Rabu, 18 Februari 2009

Tuhan itu ada atau tidak ya?
















Hanya sedikit sekali diantara kita yang mau untuk berusaha bertanya-tanya tentang sesuatu yang sulit untuk kita ketahui. Jika dihadapkan pada satu pertanyaan yang dalam dan mendasar, seperti Tuhan itu ada atau tidak? Maka manusia dapat digolongkan menjadi dua macam. Golongan pertama adalah golongan penolak yang percaya betul bahwa tidak ada yang namanya Sang Pencipta atau proses penciptaan. Mereka ini adalah golongan yang terlalu cepat mengambil suatu keputusan. Kemudian yang kedua adalah golongan peng-iman, yaitu seorang saleh yang percaya betul dengan keberadaan Sang Pencipta, dan penciptaan. Seperti halnya golongan yang pertama, golongan yang kedua ini juga sama-sama "mengerti".

Sudah jelas golongan-golongan “yang mengetahui” ini memiliki karakteristik yang sama, yaitu berhenti berpikir dan memandang rendah suatu pertanyaan. Jelas sekali terdapat dua golongan diantara mereka yang memiliki ciri khas yang hampir sama. Golongan yang satu adalah golongan penjawab. Ini adalah golongan orang-orang yang selalu berusaha menjawab pertanyaan tentang Tuhan dengan keyakinan serba pasti mereka. Bukannya merenungkan pertanyaan yang diajukan padanya, dia malah dengan enteng menjawab pertanyaan berat macam itu dengan dalil-dalil yang kaku. Orang-orang seperti ini biasanya adalah orang-orang fanatik pengikut faham keselamatan sendiri atau kebenaran sendiri, yang pantang berpikir melenceng dari ajaran yang dia terima.

Golongan yang berikutnya lagi adalah golongan yang berhenti bertanya, penganut faham nihilis. Yaitu orang-orang yang karena “sudah tahu betul” bahwa tidak ada yang namanya Sang Pencipta, maka dia tidak akan membuang-buang banyak waktunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Tuhan. Segala pertanyaan tentang Tuhan adalah konyol dan tidak akan ada gunanya, bahkan sekadar untuk didiskusikan.
Sekedar berbagi pendapat. Mungkin pertanyaan tentang Tuhan sering kali dihadapkan dengan suatu ketidak-pastian, atau bisa saja malah menemui jalan buntu. Jadi mungkin seseorang tidak akan bisa memberikan jawaban “ya” atau juga “tidak”, pada pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Tuhan. Namun yang ingin disampaikan di sini adalah, bahwa jawaban itu tidak selalu menjadi penting apabila disangkut-pautkan pada pertanyaan tentang Tuhan, karena tidak ada seorangpun yang bisa memberikan jawaban dengan tepat, sebab tidak seorangpun di dunia ini yang pernah mengalami Tuhan atau penciptaan.

Lantas apa yang penting? Yang penting adalah pertanyaan itu sendiri. Pertanyaan mendorong kita untuk selalu meraba-raba, melatih kita untuk selalu berpikir, dan membuat kita menjadi lebih dewasa. Dan yang terpenting adalah bahwa pertanyaan itu sendiri mengindikasikan bahwa kita peduli. Untuk itu bertanyalah tentang apa saja, mulailah berdiskusi dengan banyak orang, jangan menilai rendah kepada siapapun yang sedang berbicara dengan kita, bahkan jangan menilai apapun yang sedang dia bicarakan. Pokoknya jangan menghakimi apapun, penghakiman hanya membuat kita semakin kolot dan berpotensi mengukuhkan ego kita.
Dengarkan orang bicara dengan penuh ketulusan, bawa pelajaran dari pembicaraan itu kedalam perenungan malam sebelum tidur, ambil manfaat dari perenungan itu dan praktikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sekedar unek-unek orang ndeso yang tidak berpendidikan, yang tidak mengerti banyak hal tapi asal nyeplos.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar