adalah produk pemerintahan orde baru yang dipimpin oleh presiden Soeharto, saya cenderung berpikir bahwa memang korupsi adalah budaya asli masyarakat Indonesia, korupsi memang sudah menjadi perwatakan orang Indonesia.
Ketika dulu masih di taman kanak-kanak, dalam sebuah acara tertentu yang diadakan oleh sekolah TK tersebut, kami bersukaria mendatangi acara tersebut dengan didampingi oleh ibu-ibu kami. Seorang guru membawa satu tas plastik yang berisi kue tradisional, beliau mengatakan bahwa setiap anak hanya boleh mengambil satu, tidak lebih. Namun ada orang tua yang membisikan pada anaknya untuk mengambil kue lebih dari satu dengan alasan ada beberapa anak tetangganya yang tidak datang pada acara tersebut karena sakit, nah kue yang seharusnya menjadi hak anak yang sakit itu boleh dimiliki.
Beberapa tahun yang lalu saya membantu sebuah Vihara membagi-bagikan kebutuhan pokok kepada para petani dan penduduk sekitar yang membutuhkan. Dalam kegiatan itu panitia telah memberikan kupon kepada orang-orang yang membutuhkan, namun pada saat acara pembagian berlangsung, saya menjadi saksi bahwa beberapa kupon telah digandakan oleh banyak orang sehingga membingungkan kami para panitia, kami tidak dapat membedakan mana kupon yang asli dan mana kupon yang palsu. Selain itu ada beberapa orang yang kelihatan dari baju dan kacamata yang dia pakai menunjukan bahwa dia adalah seorang yang mampu… tapi sedikitpun dia tidak merasa bersalah ketika tangannya mengulurkan kupon kepada panitia.
Bukankah ini sikap-sikap yang membenihkan korupsi?
Membuang-buang waktu : orang-orang di kampung saya gemar sekali membuang-buang waktu mereka dangan hal-hal yang remeh temeh seperti mengobrol hal tidak penting sepanjang waktu. Tergantung dengan tebalnya kantong yang mereka miliki… ada yang mengobrol di pinggir jalan, di rumah, di warung, di restoran, di club house atau di tempat golf… intinya ngobrol ngalor and ngidul.
Tidak tepat waktu dan tidak tepat janji : saya dengar bahwa orang asing seringkali jengkel dengan kebiasaan jam karet orang-orang Indonesia. Sebagian memang sungguh payah orang-orang kami ini, tidak jarang dalam sebuah kesepakatan mereka molor hingga satu hari lamanya atau malahan tidak datang tanpa pemberitahuan.
Pendidik yang buruk : banyak sekali orang tua yang terlalu banyak omong dengan memberikan aturan kepada anak-anak mereka tentang apasaja yang boleh mereka lakukan dan yang tidak boleh mereka lakukan. Ironisnya lagi kebanyakan dari orang tua itu malah menjadi pelanggar berat dari aturan yang mereka buat sendiri.
Contoh paling parah yang sering terjadi di Indonesia adalah perintah orang tua kepada anak untuk tidak merokok, sementara bibir orang tua itu sedang menggapit sebatang rokok yang berasap ketika mereka sedang memberikan perintah tersebut.
Boros : mungkin karena kebiasaan gengsi gedhe-gedhean yang kami miliki itulah, maka setiap orang berusaha untuk mencoba untuk tampil sebaik mungkin dengan memakai baju yang mahal-mahal. Saya masih ingat ketika saya dulu bekerja sebagai buruh industri, beberapa orang teman saya yang sama-sama digaji rendah… mereka dapat membeli sepasang sepatu boot cowboy seharga satu bulan gajinya. Dia membeli itu sebagai persiapan kencan dengan pacarnya malam minggu.
Tidak mengenal pembelajaran : hal inilah yang paling memprihatinkan dengan kami. Kami hampir tidak mengenal pembelajaran karena kami lebih tertarik menjalani hidup dengan cara yang “lumrah” menurut pola berpikir kami sendiri. Kami tidak mampu atau mungkin tidak mau mengenali disiplin orang lain yang mungkin dapat kami tiru untuk memajukan perikehidupan kami. Bahkan mahasiswa kami yang kelihatan panas dan agresif menuntut “kebenaran dan pengetahuan” sewaktu mereka berkuliah… semangat mereka menjadi lekang seiring dengan urusan mereka dengan bangku kuliah selesai. Kebanyakan dari mereka cenderung berpikir dengan pemahaman yang lebih sederhana yaitu bekerja mencari uang sebanyak-banyaknya kemudian membangun keluarga. Idealisme mereka tertinggal di belakang.
Kebanyakan dari kami lebih memilih kehidupan dengan menjalani apa yang ada. Jadi daripada menaruh suatu cita-cita tertentu dan menekuninya, kami lebih suka mengambil peluang pekerjaan yang tidak rumit dan tidak memerlukan memeras otak serta tidak mengandung resiko yang tinggi. Kami lebih senang menganggur berjalan kesana kemari untuk melihat-lihat. Itulah mengapa kita dapat menemui orang-orang berjalan tidak tentu arah hanya sekedar ”berjalan-jalan”. Beberapa teman barat membicarakan hal ini dengan nada yang miring.
Pemuda kami juga demikian… dari pada meluangkan waktu mereka untuk membaca buku atau menonton film dokumenter atau bertemu dengan orang yang berpotensi menambah pengetahuan mereka… mereka malah lebih senang gentayangan pergi kesana kemari menghabiskan uang bersama pasangan mereka masing-masing. Atau duduk diam menghabiskan waktu berjam-jam menonton televisi, membaca komik, menonton opera sabun atau menonton film vulgar.
Pejuang yang payah : “jangan terlalu banyak mempekerjakan orang Jawa, mereka ini pemalas yang rapuh, tidak mampu bekerja keras dan mudah memberontak” kata seorang pemilik perusahaan di tanah transmigrasi kepada managernya. Memang dalam banyak hal kami berharap bahwa kami dapat bekerja dengan sesedikit mungkin tenaga. Ada sebuah pepatah bahwa orang kami akan berhenti bekerja sebelum keringat menetes namun kami baru akan berhenti makan setelah keringat menetes.
Payah...payah dan payah....
Tampilkan postingan dengan label Pendapat orang ndeso. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendapat orang ndeso. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Agustus 2009
Manusia mesin
Manusia cenderung mengikuti apa yang menjadi kebiasaan yang mereka warisi dari orang-orang sebelum mereka daripada berpikir untuk melakukan segala sesuatu yang harus mereka lakukan secara proporsional. Orang-orang Amerika cenderung memboroskan perkakas jauh lebih banyak daripada yang mereka butuhkan, sementara beberapa orang Indonesia (dikampung saya) sangat keterlaluan iritnya dalam menggunakan perkakas… sehingga tampak sekali rumahnya melompong.
Orang-orang India sangat khas dalam mengangguk-anggukan kepalanya. Jika orang Indonesia menganggukan kepalanya kedepan sebagai tanda persetujuan, maka orang India cenderung ditambah agak sedikit miring kesamping.
Beberapa orang yang saya kenal sangat keterlaluan dalam menjaga kebersihan dengan mengkonsumsi sedemikian banyak jenis produk pembersih badan maupun lingkungan… sampai-sampai saya khawatir dengan kesehatannya karena kemungkinan efek samping negatif dari produk pembersih yang mereka pakai. Sabun, deterjen, cologne, pelembab, lotion, parfum, obat anti parasit, obat anti larva, insektisida dll. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekadar membersihkan badan dan lingkungan, setiap hari. Di lain pihak ada beberapa orang yang saya kenal yang saking joroknya, saya menjaga jarak ketika dia sedang berbicara.
Orang-orang di Malang (tidak tahu di tempat lain) memiliki kebiasaan konyol yang cenderung mendekati bunuh diri. Ketika mengendarai kendaraan untuk keluar dari gang, memasuki jalan yang lebih besar, mereka cenderung nyelonong begitu saja, tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Pernah suatu ketika saya melihat orang terlindas karena bertindak sembrono seperti itu.
Saya punya seorang teman yang semua anggota keluarganya membuang sampah apapun ke kali di depan rumahnya.
Saya kenal dengan banyak orang yang memiliki ciri khas konyol bagi saya yaitu : penggemar Dangdut yang tidak bisa menikmati Pop, penggemar Campur Sari yang tidak bisa menikmati Classic, penggemar Jazz yang tidak bisa menikmati Dig-dug Disco, penggemar Arabic Music yang tidak bisa menikmati Banyuwangian dll.
Fighter-fighter Indonesia kebanyakan… tetap memelihara tradisi seni beladiri memukul, padahal telah sangat terbukti di seluruh dunia… dan mereka mengetahui bahwa untuk memenangkan perkelahian sungguhan fighter harus memiting, mengunci dan membanting… daripada menjotos.
Yah yang namanya otak manusia… mungkin seperti komputer… sangat tergantung dengan software yang di dalamnya. Seberapapun canggih komputer itu dan seberapapun kerasnya user ingin memanfaatkannya untuk tujuan tertentu, jika software sudah tidak mendukung… ya sia-sia usahanya
Orang-orang India sangat khas dalam mengangguk-anggukan kepalanya. Jika orang Indonesia menganggukan kepalanya kedepan sebagai tanda persetujuan, maka orang India cenderung ditambah agak sedikit miring kesamping.
Beberapa orang yang saya kenal sangat keterlaluan dalam menjaga kebersihan dengan mengkonsumsi sedemikian banyak jenis produk pembersih badan maupun lingkungan… sampai-sampai saya khawatir dengan kesehatannya karena kemungkinan efek samping negatif dari produk pembersih yang mereka pakai. Sabun, deterjen, cologne, pelembab, lotion, parfum, obat anti parasit, obat anti larva, insektisida dll. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekadar membersihkan badan dan lingkungan, setiap hari. Di lain pihak ada beberapa orang yang saya kenal yang saking joroknya, saya menjaga jarak ketika dia sedang berbicara.
Orang-orang di Malang (tidak tahu di tempat lain) memiliki kebiasaan konyol yang cenderung mendekati bunuh diri. Ketika mengendarai kendaraan untuk keluar dari gang, memasuki jalan yang lebih besar, mereka cenderung nyelonong begitu saja, tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Pernah suatu ketika saya melihat orang terlindas karena bertindak sembrono seperti itu.
Saya punya seorang teman yang semua anggota keluarganya membuang sampah apapun ke kali di depan rumahnya.
Saya kenal dengan banyak orang yang memiliki ciri khas konyol bagi saya yaitu : penggemar Dangdut yang tidak bisa menikmati Pop, penggemar Campur Sari yang tidak bisa menikmati Classic, penggemar Jazz yang tidak bisa menikmati Dig-dug Disco, penggemar Arabic Music yang tidak bisa menikmati Banyuwangian dll.
Fighter-fighter Indonesia kebanyakan… tetap memelihara tradisi seni beladiri memukul, padahal telah sangat terbukti di seluruh dunia… dan mereka mengetahui bahwa untuk memenangkan perkelahian sungguhan fighter harus memiting, mengunci dan membanting… daripada menjotos.
Yah yang namanya otak manusia… mungkin seperti komputer… sangat tergantung dengan software yang di dalamnya. Seberapapun canggih komputer itu dan seberapapun kerasnya user ingin memanfaatkannya untuk tujuan tertentu, jika software sudah tidak mendukung… ya sia-sia usahanya
Ki, Chi, Kanuragan? bicara yang lain sajalah...
Kita pernah melihat di film-film tentang aksi-aksi beladiri yang dilakukan oleh ahli beladiri Kungfu. Mereka dapat meloncat kesana kemari seperti kera, mereka juga memiliki tendangan sekuat tendangan kuda, siapapun yang terkena tendangan seperti itu mereka akan terpental jauh hingga beberapa meter. Tidak hanya di film saja, beberapa orang mengatakan bahwa mereka telah menyaksikan sendiri bahwa memang ada beberapa orang yang dapat melakukan hal-hal luar biasa tersebut.
Menurut kebanyakan orang, para master Kungfu itu dapat melakukan hal-hal yang luar biasa karena mereka telah membangun suatu tenaga dahsyat yang mereka lakukan dengan penuh ketelatenan selama bertahun-tahun, dan tenaga itu disebut dengan Chi dalam bahasa China, dan Ki dalam bahasa Jepang. Dikatakan orang yang menguasai Chi, maka mereka dapat bertahan dari pukulan, atau sabetan benda tajam atau dapat melipat gandakan kerusakan pada pukulan mereka.
Bagi saya seorang pebeladiri tulen (versi saya : yaitu seorang yang senang sekali dengan kegiatan, teknik, konsep atau filosofi tentang pembelaan diri), maka saya mengatakan bahwa saya kurang bisa tertarik dengan hal-hal semacam Ki ataupun Chi. Sebagai orang yang terlahir di keluarga Jawa Madura… hal-hal yang berhubungan dengan kekebalan atau pelipat gandaan pukulan adalah hal yang lumrah. Kita tidak perlu membangun Ki atau Chi selama bertahun-tahun hanya agar kita kebal dari senjata tajam, kita hanya perlu merogoh kocek sebesar beberapa ratus ribu dan seseorang yang berkompeten akan membuat kita kebal.
Saya lebih suka mengatakan bahwa semua itu adalah bullshit, baik Chi, Ki ataupun Kanuragan. China ditaklukan oleh Inggris, Jepang oleh Amerika dan Indonesia ditaklukan oleh Belanda. Tidak ada yang dapat bertahan dari senjata api ataupun meriam, sesakti apapun mereka, saya tidak sedang meracau, ini adalah fakta.
Dunia punya Afrika, India dan Amerika yang menurut berita penduduk aslinya adalah orang-orang sakti, setidaknya klenis… namun mereka semua ditaklukan oleh militer Inggris. Jadi Chi, Ki atau Kanuragan untuk beladiri adalah konyol.
Menurut kebanyakan orang, para master Kungfu itu dapat melakukan hal-hal yang luar biasa karena mereka telah membangun suatu tenaga dahsyat yang mereka lakukan dengan penuh ketelatenan selama bertahun-tahun, dan tenaga itu disebut dengan Chi dalam bahasa China, dan Ki dalam bahasa Jepang. Dikatakan orang yang menguasai Chi, maka mereka dapat bertahan dari pukulan, atau sabetan benda tajam atau dapat melipat gandakan kerusakan pada pukulan mereka.
Bagi saya seorang pebeladiri tulen (versi saya : yaitu seorang yang senang sekali dengan kegiatan, teknik, konsep atau filosofi tentang pembelaan diri), maka saya mengatakan bahwa saya kurang bisa tertarik dengan hal-hal semacam Ki ataupun Chi. Sebagai orang yang terlahir di keluarga Jawa Madura… hal-hal yang berhubungan dengan kekebalan atau pelipat gandaan pukulan adalah hal yang lumrah. Kita tidak perlu membangun Ki atau Chi selama bertahun-tahun hanya agar kita kebal dari senjata tajam, kita hanya perlu merogoh kocek sebesar beberapa ratus ribu dan seseorang yang berkompeten akan membuat kita kebal.
Saya lebih suka mengatakan bahwa semua itu adalah bullshit, baik Chi, Ki ataupun Kanuragan. China ditaklukan oleh Inggris, Jepang oleh Amerika dan Indonesia ditaklukan oleh Belanda. Tidak ada yang dapat bertahan dari senjata api ataupun meriam, sesakti apapun mereka, saya tidak sedang meracau, ini adalah fakta.
Dunia punya Afrika, India dan Amerika yang menurut berita penduduk aslinya adalah orang-orang sakti, setidaknya klenis… namun mereka semua ditaklukan oleh militer Inggris. Jadi Chi, Ki atau Kanuragan untuk beladiri adalah konyol.
Selalulah belajar dari orang lain
Meskipun kita selalu menjunjung tinggi adat istiadat serta kebiasaan yang berlaku dalam keluarga kita, namun ada baiknya jika kita juga melihat, serta menilik secara bijaksana adat istiadat atau gaya hidup atau pola berpikir orang lain. Hal itu sangat membuka peluang bagi kita untuk menemukan khasanah kebijaksanaan yang mungkin belum pernah kita temukan atau diajarkan oleh pendahulu kita.
Oleh karena itu diperlukan sekali bagi kita untuk saling bergaul dengan orang-orang yang berasal dari berbagai macam tradisi dengan suatu harapan mulia agar kita saling mengerti dan saling memahami. Mungkin ada saat-saat di mana kita harus menerima kenyataan bahwa kita harus belajar untuk merubah beberapa dari kebiasaan kita yang kita nilai tidak lagi manusiawi… setelah kita tahu ada kebiasaan lain yang lebih manusiawi.
Kita harus membuka mata bahwa adat-istiadat yang kita junjung tinggi tidak sepenuhnya mengakomodir semua keinginan kita untuk menjadi manusia yang beradab.
Bukalah pikiran kita terhadap perbedaan, dan biarkan perbedaan itu menambah kita lebih bijaksana.
Oleh karena itu diperlukan sekali bagi kita untuk saling bergaul dengan orang-orang yang berasal dari berbagai macam tradisi dengan suatu harapan mulia agar kita saling mengerti dan saling memahami. Mungkin ada saat-saat di mana kita harus menerima kenyataan bahwa kita harus belajar untuk merubah beberapa dari kebiasaan kita yang kita nilai tidak lagi manusiawi… setelah kita tahu ada kebiasaan lain yang lebih manusiawi.
Kita harus membuka mata bahwa adat-istiadat yang kita junjung tinggi tidak sepenuhnya mengakomodir semua keinginan kita untuk menjadi manusia yang beradab.
Bukalah pikiran kita terhadap perbedaan, dan biarkan perbedaan itu menambah kita lebih bijaksana.
It's the time for the world to unite as a human race
Burung selalu merasa nyaman jika dia berada di diantara kawanan yang sewarna dengan mereka. Ada dua jenis Kuda Zebra, yang bergaris lebar dan bergaris tipis, mereka akan selalu merasa nyaman jika mereka berada di tengah kawanan mereka. Aligator selalu bersama dengan aligator, buaya akan selalu bersama buaya dan kaiman akan selalu bersama dengan kaiman. Ayam katai selalu bersama dengan ayam katai dan ayam bangkok selalu bersama ayam bangkok.
Manusia juga memiliki kecenderungan yang sama, bahwa mereka lebih nyaman ketika mereka memilih bersama-sama dengan orang yang sama. Sebagian manusia cenderung berkumpul dengan mereka yang memiliki kesamaan latar belakang, kebiasaan, adat, budaya, suku, dan ras. Terkadang kesombongan mempengaruhi manusia-manusia ini, mereka suka membandingkan kelompok mereka dengan kelompok yang lain, membanggakan kelebihan kelompok mereka dan mencibir kekurangan kelompok yang lain.
Pada kasus yang lebih ekstrim lagi… Nazi telah tercatat sebagai kelompok manusia lalim yang menganggap diri mereka sebagai manusia unggul secara fisik dan mental, celakanya mereka memusnahkan manusia lain yang tidak sama dengan mereka. Selain Nazi, masih banyak kelompok lain yang memiliki faham “ras kami lebih baik daripada yang lain”, Interhamwe atau orang kulit putih Afrika selatan pada jaman Apartheid misalnya.
Merendahkan orang lain atas sesuatu yang tidak dapat mereka ubah adalah suatu hal yang sangat rendah. Dengan alasan apapun kita tidak boleh menilai rendah orang lain hanya karena mereka berbeda dengan kita, hal itu sangat menyakiti dan tidak manusiawi. Ya ya mungkin kita tidak merasa bahwa kita pernah merendahkan orang lain, namun kita harus selalu memperhatikan berulang-ulang sikap kita dan cara bicara kita. Mungkin kita harus memperhatikan dengan siapa kita bergaul, apakah hanya dengan yang itu-itu saja atau tidak. Mungkin kita harus memperhatikan apa yang kita bicarakan mengenai orang lain ketika kita tidak sedang bercanda.
Semangat kebersamaan harus selalu kita pertahankan. Semoga dengan demikian perdamaian selalu berada di tengah-tengah kita.
It's the time for the world to unite as a human race.
Manusia juga memiliki kecenderungan yang sama, bahwa mereka lebih nyaman ketika mereka memilih bersama-sama dengan orang yang sama. Sebagian manusia cenderung berkumpul dengan mereka yang memiliki kesamaan latar belakang, kebiasaan, adat, budaya, suku, dan ras. Terkadang kesombongan mempengaruhi manusia-manusia ini, mereka suka membandingkan kelompok mereka dengan kelompok yang lain, membanggakan kelebihan kelompok mereka dan mencibir kekurangan kelompok yang lain.
Pada kasus yang lebih ekstrim lagi… Nazi telah tercatat sebagai kelompok manusia lalim yang menganggap diri mereka sebagai manusia unggul secara fisik dan mental, celakanya mereka memusnahkan manusia lain yang tidak sama dengan mereka. Selain Nazi, masih banyak kelompok lain yang memiliki faham “ras kami lebih baik daripada yang lain”, Interhamwe atau orang kulit putih Afrika selatan pada jaman Apartheid misalnya.
Merendahkan orang lain atas sesuatu yang tidak dapat mereka ubah adalah suatu hal yang sangat rendah. Dengan alasan apapun kita tidak boleh menilai rendah orang lain hanya karena mereka berbeda dengan kita, hal itu sangat menyakiti dan tidak manusiawi. Ya ya mungkin kita tidak merasa bahwa kita pernah merendahkan orang lain, namun kita harus selalu memperhatikan berulang-ulang sikap kita dan cara bicara kita. Mungkin kita harus memperhatikan dengan siapa kita bergaul, apakah hanya dengan yang itu-itu saja atau tidak. Mungkin kita harus memperhatikan apa yang kita bicarakan mengenai orang lain ketika kita tidak sedang bercanda.
Semangat kebersamaan harus selalu kita pertahankan. Semoga dengan demikian perdamaian selalu berada di tengah-tengah kita.
It's the time for the world to unite as a human race.
Prejudice harus berakhir... segera!
Sedemikian banyak kebencian di sekitar kita yang dikarenakan oleh perbedaan tradisi, gaya hidup dan pola berpikir. Pribadi-pribadi dari berbagai macam kelompok yang ada di Indonesia, yang biasa disebut dengan suku, saling merendahkan dan saling bersalah paham. Mungkin di permukaan mereka kelihatan tenang-tenang saja, akan tetapi di dalam pikiran mereka masing-masing… mereka percaya dengan anggapan dari kelompok mereka sendiri yang menyatakan suku A seperti ini, sementara suku B seperti itu. Saya tidak ngawur, saya sudah cukup mendengar bahwa banyak orang bertutur negatif tentang suku lain.
Di Malang, di tempat saya, ada beberapa kelompok suku yang berlainan. Arab, Madura, Cina, Jawa Kulonan (orang Jawa bertutur bahasa halus), Jawa Wetanan (orang Jawa bertutur bahasa kasar)… dan beberapa suku yang lain, mereka saling menjunjung tinggi adat dan kebiasaan mereka masing-masing. Terdapat suatu racun yang amat sangat kuat yang seringkali membuat mereka tidak dapat saling bersahabat, dan racun itu bernama sinisme dan keturunannya.
Mengapa masing-masing saling sinis dengan orang lain yang tidak sama dengan mereka? karena mereka menilai positif dan negatif orang lain dari yang berbeda adat/ kebiasaan… dengan tolok ukur yang datangnya dari adat/ kebiasaan mereka sendiri. Sinisme melahirkan prejudice, melahirkan lagi kesalahpahaman, dan akhirnya melahirkan perasaan tidak mau bergaul atau tidak mau berurusan dengan orang lain yang dibenci tersebut.
Ini tidak boleh terjadi, kita harus berteman dengan siapa saja. Janganlah mudah untuk menilai orang lain secara serampangan. Jika kita terpaksa harus memutuskan menilai orang lain, berusahalah menilai secara objektif sesuai dengan pengalaman pribadi selama kita bergaul dengan orang yang akan kita nilai tersebut.
Semoga damai bersama kita
Di Malang, di tempat saya, ada beberapa kelompok suku yang berlainan. Arab, Madura, Cina, Jawa Kulonan (orang Jawa bertutur bahasa halus), Jawa Wetanan (orang Jawa bertutur bahasa kasar)… dan beberapa suku yang lain, mereka saling menjunjung tinggi adat dan kebiasaan mereka masing-masing. Terdapat suatu racun yang amat sangat kuat yang seringkali membuat mereka tidak dapat saling bersahabat, dan racun itu bernama sinisme dan keturunannya.
Mengapa masing-masing saling sinis dengan orang lain yang tidak sama dengan mereka? karena mereka menilai positif dan negatif orang lain dari yang berbeda adat/ kebiasaan… dengan tolok ukur yang datangnya dari adat/ kebiasaan mereka sendiri. Sinisme melahirkan prejudice, melahirkan lagi kesalahpahaman, dan akhirnya melahirkan perasaan tidak mau bergaul atau tidak mau berurusan dengan orang lain yang dibenci tersebut.
Ini tidak boleh terjadi, kita harus berteman dengan siapa saja. Janganlah mudah untuk menilai orang lain secara serampangan. Jika kita terpaksa harus memutuskan menilai orang lain, berusahalah menilai secara objektif sesuai dengan pengalaman pribadi selama kita bergaul dengan orang yang akan kita nilai tersebut.
Semoga damai bersama kita
Minggu, 10 Mei 2009
Aikido
Aikido adalah seni beladiri hobi, bukan dianggap sebagai metode beladiri. Tidak ada yang jelek dalam beladiri ini, malah sebaliknya beladiri ini dapat menyehatkan. Namun bagi yang berniat belajar beladiri dengan tujuan untuk mempertahankan diri... sebaiknya anda tidak belajar Aikido. Kita tidak dapat mempertahankan diri dengan teknik Aikido, kita tidak pernah diberi simulasi tentang perkelahian nyata dalam Aikido. Di dalam Aikido semua orang memukul, menendang, atau mencengkeram dalam sebuah tata cara lucu yang memungkinkan pebeladiri dapat memfungsikan teknik lucu mereka.
Bagi anda para Aikidoka yang menganggap anda sebagai pebela diri, bukalah pikiran anda... apakah teknik yang anda dapat dari beladiri Aikido dapat menyelamatkan anda? pernahkah anda mencoba teknik anda melawan orang lain yang memiliki teknik beladiri lain dalam suatu perkelahian coba-coba tapi serius?
Aikido bukan suatu metode membela diri.
Bagi anda para Aikidoka yang menganggap anda sebagai pebela diri, bukalah pikiran anda... apakah teknik yang anda dapat dari beladiri Aikido dapat menyelamatkan anda? pernahkah anda mencoba teknik anda melawan orang lain yang memiliki teknik beladiri lain dalam suatu perkelahian coba-coba tapi serius?
Aikido bukan suatu metode membela diri.
Rabu, 15 April 2009
Ketidakbebasan
Apakah makna kebebasan itu? Sungguhkah seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan abadi dengan merengkuh kebebasan? Saya pikir tidak. Ketika dulu saya masih menjadi seorang buruh industri, saya harus mengikuti jam kerja yang sangat mengikat. Kami para buruh diwajibkan mengikuti shift yang jadwalnya selalu berubah setiap dua hari sekali. Shift itu membuat jadwal kegiatan saya amburadul, saya kesulitan mengadakan janji dengan orang lain karena libur saya selalu digilir.
Pada waktu itu saya memimpikan suatu kondisi dimana saya bisa sepenuhnya terbebas dari semua omong kosong tentang jam kerja shift. Kebebasan di mana saya bisa pergi menemui teman-teman kapanpun saya suka, melakukan apapun yang saya suka, dan pergi menginap di rumah teman saya kapanpun saya suka. Mungkin ini terdengar aneh serta remeh, tapi bayangkan saja bahwa anda adalah seseorang yang sedang terjebak dalam sebuah pekerjaan yang tidak anda senangi, dan anda melakukan itu untuk bertahan hidup… sementara anda setengah percaya bahwa kebebasan itu bisa diraih, dan setengahnya lagi kebebasan hanya omong kosong. Bisakah anda merasakan perasaan itu?
Pada pertengahan Bulan Oktober 2008, akhirnya saya mendapatkan kebebasan yang saya impi-impikan itu. Itu adalah sebuah kemenangan besar bagi saya, dan saya tidak dapat menggambarkan kesenangan itu dengan kata-kata. Singkat kata saya begitu senang hingga saya menangis.
Pada saat saya mengetik ini… saya baru menyadari bahwa ini adalah pertengahan Bulan April 2009, sudah setengah tahun setelah saya keluar dari pabrik sialan itu. Namun perasaan bahagia yang saya rasakan pada Bulan Oktober tahun 2008 itu telah sama sekali hilang tidak berbekas. Saya mengisi hari-hari dengan kebosanan, dan untuk membuat saya tetap waras, maka saya menyibukan diri dengan berbagai kegiatan fisik. Saya merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi saya, dan setelah beberapa waktu saya merenung maka saya tidak lagi percaya dengan prinsip bahwa kebebasan dapat menjamin kebahagiaan seseorang.
Manusia membutuhkan pengakuan dari manusia orang lain, dia butuh diakui atau mengakui diri sendiri bahwa dia adalah mahluk yang berguna. Pada dasarnya manusia akan mengalami kebahagiaan yang mendalam ketika dia tahu bahwa dia telah berguna bagi orang lain. Sesungguhnya dia ingin melakukan sesuatu yang berbeda daripada seperti yang dilakukan oleh orang lain, dia ingin melakukan sesuatu yang membanggakan dan yang dapat dikenang oleh dirinya dan orang-orang terdekatnya sebagai kesuksesan yang nyata. Sebebas apapun jika dia tidak melakukan apapun yang bermakna dalam hidupnya, maka dia akan terus menerus dirundung perasaan gelisah, seperti halnya perasaan orang yang tidak bebas.
Pada waktu itu saya memimpikan suatu kondisi dimana saya bisa sepenuhnya terbebas dari semua omong kosong tentang jam kerja shift. Kebebasan di mana saya bisa pergi menemui teman-teman kapanpun saya suka, melakukan apapun yang saya suka, dan pergi menginap di rumah teman saya kapanpun saya suka. Mungkin ini terdengar aneh serta remeh, tapi bayangkan saja bahwa anda adalah seseorang yang sedang terjebak dalam sebuah pekerjaan yang tidak anda senangi, dan anda melakukan itu untuk bertahan hidup… sementara anda setengah percaya bahwa kebebasan itu bisa diraih, dan setengahnya lagi kebebasan hanya omong kosong. Bisakah anda merasakan perasaan itu?
Pada pertengahan Bulan Oktober 2008, akhirnya saya mendapatkan kebebasan yang saya impi-impikan itu. Itu adalah sebuah kemenangan besar bagi saya, dan saya tidak dapat menggambarkan kesenangan itu dengan kata-kata. Singkat kata saya begitu senang hingga saya menangis.
Pada saat saya mengetik ini… saya baru menyadari bahwa ini adalah pertengahan Bulan April 2009, sudah setengah tahun setelah saya keluar dari pabrik sialan itu. Namun perasaan bahagia yang saya rasakan pada Bulan Oktober tahun 2008 itu telah sama sekali hilang tidak berbekas. Saya mengisi hari-hari dengan kebosanan, dan untuk membuat saya tetap waras, maka saya menyibukan diri dengan berbagai kegiatan fisik. Saya merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi saya, dan setelah beberapa waktu saya merenung maka saya tidak lagi percaya dengan prinsip bahwa kebebasan dapat menjamin kebahagiaan seseorang.
Manusia membutuhkan pengakuan dari manusia orang lain, dia butuh diakui atau mengakui diri sendiri bahwa dia adalah mahluk yang berguna. Pada dasarnya manusia akan mengalami kebahagiaan yang mendalam ketika dia tahu bahwa dia telah berguna bagi orang lain. Sesungguhnya dia ingin melakukan sesuatu yang berbeda daripada seperti yang dilakukan oleh orang lain, dia ingin melakukan sesuatu yang membanggakan dan yang dapat dikenang oleh dirinya dan orang-orang terdekatnya sebagai kesuksesan yang nyata. Sebebas apapun jika dia tidak melakukan apapun yang bermakna dalam hidupnya, maka dia akan terus menerus dirundung perasaan gelisah, seperti halnya perasaan orang yang tidak bebas.
Kamis, 09 April 2009
Tidak Profesional
Beberapa hari yang lalu saya harus mengerjakan suatu tugas untuk yang diberikan oleh seseorang yang saya hormati. Tetapi tugas itu tidak dapat saya kerjakan sendirian karena tugas yang diberikan kepada saya adalah bukan semacam tugas yang sepenuhnya saya kuasai. Lantas mengapa saya lakukan? Karena saya ingin mengetahui dan ingin menguji diri sendiri seberapa kuat dan seberapa jauh saya dapat diandalkan jika seseorang memberi saya tugas. Jadi seorang teman dekat, seorang profesional yang bisa saya percaya bergabung menjadi partner kerja dalam tugas yang diberikan kepada saya.
Hari pertama kami mengerjakan tugas kami tidak mengalami sedikitpun halangan, namun menjelang hari kedua mulai muncul permasalahan. Permasalahan pertama itu mulai muncul saat kami harus berhubungan dengan orang lain untuk menyelesaikan sebagian tugas yang tidak mungkin bisa kami selesaikan sendirian. Orang yang kami hubungin tersebut terlalu mahal dalam memberikan tarif kepada jasa yang akan dia berikan.
Permasalahan yang kedua muncul karena partner kerja saya tidak dapat menemukan orang lain atau penyedia jasa lain yang lebih murah. Ternyata permasalahan kedua ini menimbulkan reaksi berantai kepada permasalahan lain yang lebih serius yang berpotensi bahwa kami akan kehilangan integritas kami di mata orang lain. Berbagai masalah itu antara lain mulai dari kami tidak dapat menyelesaikan tepat waktu, hingga berkurangnya kualitas kerjaan kami karena kami harus mengerjakan sendiri secara terburu-buru.
Suatu saat saya menyediakan waktu untuk mengevaluasi segala sesuatu yang menjadi penyebab permasalahan saya tersebut. Dan akhirnya saya menemukan bahwa yang menjadi permasalahan terbesar saya adalah ketidak profesionalan partner kerja saya. Dan saya telah salah menilai dia dari banyaknya aset, banyaknya mesin-mesin industri yang dia miliki, dan dari lamanya dia berkecimpung di dunia itu. Dia boleh memiliki banyak hal, namun dia tidak memiliki satu hal yang penting… yaitu mental seorang wiraswastawan.
Karena tidak memiliki mental seorang wiraswastawan, maka dia cenderung gagal dalam menumbuhkan minat untuk mengurusi usahanya. Dari situ dia ogah-ogahan memikirkan rencana kedepan untuk usahanya, ogah memikirkan siapa yang harus dia hubungi untuk diajak bekerja sama dalam memajukan usaha, bahkan dia ogah-ogahan memasuki ruang kerjanya sendiri.
Jadinya amburadul dan ngothok alias ngomong thok. Sulit sekali bekerja sama dengan orang seperti ini. Ketika masalah datang mengancam, maka bukannya orang seperti ini berpikir keras untuk mencari jalan keluar, namun dia akan lebih cenderung tenggelam dalam kebingungan dan akhirnya berpasrah diri kepada kebuntuan. Akhirnya kerugian ditanggung bersama. Payah.
Dasar mental tempe
Hari pertama kami mengerjakan tugas kami tidak mengalami sedikitpun halangan, namun menjelang hari kedua mulai muncul permasalahan. Permasalahan pertama itu mulai muncul saat kami harus berhubungan dengan orang lain untuk menyelesaikan sebagian tugas yang tidak mungkin bisa kami selesaikan sendirian. Orang yang kami hubungin tersebut terlalu mahal dalam memberikan tarif kepada jasa yang akan dia berikan.
Permasalahan yang kedua muncul karena partner kerja saya tidak dapat menemukan orang lain atau penyedia jasa lain yang lebih murah. Ternyata permasalahan kedua ini menimbulkan reaksi berantai kepada permasalahan lain yang lebih serius yang berpotensi bahwa kami akan kehilangan integritas kami di mata orang lain. Berbagai masalah itu antara lain mulai dari kami tidak dapat menyelesaikan tepat waktu, hingga berkurangnya kualitas kerjaan kami karena kami harus mengerjakan sendiri secara terburu-buru.
Suatu saat saya menyediakan waktu untuk mengevaluasi segala sesuatu yang menjadi penyebab permasalahan saya tersebut. Dan akhirnya saya menemukan bahwa yang menjadi permasalahan terbesar saya adalah ketidak profesionalan partner kerja saya. Dan saya telah salah menilai dia dari banyaknya aset, banyaknya mesin-mesin industri yang dia miliki, dan dari lamanya dia berkecimpung di dunia itu. Dia boleh memiliki banyak hal, namun dia tidak memiliki satu hal yang penting… yaitu mental seorang wiraswastawan.
Karena tidak memiliki mental seorang wiraswastawan, maka dia cenderung gagal dalam menumbuhkan minat untuk mengurusi usahanya. Dari situ dia ogah-ogahan memikirkan rencana kedepan untuk usahanya, ogah memikirkan siapa yang harus dia hubungi untuk diajak bekerja sama dalam memajukan usaha, bahkan dia ogah-ogahan memasuki ruang kerjanya sendiri.
Jadinya amburadul dan ngothok alias ngomong thok. Sulit sekali bekerja sama dengan orang seperti ini. Ketika masalah datang mengancam, maka bukannya orang seperti ini berpikir keras untuk mencari jalan keluar, namun dia akan lebih cenderung tenggelam dalam kebingungan dan akhirnya berpasrah diri kepada kebuntuan. Akhirnya kerugian ditanggung bersama. Payah.
Dasar mental tempe
Senin, 30 Maret 2009
No Fear?
“No Fear” kata-kata itu seringkali terlihat dicetak di kaos-kaos atau kemeja Cowboy. Dalam pengertian saya, kata-kata itu bermakna hidup tanpa dibayang-bayangi perasaan takut dalam bentuk apapun. Benarkah manusia dapat terlepas dari perasaan takut sama sekali? Atau dapatkah seorang penakut melatih dirinya untuk tidak lagi menjadi terlalu penakut?
Katanya di masa yang lampau orang-orang dari berbagai bangsa berusaha keras untuk menundukan rasa takut dan menumbuhkan sikap kesatria. Hal-hal seperti ini sangat diperlukan untuk membantu mereka melewati hari-hari mereka untuk hidup dalam suatu komunitas yang rapuh oleh karena peperangan. Jelas seorang penakut tidak akan dapat bertahan hidup dalam keadaan kacau seperti ini. Bangsa-bangsa yang terkenal akan keberaniannya tersebut adalah Viking, Yunani Sparta, Indian Apache, Orang-orang Bugis, Orang-orang Arab, Orang-orang Mongol dan lain-lain.
Apakah keberanian itu hanya ditujukan untuk kepentingan peperangan atau konflik antara sesama manusia? Katanya sih tidak, ada orang yang bilang bahwa keberanian sejati adalah keberanian menghadapi realita permasalahan yang dihadapi oleh diri pribadi. Ini penting sekali karena pada kenyataannya orang cenderung melarikan diri dari permasalahannya dan bersembunyi kepada hal-hal yang biasa disebut dengan entertainment, menyepi, agama, atau cinta.
Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh penakut untuk memperbaiki kehidupan pribadinya, karena dia tidak memiliki keinginan untuk bersahabat dengan semangat yang sebenarnya setiap hari muncul dari dalam dirinya sendiri. Dia lebih memilih dirinya gagal dalam banyak hal daripada mengambil resiko yang menakutkan untuk tampil sebagai pemenang.
Dalam film yang berjudul Master and Comander saya masih teringat dengan seorang perwira rendah muda angkatan laut Inggris, berumur 30 tahun, berperawakan seperti anak kecil yang bernama Mr.Hollom. Dia bertugas di HMS. Surprise, berawak 197 orang, berkekuatan 28 meriam, pada saat perang Inggris-Perancis pada masa Ditaktor Napoleon Bonaparte. Mr.Hollom adalah orang yang baik, hanya saja dia adalah seorang penakut dan pengecut yang tidak dapat memimpin para pelaut dengan dengan tegas, hingga suatu saat dia mendapatkan masalah karena itu.
Oleh para anak buahnya, dia disebut dengan si pembawa sial karena setiap kali Mr.Hollom mendapatkan tugas jaga, HMS.Surprise selalu berhadapan dengan Kapal perang milik swasta berbendera Prancis yang bernama Acheron, yang jauh lebih kuat dan gesit. Singkat cerita, Mr.Hollom mulai percaya dengan anggapan anak buahnya, bahwa dia telah dirasuki “Jonah” sang pembawa sial, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia terlalu pengecut untuk berbuat sesuatu. Namun pada suatu malam dia berpamitan, mengucapkan selamat tinggal kepada rekan perwiranya yang bernama Mr.Blatnick, setelah itu dia melompat ke laut dengan menggenggam sebutir peluru meriam, dan tenggelamlah dia.
Meskipun pengecut, Mr.Hollom telah menunjukan keberanian yang luar biasa dengan menjauhkan si Jonah pembawa sial dari HMS.Surprise, seperti yang dia percayai. Meskipun ini hanyalah sebuah film, namun film ini menunjukan suatu keberhasilan seseorang dalam mengalahkan musuh terbesarnya, yaitu dirinya sendiri.
Seperti cerita lama dari yang saya baca dari tradisi Zen, yang menceritakan tentang seorang petani yang telah kehilangan lembunya. Dia bersusah payah menemukan dan menjinakan kembali sapinya yang hilang itu. Karena usaha keras dan ketabahan yang luar biasa, maka petani itu dapat membawa pulang kembali sapinya yang tadinya telah menjadi liar itu.
Mungkin cerita kuno dari tradisi Zen itu adalah metafora dari realitas pikiran kita. Saya beranggapan bahwa sebagian orang termasuk saya, telah lama terlena dengan mengejar kesenangan tiada henti sehingga lupa berkomunikasi dengan diri kita sendiri. Mengapakah kita perlu berkomunikasi dengan diri kita sendiri? Jawabnya adalah bahwa kita adalah tuan dari diri kita sendiri. Seorang majikan harus menjaga komunikasi dengan bawahannya terus menerus kalau dia tidak ingin kehilangan kendali atas orang-orang yang menjadi bawahannya tersebut.
Apabila pikiran tidak pernah diperhatikan, tidak diatur, maka dia akan melayang-layang liar. Seperti halnya petani yang tidak memperhatikan kondisi tali kekang sapinya, maka suatu saat tali kekang itu akan putus, sapinya akan lepas kemana-mana dan akan menjadi liar. Maka yang menjadi kesimpulan adalah bahwa penting sekali untuk membuat pikiran kita berada dibawah kendali kita sehingga pikiran-pikiran itu tidak menyengsarakan kita.
Ada sebuah peribahasa yang mengatakan bahwa penguasa sejati adalah dia yang menguasai dirinya sendiri.
Katanya di masa yang lampau orang-orang dari berbagai bangsa berusaha keras untuk menundukan rasa takut dan menumbuhkan sikap kesatria. Hal-hal seperti ini sangat diperlukan untuk membantu mereka melewati hari-hari mereka untuk hidup dalam suatu komunitas yang rapuh oleh karena peperangan. Jelas seorang penakut tidak akan dapat bertahan hidup dalam keadaan kacau seperti ini. Bangsa-bangsa yang terkenal akan keberaniannya tersebut adalah Viking, Yunani Sparta, Indian Apache, Orang-orang Bugis, Orang-orang Arab, Orang-orang Mongol dan lain-lain.
Apakah keberanian itu hanya ditujukan untuk kepentingan peperangan atau konflik antara sesama manusia? Katanya sih tidak, ada orang yang bilang bahwa keberanian sejati adalah keberanian menghadapi realita permasalahan yang dihadapi oleh diri pribadi. Ini penting sekali karena pada kenyataannya orang cenderung melarikan diri dari permasalahannya dan bersembunyi kepada hal-hal yang biasa disebut dengan entertainment, menyepi, agama, atau cinta.
Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh penakut untuk memperbaiki kehidupan pribadinya, karena dia tidak memiliki keinginan untuk bersahabat dengan semangat yang sebenarnya setiap hari muncul dari dalam dirinya sendiri. Dia lebih memilih dirinya gagal dalam banyak hal daripada mengambil resiko yang menakutkan untuk tampil sebagai pemenang.
Dalam film yang berjudul Master and Comander saya masih teringat dengan seorang perwira rendah muda angkatan laut Inggris, berumur 30 tahun, berperawakan seperti anak kecil yang bernama Mr.Hollom. Dia bertugas di HMS. Surprise, berawak 197 orang, berkekuatan 28 meriam, pada saat perang Inggris-Perancis pada masa Ditaktor Napoleon Bonaparte. Mr.Hollom adalah orang yang baik, hanya saja dia adalah seorang penakut dan pengecut yang tidak dapat memimpin para pelaut dengan dengan tegas, hingga suatu saat dia mendapatkan masalah karena itu.
Oleh para anak buahnya, dia disebut dengan si pembawa sial karena setiap kali Mr.Hollom mendapatkan tugas jaga, HMS.Surprise selalu berhadapan dengan Kapal perang milik swasta berbendera Prancis yang bernama Acheron, yang jauh lebih kuat dan gesit. Singkat cerita, Mr.Hollom mulai percaya dengan anggapan anak buahnya, bahwa dia telah dirasuki “Jonah” sang pembawa sial, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia terlalu pengecut untuk berbuat sesuatu. Namun pada suatu malam dia berpamitan, mengucapkan selamat tinggal kepada rekan perwiranya yang bernama Mr.Blatnick, setelah itu dia melompat ke laut dengan menggenggam sebutir peluru meriam, dan tenggelamlah dia.
Meskipun pengecut, Mr.Hollom telah menunjukan keberanian yang luar biasa dengan menjauhkan si Jonah pembawa sial dari HMS.Surprise, seperti yang dia percayai. Meskipun ini hanyalah sebuah film, namun film ini menunjukan suatu keberhasilan seseorang dalam mengalahkan musuh terbesarnya, yaitu dirinya sendiri.
Seperti cerita lama dari yang saya baca dari tradisi Zen, yang menceritakan tentang seorang petani yang telah kehilangan lembunya. Dia bersusah payah menemukan dan menjinakan kembali sapinya yang hilang itu. Karena usaha keras dan ketabahan yang luar biasa, maka petani itu dapat membawa pulang kembali sapinya yang tadinya telah menjadi liar itu.
Mungkin cerita kuno dari tradisi Zen itu adalah metafora dari realitas pikiran kita. Saya beranggapan bahwa sebagian orang termasuk saya, telah lama terlena dengan mengejar kesenangan tiada henti sehingga lupa berkomunikasi dengan diri kita sendiri. Mengapakah kita perlu berkomunikasi dengan diri kita sendiri? Jawabnya adalah bahwa kita adalah tuan dari diri kita sendiri. Seorang majikan harus menjaga komunikasi dengan bawahannya terus menerus kalau dia tidak ingin kehilangan kendali atas orang-orang yang menjadi bawahannya tersebut.
Apabila pikiran tidak pernah diperhatikan, tidak diatur, maka dia akan melayang-layang liar. Seperti halnya petani yang tidak memperhatikan kondisi tali kekang sapinya, maka suatu saat tali kekang itu akan putus, sapinya akan lepas kemana-mana dan akan menjadi liar. Maka yang menjadi kesimpulan adalah bahwa penting sekali untuk membuat pikiran kita berada dibawah kendali kita sehingga pikiran-pikiran itu tidak menyengsarakan kita.
Ada sebuah peribahasa yang mengatakan bahwa penguasa sejati adalah dia yang menguasai dirinya sendiri.
Rabu, 18 Februari 2009
Tuhan itu ada atau tidak ya?





Hanya sedikit sekali diantara kita yang mau untuk berusaha bertanya-tanya tentang sesuatu yang sulit untuk kita ketahui. Jika dihadapkan pada satu pertanyaan yang dalam dan mendasar, seperti Tuhan itu ada atau tidak? Maka manusia dapat digolongkan menjadi dua macam. Golongan pertama adalah golongan penolak yang percaya betul bahwa tidak ada yang namanya Sang Pencipta atau proses penciptaan. Mereka ini adalah golongan yang terlalu cepat mengambil suatu keputusan. Kemudian yang kedua adalah golongan peng-iman, yaitu seorang saleh yang percaya betul dengan keberadaan Sang Pencipta, dan penciptaan. Seperti halnya golongan yang pertama, golongan yang kedua ini juga sama-sama "mengerti".
Sudah jelas golongan-golongan “yang mengetahui” ini memiliki karakteristik yang sama, yaitu berhenti berpikir dan memandang rendah suatu pertanyaan. Jelas sekali terdapat dua golongan diantara mereka yang memiliki ciri khas yang hampir sama. Golongan yang satu adalah golongan penjawab. Ini adalah golongan orang-orang yang selalu berusaha menjawab pertanyaan tentang Tuhan dengan keyakinan serba pasti mereka. Bukannya merenungkan pertanyaan yang diajukan padanya, dia malah dengan enteng menjawab pertanyaan berat macam itu dengan dalil-dalil yang kaku. Orang-orang seperti ini biasanya adalah orang-orang fanatik pengikut faham keselamatan sendiri atau kebenaran sendiri, yang pantang berpikir melenceng dari ajaran yang dia terima.
Golongan yang berikutnya lagi adalah golongan yang berhenti bertanya, penganut faham nihilis. Yaitu orang-orang yang karena “sudah tahu betul” bahwa tidak ada yang namanya Sang Pencipta, maka dia tidak akan membuang-buang banyak waktunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Tuhan. Segala pertanyaan tentang Tuhan adalah konyol dan tidak akan ada gunanya, bahkan sekadar untuk didiskusikan.
Sekedar berbagi pendapat. Mungkin pertanyaan tentang Tuhan sering kali dihadapkan dengan suatu ketidak-pastian, atau bisa saja malah menemui jalan buntu. Jadi mungkin seseorang tidak akan bisa memberikan jawaban “ya” atau juga “tidak”, pada pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Tuhan. Namun yang ingin disampaikan di sini adalah, bahwa jawaban itu tidak selalu menjadi penting apabila disangkut-pautkan pada pertanyaan tentang Tuhan, karena tidak ada seorangpun yang bisa memberikan jawaban dengan tepat, sebab tidak seorangpun di dunia ini yang pernah mengalami Tuhan atau penciptaan.
Lantas apa yang penting? Yang penting adalah pertanyaan itu sendiri. Pertanyaan mendorong kita untuk selalu meraba-raba, melatih kita untuk selalu berpikir, dan membuat kita menjadi lebih dewasa. Dan yang terpenting adalah bahwa pertanyaan itu sendiri mengindikasikan bahwa kita peduli. Untuk itu bertanyalah tentang apa saja, mulailah berdiskusi dengan banyak orang, jangan menilai rendah kepada siapapun yang sedang berbicara dengan kita, bahkan jangan menilai apapun yang sedang dia bicarakan. Pokoknya jangan menghakimi apapun, penghakiman hanya membuat kita semakin kolot dan berpotensi mengukuhkan ego kita.
Dengarkan orang bicara dengan penuh ketulusan, bawa pelajaran dari pembicaraan itu kedalam perenungan malam sebelum tidur, ambil manfaat dari perenungan itu dan praktikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sekedar unek-unek orang ndeso yang tidak berpendidikan, yang tidak mengerti banyak hal tapi asal nyeplos.
Selasa, 17 Februari 2009
Idhul Adha Kelabu



Proses pemotongan hewan kurban
Assalamualaikum wr. Wb.
Tradisi berkurban dilaksanakan pada bulan besar dalam tanggalan Jawa, saya tidak tahu persis pada bulan apa kurban dilaksanakan dalam kalender Hijriyah. Pada hari H pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dilakukan setelah Shalat Idhul Kurban. Setahu saya hewan kurban yang di korbankan adalah kambing kacang (wedhus jowo), Domba (wedhus gibas), dan sapi. Tapi dalam pelaksanaannya diperbolehkan juga unta dan kuda. Daging dari hewan kurban itu akan dibagi-bagikan kepada para fakir miskin.
Saya sangat setuju dengan ide berbagi kepada para fakir miskin, karena ini adalah satu contoh perbuatan yang baik dan terpuji. Hanya saja dengan mengorbankan hewan kurban baik itu kambing ataupun sapi, membayangkan Kurban tahun lalu saja saya sudah merinding.
Apabila ide dari berkurban itu adalah diniatkan untuk membantu para fakir miskin, maka uang kurban yang beratusan juta itu bisa dipakai untuk membangun infrastruktur penting seperti klinik kesehatan, perbaikan posyandu, sekolah-sekolah di daerah tertinggal, MCK, perpustakaan umum, mobil baca, dan lain-lain. Pengalokasian dana pada sektor-sektor tersebut dapat berpotensi membantu orang miskin secara optimal, lebih mengena serta lebih tahan lama.
Daging memiliki nilai ekonomis yang sangat kurang, serta terlalu ekstravagansa jika dihubungkan dengan kegiatan membantu rakyak miskin. Untuk ukuran orang-orang di daerah saya, harga daging jauh lebih mahal enam hingga delapan kali lipat dari harga beras. Tentu saja orang miskin lebih membutuhkan beras dari pada daging, dengan asumsi harga satu kilo daging yang dikonsumsi satu keluarga bisa habis terkonsumsi dalam waktu tiga hari, maka harga itu bisa menghidupi keluarga miskin selama delapan hari. Harga daging 1 kg diatas Rp.35.000, sementara harga beras 1 kg adalah Rp.5000.
Dari sudut pandang perikemanusiaan kepada sesama mahluk, pemandangan hewan dipinggir jalan yang akan dijual untuk dikorbankan, sungguh sangat memilukan. Sulit bagi saya untuk mengerti bagaimana hewan-hewan itu dikumpulkan menjadi satu, ditaksir harganya, di diangkut dan disembelih. Memang sepertinya ini adalah hal sepele, yaitu keberadaan hewan-hewan itu, mau diapakan saja mereka, kita tidak akan terlalu banyak tersentuh, karena mereka itu hewan. Namun jika kita mau duduk di sebelahnya berlama-lama, mengelus kepalanya , memperhatikan perilaku hewan itu, memperhatikan raut mukanya, bagaimana mereka melindungi dan menjaga anak-anaknya, maka sepertinya mereka tidak jauh berbeda dengan kita umat manusia.
Hewan-hewan itu juga memiliki keinginan, ketakutan, serta kasih sayang, sekurang-kurangnya kepada anak-anak mereka. Setiap kita menginginkan daging untuk menyenangkan lidah kita atau untuk mengenyangkan perut kita, maka kita harus membunuh salah satu diantara mereka. Mengasihani apapun baik itu manusia ataupun hewan, berarti menajamkan perasaan, bukan pikiran. Apabila pikiran kita mengatakan bahwa hewan tidak perlu dikasihani karena mereka adalah makanan lumrah manusia, maka ya eksploitasi jadinya, manusia mengeksploitasi hewan. Namun apabila kita mau merenungkan sebentar, serta mendengarkan benar-benar suara hati kita, maka kita akan merasa terpanggil untuk bersimpati kepada mereka dengan melakukan tindakan semaksimal mungkin untuk tidak ikut campur dalam kegiatan mengeksploitasi.
Bagaimanakah caranya? Salah satunya adalah dengan cara tidak memakan daging, alias vegetarian. Dengan berpantang memakan daging, berarti kita memutus keikut sertaan kita dalam kegiatan penghilangan nyawa mahluk hidup.
Lalu bagaimana dengan perintah agama untuk berkurban pada hari raya kurban? Jika saya termasuk orang yang termasuk dalam syarat untuk berkurban, maka saya akan berkurban juga. Jika pada situasi biasa saya harus mengorbankan dua ekor kambing seharga dua juta rupiah umpamanya, maka saya akan mempergunakan uang saya dua juta rupiah itu untuk membeli beras atau minyak goreng atau elpiji untuk saudara-saudara miskin saya. pemberian itu lebih mengena, juga tidak ada satu nyawapun yang harus melayang karenanya. Insya Allah Tuhan bisa mengerti, karena katanya Dia adalah maha mengerti. Saya hanya berusaha yang terbaik untuk melakukan yang terbaik menurut hati nurani saya, sebagai kesetiaan saya kepada Tuhan. Jika saya mencintai Tuhan saya, maka saya juga harus menjaga dan mencintai mahluknya.
Sabhe satta bhavantu sukhi tatta.
Wasalamualaikum.
Tradisi berkurban dilaksanakan pada bulan besar dalam tanggalan Jawa, saya tidak tahu persis pada bulan apa kurban dilaksanakan dalam kalender Hijriyah. Pada hari H pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dilakukan setelah Shalat Idhul Kurban. Setahu saya hewan kurban yang di korbankan adalah kambing kacang (wedhus jowo), Domba (wedhus gibas), dan sapi. Tapi dalam pelaksanaannya diperbolehkan juga unta dan kuda. Daging dari hewan kurban itu akan dibagi-bagikan kepada para fakir miskin.
Saya sangat setuju dengan ide berbagi kepada para fakir miskin, karena ini adalah satu contoh perbuatan yang baik dan terpuji. Hanya saja dengan mengorbankan hewan kurban baik itu kambing ataupun sapi, membayangkan Kurban tahun lalu saja saya sudah merinding.
Apabila ide dari berkurban itu adalah diniatkan untuk membantu para fakir miskin, maka uang kurban yang beratusan juta itu bisa dipakai untuk membangun infrastruktur penting seperti klinik kesehatan, perbaikan posyandu, sekolah-sekolah di daerah tertinggal, MCK, perpustakaan umum, mobil baca, dan lain-lain. Pengalokasian dana pada sektor-sektor tersebut dapat berpotensi membantu orang miskin secara optimal, lebih mengena serta lebih tahan lama.
Daging memiliki nilai ekonomis yang sangat kurang, serta terlalu ekstravagansa jika dihubungkan dengan kegiatan membantu rakyak miskin. Untuk ukuran orang-orang di daerah saya, harga daging jauh lebih mahal enam hingga delapan kali lipat dari harga beras. Tentu saja orang miskin lebih membutuhkan beras dari pada daging, dengan asumsi harga satu kilo daging yang dikonsumsi satu keluarga bisa habis terkonsumsi dalam waktu tiga hari, maka harga itu bisa menghidupi keluarga miskin selama delapan hari. Harga daging 1 kg diatas Rp.35.000, sementara harga beras 1 kg adalah Rp.5000.
Dari sudut pandang perikemanusiaan kepada sesama mahluk, pemandangan hewan dipinggir jalan yang akan dijual untuk dikorbankan, sungguh sangat memilukan. Sulit bagi saya untuk mengerti bagaimana hewan-hewan itu dikumpulkan menjadi satu, ditaksir harganya, di diangkut dan disembelih. Memang sepertinya ini adalah hal sepele, yaitu keberadaan hewan-hewan itu, mau diapakan saja mereka, kita tidak akan terlalu banyak tersentuh, karena mereka itu hewan. Namun jika kita mau duduk di sebelahnya berlama-lama, mengelus kepalanya , memperhatikan perilaku hewan itu, memperhatikan raut mukanya, bagaimana mereka melindungi dan menjaga anak-anaknya, maka sepertinya mereka tidak jauh berbeda dengan kita umat manusia.
Hewan-hewan itu juga memiliki keinginan, ketakutan, serta kasih sayang, sekurang-kurangnya kepada anak-anak mereka. Setiap kita menginginkan daging untuk menyenangkan lidah kita atau untuk mengenyangkan perut kita, maka kita harus membunuh salah satu diantara mereka. Mengasihani apapun baik itu manusia ataupun hewan, berarti menajamkan perasaan, bukan pikiran. Apabila pikiran kita mengatakan bahwa hewan tidak perlu dikasihani karena mereka adalah makanan lumrah manusia, maka ya eksploitasi jadinya, manusia mengeksploitasi hewan. Namun apabila kita mau merenungkan sebentar, serta mendengarkan benar-benar suara hati kita, maka kita akan merasa terpanggil untuk bersimpati kepada mereka dengan melakukan tindakan semaksimal mungkin untuk tidak ikut campur dalam kegiatan mengeksploitasi.
Bagaimanakah caranya? Salah satunya adalah dengan cara tidak memakan daging, alias vegetarian. Dengan berpantang memakan daging, berarti kita memutus keikut sertaan kita dalam kegiatan penghilangan nyawa mahluk hidup.
Lalu bagaimana dengan perintah agama untuk berkurban pada hari raya kurban? Jika saya termasuk orang yang termasuk dalam syarat untuk berkurban, maka saya akan berkurban juga. Jika pada situasi biasa saya harus mengorbankan dua ekor kambing seharga dua juta rupiah umpamanya, maka saya akan mempergunakan uang saya dua juta rupiah itu untuk membeli beras atau minyak goreng atau elpiji untuk saudara-saudara miskin saya. pemberian itu lebih mengena, juga tidak ada satu nyawapun yang harus melayang karenanya. Insya Allah Tuhan bisa mengerti, karena katanya Dia adalah maha mengerti. Saya hanya berusaha yang terbaik untuk melakukan yang terbaik menurut hati nurani saya, sebagai kesetiaan saya kepada Tuhan. Jika saya mencintai Tuhan saya, maka saya juga harus menjaga dan mencintai mahluknya.
Sabhe satta bhavantu sukhi tatta.
Wasalamualaikum.
Gak taek-taekan...!
Luwih becik urip iku digawe praktis, gak usah kakean cangkem, ojok kakean preketek-ketek, sing penting berusaha. Tapi iku ora berarti awake dhewe mlaku nyludur tanpo menghormati peraturan sing onok sak kiwo tengene awake dhewe iki. Sing penting wajar tur telaten. Mangkane lek saumpomo awake dhewe iki andhuweni kekarepan, becike yo kudu di usahakno sing temen lan temenan. Kuwatno tekadmu, kencengono usahamu, ojo lali ndungo nang sing nggawe urip.
Ojok gampang-gampang nyerah ambek roso loro, roso bosen, utowo roso ora telaten. Wis lumrah nek berjuang iku loro rasane… tapi gak dadi opo, pokoke ojok nyerah! Sing sabar, sing tawakal, tur ojok lali ambek kekarepanmu. Lek pas koen nganggur ora lapo-lapo, ojok lali angen-angenen nggonmu andhuweni kekarepan. Rencanakno sing temenan, sitik gan sitik lakonono nganti telaten, sing gelek bergaul lan kekanchan ambek akeh wong supoyo wawasanmu iso luas, tur ora gampang diakali.
Sing gemi, ojok boros-boros nang dhuwik. Tukuo celengan kanggo nyimpen dhuwikmu, utowo lek gak ngono mbuka’o rekening bank. Nyelengi iku penting artine, sebab lek koen nyelengi, koen termasuk nglatih awakmu bertanggung jawab nang nggone awakmu dhewe. Dadi koen luwih iso ngatur perencanaan kanggo masa depanmu dhewe.
Nek secara keuangan koen durung kuat, ojok cobak-cobak pacaran, luwih-luwih rabi. Dengan adanya koen pacaran iku maeng, koen malih tambah gopok, ga iso maju, tambah males, tambah ngalem, ambek tambah cengeng. Terus maneh, biasane arek sing pacaran iku mau, gaiso ngendalekno pengeluarane, alias boros. Sebab dino-dino mek seneng-seneng, dolen mrono-mrene ngentekno bengsin. Dhuwike tambah kalong, pikirane tambah suwe tambah koplo, utek’e di iseni hal-hal sing berbau kemesraan, utowo cinta monyet. Malah rugi.
Durung ngkok lek tukaran barang ambek pacare, ngentekno dhuwit puluhan ewu gae pulsane HP, ora eman mek digawe engkel-engkelan geger telek, ora ono jluntrungane. Wis pikirane kesel digawe mikirno tukaran, dhuwite ilang, kari getune.
Wis gak taek-taekan...! ojok kakean macem ambek uripmu. Sing penting dilakoni ae, sing sederhana, sing tabah. Sing kuat lekmu tirakat, sing kuat lekmu njaluk, ojok kakean turu.
Ojok gampang-gampang nyerah ambek roso loro, roso bosen, utowo roso ora telaten. Wis lumrah nek berjuang iku loro rasane… tapi gak dadi opo, pokoke ojok nyerah! Sing sabar, sing tawakal, tur ojok lali ambek kekarepanmu. Lek pas koen nganggur ora lapo-lapo, ojok lali angen-angenen nggonmu andhuweni kekarepan. Rencanakno sing temenan, sitik gan sitik lakonono nganti telaten, sing gelek bergaul lan kekanchan ambek akeh wong supoyo wawasanmu iso luas, tur ora gampang diakali.
Sing gemi, ojok boros-boros nang dhuwik. Tukuo celengan kanggo nyimpen dhuwikmu, utowo lek gak ngono mbuka’o rekening bank. Nyelengi iku penting artine, sebab lek koen nyelengi, koen termasuk nglatih awakmu bertanggung jawab nang nggone awakmu dhewe. Dadi koen luwih iso ngatur perencanaan kanggo masa depanmu dhewe.
Nek secara keuangan koen durung kuat, ojok cobak-cobak pacaran, luwih-luwih rabi. Dengan adanya koen pacaran iku maeng, koen malih tambah gopok, ga iso maju, tambah males, tambah ngalem, ambek tambah cengeng. Terus maneh, biasane arek sing pacaran iku mau, gaiso ngendalekno pengeluarane, alias boros. Sebab dino-dino mek seneng-seneng, dolen mrono-mrene ngentekno bengsin. Dhuwike tambah kalong, pikirane tambah suwe tambah koplo, utek’e di iseni hal-hal sing berbau kemesraan, utowo cinta monyet. Malah rugi.
Durung ngkok lek tukaran barang ambek pacare, ngentekno dhuwit puluhan ewu gae pulsane HP, ora eman mek digawe engkel-engkelan geger telek, ora ono jluntrungane. Wis pikirane kesel digawe mikirno tukaran, dhuwite ilang, kari getune.
Wis gak taek-taekan...! ojok kakean macem ambek uripmu. Sing penting dilakoni ae, sing sederhana, sing tabah. Sing kuat lekmu tirakat, sing kuat lekmu njaluk, ojok kakean turu.
Minggu, 15 Februari 2009
Stop Rasisme Eksklusivisme
Mari tertawa lepas bersama, bergembira bersama
di dalam sebuah kebersamaan
Perbedaan adalah karunia Tuhan, berkah Tuhan
Jangan mempermasalahkan perbedaan, tetapi jadikan dorongan untuk saling mengenal
Tidak menjadi masalah apakah rambutnya keriting atau lurus, hitam atau pirang
Tidak menjadi masalah apakah matanya sipit atau bundar
Tidak menjadi masalah apakah hidungnya pesek atau mancungTidak menjadi masalah warna matanya hitam, coklat, biru, hijau, atau abu-abu
Tidak menjadi masalah apakah dia pendek atau jangkung, gendut atau langsing
Tidak menjadi masalah warna kulitnya hitam, kuning, putih, coklat, atau merah
Tidak menjadi masalah dia adalah Arab, Cina, Bule, Melayu atau Orang Timur (Ambon, Flores)
Mereka kawan Indonesiaku, kawan duniaku
Tidak menjadi masalah apakah dia cacat, buta, pincang, bisu atau tuli
Tidak menjadi masalah dia kaya atau miskin
Tidak menjadi masalah dia berbahasa Inggris, Ngoko, Tagalog, Hindi, Aramaic, Ibrani atau Mandarin

Tidak masalah dia pengikut Tao, Nasrani, Islam, Budha, Hindu atau pengikut agama apa saja
Tidak menjadi masalah dia percaya Jesus, Sidharta, Zarastutra, Muhammad, atau Kongfucius
Tidak masalah dia menyembah Allah, Krishna, Yahwe, atau Pokja
Bahkan tidak masalah dia tidak menyembah apapun
Mereka adalah Temanku, Sahabatku, Saudaraku
Aku mengasihi, menyayangi dan melindungi kawan-kawanku.
Kamis, 29 Januari 2009
Jong Republik
Seringkali kita melihat mereka di ujung-ujung gang sedang jongkok bergerombol, dengan sebatang rokok di mulut mereka masing-masing. Semakin malam jumlah mereka semakin banyak. Kemudian mereka bergiliran menyesap minuman beralkohol yang dicampur dari berbagai macam merek minuman kesehatan dengan solvent (sejenis bahan untuk campuran cat besi atau cat plastik). Diantara mereka ada yang gaduh atau mengomel, ada yang diam, ada yang sempoyongan, dan ada pula yang duduk bersandar ke dinding rumah orang, tertunduk sedang ngiler. Ketika malam sudah sangat larut mereka baru tidur, pagi hari mereka masih tertidur, jadi bangunnya siang, malahan kadang-kadang sore hari mereka baru bangun.
Itulah kehidupan sehari-hari dari sebagian pemuda kita, pemuda Indonesia, generasi penerus bangsa, suatu generasi baru Indonesia penikmat kemerdekaan. Harus selalu diingat bahwa kemerdekaan Indonesia adalah tidak datang dengan sendirinya, namun merupakan hasil dari jerih payah dan pengorbanan para pahlawan pejuang kemerdekaan. Ironisnya mereka malah mengisi kemerdekaan yang menjadi hak mereka itu dengan hal-hal yang remeh temeh, yang sama sekali tidak mencerminkan sikap bersyukur atas kemerdekaan, dan tidak pula mencerminkan sikap berterimakasih kepada para pahlawan yang gugur dalam merebut kemerdekaan. Banyak orang beranggapan bahwa ini masih dalam batas kewajaran, karena masih banyak pemuda Indonesia yang “tidak seperti itu”, masih banyak pemuda Indonesia yang berprestasi dan membuat nama Indonesia harum dihadapan bangsa-bangsa! Ya saya tahu itu, tapi saya wegah membicarakan hal-hal semacam itu, tidak terlalu bermanfaat bagi siapapun. Tidak akan ada gunanya membicarakan mereka yang berprestasi semacam itu sementara jutaan pemuda kita yang lain dalam keadaan dikuasai oleh kerapuhan dan kemalasan, yang membuat mereka mudah diombang-ambing oleh riak-riak kehidupan di masyarakat. Saya cuma ingin membicarakan mereka-mereka yang “seperti itu”, yaitu para pemuda yang melewatkan waktunya tanpa belajar sesuatupun yang penting, tanpa berusaha membekali diri mereka dengan keahlian apapun. Saya ingin membicarakan mereka yang selalu hidup untuk saat ini, menghabiskan segala sesuatu yang mereka punya untuk saat ini, sekedar mencari kesenangan dari apa yang mereka peroleh saat ini, yang tidak memikirkan akan menjadi apa mereka itu dalam beberapa tahun kedepan. Saya ingin sedikit Berkomentar tentang para pemuda yang sekarang sedang dalam keadaan tidak melakukan apa-apa, menganggur, mencari kesengan kesana kemari, dan menjadi beban bagi bagi orang tuanya.
Banyak orang mengatakan bahwa generasi muda telah dirusak oleh minuman keras. Sehubungan dengan minuman keras ini, saya pribadi tidak sependapat dengan pendapat yang mengatakan bahwa alkohol dapat merusak generasi bangsa, atau dapat merusak para pemuda. Karena alkohol hanyalah alkohol, dan akan tetap seperti itu sampai kapanpun, yang tidak akan memberikan efek negatif apapun jika tidak disalah gunakan. Yang seringkali menimbulkan masalah bagi para pemuda sehubungan dengan alkohol, adalah justru karena kurangnya tradisi disiplin yang mereka terima dari keluarga mereka, sehingga kemampuan mereka untuk mengontrol diri menjadi sangat kurang, sehingga mereka menjadi mudah sekali mencandu alkohol. Pada akhirnya, karena kecanduan alkohol, pemuda tersebut terdorong untuk memfokuskan sumberdayanya untuk mendapatkan/ membeli alkohol, cenderung berkumpul dengan teman-teman peminum alkohol, serta memasuki tempat-tempat di mana alkohol seringkali diminum. Seorang pemuda yang kecanduan alkohol akan cenderung memakai uangnya untuk membeli minuman beralkohol, dari pada memakai uangnya untuk membeli kebutuhan dasar mereka yang lain. Jadi akar permasalahan yang membuat para pemuda menjadi bermasalah adalah, kerapuhan seorang pemuda untuk cenderung tertarik pada segala macam fenomena kecanduan.
Saya tidak tahu kenapa, atau apa hubungannya, namun seringkali ditemui bahwa pemuda ingin dilihat bahwa mereka sedang mabuk, lantas berjalan kesana-kemari, berbicara kasar dan bertindak semau-mau mereka. Mungkin karena ingin dianggap lebih dewasa, lebih matang atau lebih jago. Padahal setiap orang yang pernah mabuk tahu, bahwa dalam keadaan mabuk berat, seseorang akan memilih untuk diam atau tidur, karena sangat tidak nyaman dalam keadaan mabuk berjalan-jalan, hanya akan membuat sakit kepala saja. Kenaifan seperti ini yang membuat alkohol memiliki salah satu penilaian negatif tertentu dalam masyarakat. Masyarakat jadi terlalu melihat dan mempermasalahkan alkoholnya saja, dari pada memperhatikan betapa bahanya sikap mudah mencandu yang diderita oleh para pemuda. Sebenarnya jika kita mau melihat kenyataan apa adanya, maka fenomena kecanduan tidak melulu hanya terdapat pada alkohol, tapi juga pada rokok, Play Station, Film Blue, kebiasaan dugem, narkoba, dan hal-hal lain yang membuat pemikiran dan pengeluaran mereka menjadi tidak tidak terkontrol.
Beberapa teman muda saya yang saya perhatikan, kebanyakan meraka itu terlihat sedemikian pasif, lemah, tidak bergairah, tidak memiliki impian, kurang berinisiatif, tidak memiliki pemikiran yang membangun, sehingga kelihatan sekali bahwa mereka hanya mau dengan sesuatu yang instan-instan saja. Jadi apa yang menjadi rutinitas mereka sehari-hari adalah menonton tv, menonton film, mendengarkan musik hingar bingar, menonton bola, lontang-lantung kesana kemari dengan pacar mereka dan ngomong tidak karuan membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat. Sedikit sekali mereka melakukan kegiatan aktif yang bermanfaat, seperti misalnya menambah pengetahuan, atau mengasah ketrampilan tertentu. Mereka hanya peduli dengan kesenangan sesaat, mereka tidak mau serius dengan pekerjaan yang mereka kerjakan, padahal itu akan membuka jalan pada masa depan mereka yang gemilang.
Ini adalah sebuah fenomena yang telah saya lihat, sudut pandang pribadi yang ingin saya bagi dengan siapa saja. Kepada para pemuda, teman-teman yang kebetulan sekarang sedang menganggur, saya menjadi prihatin karena mereka cenderung berkumpul dengan teman-teman mereka yang sama-sama menganggur, menghabiskan waktu bersama untuk bernyanyi di sudut jalan, menonton film porno, menyewa ps, atau membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan, atau bahkan membicarakan omong kosong tentang penampakan mahluk ghaib, jin, atau ramalan-ramalan. Jarang sekali ada inisiatif dari mereka untuk mempelajari sesuatu yang baru, yang lebih dapat membuat maju diri mereka pribadi.
Ternyata ironis sekali kenyataannya, sulit sekali membujuk mereka untuk tertarik dengan hal-hal yang bersifat membangun. Jika saya menawarkan film-film dokumenter seperti National Geographic, Discovery Chanel, atau History Chanel… mereka kelihatan tidak tertarik, malah meminta film porno. Jika saya berbicara bahasa Inggris dengan mereka, agar kita sama-sama lancar berbahasa Inggris, mereka selalu menghindar, bukannya mereka tidak bisa, hanya saja mereka tidak pernah menganggap bahwa bahasa Inggris itu penting.Beberapa kali saya menawarkan pengetahuan tentang Brazilian Jiu-jitsu dan Krav Maga kepada mereka. Sekuat apapun saya membujuk mereka untuk berlatih beladiri ini dengan mengatakan bahwa beladiri ini adalah beladiri paling efektif dan paling mahal sedunia… toh mereka hanya senyum-senyum kecil, berlatih setengah hati dan ogaha-ogahan, serta kembali lagi pada rutinitas mereka yang membosankan. Payah.
Dalam pandangan saya pribadi tentang bagaimana seharusnya pemuda berperilaku adalah, bahwa seorang pemuda seharusnya menumbuh kembangkan sikap selalu ingin tahu pada segala hal. Dan seharusnya mereka lebih telaten dengan segala kegiatan yang berpotensi untuk memajukan kualitas mereka, sehingga mereka bisa dianggap layak untuk memberikan partisipasi mereka dalam pembangunan. Sembari biaya hidup mereka masih dalam tanggungan orang tua, seharusnya mereka harus bisa berfokus dan aktif dalam banyak kegiatan, sehingga teman mereka banyak. Teman adalah sangat penting partisipasinya untuk memajukan kepribadian seorang pemuda. Semakin banyak teman dan semakin kompleks jenis teman yang dimiliki oleh seorang pemuda, semakin banyak pula pelajaran yang dapat diambil oleh seseorang untuk mengintrospeksi diri dan memajukan hidupnya. Seorang pemuda harus banyak membaca, agar daya pikir mereka semakin berkembang, pengetahuan mereka semakin meluas, dan perilaku mereka semakin terarah. Jika perlu, mereka dapat bergabung dengan organisasi-organisasi tertentu yang dapat membuat mereka lebih aktif dan memiliki kemampuan dalam membangun jaringan. Seorang pemuda harus bekerja keras untuk menemukan tujuan hidupnya dan berusaha menemukan seorang mentor yang dapat memberikan dorongan untuk mencapai cita-citanya tersebut.
Seorang pemuda harus memiliki impian yang kuat bahwa mereka akan menemukan sebuah keberhasilan yang gemilang di masa mendatang. Mereka harus bersungguh-sungguh dengan segala hal yang sedang mereka kerjakan agar tingkat keberhasilan mereka tinggi. Dan yang terakhir, seorang pemuda harus sesering mungkin menilai dirinya sendiri, serta menanyakan sejauh apa mereka telah mengembangkan diri mereka masing-masing.
Itulah kehidupan sehari-hari dari sebagian pemuda kita, pemuda Indonesia, generasi penerus bangsa, suatu generasi baru Indonesia penikmat kemerdekaan. Harus selalu diingat bahwa kemerdekaan Indonesia adalah tidak datang dengan sendirinya, namun merupakan hasil dari jerih payah dan pengorbanan para pahlawan pejuang kemerdekaan. Ironisnya mereka malah mengisi kemerdekaan yang menjadi hak mereka itu dengan hal-hal yang remeh temeh, yang sama sekali tidak mencerminkan sikap bersyukur atas kemerdekaan, dan tidak pula mencerminkan sikap berterimakasih kepada para pahlawan yang gugur dalam merebut kemerdekaan. Banyak orang beranggapan bahwa ini masih dalam batas kewajaran, karena masih banyak pemuda Indonesia yang “tidak seperti itu”, masih banyak pemuda Indonesia yang berprestasi dan membuat nama Indonesia harum dihadapan bangsa-bangsa! Ya saya tahu itu, tapi saya wegah membicarakan hal-hal semacam itu, tidak terlalu bermanfaat bagi siapapun. Tidak akan ada gunanya membicarakan mereka yang berprestasi semacam itu sementara jutaan pemuda kita yang lain dalam keadaan dikuasai oleh kerapuhan dan kemalasan, yang membuat mereka mudah diombang-ambing oleh riak-riak kehidupan di masyarakat. Saya cuma ingin membicarakan mereka-mereka yang “seperti itu”, yaitu para pemuda yang melewatkan waktunya tanpa belajar sesuatupun yang penting, tanpa berusaha membekali diri mereka dengan keahlian apapun. Saya ingin membicarakan mereka yang selalu hidup untuk saat ini, menghabiskan segala sesuatu yang mereka punya untuk saat ini, sekedar mencari kesenangan dari apa yang mereka peroleh saat ini, yang tidak memikirkan akan menjadi apa mereka itu dalam beberapa tahun kedepan. Saya ingin sedikit Berkomentar tentang para pemuda yang sekarang sedang dalam keadaan tidak melakukan apa-apa, menganggur, mencari kesengan kesana kemari, dan menjadi beban bagi bagi orang tuanya.
Banyak orang mengatakan bahwa generasi muda telah dirusak oleh minuman keras. Sehubungan dengan minuman keras ini, saya pribadi tidak sependapat dengan pendapat yang mengatakan bahwa alkohol dapat merusak generasi bangsa, atau dapat merusak para pemuda. Karena alkohol hanyalah alkohol, dan akan tetap seperti itu sampai kapanpun, yang tidak akan memberikan efek negatif apapun jika tidak disalah gunakan. Yang seringkali menimbulkan masalah bagi para pemuda sehubungan dengan alkohol, adalah justru karena kurangnya tradisi disiplin yang mereka terima dari keluarga mereka, sehingga kemampuan mereka untuk mengontrol diri menjadi sangat kurang, sehingga mereka menjadi mudah sekali mencandu alkohol. Pada akhirnya, karena kecanduan alkohol, pemuda tersebut terdorong untuk memfokuskan sumberdayanya untuk mendapatkan/ membeli alkohol, cenderung berkumpul dengan teman-teman peminum alkohol, serta memasuki tempat-tempat di mana alkohol seringkali diminum. Seorang pemuda yang kecanduan alkohol akan cenderung memakai uangnya untuk membeli minuman beralkohol, dari pada memakai uangnya untuk membeli kebutuhan dasar mereka yang lain. Jadi akar permasalahan yang membuat para pemuda menjadi bermasalah adalah, kerapuhan seorang pemuda untuk cenderung tertarik pada segala macam fenomena kecanduan.
Saya tidak tahu kenapa, atau apa hubungannya, namun seringkali ditemui bahwa pemuda ingin dilihat bahwa mereka sedang mabuk, lantas berjalan kesana-kemari, berbicara kasar dan bertindak semau-mau mereka. Mungkin karena ingin dianggap lebih dewasa, lebih matang atau lebih jago. Padahal setiap orang yang pernah mabuk tahu, bahwa dalam keadaan mabuk berat, seseorang akan memilih untuk diam atau tidur, karena sangat tidak nyaman dalam keadaan mabuk berjalan-jalan, hanya akan membuat sakit kepala saja. Kenaifan seperti ini yang membuat alkohol memiliki salah satu penilaian negatif tertentu dalam masyarakat. Masyarakat jadi terlalu melihat dan mempermasalahkan alkoholnya saja, dari pada memperhatikan betapa bahanya sikap mudah mencandu yang diderita oleh para pemuda. Sebenarnya jika kita mau melihat kenyataan apa adanya, maka fenomena kecanduan tidak melulu hanya terdapat pada alkohol, tapi juga pada rokok, Play Station, Film Blue, kebiasaan dugem, narkoba, dan hal-hal lain yang membuat pemikiran dan pengeluaran mereka menjadi tidak tidak terkontrol.
Beberapa teman muda saya yang saya perhatikan, kebanyakan meraka itu terlihat sedemikian pasif, lemah, tidak bergairah, tidak memiliki impian, kurang berinisiatif, tidak memiliki pemikiran yang membangun, sehingga kelihatan sekali bahwa mereka hanya mau dengan sesuatu yang instan-instan saja. Jadi apa yang menjadi rutinitas mereka sehari-hari adalah menonton tv, menonton film, mendengarkan musik hingar bingar, menonton bola, lontang-lantung kesana kemari dengan pacar mereka dan ngomong tidak karuan membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat. Sedikit sekali mereka melakukan kegiatan aktif yang bermanfaat, seperti misalnya menambah pengetahuan, atau mengasah ketrampilan tertentu. Mereka hanya peduli dengan kesenangan sesaat, mereka tidak mau serius dengan pekerjaan yang mereka kerjakan, padahal itu akan membuka jalan pada masa depan mereka yang gemilang.
Ini adalah sebuah fenomena yang telah saya lihat, sudut pandang pribadi yang ingin saya bagi dengan siapa saja. Kepada para pemuda, teman-teman yang kebetulan sekarang sedang menganggur, saya menjadi prihatin karena mereka cenderung berkumpul dengan teman-teman mereka yang sama-sama menganggur, menghabiskan waktu bersama untuk bernyanyi di sudut jalan, menonton film porno, menyewa ps, atau membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan, atau bahkan membicarakan omong kosong tentang penampakan mahluk ghaib, jin, atau ramalan-ramalan. Jarang sekali ada inisiatif dari mereka untuk mempelajari sesuatu yang baru, yang lebih dapat membuat maju diri mereka pribadi.
Ternyata ironis sekali kenyataannya, sulit sekali membujuk mereka untuk tertarik dengan hal-hal yang bersifat membangun. Jika saya menawarkan film-film dokumenter seperti National Geographic, Discovery Chanel, atau History Chanel… mereka kelihatan tidak tertarik, malah meminta film porno. Jika saya berbicara bahasa Inggris dengan mereka, agar kita sama-sama lancar berbahasa Inggris, mereka selalu menghindar, bukannya mereka tidak bisa, hanya saja mereka tidak pernah menganggap bahwa bahasa Inggris itu penting.Beberapa kali saya menawarkan pengetahuan tentang Brazilian Jiu-jitsu dan Krav Maga kepada mereka. Sekuat apapun saya membujuk mereka untuk berlatih beladiri ini dengan mengatakan bahwa beladiri ini adalah beladiri paling efektif dan paling mahal sedunia… toh mereka hanya senyum-senyum kecil, berlatih setengah hati dan ogaha-ogahan, serta kembali lagi pada rutinitas mereka yang membosankan. Payah.
Dalam pandangan saya pribadi tentang bagaimana seharusnya pemuda berperilaku adalah, bahwa seorang pemuda seharusnya menumbuh kembangkan sikap selalu ingin tahu pada segala hal. Dan seharusnya mereka lebih telaten dengan segala kegiatan yang berpotensi untuk memajukan kualitas mereka, sehingga mereka bisa dianggap layak untuk memberikan partisipasi mereka dalam pembangunan. Sembari biaya hidup mereka masih dalam tanggungan orang tua, seharusnya mereka harus bisa berfokus dan aktif dalam banyak kegiatan, sehingga teman mereka banyak. Teman adalah sangat penting partisipasinya untuk memajukan kepribadian seorang pemuda. Semakin banyak teman dan semakin kompleks jenis teman yang dimiliki oleh seorang pemuda, semakin banyak pula pelajaran yang dapat diambil oleh seseorang untuk mengintrospeksi diri dan memajukan hidupnya. Seorang pemuda harus banyak membaca, agar daya pikir mereka semakin berkembang, pengetahuan mereka semakin meluas, dan perilaku mereka semakin terarah. Jika perlu, mereka dapat bergabung dengan organisasi-organisasi tertentu yang dapat membuat mereka lebih aktif dan memiliki kemampuan dalam membangun jaringan. Seorang pemuda harus bekerja keras untuk menemukan tujuan hidupnya dan berusaha menemukan seorang mentor yang dapat memberikan dorongan untuk mencapai cita-citanya tersebut.
Seorang pemuda harus memiliki impian yang kuat bahwa mereka akan menemukan sebuah keberhasilan yang gemilang di masa mendatang. Mereka harus bersungguh-sungguh dengan segala hal yang sedang mereka kerjakan agar tingkat keberhasilan mereka tinggi. Dan yang terakhir, seorang pemuda harus sesering mungkin menilai dirinya sendiri, serta menanyakan sejauh apa mereka telah mengembangkan diri mereka masing-masing.
Minggu, 25 Januari 2009
Kebahagiaan dan kebosanan menurut saya
Kebahagiaan adalah bagaikan seorang teman biasa yang kehadirannya tidak bisa kita perkirakan. Dia datang dan pergi semau-maunya, dia sama sekali tidak memiliki disiplin waktu, dan dia juga tidak berniat memiliki motivasi untuk tepat waktu. Kita tidak dapat menuntut dia agar dia datang pada saat-saat darurat dimana kita sangat membutuhkan dia. Baginya kita ini bukan teman baiknya, dan dia tidak merasa berkewajiban untuk datang menemani kita, meskipun ketika kita sedang benar-benar mengharap kedatangannya. Terkadang, tanpa disangka-sangka dia datang, kemudian dia mengajak kita bersuka-cita, membuat segala sesuatu yang kita lihat tersenyum dan berwarna indah. Tetapi kemudian si “bahagia” itu pergi, tanpa pamit, digantikan dengan si “bosan” yang datang mengunjungi, yang membuat segala sesuatu di alam ini terlihat tawar dan tidak lagi terlhat menarik. Ironisnya adalah, bahwa kebosanan merupakan seorang sahabat sejati, yang selalu siap sedia mendampingi dimanapun kita berada. Ketika kebahagiaan pergi menghianati kita, maka dengan sabar kebosanan akan datang dan dengan setia menemani kita.
Dalam pengertian kebanyakan, “kebahagiaan” itu dipandang sebagai seorang teman yang menyenangkan dan memiliki banyak kelebihan, berwajah rupawan serta berpenampilan menarik. Kemunculannya sangat kita tunggu-tunggu, karena kita beranggapan bahwa kehadirannya dapat membuat kita merasa nyaman, tentram, ayem, merdeka, dan berbunga-bunga. Namun harus diingat, bahwa dia itu bukanlah seorang teman atau sahabat yang setia. Bagi dia, kita ini hanyalah satu dari sekian banyak teman-temannya yang tidak terlalu berarti baginya, kita ini bukan apa-apa bagi dia.
Jika si “kebahagiaan” dipandang sebagai seorang partner yang serba sempurna, maka sebaliknya dengan si “kebosanan”. Kita cenderung malah menganggap si “kebosanan” adalah bukan siapa-siapa kita, yang kehadirannya selalu membebani kita. Kita tidak pernah menginginkan keberadaannya. Apabila dia datang menghampiri untuk menemani, karena dia tahu bahwa “kebahagiaan” telah meninggalkan kita, kita malah menjauhinya. Kita sudah kadung terlena dengan kecantikan atau ketampanan si “kebahagiaan”, sehingga kita selalu menganggap bahwa “kebosanan” adalah seorang yang tidak memiliki kegunaan apapun, segala sesuatu yang ada padanya hanyalah kesia-siaan belaka. Lha nyatanya, ketika kita sedang bosan, maka kita cenderung tergerak untuk meninggalkan si “kebosanan” itu dengan menonton TV, pergi mabuk-mabukan, tidur, atau malah melamun. Kita sama sekali tidak menghargai kehadiran si “kebosanan”, kita sama sekali tidak memiliki kepedulian apapun pada si “kebosanan”.
Padahal jika diperhatikan baik-baik, si “kebosanan” itu adalah mahluk yang lugu, mungkin tidak memiliki kelebihan apapun, tidak berwajah rupawan, dan tidak berpenampilan menarik. Namun kenyataannya dia adalah lugu, yang dia punya hanyalah kesetiaan abadi dan pemberian yang tidak berbalas. Dia akan sangat sedih ketika dia mengetahui bahwa kita sedang ditinggalkan oleh si “kebahagiaan”, lalu dengan tergopoh-gopoh dia akan mendatangi kita untuk menemani, meskipun dia tahu persis bahwa kita tidak akan menyambutnya dengan baik. Memang dia tidak pernah sekalipun pernah berharap bahwa dia akan mendapatkan sambutan yang hangat dari kita, tapi itu tidak pernah menjadi masalah baginya, karena kasih sayangnya tidak pernah berbalas.
Kenapa sih kita selalu bersikap jahat pada si “kebosanan”, kenapa sih kita selalu memusuhinya? Mengapa tidak pernah sekalipun kita mencoba berkomunikasi dengannya? Kenapa kita tidak pernah membuka pikiran kita, siapa tahu dengan adanya pertemanan yang erat dengan si “kebosanan” ini kita dapat memetik suatu pelajaran berharga tentang kehidupan, yang tidak kita dapatkan dari si “kebahagiaan”. Selama ini sikap kita hanyalah selalu jengkel dan menolak mentah-mentah si “kebosanan”, tanpa melihat dulu maksud kedatangannya.
Kita harus menyadari bahwa kebahagiaan itu sudah tidak bisa diandalkan, kesetiaannya sangat diragukan. Fakta telah mengatakan bahwa kebahagian dapat mendadak berlaku kejam pada seseorang dengan tiba-tiba meninggalkan orang tersebut sendiri didalam sebuah kondisi susah. Dia seringkali hanya melihat saja dalam “jarak yang aman”, seseorang yang dulu pernah menjadi teman lamanya itu bergulat seorang diri, kehabisan napas, melawan penderitaan sampai mati. Kebahagiaan hanya akan menatap dingin bekas temannya itu, yang sedang menderita,tanpa melakukan apa-apa, tanpa berbelas kasihan sedikitpun. Kebahagiaan itu dapat menjelma sebagai masakan yang lezat di restoran mahal ketika seseorang sedang kelaparan, atau kebahagiaan dapat menjelma sebagai satu keluarga utuh yang harmonis ketika seseorang baru saja kehilangan keluarganya akibat sebuah bencana.
Sudah saatnya kita menoleh kepada kebosanan, belajar menghormati keberadaannya, memperhatikan perilakunya, dan menghargai kesetiaannya. Mulailah sebuah hubungan yang erat dengannya, rangkulah dia meskipun penampilannya memuakan. Berdamailah dengan kebosanan, jangan dimusuhi, mintalah dia untuk membahagiakan kita, mintalah dia membantu kita memajukan kualitas kita. Syaratnya adalah, bahwa kita harus mengerti bahasa kobosanan, sehingga kita dapat berdialog dengannya, dan agar dia dapat mengerti apa saja yang kita inginkan. Meditasi, kontemplasi, Yoga, dan perenungan, adalah bahasa-bahasa yang bisa dipahami oleh kebosanan. Dengan bahasa-bahasa itu, kebosanan akan menunjukan kebesarannya , dan dengan bahasa-bahasa itu pula kebosanan akan memberikan suatu pelajaran-pelajaran berharga tentang kehidupan, sedikit demi sedikit.
Salah satu lagi bahasa yang dapat dipahami oleh kebosanan adalah bahasa ketelatenan. Apabila kita menerima kebosanan dengan tangan terbuka, kemudian dengan sabar dan telaten mengajak dia untuk memajukan kualitas kehidupan bersama, maka lambat laun kebosanan akan menjelma menjadi suatu mahluk yang nyata, berpenampilan menarik, berwajah rupawan, dan… selalu setia. Semakin kita mempercayai kebosanan adalah seorang teman setia, yang selalu dapat menghadirkan mawas diri dalam diri kita, maka kebahagiaanpun akan kita dapatkan. Rupanya kebosanan itu hanya mau menjelma menjadi kebahagiaan, apabila kita sudah merasa cukup berbuat sesuatu yang baik, apabila kita sudah merasa mengisi hari-hari kita dengan kebaikan, dan apabila ketika kita sudah merasa setia pada apa yang kita anggap sebagai suatu kebaikan. Jadi kebahagiaan sejati seringkali tidak ditemukan dengan menikmati barang-barang mewah atau dengan “menikmati” berhubungan dengan orang lain, tetapi seringkali kebahagiaan itu didatangkan dengan berusaha mengenal diri sendiri… berusaha menyadari apa yang sedang saya lakukan, di mana saya sedang berada, dan kemana saya pergi setelah semua ini berakhir.
Cerita dari Soebagio Pranoto
Sudah tiga minggu ini Soebagio merasa bosan dengan hari-harinya. Dia sudah tidak terlalu ingin lagi melakukan segala sesuatu yang menyenangkan, dia sudah bosan dengan itu semua. Tiga minggu terakhir ini dia hanya mengisi hari-harinya main-main kesana kemari bersama dengan teman-temannya, untuk mengusir suntuk dan menghilangkan rasa bosan. Namun semakin keras usahanya mengusir kebosanan tersebut, semakin berkeras pula kebosanan itu bermaksud menemaninya. Maka dia pun menyerah, sehingga apa yang dia lakukan hanyalah bermalas-malasan, tiduran sepanjang hari, tidak melakukan apa-apa, atau sekedar menonton TV. Namun dengan demikian, dia malah merasa gundah… karena apa yang dia lakukan hanyalah menyia-nyiakan waktunya saja.
Suatu saat dia teringat dengan sebuah teknik kuno yang dulu pernah dia pelajari dalam sebuah lokakarya sederhana, disebuah hotel sederhana. Dalam lokakarya itu, dia diberitahu bahwa meditasi, yoga, dan perenungan dapat membuat seseorang menjadi lebih tenang dan dapat berpikir lebih jernih. Dia mengingat-ingat kembali apa saja yang telah dia pelajari dalam lokakarya itu. Beberapa saat kemudian dia menyemprotkan pengharum ruangan ke beberapa sudut kamarnya, menghidupkan musik lembut yang dia senangi, dan menggelar karpet. Tidak lama kemudian dia terlihat sedang duduk bersila dengan punggung tegak, dan mata terpejam… Soebagio mencoba bermeditasi.
Di dalam duduk diamnya itu Soebagio menemukan suatu kedamaian dan ketenangan. Berbagai pikiran liar yang sebelumnya membuat dia gundah dan gelisah ketika dia sedang merasa bosan, berangsur-angsur menghilang, digantikan dengan pikiran-pikiran santai, yang membuat dia lebih dapat menerima keadaan seperti apa adanya. Jika sebelumnya dia tidak tahan dengan suasana hening, sehingga ia cenderung ingin segera beraktifitas, atau malah ingin pergi tidur, sekarang walaupun hanya dengan sebatang rokok dia sudah dapat berpikir lebih tenang, lebih dalam.
Dalam perenungannya yang mendalam itu, ketika ia mengenang masa lalu, seringkali Soebagio tersenyum kecil, atau menitikan air mata karena haru. Ia bersyukur kepada Tuhan YME atas pegalaman masa lalu yang telah banyak memberikan banyak sekali pelajaran-pelajaran berguna, yang membuat dia semakin dewasa dan bijaksana. Dalam perenungannya juga, Soebagio mulai bisa “hadir” dalam ketenangannya itu, merasakan kekinian, frekuensi keliaran pikirannya untuk terbang kesana-kemari juga sudah mulai berkurang. Dia memiliki segudang impian bahagia nan indah akan sebuah masa depan yang gemilang, dan dalam meraih impian itu, sekarang Soebagio dengan tenang memilih mencurahkan perhatiannya kepada usaha sungguh-sungguh dan telaten di masa sekarang dengan terus berharap, daripada sekedar bermalas-malas dan bermimpi kosong.
Dalam hari-hari berikutnya Soebagio telah bersahabat dekat dengan kebosanan, memberikan sebagian besar waktunya kepada kepada sahabat barunya itu. Sebagai imbalan, sahabat barunya itu merubah dirinya sedemikian rupa sehingga dia lebih banyak berguna dalam kehidupan Soebagio, memberinya lebih banyak kedamaian, kebahagiaan dan kebijaksanaan. Si “kebosanan” yang sudah menjelma menjadi si “kebahagiaan” itu sekarang dengan setia selalu menemani Soebagio dalam setiap kegiatannya, di manapun dia berada, sehingga Soebagio terlihat lebih tekun, telaten dan bersemangat. Tidak lama kemudian Soebagio dikenal oleh banyak orang sebagai orang kaya yang pemurah.
Selasa, 20 Januari 2009
Ultra cintaisme pada agama
Menurut saya, sikap menghormati keberagaman agama adalah suatu perbuatan yang baik, mulia dan tentunya perlu sekali untuk diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan sikap menghormati agama lain adalah, perbuatan yang benar-benar menghormati suatu perbedaan agama dengan sebaik-baiknya dan dengan sikap yang peduli. Menghormati keberagaman beragama tidak berarti hanya sekedar memberikan toleransi ataupun sekedar bersikap cuek, tidak mau tahu. Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali orang yang beranggapan bahwa segala sesuatu diluar agama dan keyakinan mereka adalah bukan urusan mereka, dan mereka tidak akan mau tahu sedikitpun dengan hal-hal semacam itu. Itulah mengapa sangat sedikit orang non Nasrani yang mau mengucapkan selamat Natal pada orang Nasrani, dengan berbagai alasan, termasuk alasan takut dianggap murtad karena membenarkan ajaran agama orang lain. Sangat ironis bahwa agama malah membuat umat manusia menjadi terkotak-kotak.
Kalau saya sih meyakini bahwa agama itu selalu menganjurkan kebaikan, mendorong manusia untuk saling berbagi dan saling peduli. Agama mengatur perikehidupan sedemikian rupa sehingga manusia memiliki rambu-rambu tertentu agar dia selalu ingat dan menghormati ajaran luhur dengan berperilaku yang sebaik-baiknya. Saya mempercayai bahwa agama mengajarkan perdamaian pada umat manusia supaya mereka bisa saling belajar untuk mengasihi. Agama seharusnya memanusiakan manusia, dalam pengertian bahwa agama seharusnya mendorong munculnya perikemanusiaan seseorang, sehingga orang tersebut bertambah peka perasaannya, semakin peduli dengan penderitaan sesamanya dan bertambah bijaksana perilakunya. Namun pada kenyataannya dunia ini dipenuhi dengan orang-orang fanatik dari kalangan agama apapun, yang bersikap angkuh dan merasa bahwa kebenaran sejati adalah hak prerogatif agama yang diyakini oleh komunitas mereka. Mereka memandang orang lain yang berbeda keyakinan sebagai orang-orang sesat yang tidak mendapatkan keselamatan.
Jika di Jepang sebelum era perang dunia ke dua pernah muncul adanya ideologi Ultra-Nasionalisme, maka di nusantara kita yang sekarang ini dikenal juga dengan adanya Ultra-Cintaisme pada agama. Jadi agama seringkali dipahami dengan cara-cara yang radikal dan militan, sehingga agama tidak lagi terasa membawa perdamaian dan keharmonisan, malah cenderung menyebabkan manusia semakin tidak beradab, dan menyebabkan terjadinya tindakan kekerasan yang berulang-ulang, yang mencerminkan kesempitan pola berpikir pemeluknya. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air kita semakin hari semakin mudah terbakar bahkan hanya dengan beberapa penggal cerita-cerita heroik, dan konflik-konflik bangsa asing yang terjadi di masa lalu, di belahan bumi lain, di negara lain. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air itu kemudian ikut-ikutan dendam dengan dendamnya orang lain, bangsa lain, lantas membenci saudara sebangsanya yang berlainan kepercayaan. Perang salib yang notabene perangnya orang lain, perangnya bangsa lain, gemanya terdengar hingga sekarang… hingga ke Indonesia kita tercinta ini. Kita ini orang-orang Indonesia moderen yang sama sekali tidak memilki hubungan langsung dengan Jerusalem masa lampau, pada akhirnya terbawa-bawa untuk membenci saudara kita, hanya karena kebetulan kita dilahirkan dengan identitas agama yang berbeda, yang mana perbedaan identitas itu mirip-mirip dengan perbedaan identitas dari agama-agama yang dianut bangsa-bangsa asing yang saling berseteru pada waktu itu. Perlu digarisbawahi, bahwa sama sekali bukan agama yang menjadi permasalahan di sini, namun idealisme impor, idealisme asing yang mengandung kebencian itu yang dikhawatirkan dapat membawa perpecahan diantara kita orang-orang Indonesia. Saudara-saudara kita di timur Indonesia saling tusuk dan saling tembak, gara-gara keliru memahami idealisme impor itu, gara-gara tidak bisa memisahkan antara ajaran agama dengan sentiment negatif yang muncul dari akumulasi konflik-konflik zaman kuno. Mereka terdiri dari dua kubu, persis seperti kubu-kubu di timur tengah yang saling berhadap-hadapan dalam konflik besar memperebutan tanah suci, Jerusalem, yang terjadi seribu-an tahun yang lalu.
Sebaiknya kita sebisa mungkin tidak sependapat dengan adanya peperangan, daripada berperang kan lebih baik duduk bersama, menyelesaikan perbedaan pendapat dengan cara-cara musyawarah kekeluargaan. Namun janganlah kita terlalu menyalahkan seratus persen saudara kita yang berperang dalam konflik Ambon yang berbau sara tersebut. Sangat sulit bagi seseorang untuk menghindari konflik semacam itu, apalagi yang bersangkutan adalah orang lokal yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan daerah tempat berlangsungnya konflik tersebut. Tidak semua orang yang ikut berperang didalamnya berjiwa militan, namun ada beberapa orang yang terpaksa mengangkat senjata untuk melindungi keluarga, kampung halaman, dan orang yang mereka cintai, dari kejamnya peperangan itu sendiri. Kita harus berpikir logis, kadang-kadang seseorang tidak memiliki banyak pilihan selain melakukan sesuatu yang mereka benci demi melindungi keselamatan orang-orang yang mereka cintai. Sepanjang ini bukan menyangkut aksi penyerangan, mengangkat senjata untuk mempertahankan diri masih bisa dibenarkan. Namun yang paling disesalkan disini adalah para penghasut-penghasut pra konflik, entah dari kubu yang mana saja, yang menyebarkan kebencian-kebencian secara mendalam, sehingga orang menjadi berpikir bahwa menjaga kemurnian dan kesucian agama jauh lebih penting daripada memelihara perdamaian. Bisa saja para penghasut itu tidak menyadari bahwa apa yang mereka sampaikan berpotensi menimbulkan perpecahan dan penderitaan, mereka hanya tahu bahwa mereka harus menyampaikan berita yang telah disampaikan kepada mereka. Oleh karenanya dibutuhkan suatu penyikapan yang dewasa dan bijaksana terhadap segala hal yang sedang diberitakan kepada kita, sehingga kita bertindak tepat guna dan tepat sasaran, serta tidak bertindak terlalu reaksioner yang hanya akan menimbulkan penderitaan kepada sesama.
Kita harus berhenti berpikir bahwa hanya agama kita saja yang memiliki kebenaran sejati, sementara agama lain memiliki banyak kekurangan, pemikiran seperti itu tidak lebih hanya membawa kita kepada sikap yang angkuh, naïf, cuek, tidak peduli dan mendorong kita menjadi semakin terkotak-kotak. Aku begini, engkau begitu, persetan dengan apapun yang kamu lakukan, aku tidak mau ambil pusing. Atau malah yang lebih parah lagi adalah, beberapa orang yang merasa benar sendiri itu malah memaksakan kehendak kepada orang lain untuk menuruti segala sesuatu yang menurutnya benar. Sikap-sikap ekstrim seperti itu malah membuat kita semakin jauh dari kebaikan. Baik ekstrim kanan maupun ekstrim kiri, kenyataannya hanya menyebabkan rusaknya tatanan.
Lihat saja di media massa, banyak sekali diantara kita yang mengkritik tradisi orang lain sebagai sesuatu yang tidak benar. Awalnya hanya kritikan dan gunjingan, tetapi ujung-ujungnya pemaksaan juga. Lihat saja apa yang dilakukan oleh beberapa orang yang tidak setuju dengan adanya Islam Ahmadiyah. Dengan alasan telah menginjak-injak ajaran dan kesucian Islam, mereka mengupayakan agar Ahmadiyah tidak boleh lagi eksis di Indonesia. Bagi anda yang terlalu reaksioner dan merasa bahwa kesucian agama anda telah diinjak-injak oleh Ahmadiyah, lantas bagaimana anda menilai tindakan anda dengan merusak rumah dan membakari masjid orang-orang Ahmadiyah. Baik pelaku pembakaran ataupun orang-orang yang mengupayakan agar Ahmadiyah sirna dari muka bumi Indonesia, mereka sama-sama bermasalah sebenarnya. Perhatikan saja, mereka cenderung berfokus pada “kesalahan” Ahmadiyah semata dan berupaya sekuat tenaga agar hukum ditegakan dengan membubarkan Ahmadiyah, namun mereka tidak berupaya dengan antusiasme yang sama bahwa pelaku pembakaran juga harus ditindak secara hukum. Terhadap pelaku pembakaran itu mereka seakan menutup mata, kemudian kasus itu sekedar menjadi kasus. Kebenaran apa yang mereka tegakan? Hukum apa yang ingin mereka junjung tinggi, hukum yang berpihak? Atau pemaksaan penghilangan keyakinan? Bayangkan saja bagaimana jika idealisme seperti ini menguasai Indonesia? Bisa runyam jadinya. Sejauh penilaian saya, ini hanyalah pemaksaan kehendak dan aksi premanisme yang dilakukan oleh masa mayoritas kepada kaum yang termarjinalkan, tidak lebih. Saya yakin jika perbandingan jumlah orang-orang Ahmadiyah berkebalikan dari yang sekarang, pembakaran dan perusakan itu tidak akan terjadi.
Kenapa sih kita ini cenderung merecoki orang lain? kenapa kita cenderung ingin membenarkan kekeliruan orang lain? apakah kita merasa paling sempurna sendiri? Adakah jaminan bahwa komunitas kita selalu benar dan tidak akan pernah bermasalah? kita pikir siapa sih kita ini, sehingga kita ingin merubah ideologi orang lain dengan ideologi kita? Memanganya kita mengetahui sesuatu dengan pasti, sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain, yang pemahamannya ingin kita benarkan itu? Tidakkah kita melihat bahwa mereka telah sepenuhnya baik-baik saja jauh sebelum kita ingin berusaha membenarkan mereka.
Saya tidak tertarik untuk membela ajaran Ahmadiyah, namun saya hanya mau bilang bahwa saya tidak sependapat dengan idealis ultra cintaisme kepada agama membuat seseorang berpikir bahwa pemaksaan kehendak boleh dilakukan untuk membela kesucian suatu agama. Saya berpendapat bahwa bibit konflik ini bukan dimulai dari perbedaan ajaran Ahmadiyah yang dinilai menyimpang, namun karena semangat ultra cintaisme kepada agama yang berkobar-kobar. Saya berpikir bahwa semua peperangan yang mengatas-namakan agama, selalu diawali oleh semangat ultra-cintaisme pada agama, yang selalu berapi-api. Apabila semangat ultra-cintaisme ini merasuki diri seseorang, maka orang ini akan bertindak sangat agresif dan membabi buta, membabat semua orang yang tidak sesuai dengan idealisme mereka, mereka tidak akan lagi mempedulikan perikemanusiaan… baik kepada lawan maupun kepada kawan. Mahatma Gandhi contohnya, seorang pemimpin Hindu terkemuka, yang meninggal tertembak oleh seorang Hindu militan. Militan yang membunuh Gandhi itu menganggap bahwa ajaran Gandhi dapat merusak kesucian Hindu. Padahal semua orang yang membaca sejarah tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi adalah sebuah usaha tulus untuk memadamkan konflik Islam dan Hindu, lewat jalur non kekerasan (Ahimsa) dan kasih sayang.
Marilah berbuat baik kepada siapapun, berikan senyum perdamaian kepada semua orang.
Jangan membeda-bedakan manusia berdasarkan ras atau agamanya. Tanamkan pengertian cinta kasih kepada anak-anak, dorong mereka untuk berlaku sedemikian rupa sehingga mereka bisa belajar untuk senantiasa menghormati perikemanusiaan, tidak hanya untuk sementara, tetapi selalu dan untuk selama-lamanya (meminjam kata-kata dari Immanuel Kant). Tolak segala faham yang mengandung kebencian dan mendorong sentimen-sentimen negatif, yang dapat mendorong kepada konflik dan perpecahan. Hormati sepenuhnya tradisi dan agama saudara kita, sedapat mungkin jangan berbicara buruk tentang itu. Salinglah mengucapkan selamat kepada orang-orang yang sedang merayakan hari besar, meskipun kita berbeda agama. Jangan takut murtad, Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang, Dia tidak akan pernah sembrono memberikan hukuman semacam itu kepada kita. Mari bersama menghormati Bhineka Tunggal Ika, junjung tinggi idealisme asli Indonesia itu, yang menjadi ideologi negara kita itu, lebih dari idealisme impor manapun.
Indonesia, bangsaku, nusantaraku, tanahairku.
Seribu tahun.
Kalau saya sih meyakini bahwa agama itu selalu menganjurkan kebaikan, mendorong manusia untuk saling berbagi dan saling peduli. Agama mengatur perikehidupan sedemikian rupa sehingga manusia memiliki rambu-rambu tertentu agar dia selalu ingat dan menghormati ajaran luhur dengan berperilaku yang sebaik-baiknya. Saya mempercayai bahwa agama mengajarkan perdamaian pada umat manusia supaya mereka bisa saling belajar untuk mengasihi. Agama seharusnya memanusiakan manusia, dalam pengertian bahwa agama seharusnya mendorong munculnya perikemanusiaan seseorang, sehingga orang tersebut bertambah peka perasaannya, semakin peduli dengan penderitaan sesamanya dan bertambah bijaksana perilakunya. Namun pada kenyataannya dunia ini dipenuhi dengan orang-orang fanatik dari kalangan agama apapun, yang bersikap angkuh dan merasa bahwa kebenaran sejati adalah hak prerogatif agama yang diyakini oleh komunitas mereka. Mereka memandang orang lain yang berbeda keyakinan sebagai orang-orang sesat yang tidak mendapatkan keselamatan.
Jika di Jepang sebelum era perang dunia ke dua pernah muncul adanya ideologi Ultra-Nasionalisme, maka di nusantara kita yang sekarang ini dikenal juga dengan adanya Ultra-Cintaisme pada agama. Jadi agama seringkali dipahami dengan cara-cara yang radikal dan militan, sehingga agama tidak lagi terasa membawa perdamaian dan keharmonisan, malah cenderung menyebabkan manusia semakin tidak beradab, dan menyebabkan terjadinya tindakan kekerasan yang berulang-ulang, yang mencerminkan kesempitan pola berpikir pemeluknya. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air kita semakin hari semakin mudah terbakar bahkan hanya dengan beberapa penggal cerita-cerita heroik, dan konflik-konflik bangsa asing yang terjadi di masa lalu, di belahan bumi lain, di negara lain. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air itu kemudian ikut-ikutan dendam dengan dendamnya orang lain, bangsa lain, lantas membenci saudara sebangsanya yang berlainan kepercayaan. Perang salib yang notabene perangnya orang lain, perangnya bangsa lain, gemanya terdengar hingga sekarang… hingga ke Indonesia kita tercinta ini. Kita ini orang-orang Indonesia moderen yang sama sekali tidak memilki hubungan langsung dengan Jerusalem masa lampau, pada akhirnya terbawa-bawa untuk membenci saudara kita, hanya karena kebetulan kita dilahirkan dengan identitas agama yang berbeda, yang mana perbedaan identitas itu mirip-mirip dengan perbedaan identitas dari agama-agama yang dianut bangsa-bangsa asing yang saling berseteru pada waktu itu. Perlu digarisbawahi, bahwa sama sekali bukan agama yang menjadi permasalahan di sini, namun idealisme impor, idealisme asing yang mengandung kebencian itu yang dikhawatirkan dapat membawa perpecahan diantara kita orang-orang Indonesia. Saudara-saudara kita di timur Indonesia saling tusuk dan saling tembak, gara-gara keliru memahami idealisme impor itu, gara-gara tidak bisa memisahkan antara ajaran agama dengan sentiment negatif yang muncul dari akumulasi konflik-konflik zaman kuno. Mereka terdiri dari dua kubu, persis seperti kubu-kubu di timur tengah yang saling berhadap-hadapan dalam konflik besar memperebutan tanah suci, Jerusalem, yang terjadi seribu-an tahun yang lalu.
Sebaiknya kita sebisa mungkin tidak sependapat dengan adanya peperangan, daripada berperang kan lebih baik duduk bersama, menyelesaikan perbedaan pendapat dengan cara-cara musyawarah kekeluargaan. Namun janganlah kita terlalu menyalahkan seratus persen saudara kita yang berperang dalam konflik Ambon yang berbau sara tersebut. Sangat sulit bagi seseorang untuk menghindari konflik semacam itu, apalagi yang bersangkutan adalah orang lokal yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan daerah tempat berlangsungnya konflik tersebut. Tidak semua orang yang ikut berperang didalamnya berjiwa militan, namun ada beberapa orang yang terpaksa mengangkat senjata untuk melindungi keluarga, kampung halaman, dan orang yang mereka cintai, dari kejamnya peperangan itu sendiri. Kita harus berpikir logis, kadang-kadang seseorang tidak memiliki banyak pilihan selain melakukan sesuatu yang mereka benci demi melindungi keselamatan orang-orang yang mereka cintai. Sepanjang ini bukan menyangkut aksi penyerangan, mengangkat senjata untuk mempertahankan diri masih bisa dibenarkan. Namun yang paling disesalkan disini adalah para penghasut-penghasut pra konflik, entah dari kubu yang mana saja, yang menyebarkan kebencian-kebencian secara mendalam, sehingga orang menjadi berpikir bahwa menjaga kemurnian dan kesucian agama jauh lebih penting daripada memelihara perdamaian. Bisa saja para penghasut itu tidak menyadari bahwa apa yang mereka sampaikan berpotensi menimbulkan perpecahan dan penderitaan, mereka hanya tahu bahwa mereka harus menyampaikan berita yang telah disampaikan kepada mereka. Oleh karenanya dibutuhkan suatu penyikapan yang dewasa dan bijaksana terhadap segala hal yang sedang diberitakan kepada kita, sehingga kita bertindak tepat guna dan tepat sasaran, serta tidak bertindak terlalu reaksioner yang hanya akan menimbulkan penderitaan kepada sesama.
Kita harus berhenti berpikir bahwa hanya agama kita saja yang memiliki kebenaran sejati, sementara agama lain memiliki banyak kekurangan, pemikiran seperti itu tidak lebih hanya membawa kita kepada sikap yang angkuh, naïf, cuek, tidak peduli dan mendorong kita menjadi semakin terkotak-kotak. Aku begini, engkau begitu, persetan dengan apapun yang kamu lakukan, aku tidak mau ambil pusing. Atau malah yang lebih parah lagi adalah, beberapa orang yang merasa benar sendiri itu malah memaksakan kehendak kepada orang lain untuk menuruti segala sesuatu yang menurutnya benar. Sikap-sikap ekstrim seperti itu malah membuat kita semakin jauh dari kebaikan. Baik ekstrim kanan maupun ekstrim kiri, kenyataannya hanya menyebabkan rusaknya tatanan.
Lihat saja di media massa, banyak sekali diantara kita yang mengkritik tradisi orang lain sebagai sesuatu yang tidak benar. Awalnya hanya kritikan dan gunjingan, tetapi ujung-ujungnya pemaksaan juga. Lihat saja apa yang dilakukan oleh beberapa orang yang tidak setuju dengan adanya Islam Ahmadiyah. Dengan alasan telah menginjak-injak ajaran dan kesucian Islam, mereka mengupayakan agar Ahmadiyah tidak boleh lagi eksis di Indonesia. Bagi anda yang terlalu reaksioner dan merasa bahwa kesucian agama anda telah diinjak-injak oleh Ahmadiyah, lantas bagaimana anda menilai tindakan anda dengan merusak rumah dan membakari masjid orang-orang Ahmadiyah. Baik pelaku pembakaran ataupun orang-orang yang mengupayakan agar Ahmadiyah sirna dari muka bumi Indonesia, mereka sama-sama bermasalah sebenarnya. Perhatikan saja, mereka cenderung berfokus pada “kesalahan” Ahmadiyah semata dan berupaya sekuat tenaga agar hukum ditegakan dengan membubarkan Ahmadiyah, namun mereka tidak berupaya dengan antusiasme yang sama bahwa pelaku pembakaran juga harus ditindak secara hukum. Terhadap pelaku pembakaran itu mereka seakan menutup mata, kemudian kasus itu sekedar menjadi kasus. Kebenaran apa yang mereka tegakan? Hukum apa yang ingin mereka junjung tinggi, hukum yang berpihak? Atau pemaksaan penghilangan keyakinan? Bayangkan saja bagaimana jika idealisme seperti ini menguasai Indonesia? Bisa runyam jadinya. Sejauh penilaian saya, ini hanyalah pemaksaan kehendak dan aksi premanisme yang dilakukan oleh masa mayoritas kepada kaum yang termarjinalkan, tidak lebih. Saya yakin jika perbandingan jumlah orang-orang Ahmadiyah berkebalikan dari yang sekarang, pembakaran dan perusakan itu tidak akan terjadi.
Kenapa sih kita ini cenderung merecoki orang lain? kenapa kita cenderung ingin membenarkan kekeliruan orang lain? apakah kita merasa paling sempurna sendiri? Adakah jaminan bahwa komunitas kita selalu benar dan tidak akan pernah bermasalah? kita pikir siapa sih kita ini, sehingga kita ingin merubah ideologi orang lain dengan ideologi kita? Memanganya kita mengetahui sesuatu dengan pasti, sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain, yang pemahamannya ingin kita benarkan itu? Tidakkah kita melihat bahwa mereka telah sepenuhnya baik-baik saja jauh sebelum kita ingin berusaha membenarkan mereka.
Saya tidak tertarik untuk membela ajaran Ahmadiyah, namun saya hanya mau bilang bahwa saya tidak sependapat dengan idealis ultra cintaisme kepada agama membuat seseorang berpikir bahwa pemaksaan kehendak boleh dilakukan untuk membela kesucian suatu agama. Saya berpendapat bahwa bibit konflik ini bukan dimulai dari perbedaan ajaran Ahmadiyah yang dinilai menyimpang, namun karena semangat ultra cintaisme kepada agama yang berkobar-kobar. Saya berpikir bahwa semua peperangan yang mengatas-namakan agama, selalu diawali oleh semangat ultra-cintaisme pada agama, yang selalu berapi-api. Apabila semangat ultra-cintaisme ini merasuki diri seseorang, maka orang ini akan bertindak sangat agresif dan membabi buta, membabat semua orang yang tidak sesuai dengan idealisme mereka, mereka tidak akan lagi mempedulikan perikemanusiaan… baik kepada lawan maupun kepada kawan. Mahatma Gandhi contohnya, seorang pemimpin Hindu terkemuka, yang meninggal tertembak oleh seorang Hindu militan. Militan yang membunuh Gandhi itu menganggap bahwa ajaran Gandhi dapat merusak kesucian Hindu. Padahal semua orang yang membaca sejarah tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi adalah sebuah usaha tulus untuk memadamkan konflik Islam dan Hindu, lewat jalur non kekerasan (Ahimsa) dan kasih sayang.
Marilah berbuat baik kepada siapapun, berikan senyum perdamaian kepada semua orang.
Jangan membeda-bedakan manusia berdasarkan ras atau agamanya. Tanamkan pengertian cinta kasih kepada anak-anak, dorong mereka untuk berlaku sedemikian rupa sehingga mereka bisa belajar untuk senantiasa menghormati perikemanusiaan, tidak hanya untuk sementara, tetapi selalu dan untuk selama-lamanya (meminjam kata-kata dari Immanuel Kant). Tolak segala faham yang mengandung kebencian dan mendorong sentimen-sentimen negatif, yang dapat mendorong kepada konflik dan perpecahan. Hormati sepenuhnya tradisi dan agama saudara kita, sedapat mungkin jangan berbicara buruk tentang itu. Salinglah mengucapkan selamat kepada orang-orang yang sedang merayakan hari besar, meskipun kita berbeda agama. Jangan takut murtad, Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang, Dia tidak akan pernah sembrono memberikan hukuman semacam itu kepada kita. Mari bersama menghormati Bhineka Tunggal Ika, junjung tinggi idealisme asli Indonesia itu, yang menjadi ideologi negara kita itu, lebih dari idealisme impor manapun.
Indonesia, bangsaku, nusantaraku, tanahairku.
Seribu tahun.
Langganan:
Postingan (Atom)