Minggu, 16 Agustus 2009

Prejudice harus berakhir... segera!

Sedemikian banyak kebencian di sekitar kita yang dikarenakan oleh perbedaan tradisi, gaya hidup dan pola berpikir. Pribadi-pribadi dari berbagai macam kelompok yang ada di Indonesia, yang biasa disebut dengan suku, saling merendahkan dan saling bersalah paham. Mungkin di permukaan mereka kelihatan tenang-tenang saja, akan tetapi di dalam pikiran mereka masing-masing… mereka percaya dengan anggapan dari kelompok mereka sendiri yang menyatakan suku A seperti ini, sementara suku B seperti itu. Saya tidak ngawur, saya sudah cukup mendengar bahwa banyak orang bertutur negatif tentang suku lain.

Di Malang, di tempat saya, ada beberapa kelompok suku yang berlainan. Arab, Madura, Cina, Jawa Kulonan (orang Jawa bertutur bahasa halus), Jawa Wetanan (orang Jawa bertutur bahasa kasar)… dan beberapa suku yang lain, mereka saling menjunjung tinggi adat dan kebiasaan mereka masing-masing. Terdapat suatu racun yang amat sangat kuat yang seringkali membuat mereka tidak dapat saling bersahabat, dan racun itu bernama sinisme dan keturunannya.

Mengapa masing-masing saling sinis dengan orang lain yang tidak sama dengan mereka? karena mereka menilai positif dan negatif orang lain dari yang berbeda adat/ kebiasaan… dengan tolok ukur yang datangnya dari adat/ kebiasaan mereka sendiri. Sinisme melahirkan prejudice, melahirkan lagi kesalahpahaman, dan akhirnya melahirkan perasaan tidak mau bergaul atau tidak mau berurusan dengan orang lain yang dibenci tersebut.

Ini tidak boleh terjadi, kita harus berteman dengan siapa saja. Janganlah mudah untuk menilai orang lain secara serampangan. Jika kita terpaksa harus memutuskan menilai orang lain, berusahalah menilai secara objektif sesuai dengan pengalaman pribadi selama kita bergaul dengan orang yang akan kita nilai tersebut.

Semoga damai bersama kita

Jumat, 14 Agustus 2009

Dinner

Kemarin saya diundang oleh Mr. Andrew untuk makan malam bersama dengan keluarganya keluarga Cowell, sekalian untuk beramah tamah. Saya berpikir bahwa itu adalah undangan yang sangat menarik, karena ini adalah untuk pertama kalinya saya diundang makan malam oleh sebuah keluarga. Tapi sayang begitu sayang hari itu saya sangat sibuk sekali, dan banyak kejadian menyebalkan yang membuat mental saya anjlok dan mood saya menjadi turun sedemikian rupa… sehingga saya berpikir bahwa saya akan gagal menghadiri makan malam itu.

Selama satu hari penuh itu saya berada di kota Kepanjen untuk mengurus urusan saya di sana, urusan itu sudah sangat kacau namun saya terus berusaha keras agar saya dapat menghadiri makan malam di rumah Mr. Andrew. Dalam perjalanan menuju rumah beliau, mata saya sebelah kanan ditabrak oleh serangga… sakit sekali! Namun saya tidak mundur dan memutuskan untuk tetap menghadiri makan malam itu. Akan tetapi tidak lama setelah itu ban belakang vespa saya mengalami kebocoran sehingga saya harus berhenti di tukang tambal ban untuk waktu yang lama. Saya memberikan pesan singkat kepada Mr. Andrew untuk meneruskan makan malam keluarga tanpa saya, namun daripada menyantap makanan tepat waktu, beliau memutuskan untuk menunggu kedatangan saya. Luar biasa.

Saya datang terlambat sekitar tiga puluh menit. Pertama-tama Mr. Andrew datang membukakan pintu dan mengucapkan salam, beliau langsung mengetahui ada yang salah dengan mata saya (saya baru mengetahui bahwa mata kanan saya menjadi semerah darah setelah Mr. Andrew mempersilahkan saya memakai kamar mandinya untuk mencuci mata saya). Mrs. Donna menggiring ketiga anaknya untuk menyambut saya. Jade, Rhianan dan Aedan (kalau saya tidak salah eja) menyapa saya “Hi Bayu”… kemudian saya terperanjat karena tidak ada keluarga yang secara hangat menyambut saya seperti ini. Saya menjadi sungkan dan bingung harus bersikap seperti apa… saya begitu khawatir salah berperilaku.

Tibalah akhirnya kami semua berada di dapur mereka yang sangat bersih. Setelah berbasa-basi sedikit, Mr. Andrew memberikan tanda untuk segera memulai doa. Kami melakukan doa syukur dengan berdiri di dalam dapur. Doa itu dipimpin oleh anak laki-laki Mr. Andrew yang terakhir yang masih berusia sepuluh tahun. Dia berdoa dalam bahasa Inggris dengan logat Australia, yang membuat saya sama sekali tidak mengerti perihal apapun yang sedang diucapkannya.

Setelah berdoa, Mr. Andrew dan Mrs. Donna mempersilahkan saya untuk mengambil piring dan makan. Saya kaget karena Mrs. Donna telah menyiapkan Indonesian salad alias Gadho-gadho, itu adalah salah satu jenis masakan kesukaan saya. Mr.Andrew berkata dalam bahasa Inggris yang kira-kira artinya seperti ini “saya telah menyuruh Mrs. Donna untuk memasakan untukmu sebuah steak sebesar ini (sambil menunjukan kedua tangannya kepada saya untuk mengesankan bahwa itu adalah ukuran yang sangat besar) namun kami menyadari bahwa kamu adalah seorang vegetarian, jadi Mrs. Donna membuatkanmu Gadho-gadho”. Saya sangat sungkan, namun saya mengucapkan terimakasih secara mendalam.

Beberapa saat berikutnya saya sudah duduk di sebuah meja makan persegi panjang, dan saya duduk berhadapan dengan Mr. Andrew di kedua ujungnya. Sembari makan itu saya membuat percakapan ringan dengan ketiga anaknya, kebanyakan sekitar topik tentang makan sayur mayur.

Ada sesuatu yang luar biasa dari keluarga itu, dimana saya terus memikirkannya pada saat-saat menjelang tidur saya malam itu juga. Saya beranggapan bahwa Mr. Andrew dan Mrs. Donna sangat berhasil dalam membentuk perwatakan anak-anaknya sedemikian rupa sehingga mereka terkesan sebagai anak-anak yang manis, sopan dan menghormati orang lain. Meskipun usia mereka rata-rata masih sangat muda, namun mereka tahu bagaimana cara membuat orang lain terkesan. Semuanya tersenyum kepada saya tanpa terkecuali dan selalu menanggapi jika saya bertanya sesuatu kepada mereka. Saya adalah orang asia satu-satunya di meja makan itu, dan kulit saya paling gelap, namun tidak satupun diantara mereka yang menunjukan muka jijik kepada saya. Tidak banyak orang yang berlainan ras dengan saya dapat menunjukan penghormatan semacam itu.

Dalam makan malam itu, Mr. Andrew bertanya dengan santun kepada ketiga anaknya perihal kegiatan apa saja yang mereka lakukan di sekolah mereka. Kemudian terjadi pembicaraan sopan diantara mereka… sangat kelihatan sekali bahwa anak-anak Mr. Andrew dan Mrs. Donna menaruh penghormatan yang begitu besar kepada mereka. Setelah makan malam selesai, Mr. Andrew memerintahkan ketiga anaknya untuk pergi mengambil Alkitab mereka masing-masing. Kemudian bersama-sama mereka saling membaca Alkitab itu dan mendiskusikannya. Sungguh keluarga yang tentram damai dan relijius.

Sungguh Ironi memang, kata orang kebanyakan… orang-orang Jawa adalah orang-orang berhati lembut dan bertutur lembut… sementara orang-orang barat adalah orang-orang yang memiliki adat kebiasaan lebih kasar daripada kami orang Jawa. Cara saya melihat justru kebalikannya, saya bertumbuh dan besar dalam keluarga Jawa-Madura, namun saya tidak pernah melihat bahwa keluarga saya memiliki kebiasaan untuk memperlakukan anak-anak mereka sebaik Mr. Andrew memperlakukan anak-anak mereka. Dari pada orang tua kami memperlakukan anak-anaknya dengan penuh perhatian, teliti, disiplin dan bersih… mereka cenderung mendidik kami dengan sekenanya atau malah dalam beberapa situasi mereka terkesan sangat otoriter. Selain itu saya tidak pernah diajari cara menghormati tamu kecuali “jangan ikut bicara jika orang tuamu berbicara dengan tamu”.

Saya senang dengan keluarga ini, mereka tidak sengaja memberikan pelajaran tentang pelajaran budi pekerti yang tidak diajarkan di keluarga saya.

Berbicara denganTuhan???????

Sering kita mendengar cerita tentang seorang remaja yang sedang mencari jati dirinya. Dikatakan bahwa pemuda yang seperti itu selalu mencoba berbagai macam hal untuk mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya. Pemuda itu tidak gampang puas dengan pemahaman-pemahaman yang mereka peroleh sehingga suasana hatinya tidak pernah tenang… yang kelihatan sekali dari perilaku dan raut mukanya yang terkesan agak liar. Namun seiring dengan bertambahnya usia, kesan liar itu berkurang sejalan dengan bertambahnya pemahaman mereka akan kehidupan. Kebanyakan pemuda akan menemukan kedamaiannya, sementara yang lain akan terus menerus melakukan pencaharian sepanjang hidup mereka.

Melihat kenyataan yang ada, kadang-kadang saya berpikir bahwa sepertinya saya tidak akan pernah puas dengan diri saya, dan saya yakin bahwa saya akan terus menerus berubah dan haus akan pencaharian. Buddha mengatakan bahwa kebahagian hanya bisa ditemukan di dalam diri, kesenangan yang didapat dari dunia luar tidak bersifat kekal… untuk itu hendaklah kita berusaha melepas sebanyak mungkin keterikatan terhadap dunia luar untuk kemudian meniti kedalam diri sendiri dan berusaha menemukan tujuan sejati kita di dalam sana, yaitu kebahagiaan hakiki.

Dalam khasanah tradisi ke-budhis-an, terdapat suatu teknik yang disebut dengan meditasi. Ada banyak konsep tentang meditasi, namun saya lebih cocok dengan konsep meditasi yang berpegang pada prinsip “menjinakan pikiran”. Dalam praktiknya kita dianjurkan untuk duduk diam dengan mata terpejam, sambil memperhatikan pikiran yang muncul. Itu saja, kita hanya memperhatikan pikiran yang muncul tanpa menghakimi bahwa itu pikiran negatif atau positif. Kadang-kadang memang kita hanyut dalam pikiran itu, namun begitu kita menyadari bahwa kita sedang terhanyut dalam pikiran itu… maka kita berusaha kembali pada kegiatan memperhatikan pikiran seperti semula. Semakin lama pikiran akan berkurang dan diharapkan dengan berkurangnya pikiran, maka perasaan kita akan semakin damai. Dalam tradisi Zen terdapat istilah “satori” yaitu perasaan damai bahagia sesaat yang dialami seseorang akibat dari kegiatan meditasi. (tujuan meditasi adalah kebahagiaan hakiki)

Ada beberapa dari teman saya yang mengalami perubahan (menuju kebaikan) karena mereka rajin berlatih teknik meditasi seperti ini. Beberapa orang terdekat mereka mengaku bahwa yang bersangkutan terkesan semakin lembut, setelah mengenal teknik meditasi ini. Saya beranggapan bahwa teknik ini adalah baik… hanya saja tidak pernah berhasil kepada saya. Namun itu tidak berarti bahwa teknik ini tidak mujarab, hanya saja (kalau tidak salah) mungkin pengalaman saya membutuhkan “teknik lain” yang lebih cocok dengan pribadi saya.

Hingga suatu saat seseorang menganjurkan “satu cara” yang saya rasa lebih cocok dengan kepribadian saya. Cara itu adalah cara Kristian yang menganjurkan (dalam bahasa saya) kepatuhan dengan tulus dan berkomunikasi dengan Tuhan secara langsung. Untuk pertama kalinya saya mendengar ini, saya merasa aneh… karena saya adalah penganut paham kebebasan (sebebas-bebasnya) apapun boleh dilakukan asal tidak melanggar perikemanusiaan. Saya adalah penentang norma-norma… baik itu adalah norma agama, maupun norma-norma yang berlaku pada masyarakat. Saya berpikir bahwa norma-norma itu hanya akan menjajah kebebasan saja, toh belum tentu norma itu akan membuat seseorang lebih mulia, lebih peduli dan lebih beradab. Dalam kenyataannya seringkali norma-norma itu hanya dimanipulasi oleh seseorang demi kepentingannya pribadi… tanpa perasaan bersalah. Mereka (pelaku manipulasi itu) tidak pernah mau tahu untuk alasan apa norma-norma itu dahulu dibuat. Alasan kedua saya merasa aneh dengan berkomunikasi secara langsung dengan Tuhan adalah karena saya memiliki kepercayaan kuat bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang dapat berkomunikasi dengan Tuhan.

Namun saya mengakui bahwa ideologi kebebasan yang saya yakini tidak hanya membawa saya pada kemajuan (seperti mudah bergaul dengan siapa saja dan keinginan kuat untuk mempelajari dan mengetahui apa saja yang menjadi misteri bagi saya)… namun juga membawa saya kepada keadaan hati yang kadang-kadang gundah, tertekan, iri dan gelisah. Konsep bahwa saya adalah tuan dari diri saya sendiri dan saya dapat melakukan apapun kepada diri saya sendiri seringkali membawa saya kepada kemalasan. Kebiasaan untuk mencobai segala sesuatu malah membuat saya jatuh dalam penjara kebosanan… dan kebosanan menggerogoti diri saya sendiri dari dalam.

Akan tetapi cara Kristiani ini sama sekali begitu berbeda, perubahan signifikan sudah dapat saya rasakan pada diri saya. (tulisan ini saya tulis dalam waktu hanya terpaut sekitar dua atau tiga minggu sejak pertama kali saya diajak untuk mencoba “metode” baru ini). Dan sangat kelihatan sekali bahwa metoda ini sangat berhasil bagi saya. Artinya saya lebih menyukai diri saya yang sekarang ini dari pada yang dulu sebelum saya mempercayai metode baru ini.

Mungkin ini yang saya cari-cari sejak dari dulu. Metode Kristiani menganjurkan untuk selalu setia kepada Tuhan. Saya adalah seorang yang mendambakan kesetiaan dan selalu haus melakukan sesuatu demi kesetiaan saya tersebut. Sebagai contoh… saya adalah seorang yang memiliki dorongan dalam hatu untuk selalu menghormati segala kehidupan, saya akan berusaha keras untuk menjalani hidup saya tanpa menyakiti mahluk hidup yang lainnya. Untuk itu saya selalu konsekuen dengan idealis saya tersebut, jadilah saya seorang vegetarian. Contoh kedua adalah… saya sangat menyayangi dengan seorang yang tidak jauh usia dengan saya (mohon tidak diasumsikan sebagai hubungan asmara) dan saya menganggapnya sebagai adik saya sendiri. Mungkin persamaan model perjuangan dan cita-cita membuat saya begitu dekat dengan anak ini. Lantas saya berkomitmen untuk selalu mendukung dan senantiasa melindungi dia. Betapa saya mendambakan diri saya sendiri termasuk dalam suatu standar kesetiaan yang tinggi, dengan mengorbankan beberapa beberapa kepentingan saya pribadi.

Namun sudah beberapa tahun belakangan ini saya menjadi agnostik atau malah semi atheis. Hal itu membuat saya agak termalu-malu kepada diri saya sendiri ketika saya mencoba untuk berbicara dengan Tuhan untuk pertama kalinya. Seakan-akan diri saya mengatai diri saya sendiri bahwa saya bodoh karena mencoba berbicara dengan angin.

Pada suatu hari saya diserang oleh mood yang rendah dan situasi batin yang sangat menggelisahkan. Hingga pada puncaknya, pada malam hari yang tidak begitu larut saya tidak dapat melakukan apa-apa kecuali hanya duduk diam dalam kegundahan… ingin sekali saya menangis. Namun saya berpikir dari pada saya duduk tidak melakukan apa-apa dan tidak membawa perubahan apa-apa, maka saya pergi kebelakang mengambil sebuah minuman coke dari kulkas untuk sedikit menghibur jasmani saya. Setelah satu atau dua teguk, saya mulai berbicara dengan Tuhan… saya asumsikan Dia seperti sahabat tercinta saya yang sedang berdiri di depan saya memandang saya dengan sabar dan ingin mendengarkan apapun yang ingin saya katakan. Maka mulailah saya menyampaikan ocehan, omelan, dan keluh kesah. Kadang-kadang saya memberitahu kepada dia bahwa saya menyesal bahwa saya telah menjadi mahluknya yang begitu lemah… saya tahu ada banyak sekali orang yang jauh menderita daripada saya. Namun saya mengaku bahwa saya tidak tahu dengan apa yang harus saya lakukan… maka saya memohon kepadaNya untuk selalu menegarkan hati saya dan memberikan jalan keluar bagi setiap permasalahan yang saya hadapi.

Selepas komunikasi luar biasa itu, pikiran saya menjadi jauh lebih enteng dan dapat tidur dengan nyenyak. Keesokan paginya saya bangun dengan senyum baru di bibir beserta pemahaman baru bahwa saya akan berbahagia dengan setia kepadaNya. Hidup saya berubah banyak, saya bersedia untuk melakukan segala sesuatu yang tidak ingin saya lakukan sebelumnya. Ego saya banyak tergerus dan mengalami erosi hebat. Saya memandang bahwa Tuhan adalah damai dan sebagai pengikut setiaNya maka saya dianjurkan untuk menciptakan damai. Dan untuk itu saya harus membuat diri saya sendiri tersenyum dengan semua orang, lebih mendengarkan mereka, lebih mengalah, dan menghormati mereka dalam setiap kesempatan. Pada mulanya saya sangat sulit memulainya, namun dengan kesadaran bahwa Tuhan menganjurkan kasih sayang, maka tidak lama kemudian saya dengan gampang melakukannya. Tuhan adalah kasih.

Jadi… rupanya saya tidak perlu lagi terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk melakukan banyak pencaharian. Kebahagiaan itu telah datang, dan saya memutuskan bahwa saya harus berhenti setelah sekian lama tidak pernah berhenti. Saya memutuskan bahwa saya akan berhenti pada hal cinta… karena saya percaya bahwa Tuhan adalah cinta, God is love… saya akan setia pada Tuhan. Saya harap itu akan cukup bagi saya.

Hormat saya kepada seseorang yang mengkabarkan saya tentang ini.

Rabu, 12 Agustus 2009

Berbicara dengan Tuhan...?

Hari ini saya mencoba berbicara dengan Tuhan. Saya berkeluh kesah atas segala keadaan batin saya yang tidak tahu sedang meratapi apa. Saya mengambil sekaleng coca cola, pergi kebelakang rumah yang sepi kemudian berbicara seolah-olah Tuhan berada di depan saya. Saya mengobrol dengan dia selama sepuluh menit, kemudian pergi ke kamar dan menulis ini.

Awalnya sih sangat susah, karena saya tidak dapat melihat Tuhan di manapun, namun itu tidak bermakna penting bagi saya. Lebih baik bagi saya untuk mencoba mencurahkan isi hati saya kepadaNya, dari pada mencurahkan isi hati saya kepada orang, karena kebanyakan orang tidak mau mendengarkan kisah saya.

Ini sangat membantu.

Sabtu, 08 Agustus 2009

Choices

It is joy to control your mind. It is okay if I say yes, but it is my choice to say "later I will". I smile then they understand. We were happy.

No body better than you my friend.

Poor friend have asked "what makes me different than you", and then I said "no my friend, I am just equal with you, no body better than you, not even them" (pointing somebodies in a luxury car in a poor country, Indonesia). "What makes us different is our quality of love my friend, God loves you"

Jumat, 07 Agustus 2009

Saling belajar

Hari ini tanggal 7 Agustus 2009.

Saya ditugasi oleh Mr. Andrew untuk mengantar beliau ke bandara dengan minibus buatan Korea selatan bermesin diesel 4 tak milik dia. Saya jemput dia di daerah Tidar pada pukul 8 pagi. Kelihatannya dia sudah sangat siap dengan dua tas punggung besar dan satu tas jinjing yang lebih kecil. Saya panasi minibus itu, lalu beberapa saat beliau menghampiri dan berpesan agar saya memanasi minibus miliknya di luar ruangan saja agar asap kendaraan itu tidak mengganggu kesehatan kedua putrinya dan seorang putranya (dan satu orang gadis remaja Australia lain) yang sedang tidur kelelahan karena semalam begadang berpesta untuk memeriahkan ulang tahun si Rheanan (putri kedua Mr. Andrew).

Saya memacu minibus itu sekencangnya, walaupun berkali-kali Mr. Andrew berkali-kali mengingatkan bahwa dia masih memiliki banyak waktu untuk mengejar pesawat. Saya tidak ingin berlama-lama di perjalanan, sebaliknya, saya ingin segera mencapai airport kemudian saya berharap agar Mr. Andrew segera check in, dan duduk bersama saya untuk membahas berbagai bahasan yang dapat kami bahas bersama. Saya berhasil, perjalanan itu (Tidar-Juanda) hanya dilakukan sekitar satu jam lebih sedikit, namun itu sudah cukup memberi waktu untuk mengobrol di mobil tentang banyak sekali hal. Bahkan dalam suatu kesempatan tertentu, masih dalam mobil yang saya geber kencang, Mr. Andrew membacakan doa untuk saya.

Akhirnya tiba juga saat-saat dimana saya dapat duduk bersama dengan Mr. Andrew. Dia membawa saya ke sebuah cafĂ© kecil yang mahal di dalam bandara, di mana dia memesan es teh tawar dan seporsi siomay bandung… sementara saya memesan seporsi gadho-gadho dan secangkir teh susu. Dia membeli sebuah Koran Tempo untuk dirinya sendiri, dan sebuah Koran Jawa Pos untuk saya… masing-masing Rp.5000. (dia juga memberi saya sebuah injil kecil berkancing magnit, dan sebuah buku berjudul “Taming the Tiger”).

Banyak hal baru luar biasa yang saya pelajari dari orang ini, salah satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah kerendahan hatinya (kerendahan hatinya sudah diakui oleh banyak orang, termasuk oleh ayah saya sendiri). Saya terkesima dengan caranya berbicara yang selalu serius, penuh dengan perhatian namun selalu terlihat senyuman tersungging di bibirnya. Satu kalipun saya tidak pernah mendengar dia berbicara buruk tentang orang lain. Dia adalah pengikut Jesus Kristus yang baik dan taat, dia tidak pernah berbicara buruk tentang orang-orang Islam berserta tradisinya… sebaliknya dia malah terkesan sangat menghormati agama ini. Selain itu Mr. Andrew adalah seorang pengamat permasalahan yang teliti dan penganjur yang sangat lihai. Dia selalu memberikan masukan-masukan pintar tidak terduga… dengan cara memberikan beberapa opsi jalan keluar dari permasalahan untuk dipikirkan bersama.

Kami terus berbincang hingga pengumuman dari petugas bandara menghentikan pembicaraan kami. Beberapa saat kemudian kami saling mengucapkan salam dan berpisah. Saya berlari kecil menuju minibus Mr. Andrew, dan kemudian saya geber kencang ke arah Malang, dengan beberapa kali salah jalan….!

Satu lagi, kami (saya dan Mr. Andrew) bersepakat bahwa kami selalu bersemangat untuk saling mengetahui dan belajar tradisi, norma dan nilai kesopanan yang dijunjung tinggi di barat dan di timur. Ini sangat berguna bagi kepentingan Mr. Andrew yang ingin menyelami khasanah budaya timur… juga berguna bagi saya yang selalu tergila-gila dengan khasanah kebijakan Barat.