Malam ini saya kesulitan tidur lagi, pikiran saya tidak bisa diam, kesana kemari memikirkan yang tidak-tidak. Sudah sekitar lima belas menit saya berjuang untuk tidur namun gagal. Namun setelah beberapa saat, akhirnya pikiran saya mulai terasa tidak masuk akal, ngglambyar-konyol, yang menandakan bahwa saya dalam keadaan separuh sadar-separuh mimpi. Setelah beberapa saat tiba-tiba saya dikejutkan dengan rasa gatal panas di jempol kaki saya, seekor nyamuk putih, yaitu sejenis nyamuk yang memiliki sayap berwarna putih yang gigitannya sangat sakit dan panas, menggigit jempol kaki saya dengan ganas. Kemudian saya mengambil obat nyamuk semprot, dan saya semprot kamar saya, dengan tidak lupa membuka jendela kamar, agar nyamuk-nyamuk itu tidak mati dan pergi dari kamar. Saya keluar kamar bersama laptop saya, untuk menghindari bau obat nyamuk tersebut. Dan di ruang tamu rumah saya, akhirnya saya menulis ini.
Dalam hidup ini kita semua selalu dikelilingi oleh banyak orang di sekitar kita, ada beberapa diantara mereka yang menyenangkan, biasa-biasa saja, dan sebagian malah terasa menjengkelkan. Saya pribadi memilih dan memilah-milah orang-orang kedalam lingkaran luar, lingkaran dalam, dan lingkaran paling dalam. Jadi saya tidak bisa memandang semua orang disekitar saya sama saja, tidak, beberapa orang harus saya buat spesial. Tolok ukur dari lingkaran itu adalah kecocokan atau kedekatan saya dengan orang yang bersangkutan. Tentu saja cara memandang kecocokan dan kedekatan itu tidak didasarkan pada tradisi, SARA atau kekayaan seseorang. Saya tidak pernah tega membedakan seseorang dari kecerdasannya, dari status sosialnya dan dan dari banyaknya duit yang mereka punya.
Lingkaran luar berisi kenalan, teman biasa dan teman baik. Mereka ini biasanya terdiri dari teman-teman kampung biasa, teman organisasi biasa, sanak saudara-famili biasa, teman bisnis biasa, teman SD, SMP, dan SMA biasa. Terhadap orang-orang seperti ini saya tidak memiliki rasa rindu atau kangen yang mendalam, demikian juga dengan mereka, saya rasa mereka tidak akan memiliki kerinduan yang mendalam terhadap saya. Hubungan dengan orang-orang di lingkaran luar selalu biasa-biasa saja, tidak pernah terlalu spesial. Jadi saya menyenangi teman-teman saya dan berusaha selalu antusias berbicara dengan mereka (hanya yang baik dengan saya), namun jika kami sudah lama tidak bertemu, saya tidak terlalu merasa kangen.
Lingkaran dalam adalah orang-orang yang dulunya berasal dari lingkaran luar, yang kini sudah saya masukan ke dalam lingkaran dalam. Lingkaran dalam terdiri dari sahabat, dan sahabat dekat. Sahabat seringkali berasal dari beberapa teman biasa yang memiliki hobi dan kegemaran yang sama, sehingga banyak sekali kegiatan hobi yang saya lakukan bersama mereka membuat saya rindu. Terhadap sahabat seperti ini saya bersedia memberikan bantuan kepada mereka tanpa meminta diberi imbalan apapun. Namun jika sahabat seperti ini macam-macam terhadap saya, atau bertindak tidak sepatutnya, atau bertindak tidak senonoh, atau menyerang dan menyakiti saya, maka saya tidak akan menganggap dia sebagai bagian dari lingkaran dalam lagi, dan saya akan memperlakukannya seperti teman biasa.
Sahabat dekat, adalah sahabat-sahabat yang sudah pernah meluangkan banyak waktu mereka bersama saya. Meluangkan banyak waktu bersama adalah indikasi sebuah kecocokan, tidak mungkin orang bisa meluangkan waktu secara bebas jika tidak ada kecocokan diantara mereka. Sahabat dekat selalu pernah berkali-kali mengadakan diskusi dan saling bercerita. Jadi saya tahu banyak hal tentang mereka, selera makan mereka, masa kecil mereka, dan kejadian-kejadian penting dalam hidup mereka. Karena ini adalah sahabat dekat, tidak mungkin mereka menyerang, bertindak tidak senonoh atau bertindak yang tidak baik kepada saya. Saya percaya penuh kepada mereka
Lingkaran paling dalam adalah lingkaran yang ada karena sumpah. Jadi lingkaran dalam itu ada karena saya bersumpah bahwa lingkaran itu ada. Lingkaran paling dalam terdiri dari orang yang saya anggap sebagai saudara, dan orang tua saya (dan istri, tapi masih belum punya). Terhadap orang tua, saya memuliakan beliau seperti dalam perintah agama, sebisa mungkin saya membahagiakan mereka dan menyayangi mereka. Seorang anak selalu bersumpah untuk menyayangi orang tua mereka, dia akan meniatkan kasih sayangnya secara tidak berbalas.
Orang yang saya anggap sebagai saudara adalah, orang yang banyak memiliki kesamaan misi. Saudara seharusnya hanya ada satu orang saja. Kebaikan seorang saudara adalah konsisten dan teruji oleh waktu, dia banyak melakukan hal-hal yang menurut saya baik.Dia berasal dari lingkaran luar, berpindah beberapa kali hingga masuk kedalam lingkaran paling dalam… hingga saya memutuskan dia menjadi seorang saudara. Sudah tidak mungkin ada lagi iri hati, tidak mungkin lagi ada sakit hati. Niatan baik bagi seorang saudara adalah tidak berbalas, seperti halnya niatan berbuat baik kepada orang tua, tidak akan pernah mengharapkan balasan apapun. Selalu ada sumpah bagi lingkaran paling dalam, dan sumpah saya untuk saudara saya adalah komitmen melindungi. Kegembiraannya adalah kegembiraan saya, kesusahannya adalah kesusahan saya juga. Tidak ada orang lain yang boleh memaksakan kehendak pada saudara saya. Tidak mungkin saya meninggalkan dia sendiri dalam penderitaan kecuali dia mengharapkan saya demikian. Dan sikap rela berkorban bagi seorang saudara adalah sebuah keikhlasan, saya tidak pernah berharap bahwa saudara saya melakukan hal yang serupa dengan saya.
Istri adalah adalah belahan jiwa katanya. Berhubung saya belum punya istri, dari pada saya dibilang sok tahu, sebaiknya saya tidak menuliskan apa-apa.
That’s all amigo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar