Selasa, 20 Januari 2009

Ultra cintaisme pada agama

Menurut saya, sikap menghormati keberagaman agama adalah suatu perbuatan yang baik, mulia dan tentunya perlu sekali untuk diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan sikap menghormati agama lain adalah, perbuatan yang benar-benar menghormati suatu perbedaan agama dengan sebaik-baiknya dan dengan sikap yang peduli. Menghormati keberagaman beragama tidak berarti hanya sekedar memberikan toleransi ataupun sekedar bersikap cuek, tidak mau tahu. Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali orang yang beranggapan bahwa segala sesuatu diluar agama dan keyakinan mereka adalah bukan urusan mereka, dan mereka tidak akan mau tahu sedikitpun dengan hal-hal semacam itu. Itulah mengapa sangat sedikit orang non Nasrani yang mau mengucapkan selamat Natal pada orang Nasrani, dengan berbagai alasan, termasuk alasan takut dianggap murtad karena membenarkan ajaran agama orang lain. Sangat ironis bahwa agama malah membuat umat manusia menjadi terkotak-kotak.

Kalau saya sih meyakini bahwa agama itu selalu menganjurkan kebaikan, mendorong manusia untuk saling berbagi dan saling peduli. Agama mengatur perikehidupan sedemikian rupa sehingga manusia memiliki rambu-rambu tertentu agar dia selalu ingat dan menghormati ajaran luhur dengan berperilaku yang sebaik-baiknya. Saya mempercayai bahwa agama mengajarkan perdamaian pada umat manusia supaya mereka bisa saling belajar untuk mengasihi. Agama seharusnya memanusiakan manusia, dalam pengertian bahwa agama seharusnya mendorong munculnya perikemanusiaan seseorang, sehingga orang tersebut bertambah peka perasaannya, semakin peduli dengan penderitaan sesamanya dan bertambah bijaksana perilakunya. Namun pada kenyataannya dunia ini dipenuhi dengan orang-orang fanatik dari kalangan agama apapun, yang bersikap angkuh dan merasa bahwa kebenaran sejati adalah hak prerogatif agama yang diyakini oleh komunitas mereka. Mereka memandang orang lain yang berbeda keyakinan sebagai orang-orang sesat yang tidak mendapatkan keselamatan.

Jika di Jepang sebelum era perang dunia ke dua pernah muncul adanya ideologi Ultra-Nasionalisme, maka di nusantara kita yang sekarang ini dikenal juga dengan adanya Ultra-Cintaisme pada agama. Jadi agama seringkali dipahami dengan cara-cara yang radikal dan militan, sehingga agama tidak lagi terasa membawa perdamaian dan keharmonisan, malah cenderung menyebabkan manusia semakin tidak beradab, dan menyebabkan terjadinya tindakan kekerasan yang berulang-ulang, yang mencerminkan kesempitan pola berpikir pemeluknya. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air kita semakin hari semakin mudah terbakar bahkan hanya dengan beberapa penggal cerita-cerita heroik, dan konflik-konflik bangsa asing yang terjadi di masa lalu, di belahan bumi lain, di negara lain. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air itu kemudian ikut-ikutan dendam dengan dendamnya orang lain, bangsa lain, lantas membenci saudara sebangsanya yang berlainan kepercayaan. Perang salib yang notabene perangnya orang lain, perangnya bangsa lain, gemanya terdengar hingga sekarang… hingga ke Indonesia kita tercinta ini. Kita ini orang-orang Indonesia moderen yang sama sekali tidak memilki hubungan langsung dengan Jerusalem masa lampau, pada akhirnya terbawa-bawa untuk membenci saudara kita, hanya karena kebetulan kita dilahirkan dengan identitas agama yang berbeda, yang mana perbedaan identitas itu mirip-mirip dengan perbedaan identitas dari agama-agama yang dianut bangsa-bangsa asing yang saling berseteru pada waktu itu. Perlu digarisbawahi, bahwa sama sekali bukan agama yang menjadi permasalahan di sini, namun idealisme impor, idealisme asing yang mengandung kebencian itu yang dikhawatirkan dapat membawa perpecahan diantara kita orang-orang Indonesia. Saudara-saudara kita di timur Indonesia saling tusuk dan saling tembak, gara-gara keliru memahami idealisme impor itu, gara-gara tidak bisa memisahkan antara ajaran agama dengan sentiment negatif yang muncul dari akumulasi konflik-konflik zaman kuno. Mereka terdiri dari dua kubu, persis seperti kubu-kubu di timur tengah yang saling berhadap-hadapan dalam konflik besar memperebutan tanah suci, Jerusalem, yang terjadi seribu-an tahun yang lalu.

Sebaiknya kita sebisa mungkin tidak sependapat dengan adanya peperangan, daripada berperang kan lebih baik duduk bersama, menyelesaikan perbedaan pendapat dengan cara-cara musyawarah kekeluargaan. Namun janganlah kita terlalu menyalahkan seratus persen saudara kita yang berperang dalam konflik Ambon yang berbau sara tersebut. Sangat sulit bagi seseorang untuk menghindari konflik semacam itu, apalagi yang bersangkutan adalah orang lokal yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan daerah tempat berlangsungnya konflik tersebut. Tidak semua orang yang ikut berperang didalamnya berjiwa militan, namun ada beberapa orang yang terpaksa mengangkat senjata untuk melindungi keluarga, kampung halaman, dan orang yang mereka cintai, dari kejamnya peperangan itu sendiri. Kita harus berpikir logis, kadang-kadang seseorang tidak memiliki banyak pilihan selain melakukan sesuatu yang mereka benci demi melindungi keselamatan orang-orang yang mereka cintai. Sepanjang ini bukan menyangkut aksi penyerangan, mengangkat senjata untuk mempertahankan diri masih bisa dibenarkan. Namun yang paling disesalkan disini adalah para penghasut-penghasut pra konflik, entah dari kubu yang mana saja, yang menyebarkan kebencian-kebencian secara mendalam, sehingga orang menjadi berpikir bahwa menjaga kemurnian dan kesucian agama jauh lebih penting daripada memelihara perdamaian. Bisa saja para penghasut itu tidak menyadari bahwa apa yang mereka sampaikan berpotensi menimbulkan perpecahan dan penderitaan, mereka hanya tahu bahwa mereka harus menyampaikan berita yang telah disampaikan kepada mereka. Oleh karenanya dibutuhkan suatu penyikapan yang dewasa dan bijaksana terhadap segala hal yang sedang diberitakan kepada kita, sehingga kita bertindak tepat guna dan tepat sasaran, serta tidak bertindak terlalu reaksioner yang hanya akan menimbulkan penderitaan kepada sesama.

Kita harus berhenti berpikir bahwa hanya agama kita saja yang memiliki kebenaran sejati, sementara agama lain memiliki banyak kekurangan, pemikiran seperti itu tidak lebih hanya membawa kita kepada sikap yang angkuh, naïf, cuek, tidak peduli dan mendorong kita menjadi semakin terkotak-kotak. Aku begini, engkau begitu, persetan dengan apapun yang kamu lakukan, aku tidak mau ambil pusing. Atau malah yang lebih parah lagi adalah, beberapa orang yang merasa benar sendiri itu malah memaksakan kehendak kepada orang lain untuk menuruti segala sesuatu yang menurutnya benar. Sikap-sikap ekstrim seperti itu malah membuat kita semakin jauh dari kebaikan. Baik ekstrim kanan maupun ekstrim kiri, kenyataannya hanya menyebabkan rusaknya tatanan.

Lihat saja di media massa, banyak sekali diantara kita yang mengkritik tradisi orang lain sebagai sesuatu yang tidak benar. Awalnya hanya kritikan dan gunjingan, tetapi ujung-ujungnya pemaksaan juga. Lihat saja apa yang dilakukan oleh beberapa orang yang tidak setuju dengan adanya Islam Ahmadiyah. Dengan alasan telah menginjak-injak ajaran dan kesucian Islam, mereka mengupayakan agar Ahmadiyah tidak boleh lagi eksis di Indonesia. Bagi anda yang terlalu reaksioner dan merasa bahwa kesucian agama anda telah diinjak-injak oleh Ahmadiyah, lantas bagaimana anda menilai tindakan anda dengan merusak rumah dan membakari masjid orang-orang Ahmadiyah. Baik pelaku pembakaran ataupun orang-orang yang mengupayakan agar Ahmadiyah sirna dari muka bumi Indonesia, mereka sama-sama bermasalah sebenarnya. Perhatikan saja, mereka cenderung berfokus pada “kesalahan” Ahmadiyah semata dan berupaya sekuat tenaga agar hukum ditegakan dengan membubarkan Ahmadiyah, namun mereka tidak berupaya dengan antusiasme yang sama bahwa pelaku pembakaran juga harus ditindak secara hukum. Terhadap pelaku pembakaran itu mereka seakan menutup mata, kemudian kasus itu sekedar menjadi kasus. Kebenaran apa yang mereka tegakan? Hukum apa yang ingin mereka junjung tinggi, hukum yang berpihak? Atau pemaksaan penghilangan keyakinan? Bayangkan saja bagaimana jika idealisme seperti ini menguasai Indonesia? Bisa runyam jadinya. Sejauh penilaian saya, ini hanyalah pemaksaan kehendak dan aksi premanisme yang dilakukan oleh masa mayoritas kepada kaum yang termarjinalkan, tidak lebih. Saya yakin jika perbandingan jumlah orang-orang Ahmadiyah berkebalikan dari yang sekarang, pembakaran dan perusakan itu tidak akan terjadi.

Kenapa sih kita ini cenderung merecoki orang lain? kenapa kita cenderung ingin membenarkan kekeliruan orang lain? apakah kita merasa paling sempurna sendiri? Adakah jaminan bahwa komunitas kita selalu benar dan tidak akan pernah bermasalah? kita pikir siapa sih kita ini, sehingga kita ingin merubah ideologi orang lain dengan ideologi kita? Memanganya kita mengetahui sesuatu dengan pasti, sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain, yang pemahamannya ingin kita benarkan itu? Tidakkah kita melihat bahwa mereka telah sepenuhnya baik-baik saja jauh sebelum kita ingin berusaha membenarkan mereka.

Saya tidak tertarik untuk membela ajaran Ahmadiyah, namun saya hanya mau bilang bahwa saya tidak sependapat dengan idealis ultra cintaisme kepada agama membuat seseorang berpikir bahwa pemaksaan kehendak boleh dilakukan untuk membela kesucian suatu agama. Saya berpendapat bahwa bibit konflik ini bukan dimulai dari perbedaan ajaran Ahmadiyah yang dinilai menyimpang, namun karena semangat ultra cintaisme kepada agama yang berkobar-kobar. Saya berpikir bahwa semua peperangan yang mengatas-namakan agama, selalu diawali oleh semangat ultra-cintaisme pada agama, yang selalu berapi-api. Apabila semangat ultra-cintaisme ini merasuki diri seseorang, maka orang ini akan bertindak sangat agresif dan membabi buta, membabat semua orang yang tidak sesuai dengan idealisme mereka, mereka tidak akan lagi mempedulikan perikemanusiaan… baik kepada lawan maupun kepada kawan. Mahatma Gandhi contohnya, seorang pemimpin Hindu terkemuka, yang meninggal tertembak oleh seorang Hindu militan. Militan yang membunuh Gandhi itu menganggap bahwa ajaran Gandhi dapat merusak kesucian Hindu. Padahal semua orang yang membaca sejarah tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi adalah sebuah usaha tulus untuk memadamkan konflik Islam dan Hindu, lewat jalur non kekerasan (Ahimsa) dan kasih sayang.

Marilah berbuat baik kepada siapapun, berikan senyum perdamaian kepada semua orang.
Jangan membeda-bedakan manusia berdasarkan ras atau agamanya. Tanamkan pengertian cinta kasih kepada anak-anak, dorong mereka untuk berlaku sedemikian rupa sehingga mereka bisa belajar untuk senantiasa menghormati perikemanusiaan, tidak hanya untuk sementara, tetapi selalu dan untuk selama-lamanya (meminjam kata-kata dari Immanuel Kant). Tolak segala faham yang mengandung kebencian dan mendorong sentimen-sentimen negatif, yang dapat mendorong kepada konflik dan perpecahan. Hormati sepenuhnya tradisi dan agama saudara kita, sedapat mungkin jangan berbicara buruk tentang itu. Salinglah mengucapkan selamat kepada orang-orang yang sedang merayakan hari besar, meskipun kita berbeda agama. Jangan takut murtad, Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang, Dia tidak akan pernah sembrono memberikan hukuman semacam itu kepada kita. Mari bersama menghormati Bhineka Tunggal Ika, junjung tinggi idealisme asli Indonesia itu, yang menjadi ideologi negara kita itu, lebih dari idealisme impor manapun.

Indonesia, bangsaku, nusantaraku, tanahairku.

Seribu tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar