Jumat, 07 Agustus 2009

Saling belajar

Hari ini tanggal 7 Agustus 2009.

Saya ditugasi oleh Mr. Andrew untuk mengantar beliau ke bandara dengan minibus buatan Korea selatan bermesin diesel 4 tak milik dia. Saya jemput dia di daerah Tidar pada pukul 8 pagi. Kelihatannya dia sudah sangat siap dengan dua tas punggung besar dan satu tas jinjing yang lebih kecil. Saya panasi minibus itu, lalu beberapa saat beliau menghampiri dan berpesan agar saya memanasi minibus miliknya di luar ruangan saja agar asap kendaraan itu tidak mengganggu kesehatan kedua putrinya dan seorang putranya (dan satu orang gadis remaja Australia lain) yang sedang tidur kelelahan karena semalam begadang berpesta untuk memeriahkan ulang tahun si Rheanan (putri kedua Mr. Andrew).

Saya memacu minibus itu sekencangnya, walaupun berkali-kali Mr. Andrew berkali-kali mengingatkan bahwa dia masih memiliki banyak waktu untuk mengejar pesawat. Saya tidak ingin berlama-lama di perjalanan, sebaliknya, saya ingin segera mencapai airport kemudian saya berharap agar Mr. Andrew segera check in, dan duduk bersama saya untuk membahas berbagai bahasan yang dapat kami bahas bersama. Saya berhasil, perjalanan itu (Tidar-Juanda) hanya dilakukan sekitar satu jam lebih sedikit, namun itu sudah cukup memberi waktu untuk mengobrol di mobil tentang banyak sekali hal. Bahkan dalam suatu kesempatan tertentu, masih dalam mobil yang saya geber kencang, Mr. Andrew membacakan doa untuk saya.

Akhirnya tiba juga saat-saat dimana saya dapat duduk bersama dengan Mr. Andrew. Dia membawa saya ke sebuah cafĂ© kecil yang mahal di dalam bandara, di mana dia memesan es teh tawar dan seporsi siomay bandung… sementara saya memesan seporsi gadho-gadho dan secangkir teh susu. Dia membeli sebuah Koran Tempo untuk dirinya sendiri, dan sebuah Koran Jawa Pos untuk saya… masing-masing Rp.5000. (dia juga memberi saya sebuah injil kecil berkancing magnit, dan sebuah buku berjudul “Taming the Tiger”).

Banyak hal baru luar biasa yang saya pelajari dari orang ini, salah satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah kerendahan hatinya (kerendahan hatinya sudah diakui oleh banyak orang, termasuk oleh ayah saya sendiri). Saya terkesima dengan caranya berbicara yang selalu serius, penuh dengan perhatian namun selalu terlihat senyuman tersungging di bibirnya. Satu kalipun saya tidak pernah mendengar dia berbicara buruk tentang orang lain. Dia adalah pengikut Jesus Kristus yang baik dan taat, dia tidak pernah berbicara buruk tentang orang-orang Islam berserta tradisinya… sebaliknya dia malah terkesan sangat menghormati agama ini. Selain itu Mr. Andrew adalah seorang pengamat permasalahan yang teliti dan penganjur yang sangat lihai. Dia selalu memberikan masukan-masukan pintar tidak terduga… dengan cara memberikan beberapa opsi jalan keluar dari permasalahan untuk dipikirkan bersama.

Kami terus berbincang hingga pengumuman dari petugas bandara menghentikan pembicaraan kami. Beberapa saat kemudian kami saling mengucapkan salam dan berpisah. Saya berlari kecil menuju minibus Mr. Andrew, dan kemudian saya geber kencang ke arah Malang, dengan beberapa kali salah jalan….!

Satu lagi, kami (saya dan Mr. Andrew) bersepakat bahwa kami selalu bersemangat untuk saling mengetahui dan belajar tradisi, norma dan nilai kesopanan yang dijunjung tinggi di barat dan di timur. Ini sangat berguna bagi kepentingan Mr. Andrew yang ingin menyelami khasanah budaya timur… juga berguna bagi saya yang selalu tergila-gila dengan khasanah kebijakan Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar