Jumat, 19 Februari 2010

Orang Jawa Asing

Tiba-tiba muncul dalam pikiran saya istilah “middle person”, yaitu menunjuk kepada orang-orang Jawa unik yang memiliki kebiasaan tersendiri. Kepada orang-orang yang saya maksud ini, mereka dapat dengan mudah dikenali karena seringkali tidak bergaul dengan teman-teman atau tetangganya. Gaya hidup meliputi gaya bicara, kebiasaan, perkakas yang dipakai dan seringkali topik pembicaraan sama sekali berbeda dengan orang-orang Jawa kebanyakan. Mereka kebanyakan adalah orang yang berbangga diri dengan gaya hidupnya, namun belum tentu bahagia. Malahan seringkali menderita dan diliputi dengan perasaan serba kurang yang mendalam. (akan dijelaskan di bagian akhir)

Mereka ini adalah orang-orang Jawa yang mulai meninggalkan gaya hidup dan kebiasaannya dan mulai mengadaptasi kebiasaan dan gaya hidup orang lain. Berikut adalah cara saya mengkelaskan mereka:

1. Orang Jawa yang ke-Arab-Araban.
2. Orang Jawa yang ke-Cina-Cinaan
3. Orang Jawa yang ke-Barat-Baratan/ Ke-Bule-Bulean.

Ketiga jenis orang Jawa itu boleh berbeda namun ada beberapa kesamaan yang dapat langsung dikenali yaitu Kaku dan kekurangan semangat untuk bergaul dengan orang-orang Jawa lain yang masih sangat kental dengan kebiasaan umum di Jawa. Tidak hanya pada orang Jawa saja fenomena ini dapat dilihat, namun kita akan menjumpai orang Cina-Indonesia, orang Arab-Indonesia atau Bule yang kelihatan sangat Jawa. Namun ini tidak akan dibahas di sini.


1. Orang Jawa yang ke-Arab-Araban.
a. Biasanya terbentuk di pengajian.
b. Biasanya beragama Islam fundamentalis.
c. Kaku, tidak banyak bercanda.
d. Dalam pembicaraannya banyak sekali menyerang budaya Jawa asli, praktek
shamanisme dan anti keris.
e. Memiliki ciri khas tersendiri (seperti orang Arab) dalam mengucapkan kata-kata
tertentu.Antara lain Amin, Insya Allah, Aman, Inti dll.
f. Belum tentu dia adalah seorang agamawan yang baik namun cara bicara yang
meledak-ledak,terutama jika itu menyangkut masalah agama, akan sangat
kelihatan.

g. Tidak suka dengan atribut-atribut agama lain yang berlainan dengan atribut
agama dia.
h. Tidak lagi menggunakan peci hitam, sarung, terompah tetapi menggunakan sorban dan
baju putih-putih seperti orang Arab.


2. Orang Jawa yang ke-Cina-Cinaan.
a. Biasanya terbentuk di perusahaan-perusahaan Tionghoa.
b. Cuek
c. Belum tentu dia seorang usahawan yang baik, namun kikirnya luar biasa bukan main.
d. menggunakan istilah angka-angka Hokian dalam kehidupannya sehari-hari.
e. Eksklusif dalam kehidupan sehari-hari.
f. Bagi kebanyakan orang Jawa akan dianggap kurang ajar karena berbicara dan tertawa
dengan keras.
g. Dalam bekerja, biasanya sangat memihak orang-orang Cina.
h. Sama seperti saudara-saudara Cinanya yang menggunakan kata-kata campur lucu
seperti ntik, keja, mbek, ae, bok, pigi, pas, sing, mbo’o dll.
i. Agresif.


3. Orang Jawa yang ke-Barat-Baratan/ Ke-Bule-Bulean.
a. Biasanya terbentuk di English Club, Tourism Spot dan karena usaha missionaris.
b. Setidaknya bisa mengutarakan maksud dalam bahasa Inggris.
c. Pesakitan karena mengikuti kebiasaan bule yang banyak menggunakan antibiotik, dan
disinfektan.
d. Hidup kelewat bersih, tidak hanya bersih, tapi higinis dengan menggunakan
berbagai jenis produk pembunuh kuman.
e. Beralih ke lagu barat dengan membenci dangdut.
f. Sama persis dengan saudara bulenya yang boros listrik, gas, makanan, dan
sumberdaya lainnya.
g. Kawin tua.
h. Kelewatan mematuhi peraturan lalu lintas sekalipun dia tahu bahwa peraturan
lalu-lintas tidak sepenuhnya dapat dipatuhi, atau akan membunuh banyak orang.
i. Bangga menunjukan diri bahwa dia sibuk (meskipun tidak selalu).
j. Bagi orang Jawa akan dianggap memiliki selera humor yang payah.


Mereka adalah orang-orang yang seringkali merasa kekurangan atau bahkan merasa iri dengan orang-orang dari kalangan Jawa atau dari kalangan asing yang kebiasaannya ingin mereka adaptasi. Dia sering merasa kesepian karena tidak bergaul dengan teman Jawanya, sementara tidak setiap saat dia bergaul dengan temannya dari kalangan asing. Juga dia merasa iri dengan orang Jawa yang mendapatkan akses terhadap pencapaian karena mereka bergaul dengan sesama, seperti berpacaran dengan mudah. Mereka juga sering iri dengan kerabat asing mereka, orang bule misalnya, yang dapat ke sana dan kemari dengan mudah.

Sebetulnya mereka ini adalah orang-orang luar biasa yang dapat mengenali gejala-gejala buruk dari kebiasaan dan gaya hidup nenek moyang mereka dan memiliki ketetapan hati untuk merubahnya. Dia sadar, kebiasaan lama itu tidak dapat mengakomodir kemauan hatinya sehingga dia menoleh dan coba-coba metode asing. Mereka mulai menggali pengetahuan bagaimana orang asing berpikir sehingga menghasilkan gaya hidup yang luar biasa dalam perasaan yang bersangkutan.

Mungkin mereka dapat memahami bagaimana kerabat asing itu berpikir, namun seringkali mereka gagal memahami bagaimana perasaan kerabat asing mereka. Sebagai contoh bagaimana perasaan teman Cina mereka ketika mereka membelanjakan barang yang berkualitas tapi tidak berguna dalam kehidupan mereka? Bagaimana perasaan seorang bule yang senang luar biasa ketika mendapati dirinya terjebak dalam suatu rutinitas sibuk yang membuat dia terburu-buru.

Usaha yang setengah-setengah dalam memahami atau mengaplikasikan budaya asing membuat orang yang bersangkutan menderita. Dia hanya ingin bergaya seperti orang Arab, Cina atau Bule tetapi hatinya dan mind settingnya kebanyakan seperti orang Jawa kebanyakan. Contoh yang paling nyata mengenai ini adalah orang Jawa yang kebule-bule-an yang senang menghabiskan waktu mereka dengan belanja, menikmati makan siang/ malam dengan menu salad, yoghurt, mayonaise, coklat, mustard… menonton American Idol dengan makan Pop Corn dengan segelas bir… tetapi tidak suka dengan hal-hal baru ekstrim yang menantang atau membaca buku.

Rabu, 23 Desember 2009

Teman Gay

Gay Saya memiliki seorang teman yang bagi kebanyakan orang memiliki suatu penyakit mental yang sangat menjijikan, yaitu punya kecenderungan untuk tertarik terhadap sesama jenis. Dia adalah seorang gay, yang tidak malu-malu mengakui bahwa dia adalah seorang gay.

Apakah itu sesuatu yang rendah? Apakah mereka memiliki pribadi yang rendah?

Saya berkesempatan untuk menyaksikan secara langsung teman-teman sesama gay dia, juga saya mengamati teman-teman dia dari friendster-nya. Dari apa yang saya lihat dari cara mereka berpakaian, cara mereka menata rambut, dan cara mereka memoles kulit, maka saya dapat mengenali ciri-ciri luaran seorang gay. Mereka adalah pribadi yang tergila-gila dengan wewangian, kebersihan badan, obat pemutih kulit, obat pelangsing badan, minyak rambut, perut rata, badan tinggi, dan model pakaian yang selalu mengikuti jaman.

Pada suatu ketika saya pernah berkesempatan untuk berbincang secara pribadi tentang kehidupan teman saya yang gay tadi. Semua hal saya coba untuk saya tanyakan kecuali kehidupan seks dia. Lama sekali saya berbincang dengannya dan banyak sekali informasi yang saya dapatkan, hingga akhirnya tibalah pada suatu saat dimana saya menyimpulkan bahwa tidak ada yang menjijikan dengan diri mereka, termasuk kenyataan bahwa mereka menyukai sesama jenis.

Memang sulit sekali, tetapi saya harus meyakinkan diri saya sendiri bahwa sebelum saya menghakimi orang lain… setidaknya saya harus mengerti dulu bagaimana jalan pikiran mereka. Sejauh saya berbincang dengan teman saya yang gay itu, dia mengatakan berulang-ulang bahwa sekalipun dalam hidupnya dia menginginkan menjadi seorang gay. Bahkan sebaliknya, dia pernah beberapa kali berdoa kepada Tuhan untuk memutarbalik kehidupannya agar dia tidak menjadi seorang gay lagi. Dia sendiri tidak pernah mengerti akan dirinya sendiri mengapa dia memiliki kecenderungan menyukai sesama jenis.

Meskipun dalam ego pribadi saya secara prinsipil saya berpihak kepada hukum alam bahwa setiap pasangan terdiri dari dua jenis yang berbeda, namun saya menyatakan bahwa saya sangat menghormati dengan segala kenyataan yang terjadi pada teman-teman gay. Mereka sama sekali tidak rendah, mereka sama sekali tidak aneh… mereka hanya memiliki selera yang berbeda dengan kebanyakan orang.

Bagi kita yang menganggap diri kita normal, kita tidak boleh secara sepihak memberikan penilaian kita yang menurut kita benar kemudian menganggap mereka adalah pribadi rendahan. Sepanjang mereka menghormati etika, sopan dan tidak melakukan sesuatu bentuk pemaksaan kehendak yang dapat berpotensi merugikan orang lain, maka kita sepatutnya dapat menghargai dan menghormati keberadaan mereka. Mereka boleh menjadi tetangga kita, teman kita, atau bahkan mereka boleh menjadi sahabat kita.

Selasa, 06 Oktober 2009

Ketika saya malu

Saat ini saya sedang berada di sebuah rumah dari keluarga yang agak jauh, mereka bertempat tinggal di sebuah kota yang bernama Kepanjen, sudah dua hari saya menginap di sini. Rencananya saya akan tinggal beberapa hari lagi di kota ini untuk membantu seorang sepupu menangani usaha yang dia jalankan. Dia menjalankan usaha persewaan Play Station, di mana semua unit yang beroperasi di situ adalah milik saya. Beberapa hari terakhir ini dia dilanda musibah, yang menyebabkan dia tidak dapat mengurusi rental, sehingga saya harus turun tangan demi keberlangsungan usaha tersebut.

Sudah lama, yaitu hampir sekitar dua tahunan saya tidak pernah menunggui rental seperti yang saya lakukan seperti yang sekarang saya lakukan. Selama dua tahun ini… dari pada saya menghabiskan waktu saya di rental, saya lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca buku dan bergaul dengan orang lain (saya punya hobi membaca dan bicara panjang lebar). Selama itu saya tidak perlu khawatir dengan rental saya, karena beberapa teman yang saya percaya, membantu menangani rental itu setiap harinya. Tiba-tiba saja beberapa hari terakhir saya harus menunggui rental seorang diri tanpa dibantu oleh orang lain. Timbul perasaan jenuh yang semakin lama semakin menjadi-jadi.

Saya berusaha membaca banyak buku-buku “baik” dan bergaul dengan orang-orang “baik”. Dalam persepsi pribadi, saya terbawa-bawa kepada ide-ide baik yang ditawarkan oleh mereka, dan itu membuat saya merasa jauh lebih baik. Saya berusaha mengejawantahkan ide-ide baik itu dalam kehidupan sehari-hari… dengan membantu kesulitan orang lain, menyayangi sesama, mengasihi hewan (vegetarian), dan menghindari kekerasan. Kegiatan saya membantu sepupu yang tiba-tiba saja ini benar-benar menyentak dan menusuk kesadaran saya. Saya begitu terpukul menyadari bahwa sumber penghasilan saya satu-satunya ini memiliki andil yang sangat besar terhadap penurunan moral anak-anak muda dan anak-anak kecil di banyak tempat (cabang rental saya berada di berbagai tempat).

Saya tidak dapat menenangkan diri saya dengan berdalih bahwa “saya hanya penyedia layanan” seperti halnya “saya hanya penjual pisau”. Saya bisa mengerti jika seorang penjual pisau yang mengatakan “saya hanya menjual pisau kepada pelanggan saya, adapun jika pelanggan saya menyalahgunakan pisau itu untuk membunuh, maka itu urusan pelanggan saya”. Saya tahu benar bagaimana anak-anak kecil menirukan kata-kata kotor, meskipun kata-kata itu dalam bahasa Inggris. Dalam game yang biasa di sebut dengan GTA, adegan kekerasan sangat kental di dalamnya, bahkan diantara berbagai senjata yang ditawarkan… terdapat dildo di situ (bahkan saya mendengar ada seorang anak yang mengetahui sebuah lokasi rumah bordil di dalam game itu). GTA hanya satu dari sekian banyak game yang memuat kekerasan dan tontonan dewasa di dalamnya… parahnya jika kami para pemilik rental tidak menyediakan game seperti ini maka pelanggan akan lari mengakses game yang sama di rental lain.

Tiba-tiba saja saya merasa rendah dan merasa malu dengan keadaan diri saya. Kenyataan bahwa saya adalah pemilik dari sebuah usaha rendah moral… telah melunturkan semua kebanggaan bahwa saya telah banyak mengorbankan waktu dan tenaga untuk apa yang saya anggap sebagai “kebaikan”. Saya berharap Tuhan akan mengampuni saya… adapun jika itu benar-benar terjadi, saya masih tetap merasa malu dengan diri saya sendiri.

Minggu, 16 Agustus 2009

Hai orang Indonesia, kita ini bodoh... ayo belajar...

Beberapa tahun yang lalu seorang teman mengatakan kepada saya “jika engkau bertemu dengan orang asing, jangan pernah kau ceritakan tentang keburukan yang ada pada kita orang Indonesia”. Ya beberapa tahun yang lalu saya setuju dengan teman itu, namun saya mulai merasa bahwa tidak ada gunanya jika keburukan itu ditutup-tutupi… tidak akan membawa perubahan dan tidak akan membawa kita kemana-mana. Nah daripada ditutup-tutupi, mendingan saya tuliskan saja semuanya di sini, agar semua orang Indonesia tahu tentang sesuatu yang tidak baik yang ada pada mereka dalam pandangan saudara sebangsa mereka sendiri. Bahkan saya akan senang jika ada orang asing yang membaca ini, walaupun saya akan sangat merasa malu, tapi itu lebih melegakan daripada saya harus menyimpan kebodohan itu semua di dalam kepala saya.

Berikut adalah daftar kebodohan orang-orang Indonesia, utamanya orang-orang Jawa dalam pandangan pribadi saya. (kebodohan itu juga terjadi pada diri saya, yang setiap hari saya berusaha bergelut mengalahkannya).

Berkendara sangat pelan dan egois : dahulu kala akan banyak yang menyalahkan saya apabila saya memberikan statement bahwa orang Indonesia senang sekali membuang waktu mereka dengan berkendara pelan di jalan. Mereka akan dengan senang hati akan mengatakan “bukan mereka yang terlalu pelan… tapi kamu yang ngawur dan ugal-ugalan”. Namun sekarang saya memiliki banyak teman yang memiliki sudut pandang yang sama dengan saya, malah seorang teman Amerika menambahkan bahwa orang-orang Indonesia, kebanyakan dari mereka berkendara dengan sangat egois. Kata seorang teman Amerika itu orang Indonesia dapat berkendara dengan sangat pelan, membuat jalan menjadi sangat macet tanpa merasa bersalah. Seorang teman berkebangsaan India yang lain berkata bahwa kebanyakan orang Indonesia tidak banyak memiliki energi untuk melakukan banyak hal, sehingga mereka beraktifitas dengan sangat lamban.
Seperti api yang akan membesar jika tertiup angin, orang kami juga dapat berperilaku demikian. Ironi sekali bahwa jika mereka “tertiup angin” maka mereka akan memutar atau menekan gas penuh dan mengendarai kendaraan seperti orang gila kesetanan dengan membahayakan nyawa orang lain.

Kotor : kebanyakan dari orang-orang Indonesia kurang menjaga kebersihan, baik itu kebersihan badan, kebersihan rumah, juga kebersihan lingkungan. Jarang sekali ditemui tempat sampah lebih dari satu di rumah-rumah orang Indonesia. Kami memiliki tempat mandi, dapur, kamar dan ruangan-ruangan lain yang kotor yang jarang sekali kami bersihkan.

Malas : orang-orang Indonesia Pribhumi (Irlander, penjajah Belanda menamakan kami seperti itu) memiliki kebiasaan melakukan segala sesuatu dengan sangat pelan dan tidak efisien. Daripada memikirkan masalah pribadi kami masing-masing dan bertindak membuat perubahan, kami justru lebih senang nongkrong di pinggir jalan atau berkumpul di rumah seseorang untuk sekadar merumpi/ membicarakan sesuatu untuk sekedar “membicarakannya”, jarang sekali kami bertindak setelah pembicaraan itu berakhir.

Memiliki mood yang ekstrim : ini adalah ironi yang kami miliki, utamanya menjangkiti pemuda kami. Ketika pemuda kami mendapatkan motivasi tertentu untuk berbuat sesuatu tertentu… maka seolah-olah mereka itu meledak dengan semangat baru itu, menabrak-nabrak aturan dan norma-norma sudah ada. Namun jika tidak terus di motivasi, maka tidak sampai hitungan minggu semangat itu akan hilang sama sekali, entah kemana larinya tenaga menggebu-gebu itu. Akan tetapi penyakit ini tidak melulu menjangkiti kaum muda, beberapa orang yang sudah berumur yang saya kenal (termasuk orang tua saya sendiri), mereka memiliki kecenderungan memiliki mood yang sama parah dengan pemuda kami. Suatu ketika ada seorang pemuda yang pulang dari pengajian dengan membawa idealisme baru yang menggebu-gebu, cara dia bertindak dan berkata-kata terkesan sama sekali jauh berbeda dengan dia yang dulu sebelum mendatangi pengajian itu… betul-betul ekstrim. Namun setelah tiga hari kesan itu mulai meluntur dan pada akhirnya pada hari kelima perilaku serta tindakannya kembali sama sekali seperti dia sebelum datang ke pengajian itu. Idealisme yang aneh dan rapuh.

Sangat buruk dalam memperlakukan perkakas : kebanyakan kami tidak terlalu memperdulikan perkakas untuk mempermudahkan hidup kami. Mungkin nenek moyang kami sudah seperti itu, coba tengok ke pinggiran kota (tidak perlu masuk sampai ke pedalaman, karena penilaian tidak menjadi objektif karena di pedalaman perdagangan belum maju). Di pinggiran kota di mana kebanyakan penduduknya merupakan pengungsi dari pedalaman (yang masih lugu dan berpikir dengan pikiran yang tidak jauh berbeda dengan nenek moyang kami), anda bisa lihat rumahnya begitu amburadul, dan terkesan aneh. Peralatan entertainment mahal dan kebutuhan tersier seperti HD-DVD player, Home theater surround system, Play Station, ponsel semi PDA, MP3 portable dan lain-lain akan ditemukan dengan sangat mudah di beberapa rumah yang agak menengah. Namun mereka tidak memiliki tempat sampah lebih, alat kebersihan yang memadai, vacuum cleaner, pancuran air mandi, microwave, peralatan dapur yang memadai, dan alat kebutuhan lain sehari-hari yang penting. Ini menunjukan bahwa kami masih memperlakukan diri kami dengan cara yang masih primitif, sementara peralatan entertainment mahal tadi menunjukan betapa kami sangat haus dengan hiburan… karena kami sering gagal merencanakan jadwal kesibukan untuk mengisi hari-hari kami yang tidak sibuk dan remeh temeh.

Menempatkan ego pada posisi yang tidak wajar 1 : kebanyakan dari senior kami akan bertindak sedingin-dinginnya kepada junior mereka. Dengan demikian junior akan merasa takut dan selalu merasakan misteri terpendam terhadap senior mereka… dan senior itu mendapat penghormatan dari junior mereka. Menurut saya ini memang realitas yang aneh, paradigma yang aneh, daripada bertindak dingin seperti itu seharusnya sang senior bisa belajar banyak hal terus menerus kemudian memberikan pengalamannya itu kepada juniornya tersebut. Saya pikir hal itu akan lebih mendatangkan sikap hormat dari junior kepada seniornya tersebut. Bersikap dingin seperti itu juga membuat bangsa kami semakin bodoh dari hari kehari, karena minimnya transfer pengetahuan dari senior ke junior.

Menempatkan ego pada posisi yang tidak wajar 2 : ciri khas kami, salah satu yang dapat dipakai untuk menandai bahwa kami adalah orang Indonesia asli, adalah kami saling unjuk wibawa (jaim: jaga Image) diantara kami sendiri dengan bersikap tertentu. Orang kami yang berasal dari kalangan militer, polisi atau pegawai pemerintah yang lain bersikap sok dengan berjalan atau duduk dalam posisi tertentu yang justru membuat mereka terkesan angkuh. Beberapa dari kami yang berasal dari masyarakat biasa menjaga wibawa mereka sesuai dengan tempat dan kesukuan darimana mereka dibesarkan, bentuknya bisa sangat berlainan, namun sama-sama angkuh dan… tidak peduli.
Beberapa saat yang lalu saya berniat menabung di sebuah bank pemerintah. Dalam sebuah antrian, saya berdiri di belakang dua orang kecil mungil berseragam militer. Antrian itu sudah maju dan terdapat ruang kosong diantara pengantri depan dengan dua orang tentara itu, namun mereka sibuk mengobrol dan ketawa ketiwi. Dengan lembut saya mencoba mengatakan kepada mereka untuk maju sedikit karena beberapa orang juga butuh mengantri. Dua orang tidak maju tanpa memandang saya dengan sangat pedas. Sempat terlintas dikepala saya untuk membanting dua orang tentara mungil itu ke lantai.
Dahulu saya pernah mengalami kelaparan yang begitu hebat ketika saya sedang berkendara. Saya minggir untuk kemudian berniat membeli masakan vegetarian di sebuah warung. Di dalam warung itu ada seseorang yang usianya lebih tua daripada saya yang sedang duduk di bangku sementara kakinya selonjor menghalangi jalan saya. Dia tahu persis bahwa sedang berjalan untuk mendapatkan duduk di bangku sebelahnya (orang ini duduk di ujung bangku sehingga saya harus melewatinya), namun orang tersebut tidak tergerak untuk menarik kakinya yang menghalangi jalan saya. Karena saya sudah begitu jengkel, maka saya langkahi saja kakinya tanpa mengatakan permisi. Sebenarnya dia minta dihormati, dia ingin saya memohon permisi, nyatanya saya tidak melakukannya, dan nyatanya lagi dia tidak berani menegur saya karena badan saya lebih besar daripada dia.
Orang-orang kami menjaga kehormatan dengan cara yang aneh.

Sikap membebek yang keterlaluan : orang-orang kami adalah manusia oportunis yang senantiasa kecanduan dengan hegemoni yang berlaku. Umum di dengar bahwa dalam suatu kampung tertentu jika seseorang berhasil dalam suatu pekerjaan, maka tetangganya akan membebek melakukan pekerjaan yang sama dan bersaing tanpa mengenal malu. Saya memiliki usaha Play Station yang biasanya menjadi pionir di beberapa tempat, dan selalu ramai. Beberapa saat kemudian selalu ada saja diantara tetangga yang ikut-ikutan menjalankan usaha yang sama, mengekor dan menempel dan senantiasa bersiap berkonflik.
Gengsi dalam sekala yang “aneh” : jika anda pergi ke suatu kampung, baik di kota maupun di desa anda akan melihat fenomena gengsi gedhe-gedhean. Anda akan menyaksikan orang-orang berlomba menghias depan rumah mereka supaya terkesan mentereng kalau dilihat dari jalan, namun jika anda berkesempatan masuk jauh lebih dalam… maka rumah itu akan semakin kebelakang akan semakin melompong. Itu adalah kekuatan unjuk gengsi yang luar biasa gila. Hal itu juga dapat di temui dalam bentuk unjuk motor, ponsel atau unjuk pakaian.

Menjunjung tinggi kehormatan diri yang aneh : kebanyakan dari orang kami akan sangat malu dan kalap jika mereka di fitnah melakukan sesuatu yang tidak mereka lakukan. Jika sudah seperti ini mereka dapat melakukan apa saja (saya menganjurkan agar orang seperti ini jangan di dekati). Namun ironinya, sebagian besar dari mereka tidak akan malu melanggar antrian orang, atau mengambil hak orang lain.
Saya memiliki seorang teman yang memiliki harga diri yang aneh sekali. Jika menyangkut agama yang dia yakini (dia adalah seorang pemeluk agama yang payah) dia akan menunjukan raut muka konyol jika agama yang dia peluk ditempatkan pada pembicaraan yang tidak sepatutnya sesuai dengan sudut pandang kebenaran yang dia miliki. Namun dia tidak merasa malu jika dia mendapatkan bayaran dari usahanya menggandakan video cabul.

Kurang memiliki rasa bersalah : setiap orang tahu bahwa Indonesia adalah suatu negara dengan angka korupsi yang “fenomenal”. Seorang teman dari Australia mengatakan bahwa memang Indonesia masuk dalam daftar yang dicurigai bagi para pendonor dana dari negara asing yang ingin memberikan dananya untuk kemajuan rakyat Indonesia. Saya tidak berpikir bahwa budaya korupsi adalah produk pemerintahan orde baru yang dipimpin oleh presiden Soeharto, saya cenderung berpikir bahwa memang korupsi adalah budaya asli masyarakat Indonesia, korupsi memang sudah menjadi perwatakan orang Indonesia.
Ketika dulu masih di taman kanak-kanak, dalam sebuah acara tertentu yang diadakan oleh sekolah TK tersebut, kami bersukaria mendatangi acara tersebut dengan didampingi oleh ibu-ibu kami. Seorang guru membawa satu tas plastik yang berisi kue tradisional, beliau mengatakan bahwa setiap anak hanya boleh mengambil satu, tidak lebih. Namun ada orang tua yang membisikan pada anaknya untuk mengambil kue lebih dari satu dengan alasan ada beberapa anak tetangganya yang tidak datang pada acara tersebut karena sakit, nah kue yang seharusnya menjadi hak anak yang sakit itu boleh dimiliki.
Beberapa tahun yang lalu saya membantu sebuah Vihara membagi-bagikan kebutuhan pokok kepada para petani dan penduduk sekitar yang membutuhkan. Dalam kegiatan itu panitia telah memberikan kupon kepada orang-orang yang membutuhkan, namun pada saat acara pembagian berlangsung, saya menjadi saksi bahwa beberapa kupon telah digandakan oleh banyak orang sehingga membingungkan kami para panitia, kami tidak dapat membedakan mana kupon yang asli dan mana kupon yang palsu. Selain itu ada beberapa orang yang kelihatan dari baju dan kacamata yang dia pakai menunjukan bahwa dia adalah seorang yang mampu… tapi sedikitpun dia tidak merasa bersalah ketika tangannya mengulurkan kupon kepada panitia.
Bukankah ini sikap-sikap yang membenihkan korupsi?

Membuang-buang waktu : orang-orang di kampung saya gemar sekali membuang-buang waktu mereka dangan hal-hal yang remeh temeh seperti mengobrol hal tidak penting sepanjang waktu. Tergantung dengan tebalnya kantong yang mereka miliki… ada yang mengobrol di pinggir jalan, di rumah, di warung, di restoran, di club house atau di tempat golf… intinya ngobrol ngalor and ngidul.

Tidak tepat waktu dan tidak tepat janji : saya dengar bahwa orang asing seringkali jengkel dengan kebiasaan jam karet orang-orang Indonesia. Sebagian memang sungguh payah orang-orang kami ini, tidak jarang dalam sebuah kesepakatan mereka molor hingga satu hari lamanya atau malahan tidak datang tanpa pemberitahuan.

Pendidik yang buruk : banyak sekali orang tua yang terlalu banyak omong dengan memberikan aturan kepada anak-anak mereka tentang apasaja yang boleh mereka lakukan dan yang tidak boleh mereka lakukan. Ironisnya lagi kebanyakan dari orang tua itu malah menjadi pelanggar berat dari aturan yang mereka buat sendiri.
Contoh paling parah yang sering terjadi di Indonesia adalah perintah orang tua kepada anak untuk tidak merokok, sementara bibir orang tua itu sedang menggapit sebatang rokok yang berasap ketika mereka sedang memberikan perintah tersebut.

Boros : mungkin karena kebiasaan gengsi gedhe-gedhean yang kami miliki itulah, maka setiap orang berusaha untuk mencoba untuk tampil sebaik mungkin dengan memakai baju yang mahal-mahal. Saya masih ingat ketika saya dulu bekerja sebagai buruh industri, beberapa orang teman saya yang sama-sama digaji rendah… mereka dapat membeli sepasang sepatu boot cowboy seharga satu bulan gajinya. Dia membeli itu sebagai persiapan kencan dengan pacarnya malam minggu.

Tidak mengenal pembelajaran : hal inilah yang paling memprihatinkan dengan kami. Kami hampir tidak mengenal pembelajaran karena kami lebih tertarik menjalani hidup dengan cara yang “lumrah” menurut pola berpikir kami sendiri. Kami tidak mampu atau mungkin tidak mau mengenali disiplin orang lain yang mungkin dapat kami tiru untuk memajukan perikehidupan kami. Bahkan mahasiswa kami yang kelihatan panas dan agresif menuntut “kebenaran dan pengetahuan” sewaktu mereka berkuliah… semangat mereka menjadi lekang seiring dengan urusan mereka dengan bangku kuliah selesai. Kebanyakan dari mereka cenderung berpikir dengan pemahaman yang lebih sederhana yaitu bekerja mencari uang sebanyak-banyaknya kemudian membangun keluarga. Idealisme mereka tertinggal di belakang.
Kebanyakan dari kami lebih memilih kehidupan dengan menjalani apa yang ada. Jadi daripada menaruh suatu cita-cita tertentu dan menekuninya, kami lebih suka mengambil peluang pekerjaan yang tidak rumit dan tidak memerlukan memeras otak serta tidak mengandung resiko yang tinggi. Kami lebih senang menganggur berjalan kesana kemari untuk melihat-lihat. Itulah mengapa kita dapat menemui orang-orang berjalan tidak tentu arah hanya sekedar ”berjalan-jalan”. Beberapa teman barat membicarakan hal ini dengan nada yang miring.
Pemuda kami juga demikian… dari pada meluangkan waktu mereka untuk membaca buku atau menonton film dokumenter atau bertemu dengan orang yang berpotensi menambah pengetahuan mereka… mereka malah lebih senang gentayangan pergi kesana kemari menghabiskan uang bersama pasangan mereka masing-masing. Atau duduk diam menghabiskan waktu berjam-jam menonton televisi, membaca komik, menonton opera sabun atau menonton film vulgar.

Pejuang yang payah : “jangan terlalu banyak mempekerjakan orang Jawa, mereka ini pemalas yang rapuh, tidak mampu bekerja keras dan mudah memberontak” kata seorang pemilik perusahaan di tanah transmigrasi kepada managernya. Memang dalam banyak hal kami berharap bahwa kami dapat bekerja dengan sesedikit mungkin tenaga. Ada sebuah pepatah bahwa orang kami akan berhenti bekerja sebelum keringat menetes namun kami baru akan berhenti makan setelah keringat menetes.

Payah...payah dan payah....

Semoga semua mahluk berbahagia

Apakah kita sebagai manusia boleh mengeksploitasi binatang untuk kepentingan kita? Seseorang berkata “ya tentu bolehlah, kan di agama sudah ditekankan bahwa kita adalah mahluk paling mulia, jadi ya tentu kita boleh mengeksploitasi mereka, membunuh mereka demi keberlangsungan hidup kita”

Apabila dihubungkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, maka kebanyakan dari kita akan menjawab jawaban yang berhubungan dengan agama untuk membenarkan kecanduan kita terhadap daging dengan mengatakan bahwa kita adalah mahluk tuhan yang paling mulia. Kasih sayang, kepekaan dan hati nurani kesemuanya diabaikan… seakan-akan mereka mengatakan bahwa bahwa kalau sudah ada peraturan ya kita tinggal ikuti sajalah, kasih sayang dan hati nurani… itu ga penting lah.

Karena terlalu mementingkan logika dan ingin yang simpel-simpel itulah, seringkali seseorang kehilangan kepekaannya untuk merasakan penderiataan orang lain, mahluk lain. Mereka bukanlah orang jahat, hanya saja mereka tidak mau tahu dengan penderitaan yang dirasakan oleh orang lain atau mahluk Tuhan yang lain.

Kembangkanlah sifat welas asih/ belas kasih terhadap sesama semampunya… tingkatkan terus menerus secara berkelanjutan. Buat orang lain bahagia, buat mereka bahagia karena itu akan membahagiakan diri kita sendiri. Semoga itu dapat melatih kita menjadi manusia yang lebih peka lagi sehingga kita dapat menghormati semua mahluk Tuhan.

Manusia mesin

Manusia cenderung mengikuti apa yang menjadi kebiasaan yang mereka warisi dari orang-orang sebelum mereka daripada berpikir untuk melakukan segala sesuatu yang harus mereka lakukan secara proporsional. Orang-orang Amerika cenderung memboroskan perkakas jauh lebih banyak daripada yang mereka butuhkan, sementara beberapa orang Indonesia (dikampung saya) sangat keterlaluan iritnya dalam menggunakan perkakas… sehingga tampak sekali rumahnya melompong.

Orang-orang India sangat khas dalam mengangguk-anggukan kepalanya. Jika orang Indonesia menganggukan kepalanya kedepan sebagai tanda persetujuan, maka orang India cenderung ditambah agak sedikit miring kesamping.

Beberapa orang yang saya kenal sangat keterlaluan dalam menjaga kebersihan dengan mengkonsumsi sedemikian banyak jenis produk pembersih badan maupun lingkungan… sampai-sampai saya khawatir dengan kesehatannya karena kemungkinan efek samping negatif dari produk pembersih yang mereka pakai. Sabun, deterjen, cologne, pelembab, lotion, parfum, obat anti parasit, obat anti larva, insektisida dll. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekadar membersihkan badan dan lingkungan, setiap hari. Di lain pihak ada beberapa orang yang saya kenal yang saking joroknya, saya menjaga jarak ketika dia sedang berbicara.

Orang-orang di Malang (tidak tahu di tempat lain) memiliki kebiasaan konyol yang cenderung mendekati bunuh diri. Ketika mengendarai kendaraan untuk keluar dari gang, memasuki jalan yang lebih besar, mereka cenderung nyelonong begitu saja, tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Pernah suatu ketika saya melihat orang terlindas karena bertindak sembrono seperti itu.

Saya punya seorang teman yang semua anggota keluarganya membuang sampah apapun ke kali di depan rumahnya.

Saya kenal dengan banyak orang yang memiliki ciri khas konyol bagi saya yaitu : penggemar Dangdut yang tidak bisa menikmati Pop, penggemar Campur Sari yang tidak bisa menikmati Classic, penggemar Jazz yang tidak bisa menikmati Dig-dug Disco, penggemar Arabic Music yang tidak bisa menikmati Banyuwangian dll.

Fighter-fighter Indonesia kebanyakan… tetap memelihara tradisi seni beladiri memukul, padahal telah sangat terbukti di seluruh dunia… dan mereka mengetahui bahwa untuk memenangkan perkelahian sungguhan fighter harus memiting, mengunci dan membanting… daripada menjotos.

Yah yang namanya otak manusia… mungkin seperti komputer… sangat tergantung dengan software yang di dalamnya. Seberapapun canggih komputer itu dan seberapapun kerasnya user ingin memanfaatkannya untuk tujuan tertentu, jika software sudah tidak mendukung… ya sia-sia usahanya

Dasar orang-orang konyol

Saya sangat menjunjung tinggi perikemanusiaan dan perasaan kasihan terhadap semua mahluk… manusia dan hewan. Terlebih terhadap manusia, saya selalu berusaha berhati-hati, sedapat mungkin untuk tidak menyakiti perasaannya… membuatnya takut, bersedih atau kecewa. Apabila saya melihat seseorang sedang membutuhkan suatu pertolongan, maka saya tidak dapat tinggal diam berpangku tangan, saya pasti menolongnya.

Easy talk than do… mudah mengatakannya dari pada melakukannya. Demikian juga dengan prinsip yang saya junjung tinggi ini, tidak setiap saat saya dapat mengejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari… pada kenyataannya saya berkali-kali melanggar prinsip ini.

Tidak semua orang dapat menepati janji atau menjunjung tinggi kesepakatan. Dalam kehidupan sehari-hari saya harus berhubungan dengan orang-orang seperti ini, dan beberapa orang diantaranya selalu berusaha merugikan saya. Tentu saja saya tidak dapat tinggal diam dan saya akan berusaha keras mengatasinya dengan banyak cara (diantaranya dengan cara-cara “pemaksaan”).
Saya punya beberapa unit Play Station untuk disewakan, beberapa diantaranya dipegang oleh beberapa teman dan kenalan saya untuk dijalankan sebagai usaha bersama. Setiap satu bulan sekali mereka harus menyetorkan sejumlah uang kepada saya sebagai bagi hasil usaha. Beberapa orang berusaha membawa lari uang itu, dan tentu saja saya harus bertindak.

Andai saja saya punya pilihan untuk tidak berhubungan dengan orang-orang seperti ini…